Marriage Order

Marriage Order
S3 Tidak Tahu Harus Berkata Apa


__ADS_3

Reynand POV


Tiga hari kemudian....


Aku duduk di ruang tunggu tamu Kusuma Corp, berniat memberi tahu Sheryl mengenai pesan chat misterius tempo hari. Entah apa maksud orang itu mengirim foto dan video kami. Kami harus berhati-hati.


Seraya menunggu Sheryl datang, sesekali aku bangkit dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Sekretaris Sheryl tiba-tiba membuka pintu ruangan.


"Pak Rey, sebaiknya Anda duduk. Ibu Sheryl sebentar lagi akan datang."


Aku mengangguk. Tidak lama setelah wanita itu pergi, yang kutunggu akhirnya datang. Sheryl membuka pintu ruangan dengan wajah berseri menatap. Aku buru-buru bangkit berdiri.


"Loh, Rey ... kamu sudah sehat? Aku kaget saat Viona bilang kamu datang ke sini."


Bukannya menjawab, kakiku secara otomatis melangkah menghampirinya. Entah bagian mana yang korslet, tapi aku berani sekali memeluk Sheryl. Tindakan yang kubenarkan atas sadar kecemasan yang sejak tempo hari sangat terasa.


Sheryl tidak menghindar saat kedua lenganku membelenggu tubuhnya dalam sebuah dekapan. Rasanya berbeda. Dia lebih hangat dari sebelumnya.


Apa wanita hamil rasanya seperti ini jika dipeluk? Haish! Sadar, Rey!


"Ka-kamu tidak apa-apa 'kan, Sher? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanyaku berbisik.


Wanita dalam dekapanku tidak langsung menjawab. Sepertinya butuh beberapa detik untuk merespon apa yang kulakukan.


"Rey, apa yang kamu lakukan?" Dia balas bertanya.


"Aku tidak akan melepasmu sebelum kamu menjawab pertanyaanku. Sungguh, Sher! Aku sangat mencemaskan keadaanmu sekarang," sahutku menolaknya.


"Aku baik-baik saja, Rey," katanya meluncurkan kalimat itu dengan lancar tanpa beban.


Aku langsung mengurai pelukan. Menatapnya lekat-lekat. "Sebaiknya kita berhati-hati sekarang."


"Apanya yang berhati-hati? Aku tidak mengerti maksudmu." Sheryl beranjak duduk di sofa memandangku sedikit kesal. Dia lalu memarahiku, "Kita sudah sepakat 'kan, Rey? Kamu dan aku, tidak akan ada hubungan selain pertemanan. Kira-kira apa yang akan Baruna pikirkan kalau dia melihatmu bertindak seperti tadi? Aku tidak ingin melukainya karena jika dia sakit, aku pun ikut sakit."


"Ya, maafkan aku." Aku tertunduk sambil mengoceh dalam hati.


Sheryl belum tahu saja kalau suaminya ternyata memiliki wanita lain.


"Dan sepertinya isi buku nikahku pun harus kamu hafal di luar kepala, agar kamu selalu ingat kalau aku sudah menikah dan sedang mengandung keponakanmu sendiri!" Sheryl kembali memarahiku.


Tanpa menyahut omelan Sheryl lagi, kukeluarkan ponsel dari balik saku. Aku menyodorkannya, membiarkan ia melihat semua hasil tangkapan media yang dikirimkan kepadaku tempo hari.


Bola matanya membulat seketika. Ia pun sama terkejutnya dengan apa yang kualami kemarin. Tidak lama, wajahnya sedikit pucat menggambarkan kecemasan.


"Rey, i-ini ...."

__ADS_1


"Iya. Itu video di depan restoran belum lama ini. Maafkan aku, Sher. Tindakanku terlalu jauh. Aku tidak menyangka ada mata yang menangkap momen seperti itu," kataku menyesal.


Sheryl tidak berkomentar, tapi matanya tampak berair. "Aku hampir kebal dengan berita seperti ini. Tapi kalau Baruna melihat ini, dia akan ...." Sheryl tidak meneruskan perkataannya.


"Maafkan aku, Sher." Aku meminta maaf kepadanya lagi.


"Bukan hanya kamu yang salah, Rey. Ini juga kesalahanku yang tidak bisa tegas kepadamu, sejak dulu hingga kamu jadi pria yang seperti ini."


"Semua orang memiliki kesalahan, bukan? Tapi aku tidak ingin menganggap mencintaimu adalah sebuah kesalahan, meski kamu telah memilih," kataku.


"Jangan begini lagi, Rey. Aku tidak bisa menyakitimu terus." Sheryl terus memohon.


"Izinkan aku untuk melindungimu, walau dari jarak jauh sampai aku yakin kamu berada dengan orang yang tepat."


"Kau benar-benar sudah gila! Cepat hapus! Baruna tidak boleh melihatnya."


"Apa jika terhapus dapat menyelesaikan masalah?!"


Aku balik bertanya kepadanya, tapi Sheryl hanya terdiam menatap. Tidak lama, ia lalu melunturkan air matanya.


Melihatnya menangis, kuberanikan diri untuk merangkulnya. Membuat kepalanya bersandar dengan hati-hati pada bahuku.


"Aku janji akan mencari tahu pelakunya," kataku lirih.


***


Sambil terus menatap layar ponsel, aku tidak bisa berhenti mengikik. Ridwan sudah bekerja dengan sangat baik. Aku merasa di atas angin setelah mengirimkan foto dan video bukti perselingkuhan kepada pelakunya sendiri. Bahkan aku memberi bonus tangkapan kamera yang sudah sangat lama agar mereka bisa bernostalgia. Setelah ini, aku akan mengirimkannya kepada Baruna. Jika tidak berhasil mengusik, media besar yang akan bergerak menghancurkan semuanya.


Tentu saja aku yang menjadi ratunya di sini. Sheryl hanya dayang yang berusaha mengambil simpati seorang raja. Rajaku Baruna. Pria yang seharusnya menikahiku dan bertanggung jawab atas anak kandungnya.


Persetan dengan David! Dia pergi setelah merasa kecewa dan marah. Bahkan pria itu mengancam akan menceraikanku. Aku tidak peduli.


Aku mengamuk dan membanting barang-barang di apartemen saat kami bertengkar masalah Rafael. David kemudian pergi meninggalkan apartemen melihat tindakanku. Luka memar ini pun sengaja kudapatkan. Ya! Luka memar di wajah bukanlah perbuatan David. Ini perbuatanku sendiri yang ingin mendapatkan simpati dari pasangan suami istri itu demi Rafael tercinta.


"Ma ...." Suara lirih Rafael segera membuatku mengalihkan perhatian kepadanya.


"Ya, Sayang?" Aku beranjak dari kursi menghampiri tempat tidurnya.


"Berdarah," katanya menoleh tiang infusnya. Cairan infus Rafael ternyata sudah habis.


Aku belum sempat membunyikan bel ketika seorang perawat tiba-tiba masuk ke kamar dan dengan cepat mengganti infusnya. Tidak lama setelahnya, seorang pria tiba-tiba saja masuk. Membawa sebuah totebag di tangannya.


"David?" Keningku mengerut melihat sosoknya.


"Papa!" Rafael berteriak kegirangan melihat Papanya.

__ADS_1


David tidak menghiraukanku dan malah menghampiri Rafael. "Anak Papa," katanya seraya memberi pelukan.


"Rafa kangen sama Papa. Kenapa baru sekarang ke sini?" tanya Rafael dengan polosnya. Sepertinya ia melupakan momen terakhir ibunya bertengkar dengan ayahnya.


"Maaf ya, Rafael. Papa sibuk. Papa juga kangen Rafa," katanya.


Aku hanya bisa memandang mereka yang secepat kilat menjadi sangat akrab, bermain bersama di atas tempat tidur rumah sakit. Apalagi David juga membawakan mainan baru untuk Rafael hingga anak itu sangat bahagia.


Aku tidak tahu motif David melakukannya. Padahal jelas-jelas ia tahu kalau Rafael bukanlah anaknya dan pergi begitu saja meninggalkan kami.


Selang beberapa saat Rafael tertidur, David terus membelai dahi hingga puncak kepala Rafael. Ia terus memandangi putranya itu.


"Ayo kita bicara, Fel! Kali ini, aku tidak ingin ada keributan. Kita berbicara dengan kepala dingin," katanya tiba-tiba.


"Untuk apa? Kita bahkan akan segera bercerai," sahutku sinis membalikkan perkataannya waktu itu.


David menoleh lalu beranjak dari kursi samping tempat tidur Rafael, beringsut duduk di sampingku. Menatap dengan air muka yang teduh.


"Aku tidak bilang akan menarik ucapanku. Itu sudah pasti. Aku akan menceraikanmu. Sungguh! Aku sangat kecewa dengan semua ini. Bertahun-tahun kamu menyembunyikannya, Fel. Entah siapa yang harus disalahkan, tapi aku tidak bisa membenci Rafa. Dia tetaplah anakku."


"David ...." Entah mengapa lidahku menjadi kaku dan tidak bisa menyahut.


"Aku sempat bertanya kepada adikku. Rafa tidak bisa ditolong kecuali mendapatkan pendonor sumsum tulang belakang."


"Iya, aku tahu." Aku mengangguk.


"Walau kemungkinannya sangat kecil, diam-diam aku menjalani serangkaian tes untuk memastikan kecocokan sumsumku dan Rafa. Namun hasilnya tidak cocok, Fel. Aku tidak bisa membantu."


"Aku tidak butuh bantuanmu," timpalku dingin.


"Ya, aku tahu. Kamu adalah wanita yang sangat keras kepala."


Aku terdiam. Rasanya malas untuk menanggapi perkataan David. Ia seperti akan memancing kemarahanku lagi.


"Aku berencana untuk meminta Baruna memeriksakan dirinya." Tiba-tiba David berkata sesuatu yang membuatku terperanjat kaget.


--------------------------------------


Hai! (Datang sambil ngumpet-ngumpet)


Dua belas hari gak update 🤭🤭


Maaf ya, temen-temen. Jujur, kemarin aku fokus menamatkan novelku di lapak lain. Kemungkinan bulan depan pun punya projek baru di lapak itu. Maaf banget kalau ada yang nunggu-nunggu kisah MO ini. Aku gak mau php lagi seperti CYT di mt udh benar-benar aku hapus dan pindah ke lapak yang lain.


Tapi nih tapi ya.... aku komit buat tamatin ini. Entah berapa lama. Kalau ada yang merasa bosan menunggu silakan tinggalkan lapakku di sini. Maaf banget banget.

__ADS_1


Salam


Viviani


__ADS_2