Marriage Order

Marriage Order
S3 Sakit


__ADS_3

Kayla POV


Keesokan harinya, pukul 12.30.


Aku sedang berada di sebuah restoran sushi bernama Ay Sushi Yu. Menikmati potongan demi potongan sushi bersama Reynand. Beberapa saat yang lalu tiba-tiba Reynand menelepon dan mengajakku makan siang. Akhir-akhir ini sikapnya yang ketus kepadaku berubah sedikit melunak. Entah apa yang salah pada kepalanya.


Aku duduk berhadapan dengan Reynand. Memandang dirinya yang menikmati setiap potongan sushi avocado salmon dengan penuh semangat. Setiap orang yang melihat keakraban kami akan menganggap kami memiliki hubungan khusus. Bahkan media pun masih menganggap seperti itu setelah apa yang kulakukan.


"Enak?" tanyaku sambil bertopang dagu.


Pria itu hanya memajukan kedua bibirnya sambil mengangguk mengiyakan, lalu meraih gelas berisi minuman dingin di depannya. Tonjolan pada lehernya bergerak naik turun, membuatku menelan ludah.


"Ada apa?" tanyanya saat merasa aku memperhatikannya begitu serius.


"Ti-tidak." Aku cepat-cepat menggelengkan kepala.


Reynand menunduk balas memperhatikan piringku yang masih penuh makanan kesukaannya. "Kau tidak ingin memakannya?"


"Ah, ya! Aku baru saja ingin melanjutkan makanku." Aku sontak salah tingkah ditanya seperti itu.


Kedua alis tebalnya terangkat. Ia hanya menarik segaris senyumannya yang manis dan berlangsung tiga detik saja. Setelah itu Reynand mengambil gawainya dari balik jas. Seseorang sepertinya menghubungi pria itu.


Mata Reynand melirik ke arahku dan memberi isyarat kalau dirinya akan menjawab telepon itu jauh dari meja kami. Aku menganggukkan kepala menjawab isyaratnya.


Aku menunggu sambil menikmati sushi yang sudah dihidangkan. Awalnya tidak suka memakannya. Beranjak mengenalnya, aku pun mulai belajar menyukai apa yang ia sukai. Namun sepertinya ia tidak terlalu peduli akan segala usaha yang kulakukan. Reynand tetap dingin dan ketus.


Tidak beberapa lama Reynand pergi, suara bariton pria dewasa terdengar. "Siang, Nona Kayla."


Aku mengangkat wajah, mencari sumber suara. Seorang pria dewasa berdiri tegap di hadapanku. Dia menatapku seraya menyunggingkan senyumnya.


"Pak David?" Keningku seketika mengernyit. Seorang pengusaha sukses Berlin entertainment kini berdiri menyapaku.


Pria itu mengangguk. Dia lalu bertanya, "Boleh ikut duduk di sini?"


"Bo-boleh," jawabku padahal mengetahui kalau itu adalah tempat duduk Reynand.

__ADS_1


Tanpa banyak berkata lagi, ia duduk di depanku. Sikapnya yang ramah membuatku sedikit berdebar. Bagaimana tidak? Pria ini sudah mendekatiku sejak dua minggu lalu. Kami bertemu pertama kali di sebuah acara penghargaan.


"Di mana kekasihmu?" tanyanya.


"Maaf?" Aku mencoba mengonfirmasi pertanyaannya.


"Reynand." Dia menyebut nama Reynand walaupun jauh di lubuk hati terdalam, dia sosok kekasih dalam kepura-puraan. "Saya memperhatikannya sejak tadi. Kamu masuk dengannya ke dalam restoran milik Gathan—adik saya," lanjut David masih dengan senyumnya.


Kedua bola mataku melebar mendengar perkataannya. Ak baru tahu kalau restoran sushi favoritku dan Reynand adalah milik adiknya.


"Di-dia sedang menerima telepon. Maaf, Pak. Saya sungguh tidak tahu restoran ini juga adalah milik salah satu anggota keluarga Berlin," sahutku tergagap.


"Ya. Saya pun tahu kalau kamu sering berkunjung ke tempat ini bersama Reynand dari Gathan. Sayang sekali dia tidak ada di sini sekarang," timpalnya seraya mengangkat sebelah alisnya. "Gathan terlalu sibuk dengan adik bungsu kami," ucapnya lagi, padahal aku tidak bertanya. Ia dengan mudahnya bercerita mengenai sang adik.


"Ya. Tempat ini yang terbaik. Saya dan Rey menyukai semua menu sushi di sini," balasku langsung mengalihkan pembicaraan.


Pak David tak hentinya tersenyum menggoda. Aku pun menanggapi perkataannya dengan santai. Cukup membantu meningkatkan mood kala pria tidak peka yang sedang menerima telepon itu menghilang entah ke mana.


***


Aku sedang berada di dalam sebuah apartemen. Duduk sambil mengobrol dengan santai bersama Felicia dan Nayara. Kami memang sengaja datang pada waktu istirahat makan siang untuk menjenguk Rafael yang sedang sakit.


Felicia tampak sangat terpukul kala bercerita denganku dan Nayara. Matanya terus saja berair menceritakan apa yang terjadi kepada Rafael.


"Aku sangat bingung, Nay. Dokter dengan mudahnya mendiagnosa penyakit Rafael seperti itu. Kau tahu, ia masih kecil. Mengapa harus mengidap penyakit serius?" katanya mengeluhkan apa yang terjadi. Pandangannya begitu redup menatap kami berdua.


Aku melihat Nayara yang langsung menggenggam punggung tangan Felicia dengan kuat. Tampak sekali ia sangat berempati. Pekerjaannya sebagai dokter memang membuatnya harus memiliki perasaan yang lebih sensitif mengenai apapun yang dikatakan semua pasiennya. Ia pandai berempati.


Entah apa yang dimaksud Felicia. Kami memang berteman, tapi ia tidak secara terbuka mengatakan penyakit apa yang diderita bocah kecilnya.


"Fe-Fel, sebenarnya Rafa sakit apa?" Aku sangat berhati-hati menanyakannya.


Pandangan mata Felicia mengarah kepadaku. "Leukimia."


Sahutan singkatnya membuatku tidak mampu berkata-kata. Rasanya kalimat itu sontak tersekat dengan sempurna dalam tenggorokan. Namun bahasa tubuhku tidak bisa berbohong. Aku bangkit dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"A-aku tidak tahu. Sungguh! Ini berita yang sangat mengejutkan sekaligus menyedihkan. Sabar ya, Fely. Rafa pasti bisa sembuh. Dia anak yang kuat," ujarku berusaha menenangkannya.


"Ya, Fel. Dokter pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkannya," tambah Nayara.


Fely terisak mendengar ucapan kami. Ia sangat terpukul. Dekapannya makin erat, memeluk tubuhku. Aku mengerti bagaimana posisinya sebagai seorang ibu. Jika menjadi dirinya, belum tentu mampu menghadapi kenyataan pahit ini. Aku hanya bisa mengusap punggungnya yang terlihat rapuh.


Beberapa saat kemudian ia melepas pelukannya. Menyeka air matanya yang masih sedikit berair. "Te-terima kasih, Sher. Aku sungguh bersyukur mempunyai kalian berdua."


"Ya, Fel," sahutku dengan senyum kecil yang terukir.


Felicia membalas senyumku. Tiba-tiba terdengar suara tangis Rafael dari dalam kamar. "Ma-maaf, aku harus meninggalkan kalian," katanya.


"Ya, tidak apa-apa." Nayara melirik arlojinya. "Ehm, Fel, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama. Aku ada janji dengan seseorang."


"Maafkan aku. Seharusnya kalian kujamu makan siang, tapi hari ini aku tidak sempat melakukan apa-apa karena Rafael sangat rewel." Air muka Felicia tampak tidak enak melihat kami berdua.


"Aku mengerti. Kami hanya ingin melihat kondisi Rafael. Aku sangat khawatir saat kau menghubungiku kemarin."


"Ya, aku sangat panik. David tidak bisa menemaniku ke rumah sakit."


"Lain kali, ia harus lebih peka menjadi seorang ayah," sahut Nayara sedikit cemberut. Felicia hanya menarik setengah senyumnya. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Nayara lalu beralih melirikku. "Apa kau masih akan berada di sini?"


"Tidak. Jam setengah dua nanti aku ada meeting."


"Kalau begitu, ikut aku! Kita makan bersama. Kau belum makan, 'kan?"


Aku menggeleng. "Belum."


"Bagus. Ayo pergi!" Tanpa ragu Nayara menggandengku. Kami pun pamit meninggalkan Felicia. Wanita itu mengantar hingga ke depan pintu.


Aku dan Nayara berjalan di lorong apartemen Felicia. Melihat sekeliling tempat itu. Apartemen yang tidak asing bagiku karena berada satu lantai dengan apartemen milik Reynand. Ya, mereka ternyata bertetangga.


 


Hai... hai.... author menyapa. Bagaimana puasa kalian? Aku slow update, ya. Semoga masih ada yang menunggu cerita ini. Tidak terasa ini adalah hari terakhir Ramadhan dan besok sudah hari idul fitri. Mohon dibukakan pintu maaf yg sebesar-besarnya atas kesalahan yang kuperbuat entah dalam kehidupan nyata, maya, atau dalam kepenulisanku yang acak kadul. Semoga besok menjadi awal baru pribadi yang lebih baik. Amiin.

__ADS_1


__ADS_2