
Sheryl Pov
Satu jam sebelumnya ....
Hari masih sangat pagi. Aku mendengar nada suara panggilan masuk. Mataku mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya meraih benda pipih itu. Baruna menelepon.
Tidak seperti biasanya, dia menelepon sepagi ini. Pasti akibat kejadian semalam. Aku menghela napas panjang. Teringat bagaimana semalam aku mengatakan semua hal yang mengganjal dalam hati. Bukan hanya kepada Papa dan Mama, tapi juga kedua mertuaku. Padahal akhir-akhir ini aku merasa hubungan kami begitu dingin hingga jarang berkomunikasi.
"Sayang, aku akan pulang hari ini," ujar Baruna sesaat setelah aku menjawab teleponnya. Tidak seperti biasanya, tanpa kalimat pembuka apapun.
Aku membelalak seketika mendengarnya. Senang? Tentu saja. Akhirnya ia benar-benar sadar ada yang menunggunya di rumah. Mungkin Ayah Anton atau Papa telah memarahinya hingga ia memutuskan untuk pulang cepat ke Jakarta.
"Benarkah?" sahutku begitu antusias.
"Ya. Tentu saja aku akan pulang. Bagaimanapun rumahku di Indonesia. Ayah semalam menelepon dan memintaku untuk segera pulang."
Aku sangat senang mendengar ucapan Baruna. Akhirnya ia bisa meninggalkan Rafael tanpa perlu mendampingi hingga pengobatan anak itu selesai.
"Aku sangat senang akhirnya kamu bisa meninggalkan anak itu untuk menjalani pengobatannya sendiri. Rafael masih memiliki Felicia sebagai ibu kandungnya. Menurutku kamu sudah banyak berkorban untuk anak itu. Jadi bisa 'kan untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya?"
Setelah menanggapinya seperti itu, Baruna tidak menyahut ucapanku. Hanya embusan napasnya yang terdengar di telepon. Suamiku terdiam beberapa saat.
"Sheryl, kemungkinan Rafael dan Fely akan ikut pulang denganku. Pagi ini kami sedang berada di rumah sakit untuk berkonsultasi sekaligus meminta rekomendasi dokter yang bisa meneruskan pengobatan Rafael nanti di Jakarta."
Deg!
Ucapan Baruna kali ini benar-benar membuat jantungku berdetak sangat kencang.
Apa dia sadar dengan apa yang ia katakan? Fely? Rafael? Oh, tidak! Haruskah aku menggantung diriku saat ini juga?
"Maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti, Sayang."
"Ya. Aku rasa, mereka bisa tinggal di kediaman Asyraf. Ayah dan Bunda pun sudah setuju mengenai hal ini." Suara Baruna begitu santai. Sepertinya ia beranggapan kalau aku sudah menerima anak itu seratus persen.
"Kamu tidak mengatakan kepadaku tentang ini sebelumnya. Mereka akan tinggal bersama kita?"
"Iya, Sayang. Maaf, tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk Rafa."
__ADS_1
"Apa kamu lupa bagaimana aku sangat marah melihat Fely menciummu waktu itu?
"Sayang, jangan mulai lagi. Aku tidak ada hubungan seperti itu dengannya. Sekarang fokus utamaku hanya kesehatan Rafa ...," katanya kemudian terdiam. Entah apa yang terjadi. Tidak lama kemudian ia berkata, "Sudah, ya. Rafael sudah dipanggil perawatnya. Aku mencintaimu."
Tut! Terputus.
Benar-benar! Bagaimana bisa ia mengatakan fokus utamanya hanya untuk kesehatan Rafael? Lalu di mana posisiku? Posisi bayi ini? Apa menjadi fokus ke dua dan ke tiga baginya? Astaga! Bukannya membaik malah ....
Aku hanya bisa menjerit dalam hati. Sontak mengelus perutku, mencoba menenangkannya. Untungnya bayi ini cukup tenang. Mungkin ia sudah lebih terbiasa. Hanya diriku yang belum bisa. Perkataan Baruna terus terngiang-ngiang di telingaku. Dadaku kembali terasa sesak.
.
.
.
Ruang makan
"Ma, aku pergi dulu," kataku, meraih sepotong roti sandwich dari atas meja makan.
"Mengapa tidak? Mama mengkhawatirkan keadaanku karena semalam sudah mengatakan semuanya dengan begitu berapi-api?" Aku mengedikkan bahu.
"Sheryl, maafkan Mama dan Papa, ya? Kami benar-benar tidak tahu mengenai ini. Papamu sangat marah semalam, tapi Anton berhasil menenangkannya dan menyuruh Baruna untuk cepat pulang ke Indonesia."
"Tidak, Ma. Maafkan aku juga yang sudah merahasiakannya. Aku hanya tidak ingin membuat kalian memikirkan rumah tangga kami, tapi sepertinya tuduhan Papa sudah sangat keterlaluan. Aku dan Rey sama sekali tidak mungkin. Kami hanya berteman," jelasku menenangkan Mama.
"Ya, Mama tahu. Wajar bila Papamu seperti itu. Wajar juga jika kedua mertuamu berpikiran hal yang sama. Bagaimanapun pernah terjadi sesuatu di antara kalian. Dan itu cukup sulit diterima oleh akal sehat kami. Kamu lebih memilih Baruna daripada Reynand. Padahal ...."
"Ma ...." Aku menekankan panggilan itu dengan tatapan memohon untuk tidak membahasnya.
Mama mengangguk. Dia lalu mengusap perutku. "Bayimu pasti melewati waktu yang sangat sulit kemarin."
"Sudah tidak apa. Aku cukup tenang sekarang," sahutku berbohong. Padahal hatiku terus saja memberontak menyalahkan semua yang meluncur dari mulutku adalah sebuah kepalsuan. "Papa dan Kak Reza mana?" tanyaku seraya mengedarkan pandangan pada sekeliling ruang makan. Hanya ada aku dan Mama.
"Papa dan Reza sepertinya sedang bersiap-siap."
"Kak Reza tahu?"
__ADS_1
Mama menggelengkan kepalanya. "Dia pulang sangat larut. Kami sudah tertidur."
"Tolong jangan katakan apapun pada Kakak. Aku tidak ingin membuat ia marah mendekati hari H pernikahan."
"Kamu takut mereka berkelahi?"
Aku mengangguk. Tentu saja aku takut. Kak Reza pasti akan sangat marah pada sahabatnya. Selain itu, dia pasti sedang banyak pikiran sekarang.
Setelah pembicaraan itu, aku segera pamit kepada Mama. Pagi ini ingin rasanya pergi ke kantor sendirian saja tanpa Papa dan Kak Reza. Lebih tepatnya, tidak ingin mendapatkan pertanyaan macam-macam dari Papa jika kami bertemu.
.
.
.
Ting!
Suara dentingan lift membuatku tersentak kaget. Pintu lift lalu terbuka. Aku terdiam menatap lorong yang menunggu di depan sana. Aneh sekali. Padahal ini memang lantai yang kuhendaki. Namun kaki ini tidak bisa digerakkan untuk melangkah keluar. Terasa lemas dan gemetar.
Apa yang kulakukan di sini? Seharusnya aku pergi ke kantor dan tidak membelok ke bangunan apartemen mewah ini.
Karena aku tidak juga beranjak, pintu lift itu akhirnya bergerak hendak menutup kembali. Aku mengembuskan napas kasar. Bergegas menekan tombol penahannya. Pelan-pelan, aku pun melangkah.
Astaga! Apa yang sedang kulakukan di sini?
Ini kedua kalinya aku berdiri tepat di depan pintu unit apartemen Reynand. Memberanikan diri menekan belnya dengan pandangan segan lalu menunduk seperti tak memiliki muka untuk bertemu. Di sisi lain, berharap Reynand yang tidak ada di dalam sana agar aku berbalik dan segera pergi ke kantor.
Tidak menunggu waktu lama saat aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku makin memejamkan mata, tak berani menatapnya. Bagaimanapun, aku sadar sudah cukup banyak merepotkan seorang direktur Pradipta.
Sheryl, kenapa kau ada di sini?" tanyanya.
Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan? Mengapa hatiku berkhianat dan berkata kalau aku membutuhkannya pagi ini? Sialan kau, Sheryl!
Bukannya jawaban yang terlontar dari mulutku, malah air mata yang terdorong keluar. Aku mengangkat wajahku. Seketika pandangan kami saling bertemu. Lagi-lagi aku menangis di depannya. Kemudian tanpa diminta, dia menarikku dalam pelukan.
Ya! Aku menangis dalam dekapan yang tak seharusnya.
__ADS_1