
Baruna sontak menoleh ke belakang, memastikan siapa gerangan pria yang memanggilnya. Setelah cukup lama tidak juga berpaling, aku ikut penasaran dan menoleh, melihat pemandangan yang sama.
Sosok Felicia berjalan dengan anggun menghampiri kami bersama dengan pria tampan yang menuntun sosok Rafael di sampingnya. Di belakang keduanya terlihat Nayara dan seorang pria yang tidak pernah kukenal sebelumnya.
Seketika rasa penasaranku muncul. Menolehkan pandangan ke arah suamiku. Walau sekilas, Baruna terperangah melihat mereka, lalu cepat-cepat mengubah air mukanya seperti biasa.
Pasti Baruna baru saja teringat sosok Felicia sebagai kawan lamanya di Australia. Di samping itu, aku tersenyum senang melihat Nayara dan Felicia bergaun dengan warna senada. Kami tampak kompak sekarang.
Kini kelima orang itu berdiri di hadapan kami. Suami Felicia memasang senyumnya. "Pak Baruna, maafkan kami yang telat datang," ujarnya seraya mengulurkan tangan.
"Oh, tidak apa-apa. Acaranya belum benar-benar dimulai. Apa kabar, Pak David?" Baruna mengulurkan tangannya, ikut membalas salam pria itu.
"Baik sekali," jawabnya lalu menoleh kepada sang istri. "Oh, ya! Perkenalkan, dia istri saya."
Felicia tampak terdiam sejenak sebelum akhirnya mengulurkan tangannya. Namun, Baruna tidak kunjung menyambut telapak tangan wanita itu. Dia memandang Felicia cukup lama. Entah apa yang terbesit dalam hatinya saat ini.
"Sayang?" tegurku yang langsung menyadarkan ia dari sedikit lamunannya.
"Ah, eh, iya!" Baruna sontak menoleh, lalu kembali fokus pada wanita itu. Menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuknya. "Baruna," katanya.
"Felicia," sahut Felicia membalas senyuman itu dengan senyuman manis miliknya.
Felicia mengikuti perkataan suaminya. Memperkenalkan diri kembali kepada pria yang juga merupakan kawan lamanya. Ini momen yang kuharapkan sejak lama setelah Baruna selalu melarangku bergaul dengan Felicia. Namun pada akhirnya keinginanku mempertemukan dua orang kawan lama tercipta begitu saja tanpa hambatan berarti.
"Apa kabar, Fely?" tanya Baruna masih dengan ukiran garis senyum tipisnya.
"Baik. Sangat baik," sahutnya.
"Apa kalian saling kenal?" tanya David terkejut.
Istrinya menoleh kepadanya. "Dia kawanku saat menempuh pendidikan di Australia, Sayang."
"Oh." David mengangguk mengerti.
Aku melihat Baruna memperhatikan sosok Rafael berdiri di samping David. Keningnya berkerut menatapnya. Mungkin dia baru menyadari kalau anak itu memiliki pandangan teduh mirip dengannya. Rafael mendongak, membalas tatapan Baruna dengan wajah sedikit takut, lalu menarik celana hitam sang Ayah.
David menoleh menatap bingung Rafael. "Ada apa?"
"Sepertinya anakmu ingin pipis," ucap Baruna tiba-tiba. Sejak tadi Rafael memang terlihat menahan pipis.
"Kalau ingin pipis bilang dong, Rafa. Kamu 'kan punya mulut, jangan diam saja, jagoan!" David langsung menarik tangan Rafael. "Maaf, Pak Baruna, saya ke toilet dulu."
"I-iya." Baruna mengangguk.
__ADS_1
"Aku antar Rafa ke toilet dulu," ujar David.
"Iya," sahut Felicia mengangguk.
Pasangan ayah dan anak itu pun pergi meninggalkan Felicia yang masih berdiri bersama Nayara dan pasangannya di depan kami.
"Sheryl, Baruna, apa kabar?" sapa Nayara mengulas senyumnya, menyapaku dan suamiku.
"Kabar kami baik, Nay," jawab Baruna kemudian mengerlingkan matanya ke arah pria yang berdiri di samping Nayara. "Wah, siapa pria yang berdiri di sampingmu?" Baruna mengangkat sebelah alis, menggoda wanita itu.
Malu-malu Nayara menoleh ke sampingnya. Sambil terus memperlihatkan senyum, ia lalu menjawab pertanyaan Baruna, "Namanya Gathan, dan dia adalah temanku."
"Teman tapi mesra kali," celetuk Felicia dengan mata mendelik ke atas berpura-pura tidak melihat mereka.
"Apa sih, Fel?" Nayara memukul pelan bahu Felicia. Wajahnya terlihat memerah malu.
"Jadian saja, sih. Gat, kau tidak ingin menembak wanita ini lagi?" Felicia menunjuk Nayara.
Gathan terkekeh. "Aku tunggu dia mengajakku menikah saja," timpalnya.
Mendengar hal itu, Nayara melotot ke arahnya. Membuatku dan Baruna ikut tergelak. Begitupun dengan Felicia yang ikut tertawa bersama kami. Tidak lama, ia menghentikan tawanya.
"Oh iya, Bar, Sher. Sebenarnya pria ini adalah adik iparku," ucapnya tiba-tiba.
"Baruna."
"Sheryl."
Kami berdua menyambut salam pria itu. Gathan adalah pria yang cukup ramah. Ia dapat beradaptasi dengan cepat. Berbincang akrab dengan suamiku. Sedangkan aku tenggelam dalam pembicaraan bersama dua orang wanita mapan yang telah kuputuskan menjadi sahabatku mulai saat ini.
"Aku haus! Aku ambil minuman dulu, ya," ujarku.
"Ya, Sher," sahut Nayara terlihat sibuk, masih terbahak karena membicarakan hal yang lucu bersama Felicia.
"Mau minum, Sayang?" tanyaku kepada Baruna.
"Boleh. Orange jus saja," sahut Baruna kemudian kembali berbicara dengan Gathan.
Aku mengangguk. Bergegas pergi mengambil minuman untuk kami. Segera mengambil dua gelas orange jus untukku dan Baruna, lalu membalik badan.
Bruk!
Tanpa sengaja menabrak seseorang di depanku hingga isi dari kedua gelas itu menghambur keluar mengotori jas berwarna krem yang membalut tubuh tegap seorang pria.
__ADS_1
Haish! Ceroboh sekali kau, Sher!
"Sheryl?" katanya.
Suara yang terdengar sangat familiar untukku. Mengapa kami ditakdirkan selalu bertabrakan seperti ini? Apakah mata kami selalu buta setiap bertemu? Dia pria yang satu bulan lalu mengatakan tidak akan pernah muncul lagi di depanku dan aku adalah orang yang berkata kalau tidak ingin akrab dengannya. Kau benar, anak dari pasangan Anton dan Aina ada di hadapanku saat ini.
Aku mendongak memastikan pemilik wajah dengan tinggi menjulang itu. "Rey?"
Aku buru-buru menaruh gelasku, lalu mengambil beberapa helai tisu dari atas meja, dan mengusapkannya pada jas krem bernoda jus orange yang ia pakai. Berharap noda itu hilang sedikit.
Anehnya setelah mengatakan janjinya satu bulan lalu, dia tidak menyingkir dariku. Tubuh tegapnya tetap bergeming membiarkan aku melakukan hal bodoh kepadanya.
"Usapan tisu itu tidak akan menghilangkan noda ini, walau kamu mencobanya seribu tahun," ucapnya begitu dingin.
Aku kembali mendongak. Menatap wajah datarnya. "Maaf, Rey. Aku benar-benar tidak bermaksud–"
Bukannya membalas, ia menarik setengah senyumnya, memotong perkataanku yang belum selesai. "Adakah yang bisa kamu lakukan selain hobi menabrakku seperti ini? Haish! Mengapa semua ini terjadi kepadaku? Melanggar janji hanya karena harus terus bertemu denganmu."
Aku bernapas panjang. Siapa yang mau bertemu dengannya dengan cara norak seperti ini terus? Tuhan mungkin lebih suka kami berhubungan layaknya kucing dan anjing daripada menjadi pasangan kakak dan adik.
"Lebih baik kamu tidak usah berjanji seperti itu, Rey. Mustahil jika kamu tidak akan muncul di depanku, kecuali tinggal sendiri di pulau terpencil yang tidak berpenghuni!" sahutku ketus.
Pria di depanku ini mengatupkan mulutnya tidak membalas. Dadanya terlihat naik turun bernapas tidak teratur. Ia seakan menahan sesuatu yang bergejolak tapi tidak bisa mengucapkannya.
Tiba-tiba pria itu menarik tanganku. Tanpa ragu membawaku pergi dari ruang ballroom hotel.
"Hei! Kamu akan membawaku ke mana?!" Aku berteriak, tapi ia tidak juga menoleh, bahkan membalas pertanyaanku yang sederhana.
Langkah kami berakhir di sebuah pelataran parkir yang sepi. Reynand membuka pintu mobilnya. Mengambil sebuah jas lain yang ada di dalam sana. Secepat kilat, ia mengganti jas kotornya dengan jas bersih. Pria itu kemudian memutar tubuhnya, menatapku dengan sorot matanya yang tajam.
"Aku tidak bisa seperti ini, Sher. Berada di sekitarmu membuatku gila menahan berbagai emosi yang membuncah tidak beraturan. Katakan! Bagaimana caranya aku harus bersikap di depanmu tanpa harus khawatir Baruna akan tersakiti?"
.
.
.
.
Waduh! Bagaimana ini? Apa jawaban Sheryl, ya?
Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih.
__ADS_1