Marriage Order

Marriage Order
S3 Menjenguk Reynand


__ADS_3

Sheryl POV


Ini kali ke dua aku datang ke rumah sakit. Bukan dengan sopirku, tapi dengan Baruna, Ayah Anton, dan Bunda Meri. Kami datang untuk menjenguk Reynand di rumah sakit.


Kebetulan hari ini adalah hari libur. Rumah sakit terlihat lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena hari masih pagi. Kami pun mulai memasuki lorong perawatan, menuju kamar Reynand.


Sejak turun dari mobil, Baruna menggandengku begitu erat tanpa melepaskannya sekalipun. Seiring waktu berjalan, aku terus menoleh dan menyunggingkan senyum tipis kepadanya.


"Ada apa? Kenapa sejak tadi kamu memperhatikanku dan terus tersenyum?" Air mukanya terlihat bingung.


"Tidak apa-apa," jawabku seraya menggelengkan kepala.


"Aku tahu kalau aku tampan, tapi ini bukan di rumah. Bersabarlah untuk bisa bermesraan," timpal Baruna balas tersenyum.


Jawaban Baruna membuat dahiku sontak mengernyit lalu mencubit lembut pipinya. Dia membuat otakku berputar mencerna yang tidak-tidak.


"Hentikan otak mesummu, Sayang," bisikku di telinganya.


"Aduh," pekik Baruna, padahal aku tidak mencubitnya dengan keras.


Tepat di depan pintu kamar Reynand, Bunda yang berjalan di depan kami menghentikan langkahnya. Ayah Anton yang melihat istrinya, ikut menghentikan langkah. Keduanya tiba-tiba saja menoleh ke belakang dan tersenyum.


Aku segera menarik tanganku dan pipi anak kesayangannya. Takut jika mereka berpikir kalau aku melakukan kekerasan kepada Baruna. Dan saat ini kecanggungan di antara kami mulai terlihat lagi. Namun, yang kutakutkan ternyata tidak terjadi. Tante Meri malah mengulas senyumnya yang anggun.


"Mengapa tingkah kalian berdua terlihat sangat manis?" Tante Meri makin membuatku rikuh di depannya.


"Haish! Mengapa kalian berdua berhenti dan malah memperhatikan kami?" sahut Baruna yang tiba-tiba merona malu.


"Lihat, Yah! Baruna kelihatan malu sekali," Bunda malah menunjuk ke arah anaknya sambil terkekeh.


"Makanya jangan menggoda mereka, Mer," sahut Ayah Anton hanya menggelengkan kepalanya, lalu membuka pintu kamar rawat Reynand.


Ceklek!


Kami berempat pun masuk ke ruangan itu. Aku menoleh ke arah tempat tidur Reynand. Hanya ada Reynand dan Tante Aina yang menungguinya di sana. Langkah kami terhenti saat melihat wanita itu menyuapi putranya makan.


"Aduh, Ma! Buburnya panas," protes Reynand kepada Tante Aina.


"Masa, sih?" Sang ibu kandung itu pun mencoba mencicipnya. "Tidak, kok!" katanya lagi.


"Sudah. Aku bisa sendiri." Reynand merebut mangkuknya dari tangan Aina.

__ADS_1


Mungkin sekitar setengah menit kami berdiri di dekat pintu. Tante Aina dan Reynand belum juga menyadari kehadiran kami, sampai akhirnya ia menoleh dan terlihat kaget.


"Selamat pagi!" Akhirnya Ayah Anton menyapa penghuni kamar rawat itu.


"Pagi! Ya ampun! Mengapa kalian hanya berdiri saja di sana?" Tante Aina sontak bangkit menghampiri.


Reynand yang belum sempat menikmati makanannya itu pun ikut mengarahkan pandangan terkejut ke arah kami, lalu menyunggingkan segaris senyuman.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk penyambutan, kami pun berdiri mengelilingi ranjang pria yang sedang sakit itu.


"Bagaimana keadaanmu, Rey?" tanya Ayah.


"Sudah lebih baik, Yah," sahutnya.


"Sebenarnya semalam gue datang ke rumah sakit untuk jemput Sheryl, tapi gak jadi jenguk karena takut ganggu istirahat lo, Rey," tambah Baruna.


"Enggak apa-apa, Bar." Reynand menggeleng pelan.


"Apa sudah tidak sesak?" tanya Bunda Meri.


"Masih sedikit tidak nyaman, tapi sudah lebih baik," jawabnya.


"Iya, Mer. Untung saja menantumu datang ke apartemen Rey. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Anak lajangku mungkin sudah tiada tanpa pendamping di sisinya," sindir Tante Aina menyengih, tapi matanya melirik sendu ke arah sang putra.


Tante Aina, Ayah Anton, dan Bunda Meri pun terkekeh. Mungkin Tante Aina hanya ingin menghidupkan suasana di ruangan itu, tapi Aku dan Baruna tidak terpancing. Kami hanya bisa saling pandang karena tiba-tiba mereka membicarakan jodoh Reynand.


"Iya, Rey. Sebaiknya kau tinggal dengan ibumu jika belum menikah. Kalau tiba-tiba kejadian seperti ini terulang lagi, bagaimana?" timpal Ayah Anton memperingatkan putranya.


Reynand melirik ke arah Ayah Anton. "Ayah, jangan ikut-ikutan Mama, ya. Jika sudah saatnya, nanti juga aku akan menikah."


"Dengan dokter Nay saja kalau begitu. Tante dengar dari Sheryl dia juga membantu menyelamatkan hidupmu." Bunda ikut mengomentari.


"Ide bagus, Mer. Cocok! Aku senang kalau ada yang bisa merawat dan mengontrol kesehatan anakku sekaligus mendampingi ia di kemudian hari," timpal Tante Aina.


Tante Aina yang makin bersemangat lalu mengajak kedua mertuaku duduk di sofa, meneruskan pembicaraan tentang jodoh Reynand yang tidak ada habisnya. Aku dan Baruna masih berdiri di dekat ranjang Reynand karena tidak ingin ikut-ikutan mengobrol ke dalam pembicaraan dengan topik sensitif itu.


Aku tidak habis pikir, Tante Aina tidak menyerah menjodohkan anaknya dengan wanita lain. Ia makin bersemangat karena sekarang memiliki pendukung seperti Ayah dan bunda. Obrolannya terdengar sangat seru membicarakan Reynand dengan beberapa nama gadis yang mungkin cocok jika bisa bersanding dengan pria lajang di hadapanku. Sedangkan Reynand hanya menatap pasrah dibicarakan seperti itu.


"Maafkan Ayah dan ibuku, ya." Baruna langsung menanggapinya dengan serius. Tampak sekali jika ia merasa tidak enak hati dengan obrolan yang terdengar menyudutkan Reynand.


"Tidak apa-apa. Sudah biasa. Terserah sajalah," ucap Reynand terkekeh.

__ADS_1


"Setidaknya kau harus fokus pada kesehatanmu dulu," kataku memandang miris ke arahnya.


"Ya. Terima kasih, Sher."


Aku hanya mengangguk. Sedetik kemudian, suasana hening tercipta begitu saja di antara kami bertiga. Tidak ada pembicaraan sama sekali.


Baruna tiba-tiba menoleh ke arah kedua orang tuanya lalu ke arahku. "Kelihatannya obrolan mereka mengenai jodoh Reynand masih panjang. Sayang, kamu temani Rey sebentar. Aku akan ke bawah membeli minuman dan cemilan untuk kita semua."


"Aku saja yang beli," sahutku.


"Tidak usah. Aku tidak lama," tolak Baruna menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah," kataku mengalah.


"Lo mau titip apa, Rey?"


"Enggak ada, Bar," jawab Reynand.


Baruna beranjak duduk bergabung sebentar di sofa sebelum akhirnya ia keluar membeli minuman dan makanan. Aku ditinggalnya duduk di samping ranjang Reynand karena tidak ingin ikut pembicaraan para orang tua itu.


Entah apa yang terjadi. Baruna keluar lama sekali dan tidak juga kembali. Aku sudah menghubunginya, tapi panggilanku tidak dijawabnya.


Sementara itu, pertemanan yang sudah kudeklarasikan untuknya semalam masih terasa sangat aneh karena kami tidak juga memulai obrolan apapun walau duduk saling berhadapan. Hubungan kami yang statusnya menjadi teman rasanya tidak juga berubah. Reynand sangat kaku dan tidak bisa berbicara santai begitu saja.


"Baruna lama sekali," katanya tiba-tiba.


"Ya, lama sekali. Ditelepon juga tidak diangkat," sahutku menghela napas panjang.


"Kau tahu, mendengar obrolan mereka, membuatku sangat mual." Reynand menatap lurus ke depan, ke arah para orang tua yang masih membahas satu per satu kriteria gadis yang mungkin cocok untuk Reynand.


"Mau berjalan-jalan ke luar?" tanyaku. Entah apa yang merasuki otakku saat mengucap pertanyaan seperti itu. Reynand sontak menoleh terkejut.


"Kau mau menemaniku?"


"Sebentar saja. Di sekitar rumah sakit ada taman luas yang mungkin akan membantu menghilangkan rasa mualmu akibat mendengarkan obrolan mereka mengenai para gadis-gadis itu."


 


Hai! Hai!


Maafkeun lama update. Selain sibuk kerja, otaknya juga sibuk ngelindur ke mana-mana. Hahaha.

__ADS_1


Covid makin merajalela di RS dan kerjaan rasanya gak habis-habis. Di manapun kalian berada, semoga kalian selalu sehat, gaes!


__ADS_2