Marriage Order

Marriage Order
S3 Puncak Kerinduan


__ADS_3

Aku turun dari ranjang periksa. Dokter kandungan di depanku baru saja selesai memeriksa. Dia berjalan menuju meja konsultasi. Baruna membantuku berdiri dan berjalan menghampiri dokter kandungan itu. Wajahnya terlihat berseri-seri memandang. Kami memang baru saja melihat anugerah Tuhan yang paling membahagiakan. Seorang anak yang kelak dititipkan dalam keluarga kecil kami.


Ya, kami baru sempat mengunjungi rumah sakit tiga hari kemudian. Kesibukan Baruna membuatnya tidak bisa meninggalkan perusahaan. Seperti hari ini, dia baru saja pulang dinas dari luar kota sore hari dan langsung berinisiatif mengajakku ke dokter kandungan di malam hari.


"Saat ini baru terlihat kantung kehamilannya saja. Untuk kontrol selanjutnya satu bulan lagi ya, Pak. Saya akan memberikan resep vitamin dan obat mual untuk istri Anda," ucap dokter itu sambil mengetikkan sesuatu pada layar komputernya.


"Terima kasih, dok," sahut kami berbarengan lalu menoleh bersamaan saling memandang dengan senyum yang merekah. Bahagia sekali rasanya.


"Dok, apa kami diperbolehkan melakukan hubungan suami istri?" tanya Baruna tiba-tiba. Sepertinya itu adalah pertanyaan satu-satunya yang ia ingat sejak kemarin.


Dokter kandungan itu mengangkat wajahnya sembari menyunggingkan senyum. "Sebaiknya ditahan dulu hingga janinnya cukup kuat berada di dalam sana."


"Oh ...." Respon Baruna terdengar kecewa. Sementara aku dan ibu dokter hanya tertawa kecil mendengarnya.


Wajar saja. Kami adalah pengantin baru yang mungkin masih belum puas mengeksplorasi pengalaman baru berhubungan suami istri. Namun kami tidak ingin menundanya. Seperti yang kukatakan, memiliki anak adalah anugerah dari Tuhan.


Aku langsung meraih punggung tangannya, mengusapnya dengan lembut. "Tidak apa, Dok. Demi keselamatan anak kami, menahan untuk sementara tidak masalah. Ya 'kan, Sayang?" Aku melirik dengan cengiran ke arah suamiku.


"I-Iya," sahutnya mengangguk terpaksa.


Setelah mengatakan hal itu, kami bertanya lebih lanjut mengenai kehamilan pertama ini. Sungguh sebuah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan. Konsultasi berjalan dengan lancar. Kami berdua berjalan keluar ruangan dengan air muka bahagia.


"Kau tahu, Sayang. Aku sedikit kecewa saat dokter bilang harus menahannya," ujarnya kembali membahas hal itu.


"Kamu ingin membahayakan anakmu?" Aku membalas.


"Tidak. Aku sangat senang. Aku akan bersabar demi dia." Baruna mengelus perutku.


Aku mengangguk sembari tersenyum. Kami berjalan menuju apotek. Aku hampir membelalak saat melihat seorang wanita yang kukenal bersama dengan anaknya sedang duduk menunggu.


"Fely!" panggilku yang langsung menghampiri kedua orang itu.


Felicia dan Rafael menoleh ke arah kami. Keduanya sama-sama terkejut. Tidak terkecuali suamiku. Ia seperti ingin menghindari keduanya.

__ADS_1


"Sheryl!" Felicia menganga lalu tertawa kecil. Bangkit dari duduknya dan memelukku. "Kebetulan sekali. Apa yang sedang kau lakukan di sini? Siapa yang sakit?" tanyanya.


"Aku? Ehm, aku habis dari dokter kandungan memeriksakan kandunganku untuk yang pertama kalinya." Mataku berkilat menatap wajah sahabatku itu.


"Wah, aku sangat senang mendengarnya. Selamat ya, Sher!" Sekali lagi Felicia memelukku dengan hangat. Sedetik kemudian melepaskannya. Matanya mengarah pada Baruna. Mengulurkan salam selamatnya. "Kau juga. Selamat, Bar!" Nada suaranya berubah sedikit merendah. Baruna tidak langsung menyambut salam selamat itu. Dia hanya menatap Felicia dengan tatapan kosong. Setidaknya, itu yang terlihat di mataku.


"Mamaaa!" Suara Rafael sontak mengagetkan keduanya. Rafael kemudian menangis. Anak kecil itu merasa diabaikan. Wajahnya terlihat pucat. Sepertinya ia sedang tidak sehat.


Momen canggung saling menatap itu pun usai. Felicia dan Baruna sontak mengarahkan pandangan ke arah Rafael. Seketika Felicia menggendong tubuh Rafael. Mengusap punggungnya dengan lembut.


"Ya, Nak. Mama di sini. Jangan menangis. Sebentar lagi kita pulang," bujuknya.


Rafael masih juga menangis. Felicia terus menggendongnya sembari terus membujuk anak kecil itu. Sedangkan Baruna yang tidak peduli mengajakku untuk beranjak duduk di kursi tunggu. Namun tidak langsung mengindahkan ajakan suamiku, melainkan tetap berdiri menemani Felicia yang masih menggendong sembari menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri.


"Apa Rafa sedang sakit?" tanyaku.


"Ya. Kami habis dari dokter anak," jawab Felicia singkat.


"David masih ada meeting dengan kliennya malam ini. Jadi, aku dan Rafa saja yang datang ke rumah sakit."


"Oh ...."


Aku menganggukkan kepala. Sangat memaklumi dengan apa yang dikerjakan oleh David. Seperti yang kudengar dari Felicia sebelumnya, David adalah seorang pebisnis ulet dan sangat mementingkan perusahaan. Baginya keluarga adalah nomor dua. Dia bahkan tidak akan mengambil cuti jika bukan hal yang sangat penting dan mendadak.


Apa anak sakit tidaklah penting? Batinku mulai bertanya-tanya mengingat mereka hanya memiliki satu orang anak.


Perbincangan kami pun usai saat petugas apotek memanggil nomor antrian Felicia. Wanita itu bangkit berdiri.


"Oke, Sheryl. Nanti kita mengobrol lagi," katanya pamit sembari mencium pipi kanan dan kiriku.


"Ya. Kabari saja kapannya, Fel. Aku punya banyak waktu untukmu dan Nay," sahutku sembari menarik segaris senyuman.


Felicia hanya mengangguk kemudian berlalu dari hadapan kami. Aku duduk di samping Baruna yang masih diam melihat kepergian Felicia dan putranya.

__ADS_1


"Banyak waktu untuk mereka, huh?" sindirnya tiba-tiba. Ia menyimak pembicaraanku dengan Felicia.


"Ada apa, Sayang? Kamu terlihat tidak suka." Aku balas menanggapi pertanyaannya dengan pertanyaan.


"Kau sedang hamil muda. Seharusnya tidak banyak keluar rumah untuk hal yang tidak penting. Pekerjaanmu di kantor sudah cukup sibuk, bukan?" ujarnya lagi.


Aku menelan ludah, lalu menatapnya dalam. "Kamu sekarang memakai alasan kehamilan untuk membatasi pergaulanku?"


"Menurutmu?" Baruna menjawab dengan pertanyaan kembali.


"Iya. Kamu terkesan seperti itu, Sayang." Mataku menyipit menuduhnya. Bahkan menurutku ini adalah fakta. Sejak lama ia memang tidak suka kalau aku bergaul dengan Felicia.


"Aku takut kamu kelelahan. Pekerjaanmu di kantor saja sudah cukup menyita waktu dan tenaga. Dan kamu malah menjanjikan kapanpun waktumu untuk teman-temanmu. Lalu aku ada di mana?" sahutnya dengan bola mata yang setengah melebar memandang.


Aku tergelak. Dia menanyakan di mana posisinya. "Kamu selalu di sampingku, Sayang," kataku.


"Bercanda saja!" timpalnya.


"Bercanda?" Aku mengernyit. Namun belum sempat aku melanjutkan perkataanku, Baruna tiba-tiba bangkit berdiri kala nomor antrian kami dipanggil.


"Nanti kita lanjutkan perbincangan ini," katanya. Aku hanya mengangguk menyahut pertanyaannya. Baruna pun beranjak menghampiri apotek station.


Selang beberapa lama kemudian, kami berada di dalam mobil yang masih terparkir di pelataran parkir rumah sakit. Priaku itu sejak tadi membungkam mulutnya padahal dia bilang akan melanjutkan perbincangan.


"Jadi apa lanjutannya?" tanyaku seraya meraih sabuk pengaman dan merekatkannya.


Baruna tidak menjawab. Dia memutar tubuhnya sembilan puluh derajat hingga wajah kami saling berpandangan. Perlahan wajah itu mendekat ke arahku. Bibirnya yang hangat menyentuh bibirku sesaat.


"Aku merindukanmu dan ingin memiliki lebih banyak waktu yang akan kuhabiskan bersamamu," katanya tiba-tiba.


Wajahku sontak memerah. Seketika detak jantungku terasa bertalu-talu dengan aliran darah yang berdesir dengan cepat. Akhirnya aku pun mengerti kalau ia sedang berada di puncak kerinduannya saat ini. Tanpa berkata-kata lagi, aku berinisiatif membalas ciumannya yang hangat di dalam mobil kami yang sunyi.


Aku juga merindukanmu.

__ADS_1


__ADS_2