
Sheryl Pov
Dari sekian banyak nama keluarga, mengapa nama keluarga Pradipta yang harus kudengar hari ini?
Beberapa saat yang lalu ….
Aku meninggalkan kafe Lorraine menuju ruang kerja Tuan Amancio dengan langkah tergesa. Pria berkulit putih pucat dan bermata biru itu sedang duduk di mejanya, fokus pada layar komputer. Melihatku masuk, dia langsung mengangkat wajahnya.
"Sheryl, i need you to picking up Mr. Pradipta at the airport!"
"Mr. Pradipta?" Aku mengerutkan dahi untuk menegaskannya lagi. Nama keluarga yang telah lama kulupakan kini kembali terdengar.
"I'll send the pic of him!"
Tak lama ponselku berbunyi. Tuan Amancio mengirimkan sebuah gambar yang tak asing untukku. Ya. Dia benar-benar Reynand.
"Can you go now? I'm afraid he's get mad if you're late."
"But Mr-" Aku mencoba menolak perintah Tuan Amancio.
"What are you waiting for? Go now!"
Pandangan tajam Tuan Amancio yang hendak marah terpaksa membuatku mengalah. Aku pun berbalik keluar dari ruangannya.
Kini aku telah berada di dalam mobil menuju bandara. Menginjak gas mobil lebih dalam demi mengejar waktu.
Menurut informasi, Mr. Pradipta yang ia sebutkan tadi tiba di bandara pukul satu siang. Lima belas menit lagi aku harus tiba jika tak ingin mendapat masalah dari Tuan Amancio.
Untungnya, suasana jalan raya tak terlalu ramai siang ini. Aku tiba tepat waktu dan hampir berlari menuju terminal kedatangan luar negeri. Pandanganku mengedar ke segala arah, berharap menemukan pria itu di antara banyaknya orang yang berlalu lalang.
Tak ada. Pria yang kuhindari sekaligus kurindukan hingga saat ini, sosoknya tak juga terlihat di sana. Entah di mana ia bersembunyi. Apa dia tahu aku yang menjemputnya?
"Haish! Di mana dia?" gumamku setengah putus asa karena tak menemukan sosoknya setelah beberapa lama.
Aku membuang napas pelan, memutuskan untuk duduk di salah satu bangku panjang. Beberapa kali ponselku berbunyi. Tuan Amancio yang cerewet itu mengirimi pesan chat bertubi-tubi. Menanyakan apa aku sudah bertemu dengan koleganya.
Dingin. Aku yang sedang duduk tertunduk segera merapatkan mantel coklat menyelimuti tubuhku. Cuaca memang sedang tak bersahabat hingga hidungku gatal dan bersin beberapa kali. Tak hanya itu, gara-gara perintah Tuan Amancio siang tadi, aku tak sempat menikmati makan siangku.
"Pakai ini!"
Suara pria yang tak asing tiba-tiba terdengar. Aku mengangkat wajah, melihat jemari yang menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna biru tepat di depan wajah. Seketika aku pun mendongak. Reynand berdiri tepat di depanku.
"Rey…," gumamku dengan napas tertahan. Dadaku terasa membuncah melihatnya. Di antara senang dan takut melihat wajahnya yang memandang seperti tak terjadi apa-apa di antara kami. Sebenarnya, aku benar-benar tak berani lagi bertemu dengannya.
"Jadi kau adalah orang yang disuruh menjemput Tuan Pradipta?" Reynand tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Aku meraih sapu tangan dari tangan Reynand. Segera menggunakannya untuk menyeka hidung yang terlanjur beringus, lalu bangkit menatap dalam wajahnya.
"Rey, apa kau tak merasa lelah?" Tanpa sadar sebuah kalimat ambigu meluncur begitu saja dari bibirku.
"Lelah? Tentu saja lelah. Apa enam belas jam perjalanan udara kau anggap tak melelahkan, huh?" Reynand menatap dingin kepadaku. Bahkan ia mengangkat sebelah alisnya di depanku. Ia berubah. Sikapnya yang hangat kini telah berubah dingin seperti sedia kala.
Dia pasti masih marah. Ya. Dia pasti masih marah kepadaku.
"Ya, pasti sangat lelah."
Aku mengangguk-angguk. Mengapa rasanya sedih mendengar tanggapannya? Padahal sebenarnya pertanyaanku mengandung maksud yang lain.
Apa kau tidak lelah mengejarku sampai sini? Yah, pasti kau sudah lelah mengejarku. Sheryl, dia datang bukan untukmu. Reynand datang untuk urusan bisnis. Begitu kata hatiku terus berucap.
"Tolong bawakan kopernya!" perintahnya.
Aku terdiam mematung. Reynand yang seperti ini setelah satu tahun tak bertemu tampaknya baik-baik saja dan telah melupakan semua yang terjadi di antara kami.
"Tunggu apa lagi? Tuan Amancio yang menyuruhmu menjemput saya, 'kan?" ujar Reynand yang mendadak mengubah cara berbicaranya.
Aku sontak mendelik mendengar perkataan Reynand. Kemudian dengan cepat mengangguk mengiyakan. Segera meraih koper berwarna hitam miliknya. Kami pun meninggalkan bandara.
Reynand duduk di kursi belakang penumpang. Sedangkan aku yang mengemudikan mobil kantor, mengantarnya ke tempat peristirahatan. Beberapa kali aku meliriknya dari spion tengah tapi dia tampaknya tak memperhatikanku sama sekali. Reynand sibuk dengan ponselnya.
***
Reynand Pov
Haruskah kukatakan kalau aku sangat bahagia melihatnya? Namun aku harus berpura-pura dan menahan perasaan itu. Setidaknya memastikan dirinya yang belum memiliki pasangan di sini.
Sesuai dengan perintahku, Sheryl mengantar hingga apartemen yang dulu sempat kutempati dengan Mama di London. Aku memperlakukannya seperti seorang asisten. Menyuruh ia membawakan koperku kembali sejak dari pelataran parkir hingga masuk ke dalam unit apartemen. Alhasil hubungan kami benar-benar kaku seperti dulu.
"Sudah, 'kan? Kalau begitu, saya pamit kembali ke kantor," ucapnya ketika koper itu sudah ia letakkan di salah satu sudut ruangan. Sheryl lalu membalik badan.
"Tunggu!" perintahku mencegahnya pergi.
Sheryl memutar badannya kembali menatapku bingung. "Apa lagi, Tuan Pradipta?" Panggilan untukku mendadak berubah.
Aku menelan ludah, beberapa saat terdiam. "Sapu tangan saya… tolong cuci sekarang juga! Saya tak bisa pergi tanpa membawa benda itu!"
Sheryl mengeluarkan sapu tanganku dari mantelnya. Tanpa banyak berbicara ia bertanya, "Di mana saya harus mencucinya?"
"Sebelah sana!" Aku menunjuk ke arah kamar mandi. Tanpa basa basi lagi, ia pun beringsut mencuci benda itu. Sementara aku hanya menyunggingkan senyum melihatnya.
Tak lama, ia pun kembali. "Saya sudah mencucinya. Di mana saya harus mengeringkannya?"
__ADS_1
"Kau bisa menjemurnya di luar sana." Aku menunjuk balkon. Dan benar saja, Sheryl menuruti apapun yang kuperintahkan padahal langit mendung di luar sana.
Saat Sheryl berbalik dan kembali berdiri di hadapanku, wanita itu berkata, "Saya harus kembali ke kantor. Tuan Amancio mungkin sedang kebingungan mencari saya."
Aku menyeringai miring. Segera mengeluarkan ponsel dari sakuku dan memperlihatkan sebuah pesan dari bosnya.
[Mr. Pradipta, my secretary will helping you while you are here. So, take her as advantages.]
Seketika Sheryl membeliak menatap layar ponselku. "Ini benar darinya?"
"Ya. Kau pikir ini dari siapa, huh?" Aku mengulas senyum tipis.
Sheryl melipat kedua lengannya, menatap jemu. "Jadi, apa yang kau butuhkan sekarang?"
"Ehm, makan. Karena belum makan, Saya ingin makan sekarang."
"Baiklah, saya akan memesan makanan lewat layanan pesan antar saja." Sheryl bersiap dengan ponselnya.
"Tidak. Saya ingin makan makanan Indonesia yang baru saja dibuat oleh tangan orang yang saya kenal."
"Maksudmu?" Kening wanita itu mengernyit.
"Masakkan sesuatu untuk saya."
"Itu bukan tugas saya." Sheryl menolak.
"Kau lupa pesan chat dari Tuan Amancio tadi? Bagaimana kalau saya adukan perilakumu yang seperti ini?"
Sheryl menghela napas panjang. Dia berkata, "Rey, sudahlah. Jangan mempersulitku!"
Sheryl akhirnya lelah sendiri. Aku membalasnya dengan senyuman tipis.
"Aku tidak mempersulitmu. Bagaimanapun berada sebentar di sini sudah membuatku rindu makan makanan asli Indonesia. Bagaimana jika lama? Apa kau tidak merasa demikian?"
"Kau bertanya pendapatku?"
Aku mengangguk.
"Semuanya tergantung pada situasi dan kondisi. Manusia harus bisa beradaptasi di manapun ia berada." Sheryl menyahut dengan raut wajah sedikit menekuk.
"Kalau pacar? Pasangan? Bagaimana? Apa kau tidak merindukannya?"
"Oh ayolah, Rey... kau tidak bermaksud menjebakku dengan pertanyaan seperti itu, 'kan? Kisah kita sudah sekian lama berlalu–"
"Atau malah baru akan dimulai?" Aku memotong perkataannya.
__ADS_1