
Reynand Pov
Pukul delapan pagi dan aku telah tiba di rumah sakit. Sambil membawa kantung berisi buah-buahan, langkahku mendadak terhenti. Padahal, kamar rawat Sheryl ada di depanmu sekarang. Aku terdiam sesaat di sana. Sedikit ragu untuk masuk ke dalam. Bagaimana tidak? Baruna pasti ada di sana. Sheryl tidak mungkin sendirian saja, 'kan?
Teringat akan Nayara yang memberi tahu kabar Sheryl yang sedang menjalani perawatan, aku pun memutuskan untuk menelepon Nayara. "Nay, aku sudah berada di depan kamar Sheryl," kataku setelah wanita itu menjawab teleponnya.
"Tunggu sebentar!" Nayara tiba-tiba memutus teleponnya.
"Ck! Apa-apaan sih, dia?" gumamku karena adik Farhan itu terdengar tidak sopan. Aku yang menelepon, tapi dia dengan seenaknya memutus begitu saja.
Ceklek!
Pintu ruang rawat di depanku terbuka. Nayara muncur dari baliknya. Dokter wanita itu tiba-tiba mendorong tubuhku menjauh. Langkahnya menghentak mencegahku masuk ke dalam. Dia malah mengarahkan ke arah sebaliknya.
"Hei! Nay! Apa-apaan, sih?!" protesku, tapi wanita itu tidak menjawab dan malah memaksaku masuk ke dalam sebuah ruang perawatan yang kosong.
Nayara menurunkan kedua tangannya dari dadaku. Ia terlihat mengembuskan napas panjang. Tatapan matanya kemudian menajam. Tiba-tiba menunjukku dengan telunjuknya yang ramping.
"Katakan kepadaku! Apa yang kau lakukan kepadanya?!" tanyanya.
"Melakukan apa, huh?" balasku mengernyit bingung.
"Jangan berpura-pura! Kau adalah satu-satunya orang yang berpotensi membuatnya stres!" serunya begitu tegas menuduhku. Seketika, aku menarik wajah bingung. Aku sama sekali tidak mengerti dengan kalimat tuduhannya itu.
Nayara kemudian beranjak duduk di sebuah sofa yang berada di dalam ruangan itu dan aku mengekor ia duduk di depannya, sambil menaruh kantung berisi jeruk segar di atas meja. Terpancar raut kekhawatiran pada wajah Nayara. Tiba-tiba saja dia melipat kedua tangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepada Sheryl?" tanyaku pelan-pelan.
"Kau tahu? Dia hampir kehilangan bayinya," jawab Nayara masih memandang begitu sinis.
Mendengar jawaban itu membuatku sangat terkejut. Teringat bagaimana kemarin aku mengantarnya pulang sampai rumah dan dia terlihat masih baik-baik saja.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, Nay? Terakhir aku mengantarnya pulang dan dia masih baik-baik saja!" Aku sontak bangkit dari dudukku. Sungguh tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nayara.
"Aku juga tidak tahu. Dia hanya diam saja saat kutanya apa yang telah terjadi. Bahkan keluarganya tidak ada yang mengetahui pasti mengapa Sheryl seperti itu," sahut Nayara. Kali ini nada bicaranya terdengar lebih rendah beberapa oktaf. Tampak raut kesedihan di wajahnya.
Apa ini ada kaitannya dengan perselingkuhan Baruna?
Aku hanya bisa menebak dalam hati dan tidak mungkin menceritakan tentang hal itu kepada Nayara.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Aku kembali duduk, menatap lawan bicaraku lebih serius.
"Jadi, kau tidak ada hubungannya dengan kejadian ini?" Tiba-tiba Nayara bertanya kembali. Wanita itu sepertinya benar-benar tidak memercayaiku.
Mendengar pertanyaannya, aku mendengus kesal. Segera bangkit berdiri, meraih kantung buahku kembali, lalu meninggalkan dokter muda itu begitu saja.
"Hei, Rey! Aku belum selesai!" teriak Nayara dengan suara melengkingnya.
Aku tidak peduli dan terus berjalan keluar dari ruangan itu menuju pintu kamar Sheryl. Saat aku hendak meraih handel pintu, Nayara tiba-tiba menarik tanganku.
Aku hanya mengangguk kemudian memberanikan diri membuka pintunya. Ruangan itu terasa sangat hening. Tak seperti dugaanku, Baruna tidak ada di sana. Hanya Tante Rini yang menjaganya. Dia duduk di sofa coklat yang terletak tak jauh dari tempat tidur Sheryl.
"Selamat pagi, Tante," kataku.
Tante Rini mendongak sesaat, lalu meraih kacamatanya. Sepertinya ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Aku mengerling, sesaat melihat Sheryl yang hanya diam terbaring di atas tempat tidurnya. Bahkan ia sama sekali tidak menoleh ke arahku.
"Pagi, Rey!" katanya membalas sapaanku. Wanita tua itu tersenyum sebentar lalu melihat sekelilingku, "apa kau tadi bertemu dengan dokter Nayara?"
"Iya. Kelihatannya dia sedang sibuk dan pergi setelah kami mengobrol sebentar," jawabku. Tante Rini hanya mengangguk-angguk pelan. Aku berjalan ke arahnya lalu memberikan buah tanganku kepadanya. "Untuk Sheryl."
"Terima kasih, Rey." Tante Rini segera meletakkan kantung berisi buah jeruk itu di atas nakas. Dia lalu menoleh kepada Sheryl. "Sher, ada Reynand ingin datang melihat keadaanmu."
Pandanganku yang mengikuti gerak langkah Tante Rini sontak berujung pada wanita yang sampai sekarang masih kucintai itu. Sheryl yang murung tampak mengangguk saja dan tidak berkomentar.
__ADS_1
Aku menghampirinya, lalu berdiri di samping Tante Rini. "Hai," sapaku dengan telapak tangan yang bergerak mengibas.
Sheryl hanya menarik segaris senyumnya dan itu hanya bertahan beberapa detik saja. Wajahnya lalu kembali murung.
"Tolong dimaklumi ya, Rey. Sheryl hampir kehilangan bayinya. Untung saja tidak," jelas Tanta Rini kepadaku.
"Syukurlah," sahutku kemudian terdiam sebentar.
Baruna benar-benar keterlaluan. Dia tidak ada di sini, padahal istrinya sangat butuh kehadirannya sekarang. Sepertinya perkataanku kemarin tak dianggap serius olehnya.
"Baruna belum bisa pulang karena keadaan ayahnya yang masih belum stabil. Tapi dia bilang, dia akan pulang secepatnya." Tiba-tiba Tante Rini menjelaskan seakan membaca apa yang ada dalam pikiranku.
"Oh ...." Aku mengangguk pelan.
Suara dering ponsel tiba-tiba saja berbunyi. Tante Rini meraih ponselnya, kemudian berbicara entah dengan siapa. Tidak lama, ia pun mengakhiri panggilan.
"Rey, bisakah kau temani Sheryl sebentar? Tante harus ke bawah. Reza datang membawakan ponsel Sheryl. Tapi karena terburu-buru ada meeting, dia tidak bisa terlalu lama menunggu di bawah."
"Biar aku yang ambil, Tante."
"Tidak usah. Hanya sebentar, kok. Kau tunggu di sini. Tante minta tolong hibur Sheryl, ya!"
Aku mengangguk menurutinya. Tante Rini kemudian pergi meninggalkan kami berdua. Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan cepat. Kedua mataku meliriknya yang masih diam tanpa kata. Sheryl benar-benar seperti wanita bisu saat ini dan aku yakin satu-satunya alasan adalah Baruna.
"Kau tidak lelah berdiam diri seperti itu? Jika terus diam, mulutmu akan kaku dan tak bisa mengoceh lagi," celetukku mengekeh, tapi ia tidak menjawabnya dan terus terdiam. Tidak kehilangan akal, aku pun berusaha memecah keheningan. Berpura-pura mengambil satu buah jeruk dari dalam kantung dan menawarkan kepadanya, "mau jeruk, tidak?"
Sheryl menggeleng lemah lalu membeku kembali. "Rasanya aku ingin mati saja, Rey," ucap Sheryl tiba-tiba. Walau akhirnya ia berbicara, tapi kalimat yang meluncur dari bibirnya yang pucat sontak membuatku terkesiap.
"Hei! Kau tidak boleh berkata begitu! Di dalam kandunganmu ada anak yang berharap untuk dilahirkan nantinya." Aku memarahi Sheryl.
Bukannya menyahut, dia malah mengerjapkan matanya beberapa kali. Tampak buliran air mata yang tertahan pada kedua sudut matanya. Sheryl yang berwajah murung itu pun terisak.
__ADS_1
Walau aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, hatiku terasa sesak. Kali ini benar-benar sangat berbeda. Dia bukan Sheryl yang kemarin kuantarkan pulang ke rumah. Saat ini, Sheryl berada dalam kesedihan yang mendalam.