Marriage Order

Marriage Order
Maafkan Aku Papa


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan saat kami tiba di rumah. Tadi aku dan Kak Baruna sempat mampir di sebuah restoran untuk makan malam berdua yang menyebabkan kami pulang sedikit terlambat.


Kami berjalan masuk ke dalam rumah. Kak Reza sudah menyambut kami di ruang tamu. Air mukanya tidak seperti biasa, hanya datar tidak ada ekspresi.


"Bar, bokap mau ngomong. Lo ditungguin di ruang keluarga," kata Kak Reza tiba-tiba.


"Oh ... ya sudah gue gue ke sana."


"Aku ikut," kataku.


Kami melangkah menuju ruang keluarga. Tampak Papa dan Mama sudah duduk menunggu di sofa. Wajah ketiga keluargaku sore ini sangat datar tidak dapat ditebak.


"Ada apa ini? Kenapa suasananya jadi serius seperti ini?"


Kami lalu mengambil posisi duduk berhadapan dengan kedua orang tuaku. Kak Reza ikut duduk di samping Papa.


"Baruna, sebenarnya apa yang terbesit di pikiranmu saat memukul laki-kali itu?" tanya Papa tanpa basa-basi menatap wajah Kak Baruna.


"Dia ingin mempermalukan Sheryl Om. Saya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Sebaiknya Om juga berhati-hati, lelaki dari Mahardika Corp itu sepertinya sudah gila. Dia bahkan mengajak Sheryl untuk tidur dengannya."


"Kenapa bisa seperti itu? Sheryl coba kamu jelaskan ke Papa." Papa menatapku tajam, air mukanya berubah mengerikan.


"Papa, maafkan aku. Aku tidak tahu kenapa dia bisa senekat itu. Dia dendam padaku Pa. Aku sudah melakukan penganiayaan verbal dan fisik sejak kami satu sekolah dulu." Mataku mengembang, bulir-bulir air mata mulai jatuh. Penyesalan yang tiada berguna.


Papa dan Mama terkesiap mendengar penjelasanku. Air mukanya kembali berubah, mata mereka berdua membelalak kaget dengan mulut yang ternganga benar-benar terkejut sekaligus kecewa. Kak Reza hanya diam mendengarkan karena dia sudah mengetahui cerita sebelumnya.


"Sheryl, kami tidak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan tindakan negatif. Selama ini kami sudah mendidikmu sesuai dengan harapan kami. Dari kecil hingga dewasa kami sudah memutuskan apa saja yang terbaik untukmu. Bahkan lihat, sekarang seorang lelaki seperti Baruna ada di sampingmu. Kalau sudah seperti ini sama saja kamu mengotori kepala kami dengan tingkah lakumu saat sekolah dulu. Kamu tahu sekarang, kondisi perusahaan mulai goyah. Itu semua akibat ulahmu!" serunya dengan raut wajah yang menunjukkan kemarahan.


Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, beranjak dari sofa berlutut di hadapan kedua orang tuaku. Air mata yang tadi sudah kuseka dan mati-matian kutahan akhirnya jebol juga pertahanannya. Aku menangis terisak.

__ADS_1


"Pa-Papa, Ma-Mama, a-aku mi-minta ma-maaf." Aku menangis terisak.


Hanya kata-kata itu yang bisa kukeluarkan. Dadaku terlalu sesak, tenggorokan tersekat, lidah pun kelu rasanya. Kak Baruna yang melihatku tidak tega ikut berlutut di sampingku.


"Om, aku tahu situasi ini sangat sulit untuk keluarga kalian. Maafkan Sheryl, Om. Dia pun sudah menyesali tindakannya dulu. Aku tahu Om orang yang tegas, tapi semua sudah terlambat. Aku akan membantu sebisaku."


Papa mendengar kata-kata Kak Baruna tapi dia memalingkan mukanya dari hadapan kami, tidak ingin melihat tatapan mata kami yang memohon iba. Mama melihat kami dengan tatapan matanya yang juga merasakan iba. Dia beranjak dari sofa memelukku erat, Membelai rambutku yang terurai lembut, menenangkanku.


"Agung, Sheryl anak kita. Kita tidak perlu terlalu keras padanya. Dari dulu kamu mendidik anak-anak sesuai kemauanmu walaupun sebenarnya aku tidak ingin. Sampai kamu mempertaruhkan masa depannya dengan cara menjodohkan anakmu dengan anak temanmu. Untung saja Baruna bukan orang jahat."


"Hei kita sudah sepakat untuk tidak mengungkit masalah ini Rin. Semua kulakukan untuk kesejahteraan keluarga kita. Kamu pun sudah menyetujui rencana itu."


"Terserah! Aku lelah terus mengikuti arahanmu. Seorang ibu akan selalu membela anaknya jika anaknya menangis. Terlepas dari kesalahannya atau pun tidak."


"Ayo berdiri sayang," ucap Mama.


"Rini! Aku belum selesai berbicara. Mau ke mana?!" panggil Papa dengan nada marah.


"Aku sudah selesai. Aku ingin mengantar anakku ke kamarnya."


Kak Reza menggelengkan kepalanya bingung harus membela siapa di antara kedua orang tuanya. Dia hanya diam tapi ikut beranjak meninggalkan ayahnya yang masih duduk diam di sofa ruang keluarganya.


Aku duduk di tepi tempat tidur kamarku. Mama duduk di sampingku. Mengusap-usap punggungku lembut. Dia menatapku iba sambil merapikan rambut-rambut yang menjulur berantakan di wajahku. Kak Baruna dan Kak Reza duduk di sebuah sofa yang berada di pojok kamar.


"Sayang, apa pun yang Papamu katakan jangan pernah kamu masukkan ke dalam hati. Dia tetap seorang ayah yang harus kamu hormati. Tadi Mama benar-benar tidak bermaksud berkata seperti itu tapi memang kadang Papamu itu perlu diingatkan. Kamu tetap anak gadisnya yang manis," nasihat Mama.


Aku hanya mengangguk lalu meraih tisu di atas meja riasku. Menyeka air mata yang tidak berhenti mengalir. Kak Reza menuangkan air minum di gelas yang letaknya tidak jauh darinya.


"Minumlah. Maafkan Kakak juga yang kadang membuatmu tidak nyaman dengan sikap kakak," kata Kak Reza sambil menyodorkan segelas air padaku.

__ADS_1


Aku meneguk air itu perlahan dan merasa lega seketika. Tenggorokan yang tadi tersekat mulai terbuka lebar dialiri oleh air yang masuk ke dalam tubuh.


"Mama dan Kak Reza bisakah tinggalkan aku berdua dengan Kak Baruna? Aku ingin berbicara dengannya sebentar," pintaku sedikit memaksa.


Mama menatapku, senyum kecil tersungging di bibirnya. Dia hanya mengangguk lalu bangkit berdiri meninggalkanku diikuti oleh Kak Reza yang juga keluar dari kamar.


"Sayang," panggilku lirih.


Kak Baruna menoleh ke arahku lalu ikut duduk di tepi tempat tidur. Memandang wajahku dengan mata yang sembab akibat air mata yang tidak terbendung.


"Ada apa?"


"Apa yang sudah kamu ketahui mengenai perjodohan ini? Apa aku sedang dimanfaatkan oleh keluargaku sendiri?"


"Kenapa bertanya tentang hal itu? Tentu saja perjodohan ini berjalan seperti rencana awal mereka menjodohkan kita untuk memperbesar kerajaan bisnisnya."


"Bertanya padamu sama halnya buta denganku. Aku merasa ada yang tidak beres. Papa mengatakan semua yang dilakukannya adalah demi kesejahteraan keluarganya."


"Sebegitu pentingnyakah alasan bagimu? Jangan berpikir negatif."


"Entahlah, saat ini aku kembali merasa aku adalah pion catur bagi keluargaku."


"Jangan berburuk sangka pada keluargamu sendiri sayang, semua menyayangimu."


Aku hanya mengangguk berusaha merekam kata-kata Kak Baruna barusan. Entah bagaimana aku akan bertahan dari berbagai cobaan-cobaan hidupku sekarang. Semakin kupikirkan semakin sakit kurasakan. Aku semakin ingin cepat menikah dan meninggalkan keluarga ini.


"Berjanjilah kami selalu mendampingiku sayang. Aku tidak tahu bagaimana melewati semuanya tanpa kamu," ucapku.


"Iya sayang. Beristirahatlah." Kak Baruna mengacak-acak rambutku lalu melangkah keluar dari kamarku meninggalkanku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2