
Baruna PoV
Pukul 17.30
Aku baru saja dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Kamar besar dengan berbagai fasilitas mewah. Bersama dengan bunda yang sedang duduk di sofa menunggu.
"Bun ...," panggilku.
Bunda menoleh dan menghampiriku. Dia menyahut, "Ada apa, Sayang?"
"Aku haus."
Bunda mengambil gelas yang sudah terisi air putih dan sebuah sedotan. Dia lalu memberikannya. Aku menyeruput sedikit demi sedikit. Menghilangkan dahaga yang bersarang di tenggorokan.
"Bun, Apa aku akan menjadi cacat?" tanyaku.
"Tidak, Nak. Jangan bicara seperti itu."
"Apa dia masih mau denganku?"
"Jangan bicara seperti itu! Sheryl mencintaimu, Nak."
"Aku tidak yakin. Bahkan terakhir kali, dia mengabaikanku," sahutku.
"Kamu meragukannya?"
Aku mengangguk. Setelah kecelakaan dan mimpi itu, aku jadi tidak berani berharap dia akan menjadi milikku. Mimpi itu terasa sangat nyata. Mungkin hatinya sekarang sudah menjadi milik Reynand__saudara tiriku.
Tok-tok-tok!
Terdengar suara ketukan pintu. Bunda bangkit dari duduknya dan membukakan pintu. Kemudian terlihat tunanganku dan Reza masuk bersamaan. Reza membawa sesuatu di tangannya.
"Bawa apa? Repot-repot saja!" ucap Bunda meraih bungkusan yang disodorkan oleh Reza.
"Hanya buah, Tante," sahut Reza.
"Terima kasih, Za."
Bunda menaruh bungkusan buah di atas meja. Reza dan Sheryl memandangku yang masih terbaring tidak berdaya.
"Apa kabar, Bro?"
"Yah, lo lihat sendiri. Kurang baik."
"Jangan lama-lama sakitnya. Semangat untuk sembuh. Sheryl udah kebelet mau dinikahin," tambah Reza tertawa sambil melirik ke wajah adiknya yang merona merah.
"Ish .... Kakak membuatku malu," ucap Sheryl.
"Ha-ha-ha ... tidak perlu malu. Bahkan dia sudah melihat tubuh polosmu."
__ADS_1
Sheryl memukul punggung Reza gemas. Wajahnya yang memerah malu membuatnya semakin menggemaskan. Aku hanya tertawa. Bunda yang melihat situasi itu langsung melerai.
"Sudah! sudah! Reza ayo kita keluar. Temani Tante!" kata Bunda yang seakan tahu apa yang kubutuhkan sekarang.
"Eh .... O-oke Tante." Reza membalikkan badannya dan pergi keluar ruangan.
Hanya aku dan Sheryl yang masih berada di ruangan ini. Aku melihatnya sambil tersenyum. Wanitaku itu memakai blus floral berwarna salem dipadukan dengan rok rimpel pendek selutut berwarna coklat muda. Bagaimana pun penampilannya, dia selalu memancarkan kecantikan seorang wanita di mataku. Matanya terlihat canggung melihatku, pipinya merona merah, dengan balasan senyum yang indah.
Dia menghampiriku hingga duduk di kursi dekat ranjang. Matanya kemudian berkaca-kaca hendak menangis. Tidak lama buliran air matanya jatuh menggenangi pipinya.
"Mengapa menangis, Sayang?" tanyaku seraya ingin duduk menyandar pada ranjang.
"Tidak, kamu tidak boleh bergerak terlalu banyak," perintahnya.
Aku mengangguk mengikuti perintahnya. Segera mengangkat tanganku berusaha menggapai kedua sudut matanya. Namun, sepertinya tubuh ini belum bisa diajak kerja sama. Masih begitu sakit dan kaku.
Sheryl membungkuk hingga wajahnya mendekat. Dia meraih tanganku dan membiarkan telapaknya menempel pada pipinya. Aku membelainya, merasakan pipinya yang mulus.
"Aku merindukanmu. Maafkan aku, Sayang," ucapnya.
"Maafkan aku juga yang sudah menyembunyikan semuanya darimu ...."
"Tidak! tidak! Aku yang bersalah. Mengabaikanmu seharian."
Aku menggelengkan kepala. Memandang wajahnya lembut. "Kita sama-sama mempunyai kesalahan." Aku menarik napas berat, "Namun, yang perlu kamu tahu, aku tetap mencintaimu."
Tunanganku itu menutup mulutnya dengan jari jemarinya. Terus terisak menumpahkan segala perasaan yang membuncah dalam dada. Aku mengulurkan tangan dan merangkulnya hingga dia beranjak duduk di tepi ranjang dan membungkuk masuk ke dalam pelukanku.
"Sayang, apa kamu masih menerimaku yang seperti ini?" tanyaku.
Sheryl menghentikan tangisnya sejenak. Dia hendak menarik tubuhnya, tapi aku mencegahnya. Terus membiarkan kepalanya berada dalam dekapanku.
"Iya. Aku mencintaimu, Sayang," balasnya.
Aku menarik napas dalam, lalu berkata, "Maka lupakan ... lupakan semua! Kita mulai dari awal. Kita akan menikah," ucapku.
Anehnya wanitaku ini tidak menjawab apapun selain suara tangis yang terdengar begitu pilu. Aku terus membelai puncak kepalanya dengan lembut. Hingga ia akhirnya berhenti menangis dan menarik tubuhnya, lalu memandang wajahku.
"Kamu jelek sekali, Sayang." Sheryl menahan tawa.
"Apa kamu menyesal? Aku akan menjadi cacat dan ...."
Tiba-tiba saja, Sheryl membungkam mulutku dengan bibirnya. Dia mencumbu mesra bibirku dan membelainya dengan lembut.
"Jangan mengatakan hal itu, Sayang. Kamu bangun pun, aku sudah sangat bersyukur!" katanya di sela-sela ciumannya.
Aku membelai rambutnya lembut. Wajahnya kini sangat dekat ke wajahku. Segera, aku membalas ciumannya yang penuh dengan kerinduan. Masuk menyapu ke dalam rongga mulut dengan lidah yang menjelajah ke setiap sisinya. Napasnya terdengar memburu hangat hingga membuat hasratku menggebu. Mengejang panas seluruh tubuh. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Jika tubuhku sehat, aku mungkin akan menikmati seluruh tubuhnya. Tidak peduli lagi kami sudah sah atau belum. Aku sangat merindukan sentuhannya sekarang.
Dia mengurai ciumannya. Namun, aku kembali menarik tengkuk lehernya kembali mengulum rasa manis dari bibirnya. Menjamah hingga ke lehernya yang jenjang. Rambutnya yang masih tergerai, kusingkirkan hingga jatuh menimpa bahuku. Tanganku menjelajah hingga menyusup masuk ke balik baju bermotif floral yang ia kenakan. Mengusap punggungnya yang mulus dan menghangat. Aku baru saja ingin melepaskan pengait bra yang dipakai, saat ia berteriak.
__ADS_1
"Sayang, hentikan!" teriaknya di sela-sela ciuman kami.
"Aku menginginkannya. Kamu yang memulai."
"Kamu belum bisa melakukannya. Kamu masih sakit, Sayang. Kita pun sedang di rumah sakit. Bagaimana jika ada yang masuk?"
Aku terdiam dan mengurungkan niatku. Aku merasa menjadi tidak berdaya ketika diingatkan akan keadaan sebenarnya dan aku jadi tidak bersemangat untuk melanjutkan ciumanku.
"Maafkan aku," ucapnya pelan.
"Aku yang harusnya meminta maaf. Aku yang terlalu bersemangat melahapmu. Harusnya hari ini kita sedang berbulan madu di suatu tempat. Menikmati indahnya pantai atau gunung yang menjulang. Menghabiskan setiap malam bersama dalam kehangatan tubuh yang menyatu," jelasku dengan raut wajah menyesal.
"Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku." Dia berkali-kali meminta maaf. Entah untuk apa.
"Bagaimana dengan isi perjanjian itu, apa kamu marah?" tanyaku.
"Iya, aku sangat marah dan sedih. Merasa dipermainkan dengan selembar kertas perjanjian dan sungguh takut jika kamu tidak mencintaiku dengan tulus."
"Bagaimana bisa tidak tulus jika aku sudah mencintaimu seumur hidupku?" Aku memberinya gambaran betapa perasaanku selalu tulus padanya.
"Aku menyesal menyia-nyiakanmu selama hidupku. Bahkan hari ini."
"Kenapa? Kamu tidak sedang menyia-nyiakanku sekarang," sahutku bingung. "Aku merasa sangat dicintai saat ini."
Sheryl terdiam kembali. Wajahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Membuatku bertambah bingung.
Dia kembali menangis. Aku kembali memeluknya masuk ke dalam rengkuhan dan menenangkan dirinya.
Sayang, apa yang terjadi padamu? Apakah itu berhubungan dengan hubungan kita?
Aku menolehkan pandangan ke lain arah. Tiba-tiba melihat sosok Reynand telah berdiri tegap di hadapanku. Dia memandang kami yang sedang berpelukan. Hanya diam, tertegun.
Sheryl menarik dirinya dan menengok ke belakang sejenak. Dia lalu menatapku kembali.
"Haruskah aku keluar?" tanyanya.
"Tidak perlu. Kamu adalah milikku."
Dia mengangguk dan beranjak duduk di kursi samping ranjang. Reynand mengerlingkan matanya ke arah Sheryl lalu ke arahku.
"Apa kabar, Baruna?"
"Masih bahagia," jawabku singkat.
Dia tersenyum, lalu mengedarkan pandangan mencari seseorang, "Di mana Tante Meri?"
"Sedang ke bawah."
"Boleh duduk?"
__ADS_1
"Duduklah," ucapku.
Reynand mendudukkan tubuhnya di atas sofa sambil memainkan ponsel dalam genggaman. Suasana yang hangat berubah menjadi hening dan canggung. Aku melirik Sheryl yang sedari tadi diam-diam terlihat membuang wajahnya, tidak ingin melihat pria itu.