
Ketika keegoisan menguasai ketiganya, maka masing-masing akan hancur dan merasa tersakiti.
Note for this chapter.
***
Baruna Pov
Pagi beranjak siang, tapi aku tidak mendapatkan balasan dari Sheryl sama sekali. Bahkan panggilanku diabaikannya. Apa yang terjadi dengannya? Pertanyaannya di telepon kemarin sangat aneh. Dia seperti curiga akan sesuatu. Namun aku tak bisa menebak pikirannya.
Secangkir espresso yang ada di hadapanku terasa hangat saat cairan hitamnya menempel pada lidah dan rongga mulut. Seketika kedua mataku membulat. Lamunanku tentang Sheryl tak ada hentinya.
Aku mengambil ponsel dan memandang foto pada wallpaper yang kupasang. Senyuman kami yang begitu bahagia saat perjalanan bulan madu itu apakah tidak akan pernah terulang jika ia tahu yang sebenarnya?
Aku tak tahu pasti. Seperti apa yang Bunda bilang, jika ia benar-benar mencintaiku, suka atau tidak suka ia harus menerima Rafael sebagai anakku. Mungkinkah?
"Sendirian, Bar?" Suara seorang wanita sontak membuatku mendongak. Terlihat sosok Felicia yang sedang berdiri di hadapanku. Sendirian, tanpa Rafael.
Aku hanya mengangguk. Dia menyunggingkan senyum tipis. Tanpa bertanya lagi, wanita itu menarik kursi di hadapanku dan duduk di sana.
Aku tidak memedulikan wanita itu. Segera kuraih kembali espresso-ku dan menyesapnya sedikit. Felicia memanggil pelayan kafe dan memesan minuman untuknya.
"Bagaimana keadaan Ayahmu?" Wanita itu mengarahkan pandangannya kepadaku sesaat setelah pelayan itu pergi.
"Belum ada kemajuan," jawabku seraya menaruh kembali cangkir ke atas meja.
Felicia terlihat membuang napas panjang. "Aku turut bersedih."
"Terima kasih." Jawaban singkat kembali kulontarkan.
Felicia mengangguk. Dia lalu mengambil sebuah amplop dari dalam tas dan memberikannya kepadaku. "Itu adalah hasil pemeriksaan kesehatanmu. Semuanya cocok dengan Rafael."
Aku hanya menelan ludah, tidak menyahut. Bukan sebuah kejutan lagi karena semuanya sudah kuduga sejak awal. Jika aku benar ayahnya, tidak ada yang perlu diragukan lagi. Bahkan hasil pemeriksaan seperti ini.
Kutatap dalam-dalam secarik kertas mengerikan itu. Tak dapat kupahami isinya selain tingkat kecocokan yang tinggi antara aku dan Rafael.
"Aku tidak dapat melakukannya sebelum mengatakannya kepada istriku," sahutku sambil memasukkan kembali hasil pemeriksaan itu.
__ADS_1
Felicia menyengih sejenak lalu berkata begitu santai, "Bukankah kau tidak berani? Bagaimana reaksi Sheryl jika tahu? Jika aku jadi Sheryl sih, aku tidak akan ragu-ragu menceraikanmu seperti David akan menceraikanku."
"Dia tidak akan seperti itu." Aku menimpali Felicia walau dalam hatiku yang terdalam aku tak yakin dengan perkataanku sendiri.
"Apa kau butuh bantuanku untuk mengatakannya?"
Mendengar pertanyaan Felicia sontak membuatku geram hingga tidak ingin duduk di hadapannya. "Aku sudah selesai. Kau tidak perlu ikut campur masalahku. Kau tidak usah khawatir tentang donor Rafa. Aku pasti akan bertanggung jawab melakukannya untuk dia, bukan untukmu."
Kedua mata Felicia membulat mendengar perkataanku. Ia terkesiap, tak dapat berkata-kata. Sekilas, aku melihat mata bulatnya bergetar dan berkaca-kaca. Kemudian tanpa berbasa-basi lagi, aku pergi dari tempat itu meninggalkannya sendirian.
Aku menutup pintu kafe lobi rumah sakit. Belum juga jauh melangkah, aku merasakan seseorang melingkarkan lengannya padaku dari belakang. Aku yang terkesiap sontak menghentikan langkah.
"Baruna, terima kasih."
Suara Felicia yang bergetar terdengar langsung di telingaku. Aku buru-buru melepaskan tautan lengannya dari pinggangku dan berbalik. Namun tiba-tiba saja wanita sialan itu mendaratkan sebuah kecupan di bibirku begitu cepat.
Bola mataku melebar mendapatkan kecupan tiba-tiba itu. Dia lalu menarik wajahnya dan tersenyum.
"Aku makin yakin kalau aku memang masih menyukaimu," katanya begitu santai.
Bugh!
"Aarrgghh! Baruna!" pekik Felicia menatapku terkejut.
Mataku membelalak, melihat dengan jelas siapa yang melakukannya. Reynand berdiri dengan rahang yang mengeras dan air mukanya yang penuh dengan amarah. Dan alangkah terkejutnya saat aku melihat istriku di sampingnya. Air muka kekecewaan sangat terlihat pada wajahnya yang cantik.
"Sheryl ...," gumamku.
***
Sheryl Pov
Setengah jam sebelum bencana itu terjadi ....
Aku buru-buru masuk ke dalam taksi. Meninggalkan Reynand di restoran seorang diri. Aku tidak peduli dengannya. Pria itu begitu egois. Hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Dia tidak memiliki simpati sama sekali untukku.
Sebenarnya siapa yang salah saat ini? Aku yang mengizinkan ia pergi denganku? Atau dia yang mencintaiku terlalu dalam? Jika ditanya siapa yang akan aku pilih, aku pun tidak mempunyai jawabannya. Semua mengalir begitu saja dan tidak bisa dipaksa.
__ADS_1
Saat taksiku akan melaju, tiba-tiba pintu sebelah kananku terbuka dan Reynand masuk begitu saja tanpa izin dan duduk di sebelahku.
"National Hospital of Tokyo!" katanya, padahal aku belum mengatakan apa-apa.
Sopir itu mengangguk. Perlahan melajukan mobilnya menuju tempat yang dia sebutkan. Aku melirik pria itu dengan air muka kesal. Ia tiba-tiba menoleh, menatapku.
"Mengapa kau pergi begitu saja? Sudah kukatakan kita akan pergi bersama ke rumah sakit," katanya.
"Aku bisa sendiri," jawabku masih kesal. Bernada ketus dan tanpa ampun kepadanya.
Dia terdiam dan tidak berkata apa-apa setelahnya. Perjalanan kami dimulai dengan saling terdiam hingga akhirnya tiba di depan lobi rumah sakit.
Aku tidak ingin menciptakan celah untuk dia bisa berbicara denganku. Sesaat setelah dia membayar ongkos taksinya. Aku buru-buru membuka pintu dan turun dari mobil.
Reynand terus memanggil, tapi dengan sengaja aku menghentakkan langkah dan terus berjalan di depannya. Aku ingin dia tahu begitu marahnya aku kepadanya.
Langkahnya begitu cepat hingga pria itu berhasil mengimbangi, bahkan berhenti tepat di depanku dan membalik badannya.
"Maaf, Sheryl. Aku sungguh minta maaf." Air muka ketulusan terpancar di wajahnya.
Aku menghela napas panjang sejenak. Saat hendak menyahut permintaan maaf itu, tanpa sengaja aku mengerling dan melihat Baruna keluar dari pintu kafe. Seketika senyumku pun merekah melihat pria yang kurindukan ada di sana. Ingin sekali memeluknya karena sudah lebih dari seminggu kami tidak bertemu.
"Sayang ...," lirihku dengan pandangan berbinar.
"Sayang, huh?" Reynand membalas ucapanku. Dia lalu membalik badannya.
Cepat-cepat aku melangkah ingin mendekatinya, tapi yang terjadi sebaliknya. Seorang wanita keluar dari kafe yang sama. Memeluk suamiku dari belakang dan parahnya dia mencium suamiku di depan mataku sendiri. Aku mengenalnya. Sesuai dengan yang Reynand katakan. Dia adalah Felicia. Seketika air mataku luruh melihat pemandangan itu.
Tanpa kuduga, Reynand berjalan cepat menghampiri mereka. Kedua tangannya mengepal kuat. Kemudian tanpa ragu, ia melayangkan sebuah bogem mentah di wajah Baruna.
Bugh!
"Aarrgghh! Baruna!" Felicia memekik kencang.
"Berengsek!" Suara Reynand yang geram itu menggema di lobi rumah sakit. Dia melangkah mendekat bersiap melayangkan satu pukulan lagi untuk suamiku.
"Hentikan!" seruku berusaha menghentikan amarah seorang Reynand.
__ADS_1