Marriage Order

Marriage Order
Rintihan Hati


__ADS_3

Aku mengarahkan pandangan lurus ke arah pintu ruang kerja saat tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Kayla berdiri di hadapanku. Mengulum senyumnya yang manis. Dia lalu berjalan ke arahku.


"Sheryl, maaf aku datang tiba-tiba. Aku ingin kamu orang pertama yang mengetahui kabar ini," ucapnya berbinar sambil duduk di kursi.


Viona yang mengawalnya dari belakang segera berbalik arah meninggalkan kami. Aku memandang wajah Kayla dengan senyum yang tidak kalah manis.


"Jadi ada kabar apa yang membuatmu begitu semangat datang ke kantorku?" tanyaku.


"Reynand .... Dia mengajakku kembali menjalin hubungan. Aku senang sekali!" Kayla memejamkan matanya kuat-kuat sambil mengepalkan tangannya gemas. Dia juga memperlihatkan senyum lebar memperlihatkan barisan giginya yang putih.


Mereka kembali berhubungan? Apa karena aku yang menyuruhnya kemarin?


"Aku ikut senang, Kay," sahutku.


"Nanti malam di Bar Oh aku akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ini. Kamu harus datang ya. Ajak Baruna sekalian."


"Baruna tidak bisa datang. Dia sedang ada urusan di luar negeri."


"Oh .... Yah sayang sekali .... Bagaimana kalau kamu saja yang datang?"


"Aku? Sendiri?" tanyaku sambil menunjuk ke arah wajah sendiri.


Kayla mengangguk lalu berkata, "Tenang saja, Reynand tidak akan datang. Kamu tidak perlu risih seperti kemarin."


"Hmm ... baiklah. Aku juga sepertinya memang membutuhkan pesta."


"Tentu saja. Tinggal menghitung hari menuju hari pernikahan itu pasti stres sekali," sahutnya masih dengan senyum.


"Iya, Kay. Nanti kirimkan alamatnya. Aku pasti datang."


"Oke, aku tunggu. Aku harap kamu benar-benar datang. Acaranya jam sepuluh." Kayla bangkit dari duduknya dan memelukku serta mencium kedua belah pipi. "Maaf mengganggu waktumu," pamit Kayla sambil berjalan keluar ruangan.


"Hati-hati," ucapku sambil melambaikan tangan.


Aku kembali duduk dan terdiam. Entah mengapa ada sedikit rasa kecewa mendengar kata-katanya, tapi segera kuabaikan. Aku yang menyuruhnya, seharusnya aku ikut senang. Selain itu, dia tidak akan menggangguku lagi.

__ADS_1


Drrt-drrt-drrt!


Ponselku bergetar di atas meja. Kak Baruna meneleponku. Aku menjawab panggilannya.


"Sayang, kamu sedang apa?"


"Memeriksa laporan penjualan."


"Aku sudah di hotel. Jangan lupa makan siang. Sudah jam satu loh."


"Iya, aku pasti makan."


"Apa aku mengganggumu? Jawabanmu seperti sedang tidak mood**."


"Aku banyak pekerjaan. Bisakah kita sambung lagi nanti?"


"Oh ... ya sudah. Maafkan aku sudah mengganggu."


Kak Baruna lalu memutus teleponnya. Aku menghelas napas. Seharusnya aku tidak boleh seperti ini. Marah tanpa menjelaskan mengapa aku marah. Namun, hatiku terlalu sakit.


Aku kembali pada pekerjaan di atas meja. Mengecek beberapa laporan yang sudah masuk pada tenggatnya, juga laporan mengenai beberapa target penjualan yang telah tercapai.


Tok-tok-tok!


Suara ketukan pintu terdengar. Aku bangkit dari tempat dudukku, segera membuka pintu ruangan dan mendapati Papa berdiri di hadapanku.


"Papa boleh masuk?" tanyanya.


Aku mengangguk. Papa lalu duduk dan menatap mataku serius. Aku balas melihatnya dengan tatapan mata yang tidak kalah serius. Pasti dia ingin membicarakan tentang Marriage Order Agreement itu.


"Sheryl, Papa sudah mendengar semuanya dari Reza. Papa tahu kamu kecewa mengetahui isi dari surat perjanjian antara keluarga kita dan keluarga Asyraf. Namun, memang seharusnya Papa memberitahukan hal ini sejak lama agar kamu mempersiapkan dirimu. Papa mengakui kalau Papa, Mama, dan Reza telah salah. Kami telah sepakat menyerahkan dirimu sebagai jaminan hutang kami, tapi yakinlah kalau kami tidak sembarangan menyerahkanmu pada sembarang lelaki. Baruna, dia sangat tulus padamu. Jangan kamu limpahkan kesalahan kami kepadanya."


Bagaimana Ayah tahu dia benar-benar tulus dan tidak ada maksud yang lain? Menjadi pewaris, mungkin?


"Bagaimana aku bisa mempercayainya? Sedangkan yang kalian lakukan semata-mata hanya berdasarkan harta. Papa, aku memang kecewa. Aku tidak menyangkanya sama sekali. Sejak awal aku pikir ini hanyalah perjodohan biasa yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa ada embel-embel hutang dan pewaris," sanggahku.

__ADS_1


"Anakku, mau bagaimana pun Baruna memang pewaris. Dia anak tunggal." Ayah menatap mataku tajam.


"Tapi dia memiliki seorang Kakak!" Aku setengah berteriak.


"Kamu mulai perhatian pada sang Kakak?" tanya Papa.


"Tidak, hanya saja aku merasa tidak adil jika hanya Kak Baruna yang menjadi pewaris. Pak Reynand juga adalah darah daging Om Anton."


Mengapa aku jadi membela Pak Reynand? Hal itu sudah di luar kuasaku.


"Sheryl, masalah pewaris bukan urusan kita. Menikah atau tidak menikah denganmu, Baruna tetaplah seorang pewaris. Hal itu hanyalah masalah waktu. Jangan berpikiran konyol!" Papa melihatku dengan raut wajah kesal.


"Papa, ini keterlaluan, bukan? Bagaimana bisa kalian ...." Aku menggantungkan kalimatku. Air mataku kembali mengalir.


"Percuma berbicara denganmu yang masih emosi. Kamu pikirkan masak-masak semuanya. Jika masih ingin berbakti, jangan pernah berusaha menolak. Perusahaan ini adalah taruhannya." Papa bangkit berdiri dan keluar dari ruanganku.


Aku menangis sejadi-jadinya. Menelungkupkan kepala di atas meja. Ruanganku menjadi saksi bisu atas kesedihan yang kurasakan. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima ini semua.


Aku mencintai Kak Baruna. Seharusnya aku tidak perlu mempermasalahkan ini, kan? Kami hanya tinggal menikah dan hidup bahagia. Melupakan harta dan tahta. Pergi ke tempat jauh hanya berdua. Hei ... aku ingat, dia pernah mengatakan hal ini. Mengajakku pergi ke negara lain untuk memulai hidup baru. Apa ini alasan dibalik kata-katanya? Apa dia benar-benar tulus?


Kata tulus menjadi beban untukku. Jika dia tulus, lalu bagaimana denganku yang tidak memiliki pendirian? Aku merasa jadi sangat tidak berharga.


****


Reynand PoV


Aku duduk termenung sendirian di dalam ruang kerjaku. Hari ini, aku sangat berusaha menghindari pertemuan dengan Ayah Anton dan Baruna. Aku malas bertemu dengan kedua orang itu. Namun, dari kabar yang beredar, Baruna sedang tidak ada di tempat. Dia pergi ke luar negeri. Padahal hari pernikahannya sudah semakin dekat. Seharusnya dia cuti untuk mempersiapkan dirinya.


Tiba-tiba saja otakku tertuju pada Sheryl. Sejak kemarin bertemu dan menciumnya, aku belum bisa lepas dari ingatan tentang wanita itu. Ciumannya yang hangat menggelorakan jiwa dan membuat hatiku meleleh.


Andai saja kami bisa bertemu lebih awal, apakah kami akan bersatu? Aku ingin sekali menghubunginya, tapi bagaimana jika ia menolakku lagi? Aku pun sudah memutuskan untuk memilih Kayla. Namun ingatan tentang Sheryl terus menghantui detik-detik waktuku yang berharga.


Bagaimana dengan map itu? Apa dia sudah membacanya? Lalu kalau sudah membacanya, bagaimana keadaan dia sekarang? Apa aku harus menanyakannya lebih lanjut?


Aku menggelengkan kepalaku. Membuyarkan semua pemikiran yang mampir ke otakku. Aku tidak boleh peduli lagi padanya. Sebodoh dengan pilihannya. Sebodoh dengan tanggapannya. Aku tidak boleh peduli karena dia mengatakan kalau dia telah memilih bahagia dengan Baruna.

__ADS_1


__ADS_2