Marriage Order

Marriage Order
S2 Hari Pertama Tanpamu


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Aku mengintip dari balik jendela kamarku di lantai dua. Pagi-pagi sekali melihat sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Mobil milik Pak Reynand.


Bayangan cermin yang terpantul tidak menunjukkan diriku yang sesungguhnya. Bayangan kesedihan itu masih tampak. Bahkan, mataku tambah tidak terlihat. Begitu membengkak dan membuatku sedikit ragu untuk pergi ke kantor.


Sebenarnya Papa sudah mengizinkanku untuk tidak bekerja hari ini. Namun, tidak bisa seenaknya meninggalkan pekerjaan itu. Jika bukan aku yang mengerjakan, pasti akan terus bertumpuk setiap harinya.


Sedikit berdandan memakai concealer untuk menutupi bawah mata yang menghitam dan membengkak cukup membantuku untuk lebih percaya diri menghadapi hari baru. Hari pertama aku tidak bersamanya.


Handel pintu kamar diputar, tampak Kak Reza mengintip. Kepalanya menyembul menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Dek, pangeranmu yang baru sudah menjemput," katanya.


"Maksudmu  Kakak, Pak Reynand?"


"Wah, ternyata secepat itu kamu sudah mengakuinya sebagai pengganti Baruna. Kamu tahu, semalam Baruna menangis di depanku." Tiba-tiba Kak Reza mengalihkan pembicaraan.


"Terserah," sahutku dingin.


"Kenapa jawabanmu seperti itu?"


"Kakak tidak lihat, adikmu ini juga menangis?" debatku.


"Air matamu buaya. Bagaimana bisa aku percaya? Tidak kusangka kamu seperti itu." Kak Reza menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah dibahas. Aku sudah dicampakkan. Puas!" sahutku kesal.


Kak Reza tertawa. Dia lalu menutup pintu dan pergi. Aku memulas lipstik berwarna pucat sebagai sentuhan terakhir. Kemudian berjalan keluar kamar.


Sosok itu sudah duduk di ruang tamu. Menungguku sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia menelepon seseorang untuk memastikan sesuatu.


"Sher ...," panggil Mama.


Tiba-tiba Mama dan Papa menghampiriku. Memberikan kotak makan. Aku menyambut kotak makan itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Jangan lupa dimakan. Reynand datang pagi sekali. Tidak enak membuatnya menunggu," ucap Mama.


Aku mengangguk. Pak Reynand memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dia menoleh menatapku dengan senyum yang mengembang.


"Selamat pagi, Sher, Tante, Om," sapanya. Dia lalu menghampiri kedua orang  tuaku dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Pagi," jawab Mama.


"Pagi!" sahut Papa.


Aku bergeming tidak menjawab. Malas sekali pagi-pagi sudah dijemput olehnya. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari masalah ini?


"Om, Tante, Saya dan Sheryl berangkat dulu," pamitnya.


"Iya hati-hati di jalan," sahut Papa dan Mama bersamaan.


Aku pun berpamitan kepada kedua orang tuaku. Kami berjalan keluar beriringan. Pak Reynand membuka pintu mobilnya dan menpersilakanku masuk. Tidak lama, dia juga ikut masuk ke dalam mobil.


Pria tidak tahu diri itu menghidupkan mesin mobilnya, kemudian menekan gas dan memacunya dengan kecepatan sedang. Berjalan keluar halaman rumahku. Sepanjang beberapa menit perjalanan, kami sama-sama diam. Suasananya hening.


"Bisakah kita membiasakan diri untuk masing-masing tidak membahasakan kata 'saya' lagi? Aku pikir hubungan kita sudah jelas sekarang. Lalu aku minta kamu tidak memanggilku 'Pak' lagi di kemudian hari karena kita sudah menjadi calon suami istri," ucapnya tiba-tiba.


"Ya sudah," jawabku singkat.


"Maafkan aku menjemputmu pagi-pagi sekali. Aku terlalu bersemangat. Nanti aku mampir dulu di kantormu. Kita sarapan dulu bersama," katanya lagi.


"Sarapan? Aku hanya membawa satu kotak bekal makanan," sahutku.


"Hari ini aku memasak. Aku ingin kita berdua menikmatinya," Reynand menoleh ke arahku seraya tersenyum.


Mobilnya mulai masuk ke halaman parkir Kusuma Corporation. Dengan cepat, dia keluar dan membukakan pintu untukku. Pria itu meraih tanganku dan mengeratkan genggaman tangannya.


Setiap orang yang melihat atau berpapasan dengan kami akan saling berbisik atau menatap dengan tatapan penuh kehinaan. Namun, dia tidak peduli dan tetap mendongak selama berjalan. Lain denganku yang merasa sangat malu. Bagai ditelanjangi di depan umum. Perasaan seperti ini terulang kembali saat aku pernah masuk ke dalam sebuah berita beberapa waktu lalu.


"Angkat kepalamu! Jangan menundukkan pandangannya. Semakin kamu menunduk, semakin orang akan menghinamu dan menyalahkan dirimu, Sher," bisiknya.


"Aku bukan seperti kamu yang tidak punya malu," balasku juga berbisik.


"Tapi kamu milikku sekarang. Lakukan apa yang kusuruh. Atau kamu lebih suka aku menciummu di depan umum dan membuat mereka merasa lebih puas untuk bergosip tentang kita?"


Astaga, orang ini benar-benar sudah gila.


Aku sontak mengangkat wajahku dan berjalan seperti biasa. Kami berdua masuk ke dalam lift yang sepi. Reynand menekan angka sebelas sebagai tujuan kami.


Dia sesekali melirikku dan malah membuatku sedikit risih.


"Ada apa? Kenapa melirikku seperti itu?" tanyaku.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya merasa bahagia saat ini. Bisa menjemput bahkan bisa sarapan berdua denganmu tanpa ada beban," jawabnya.


"Aku yang mempunyai beban jika bersamamu, Rey."


"Mengapa?"


"Kamu pun sudah tahu alasannya. Aku tidak mencintaimu," sahutku.


Reynand tidak menjawab. Lift keburu berhenti dan pintunya terbuka. Aku bergegas berjalan dan masuk ke ruangan. Reynand mengekorku dari belakang. Dia mendudukkan tubuhnya di atas kursi berhadapan denganku.


"Kamu bisa belajar mencintaiku, Sher. Aku tidak akan meninggalkanmu," katanya dengan senyum manis.


"Tidak akan. Kamu boleh memiliki tubuhku. Namun, hatiku tetap milik Baruna."


"Aku akan menunggu saat kamu menyerahkan hatimu padaku." Reynand mengedipkan matanya sambil tersenyum simpul.


Ish .... Tengil sekali tingkahnya.


Dia membuka tas bekal makannya di atas meja. Ada dua kotak makan di sana. Reynand memberiku salah satunya. Namun, aku tidak memedulikan kotak makan itu dan malah membuka kotak makan yang diberikan oleh Mama.


Dia mengangkat sebelah alisnya dan hanya menggelengkan kepala.


"Kamu bisa memakan kotak bekalku saat makan siang," ujarnya.


"Tidak berminat."


Reynand mengangkat bahunya tidak peduli. Dia membuka kotak makannya. Aku sedikit melirik isi bekalnya. Tampak seporsi nasi dengan lauk beef teriyaki berwijen dan capcay sayuran.


"Kenapa lirik-lirik? Mau?" Dia menyadari diriku yang melirik kotak makannya.


"Tidak. Masakan Mama lebih enak dari buatanmu," jawabku pongah sambil membuka bekalku yang ternyata berisi ayam goreng balado dan cah jamur.


Dia mengambil sedikit jamur dan mencobanya. Lalu matanya mengedip, wajahnya memerah.


"Pedas sekali. Kamu yakin memakannya pagi-pagi?"


"Aku suka," kataku.


"Makan bekalku. Jangan makan yang itu."


Dia menarik bekalku dan menyodorkan bekalnya secara paksa. Membuatku kesal setengah mati, yang bahkan mengaturku sampai urusan makanan.

__ADS_1


"Hmmph! Rey, kita tidak perlu meneruskan rencana pernikahan ini. Aku benar-benar tidak berminat untuk menikah denganmu. Sebanyak apapun usahamu untuk membuatku jatuh hati, kali ini hatiku sudah mati," jelasku mantap. Aku tidak ingin membuatnya berharap akan hubungan yang aku sendiri pun ragu untuk menjalankannya.


__ADS_2