
Reynand Pov
Sontak aku membalik badan mendengar suara itu. Sheryl menatap dengan kecemasan yang tampak di wajahnya. Entah karena apa.
"Kau akan pergi?" tanya Sheryl.
"Ya. Untuk apa aku berada di sini sementara wanita yang ingin aku bahagiakan menolakku begitu saja seusai ciuman kami yang begitu menggebu." Aku menyindirnya dengan tatapan dingin.
"Ternyata kau benar-benar marah." Sheryl menunjukkan segurat penyesalannya.
"Ya, mau bagaimana lagi. Kau bilang akan mempertahankan keutuhan rumah tanggamu, 'kan? Tak mungkin lagi ada celah untukku masuk ke dalam hatimu." Aku mengatakan kalimat yang sejujurnya sangat begitu menyakitkan.
Sheryl tidak menyahut. Dia menundukkan pandangannya. Sementara, aku hanya bisa menarik napas yang kupaksa untuk bisa lega saat itu juga.
Aku berjalan mendekat, mengusap puncak kepalanya. "Maaf telah membuat posisimu sulit. Aku memang egois," kataku.
"Mengapa?" Suara Sheryl terdengar serak.
"Hah?" Sontak mataku membulat tak mengerti perkataannya, "mengapa apanya?" tanyaku.
"Mengapa kau tidak mengatakan semua hal yang kau ketahui? Kau seakan sama dengan mereka. Kau terlihat menyembunyikan sesuatu dariku."
Aku mengernyit terkejut. "Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak menyembunyikan apa-apa," sahutku berbohong.
"Siapa … siapa wanita itu?" tanyanya.
"Wanita itu?"
"Kau selalu menuduh Baruna berselingkuh. Jika kau tidak tahu, kau tidak mungkin berkata dengan sangat yakin."
Napasku sontak tertahan sesaat. Aku menggigit bibir ragu karena ucapan Ayah saat itu. "Aku tidak ingin membahasnya. Jika kau ingin bertahan dalam rumah tanggamu, maka terima saja nasibmu yang seperti itu. Sudahlah! Rasanya aku sudah selesai berada di sini. Tempat ini benar-benar membuat kenangan buruk untukku," jelasku kemudian berbalik kembali.
Aku beringsut menuju mobilku. Namun saat hendak membuka pintu, kaus pada lenganku terasa tertarik dari belakang.
"Sheryl?" Aku terkejut karena ternyata Sheryl mengikuti dari belakang. Tangannya menarik kaus lenganku.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku di sini sendirian," katanya dengan suara bergetar.
Aku mengembus napas berat menatapnya. Rasanya serba salah. "Tidak, Sher. Sepertinya kita butuh waktu untuk bisa sama-sama berpikir tentang masa depan yang ingin kita wujudkan."
Mendengar perkataanku, perlahan Sheryl melepaskan genggaman tangannya. Aku segera masuk ke dalam mobil. Meninggalkan ia sendirian yang mematung penuh kesedihan di halaman rumah kediaman Asyraf.
***
Sheryl Pov
__ADS_1
Waktu terasa sangat cepat berlalu. Aku yang ditinggalkan oleh Reynand mulai membiasakan diri hidup tanpa bayang-bayangnya. Kami tak berkomunikasi sama sekali. Dan aku benar-benar kehilangan sosoknya.
Baruna pun berubah. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Pulang malam dan tak ada sedikit pun percakapan di antara kami jika bertemu. Begitupun dengan Felicia. Jika ditanya, keduanya kompak mengatakan sedang banyak pekerjaan di kantor. Entahlah, terkadang aku merasa curiga pada mereka berdua.
Pernikahan seperti ini benar-benar bukan mauku. Pernikahan kami begitu dingin dan membuatku gelisah setiap harinya.
Seperti pagi ini, Baruna baru saja keluar dari kamar mandi dengan balutan jubah mandinya. Sedangkan aku masih terduduk berdandan di depan cermin rias. Dia memakai pakaian kerjanya tanpa bersuara mengatakan sesuatu.
"Apa nanti pulang malam lagi?" tanyaku meliriknya di cermin.
"Ya," jawab Baruna lalu menoleh kepadaku, "mengapa kalung itu tak juga melingkar di lehermu?" tanyanya.
"Apa itu penting sekarang?" Aku balas bertanya.
"Kamu yang memulainya," jawab Baruna.
"Memulai apa?"
"Bersikap dingin kepadaku."
"Mengapa tak ada seorang pun yang mengerti amnesiaku ini? Astaga! Tak ada seorang pun yang mau mengalami hal buruk." Aku sontak bangkit berdiri membalik badan menatapnya kesal. Sungguh! Sekalinya kami berbicara, Baruna membuatku naik darah.
"Kamu selalu berdalih pada amnesia itu. Menurutku itu tidak masuk akal. Jangan-jangan kamu sebenarnya sudah ingat dan sekarang sedang berpura-pura demi menghukumku?"
Aku mengembus napas kasar, menatap Baruna dengan tajam. "Menghukum? Apa kamu telah melakukan kesalahan? Dan tentang amnesiaku, semestinya kamu tidak menudingku seperti itu. Sungguh! Aku pun tak tahu mengapa ingatan masa laluku belum juga kembali."
"Mengapa kamu mengalihkan pembicaraan, Mas?" Aku berkacak pinggang.
"Aku pusing berdebat denganmu. Kau pun tahu pekerjaanku sudah cukup membuatku pusing. Untung ada Fely yang membantuku."
Fely lagi …. Akhir-akhir ini nama kakak sepupunya itu sering sekali meluncur dari bibirnya. Dia terlihat senang Felicia membantunya di kantor.
Aku tidak berkomentar. Baruna mengecup dahiku, berkata, "Ayo kita sarapan dulu."
.
.
.
Beberapa jam kemudian ….
Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang? Rasanya sangat bosan berada di sini. Rumah besar ini sangat sepi ketika semua orang pergi mengerjakan aktivitasnya masing-masing. Begitupun dengan Bunda yang mulai mengantar Rafael sekolah pada hari pertamanya di taman kanak-kanak.
Ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku melirik layarnya. Kantor Baruna menelepon.
__ADS_1
"Ya, Mas?" kataku bernada malas.
"Sher, Ponselku tertinggal di dalam laci nakas," katanya tanpa basa-basi.
Aku segera membuka laci. Benar saja ponselnya ada di sana. "Ya, ponselmu tertinggal."
"Kalau begitu, suruh Pak Amri membawakannya ke kantor sekarang juga."
"Iya."
Panggilan pun terputus. Aku segera membawa turun ponsel Baruna. Melihat ke garasi mobil. Pak Amri tampak sedang mencuci mobil keluarga Asyraf. Hujan yang sejak pagi turun memang membuat kendaraan itu menjadi lebih kotor dari biasanya. Pak Amri yang baru saja mencuci dan terlihat lelah membuatku mengurungkan niat meminta pertolongannya.
Aku segera membuka pintu mobil. Pak Amri yang melihatku pun sontak bertanya, "Nyonya Sheryl mau ke mana?"
"Ke kantor Asyraf. Baruna meninggalkan ponselnya," jawabku.
Mendengar jawabanku, Pak Amri tampak rikuh dan menunjukkan gelagat yang aneh. "Biar saya saja yang mengantarnya, Bu."
"Kenapa? Walau amnesia, aku masih bisa menyetir mobil, Pak. Tenang saja!" sahutku seraya tersenyum.
"Oh, begitu. Ya, sudah. Ibu hati-hati di jalan. Jangan mengebut! Jalanan pasti licin karena hujan. Saya yakin Pak Baruna akan menunggu ponselnya dengan sabar," ujar Pak Amri akhirnya mengalah.
Aku hanya mengangguk. Tak lama kemudian, aku pun meninggalkan halaman kediaman Asyraf dengan mobilku.
Hujan yang semakin deras membuat hatiku sedikit gelisah. Weeper kaca mobil yang bergerak mengusir buliran air hujan seolah membangkitkan suatu ingatan yang tertahan. Belum lagi saat kilat memperlihatkan kilauannya yang menyeramkan. Aku bergidik sendiri di tengah-tengah suasana seperti itu.
Tiba-tiba kepalaku terasa sangat sakit. Terngiang sebuah percakapan antara aku dan Baruna. Kami bertengkar hebat. Sambil menahan rasa sakit kepala, tanpa sadar, aku menginjak gas lebih dalam dari sebelumnya.
"Dengar ya, Sheryl! Mungkin aku memang pantas mendapatkan pukulan dari Reza. Dan aku yakin kamu yang paling senang melihat ia memukulku. Ya! Kamu menang banyak. Semua orang membela dan mendukungmu. Orang tuamu, Kakakmu, dan Rey. Tak ada yang mengerti bagaimana posisiku. Hanya Ayah dan Bunda yang mengerti dengan situasiku saat ini."
"Maksudmu apa? Mengapa kamu berkata seperti itu? Ini bukan masalah menang atau kalah, Mas. Dan asal kamu tahu, aku tidak suka dengan kekerasan. Tidak seperti yang kamu katakan, sungguh! Aku tidak senang melihat Kakak meninjumu."
"Kamu tidak perlu berbohong untuk menutupinya!"
"Untuk apa aku berbohong? Aku hanya tidak setuju kamu membawa Fely dan Rafa ke dalam rumah kita."
"Atas dasar apa kamu tidak menyetujuinya? Dia anakku dan Fely adalah ibunya! Mereka tidak mungkin dipisahkan. Sebaiknya kamu cepat beradaptasi dengan kehadiran mereka nanti di rumah."
"Mas!"
"Kecemburuan dan ketidaksetujuanmu itu sungguh tidak berasalan. Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya. Sebaliknya, kamu yang harus bercermin. Jangan kamu pikir kalau aku tidak tahu akan kedekatanmu dan Rey. Ayah dan Bunda pun sudah menceritakannya. Diam-diam kamu sering bertemu dengannya, 'kan?"
"Jika kamu berbicara seperti itu tentangku, bagaimana dengan dirimu sendiri? Aku sungguh tidak tahu apa yang kalian lakukan di Tokyo. Bertiga? Oh, tidak … aku rasa Rafael hanya sebagai alasan saja. Aku yakin, ada sesuatu di antara kalian."
"Kamu sengaja, 'kan? Sengaja memancing amarahku."
__ADS_1
Ckiit!
Percakapan itu seketika buyar. Aku menginjak rem mendadak saat sebuah mobil sedan putih tepat di depan mobilku melintas, memotong jalan di tengah-tengah perempatan jalan raya.