
Baruna Pov
Bola mataku bergerak mengarah pada dua tangan yang saling bertautan. Reynand tampak mengeratkan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Sheryl tepat pada saat Sheryl menyebut namaku. Tindakannya sedikit menggangguku.
"Apa kabar?" sapaku sontak meluncurkan pertanyaan kepada mantan istriku itu.
"Baik sekali," jawabnya singkat, tapi ia tak membalas pertanyaanku dengan pertanyaan yang sama. Tatapan matanya beralih ke arah Rafael. Sheryl menatapnya dingin. Sikapnya itu tak berubah. Ia masih sama seperti satu tahun yang lalu. Masih menganggap bocah kecil ini sebuah masalah baginya.
"Kalian berdua–"
"Mas sudah selesai?" Sheryl tiba-tiba menyela perkataanku. Sontak mulutku mengatup menangguhkan pertanyaan yang hendak meluncur untuk mereka. Ya. Aku terlalu penasaran dengan hubungan mereka meski itu sudah terlihat sangat jelas. Keduanya pasti sedang menjalin kasih.
"Sudah. Kami sudah selesai. Ya 'kan, Rafa?" Aku sontak menoleh pada anakku. Rafael mengangguk cepat. "Aku pamit pulang," tambahku tak berbasa-basi lagi.
Pada kenyataannya aku ingin sekali berinteraksi lebih banyak dengan Sheryl. Bagaimana tidak? Ia menghilang satu tahun tanpa kabar. Tindakannya membuatku terkejut. Ia pasti sangat sakit hingga harus menghilang jauh dari Jakarta.
Dan kini Sheryl kembali membuatku terkejut. Aku melihatnya bersama Reynand. Ada sedikit rasa iri yang seketika mengalir hebat begitu melihat keduanya. Aku yang telah menikah lagi tak akan mungkin menggapai Sheryl.
Saat aku melangkah hendak pergi meninggalkan mereka, suara Sheryl tiba-tiba terdengar memanggil. Hal itu sontak membuatku menghentikan langkah tanpa menoleh ke arah mereka.
"Hati-hati, Mas ...," katanya.
Kedua kakiku terasa kaku, tak bisa berbalik menatapnya. Aku dan Rafael bergeming seolah menunggu ia mengucapkan suatu kalimat lagi dari mulutnya.
"... dan terima kasih sudah datang menjenguknya," tambahnya.
"Anak itu adalah anakku juga. Aku menyayanginya. Kamu tidak perlu berterima kasih, Sher," balasku.
"Ya, aku tahu... tapi aku tetap ingin berterima kasih karena kamu sudah mau menjenguknya." Sheryl berkata lirih hingga membuatku makin terenyuh. Ia tahu bagaimana dulu aku tak bisa datang ke makam anak kami karena rasa bersalahku menghilangkan nyawanya.
Aku tak menyahut perkataan Sheryl. Rasanya tak sanggup lagi berada di area pemakaman. Bagaimanapun, untuk menjenguk makam anakku saja aku harus mengumpulkan tekad yang kuat selama berbulan-bulan. Lalu sekarang, rasa cemburu tiba-tiba saja datang karena melihat kedekatan mereka. Sebuah pemandangan yang membuatku gelisah.
Detak jantungku terus berdebar tak menentu. Seharusnya aku tak merasakan kecemburuan lagi terhadap mereka. Bagaimanapun, aku sudah menebak bagaimana hubungan mereka di masa depan. Ya. Mereka pasti akan berjodoh.
Genggaman tanganku makin erat pada lengan kecil Rafael. Tanpa membuang-buang waktu lagi mengajaknya kembali melangkah maju meninggalkan area pemakaman. Aku harus segera tersadar, Felicia menunggu kami di rumah.
***
Sheryl Pov
__ADS_1
Keesokan harinya….
Kling!
Aku sontak melirik gawaiku yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan chat masuk. Aku meraihnya dan mendapati nama Baruna di sana.
[Apa siang ini kita bisa bertemu?]
Dia tahu nomorku dari mana?
Keningku mengernyit. Seharusnya tak ada seorang pun dari keluarga Asyraf yang mengetahui kontak terbaruku termasuk dirinya.
Sedetik kemudian, seolah tahu isi kepalaku, terdengar bunyi notifikasi pesan chat ke dua. Pesan chat darinya kembali datang.
[Maaf mengganggumu. Kau pasti heran dari mana aku tahu nomormu. Aku baru saja meminta kontakmu dari Reza.]
"Ck! Kakak…," gerutuku.
Aku segera mengetikkan pesan balasan.
[Apa yang Mas ingin bicarakan? Tak bisakah membicarakannya di sini saja?]
Meski sudah memaafkan, saat melihat ia dan Rafael kemarin, ingatan buruk itu mendadak muncul di kepalaku. Ingatan kebahagiaan sekaligus kesedihan kami datang bersamaan. Meski Reynand ada di sampingku, rasa sakit yang tak ingin kurasakan lagi ikut merasuk dalam hati melihat keduanya. Ya. Pada kenyataannya, aku masih memiliki rasa tak suka kepada bocah kecil itu.
[Tidak. Aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku akan menunggumu pada jam makan siang di restoran Daniel.]
[Baiklah.]
Aku mengiyakan ajakannya tanpa banyak alasan. Mungkin memang ada suatu hal penting yang ingin disampaikan oleh Baruna. Kami memang berpisah baik-baik, tapi aku yakin karena keputusanku untuk menghilang tanpa jejak, Baruna menganggap aku membencinya.
Sejurus kemudian, ponselku kembali berbunyi. Namun kali ini bukan Baruna, melainkan Reynand yang menghubungi. Sepertinya dua puluh empat jam tak pernah cukup untuk kami yang sedang dimabuk asmara. Tak ada waktu yang terbuang tanpanya. Walau sibuk, Reynand tak ada bosannya menghubungiku, begitupun sebaliknya.
"Sher, hari ini aku mungkin tak bisa makan siang bersamamu. Ada jadwal makan siang dengan seorang klien. Tak apa-apa, 'kan?"
"Iya tak apa-apa. Kau fokus saja pada tugasmu, Rey. Mengapa kau malah mengkhawatirkan masalah kecil seperti ini? Aku bukan anak kecil yang suka merajuk."
"Masalah kecil, ya? Padahal bagiku itu masalah besar karena aku merindukanmu setiap hari." Suara Reynand terdengar sedikit kecewa.
"Oh, ayolah. Kau pikir aku tak merasakan hal yang sama? Aku berusaha memahami kesibukanmu, Rey. Kau harus membuktikan kepada ibumu kalau kinerjamu akan tetap bagus di perusahaan. Tak ada yang berubah darimu ketika menjalin hubungan denganku. Kau juga tetap bahagia, tak merasa sedih dan kecewa karena diriku seperti yang ibumu khawatirkan."
__ADS_1
"Ya, Sayang. Aku tahu. Mama juga tak berkata apa-apa mengenai Livia, padahal aku yakin ia sudah tahu yang terjadi tanpa mengetahui hal itu dari mulutku. Mungkin kini Mama mulai tersadar siapa satu-satunya wanita yang dapat membuatku bahagia."
"Aku, tentu saja," sahutku lalu mengekeh pelan. Dengan percaya dirinya berkata diriku adalah satu-satunya wanita terbaik untuk putra ibu Aina. Di ujung telepon tawa Reynand pun ikut meledak bersamaan.
"Kau sangat menggemaskan. Kini kepercayaan dirimu bertambah besar."
"Biar saja. Mamamu harus tahu betapa besarnya perjuangan cintamu hingga ke titik ini."
"Bukan hanya aku. Ini perjuangan kita, Sher."
"Ya, baiklah. Ini perjuangan kita. Perjuangan yang tak akan pernah habis. Entah sampai kapan ia akan berhenti membenciku!" Aku menyahut kesal. Teringat kata-kata pedas Tante Aina yang membuat hatiku sakit.
"Maafkan Mamaku, ya."
Aku menghela napas panjang. "Haruskah kita berbicara saja secara langsung?"
"Iya, nanti. Aku janji kita akan berbicara kepadanya."
Aku tak menyahut lagi. Bibirku terkatup, terdiam sebentar. Teringat akan percakapan chatku tadi dengan Baruna. Aku harus mengatakannya kepada Reynand.
"Mas Baruna mengajakku makan siang. Dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku."
"Datang saja. Apa yang kau khawatirkan?" sahut Reynand tanpa ragu.
"Kau mengizinkanku?"
"Aku tak keberatan. Baruna hanya masa lalu untukmu."
"Dan kau masa depanku, Rey," tambahku.
"Sebenarnya aku mulai memikirkan hal ini. Bisakah kau memanggilku dengan cara yang sama? Kau memanggilnya 'Mas', tapi tidak kepadaku." Reynand tiba-tiba berkata sesuatu yang tak terduga.
"Kau iri?" Mataku membola bertanya kepada Reynand.
"Ehm, entahlah. Tapi, aku hanya ingin mendengar kau memanggilku begitu." Reynand menyanggah tuduhanku.
"Mas Rey?" Keningku mengernyit melontarkan dua kata itu. Jika sebelumnya, aku mengubah panggilanku saat menikah dengan Baruna, Reynand ingin aku memanggilnya begitu saat kami masih menjalin kasih.
"Ya, benar begitu! Kedengarannya tak buruk. Aku menyukainya." Suara Reynand tiba-tiba berubah riang.
__ADS_1
"Ma-Mas Reynand?" Aku berkata lirih. Tak kusangka degup jantungku berubah tak beraturan memanggilnya begitu. Namun, kebahagiaan Reynand tampaknya memang sesederhana itu. Ia terdengar sangat senang.
"Ya, Sayang. Baiklah. Ini sudah siang. Nanti kutelepon lagi."