
Baruna Pov
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Rafael, pintu kafe itu terbuka. Aku mengerling, melihat sosok wanita yang ditunggu David dan Rafael muncul dan berjalan menghampiri kami.
"Maaf, aku telat, Sayang!" Tanpa basa-basi Felicia langsung duduk di samping David.
Rafael menoleh, melihat sang ibu dengan senyum mengembang. "Mama!" serunya lalu turun dari kursi.
"Aduh ... hati-hati, Nak!" sahut Felicia tapi Rafael tidak mengindahkan. Ia datang dan langsung memeluk Felicia.
"Mama lama sekali. Aku bosan di sini," katanya.
Felicia menyunggingkan senyum, langsung mengangkat Rafael dan mencium pipinya. "Bosan kenapa? Di sini banyak orang. Ada Om Bar dan–"
Dengan cepat Rafael memotong perkataan sang Mama, "Ayah Baruna, Mama, bukan Om! Papa bilang aku harus memanggilnya dengan sebutan Ayah karena dia adalah kawan Papa dan akan segera menyembuhkan penyakitku."
Felicia terlihat terkejut. Ia langsung mengarahkan pandangannya pada David, lalu ke arahku. Aku hanya bisa diam menatap dingin kepadanya, tapi ia membalasnya dengan sedikit senyum. Felicia lalu menyerahkan Rafael kepada David.
Felicia yang berdiri, tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arahku dan Ayah. "Halo, Bar. Om!" sapanya ramah.
Ayah menyambut tangannya. Mereka berjabat tangan. Sementara aku hanya memperhatikan mereka. Lalu saat tangan itu terulur padaku dan aku hanya bisa memandang, tanpa menyambut tangan itu. Tiba-tiba teringat Sheryl yang sejak kemarin mengatakan kalau ia sangat rindu dan ingin aku segera pulang ke Jakarta.
Astaga! Sedang apa aku di sini? Aku meninggalkannya di sana dengan kebohongan yang kulakukan. Ini salah!
"Maaf, semuanya! Aku harus pergi!"
Tanpa banyak berpikir lagi, aku mengambil tas yang kuletakkan di atas meja, lalu beringsut menuju pintu keluar. Aku tidak peduli dengan pandangan mereka. Dan Ayah .... Ya! Aku melupakannya dan terus mengikuti perintah otakku yang meminta sepasang kaki untuk terus melangkah dan menjauh pergi.
"Baruna! Hei! Kau mau ke mana, Nak!"
Aku mendengar suara Ayah yang memanggil, tapi aku tidak peduli. Sepertinya aku sudah salah mengambil keputusan ini sendirian. Aku harus pulang dan membicarakannya kepada Sheryl.
"Baruna!" Suara Ayah terdengar lagi. Hanya sekali, lalu terdengar suara seseorang yang terjatuh.
Bruk!
Aku menoleh ke belakang dan dengan mata kepalaku sendiri melihat Ayah yang tidak sadarkan diri. Ia sudah tergeletak di lantai.
"Ayah!"
***
Reynand Pov
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul lima sore saat Mama tiba-tiba masuk ke ruanganku. Ada yang berbeda. Wajahnya terlihat panik. Aku yang sedang membereskan barang-barang seketika berhenti. hendak pulang.
"Ada apa, Ma?" tanyaku.
"Rey, Ayahmu terkena serangan jantung. Beliau masuk ICU RS Tokyo!"
"Apa?!" Pandanganku membulat seketika.
"Tante Meri sudah lebih dulu ke sana. Mama ingin ikut, tapi tidak mungkin. Perusahaan butuh Mama di sini."
"Datang saja. Biar aku yg ada di sini. Lagipula hari Minggu aku harus hadir di acara itu, 'kan?"
"Apa tidak apa?"
"Tentu saja. Tante Meri juga tidak mungkin mengusir Mama jika sudah berada di sana." Aku meraih tasku dan memakainya lalu berjalan menghampiri Mama dan merangkulnya.
"Begitu ya, Rey?"
Aku mengangguk-angguk dan menenangkan dirinya. "Iya. Mama tenang saja. Percayakan kepadaku. Enak juga jadi Ayah yang dikhawatirkan oleh dua wanita." Aku terkekeh meledek, tapi dengan cepat telapak tangan Mama mendarat cukup keras di pundakku.
"Aduh!" pekikku berpura-pura kesakitan dan Mama hanya memandang kesal ke arahku sambil berkacak pinggang.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul enam sore saat aku baru saja tiba di depan bangunan apartemen. Segera bergegas menuju pintu lift dan berhenti tepat di lantai apartemenku.
Aku berjalan menuju pintu apartemen. Seketika pandanganku membeliak, melihat seorang wanita yang kukenal berdiri di sana. Ia menunduk bingung. Aku pun segera mempercepat langkah.
"Sheryl?" sapaku tidak yakin. Siapa yang tidak terkejut saat melihat istri Baruna itu berdiri di sana.
Dia sontak mendongak, menatapku yang memandangnya heran.
"Sedang apa kau di sini?"
"Tadi sepulang kantor, aku ke kantormu tapi malah bertemu dengan Julian. Dia bilang kau sudah pulang."
"Ada apa, Sher?" tanyaku bingung, tapi dia tidak langsung menjawab dan malah terlihat bingung saat itu juga. Aku segera membuka pintu. "Masuklah! Kita bicara di dalam."
Sheryl duduk di sofa ruang tamu. Aku meninggalkannya untuk mengambil minum terlebih dulu. "Minumlah! Kau pasti haus karena menungguku."
__ADS_1
Tanpa banyak berbicara ia meneguk air putih itu hingga tandas. Terlihat betapa hausnya ia selama menungguku.
"Sudah berapa lama kau berdiri di depan?"
"Sekitar setengah jam," jawabnya.
"Mengapa tidak menelepon jika ingin datang?"
"Ponselku tertinggal di kantor," katanya lalu terdiam sebentar. Dia lalu melirik arlojinya dan kembali mengarahkan pandangannya kepadaku, "Aku ingin meminta maaf kepadamu. Aku merasa tidak enak kabur begitu saja dari kantormu tadi siang. Aku terlalu emosi mendengar apa yang kau katakan tentang Baruna dan Felicia. Aku langsung menanyakannya pada Baruna."
"Tidak apa," jawabku menggelengkan kepala, lalu bertanya kepada Sheryl lagi, "setelah menanyakan hal itu, apa yang Baruna katakan?"
"Dia memintaku untuk percaya hanya kepadanya."
"Dan kau percaya?"
"Ya. Aku harus percaya. Dia suamiku. Tidak akan melakukan hal-hal yang membuatku sakit."
Aku hanya menelan ludah mendengarnya. Perkataanku tidak akan pernah dianggap oleh Sheryl. Setelah yang terjadi selama ini, dia tetap melihat Baruna seperti pria suci yang tidak memiliki cela sama sekali.
"Jika yang kau yakini itu salah bagaimana?" Aku mengangkat sebelah alis menatapnya.
"A-aku tidak tahu, tapi kekhawatiranmu tidak berdasar sama sekali."
Setelah Sheryl mengatakan hal itu, aku menjadi geram. Namun sekuat tenaga menahannya. Sheryl harus tahu kebenarannya. Aku tidak ingin dituduh memfitnah suaminya sendiri. Dan pada akhirnya, aku menceritakan semuanya. Pertemuanku dan Felicia dan pelukan mereka yang kulihat di taman waktu itu. Air muka Sheryl seketika berubah. Hidungnya tampak mengempis dan mengembang menahan emosi yang bergejolak. Bola matanya bergetar menatapku.
"Maaf, mungkin ini pahit, tapi kau harus tahu kebenarannya, Sher. Aku tidak suka kau dipermainkan. Apalagi, kau sedang mengandung."
"Rey, aku ingin bertemu Baruna."
"Tapi dia ...." Aku tidak mampu meneruskan perkataanku.
"Aku tahu. Bunda tadi menelepon. Ayah dalam keadaan kritis dan Bunda bilang akan langsung pergi ke sana. Beliau tidak mengizinkanku untuk ikut pergi karena sedang hamil." Sheryl menundukkan kepala, lalu mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
Aku sempat melihat sorot kekecewaan dalam manik matanya dan seketika menyesali apa yang baru saja kubeberkan kepadanya. "Tentu saja. Kau tidak boleh pergi, Sher."
"Tapi aku harus tahu. Aku harus bertemu dan menanyakannya secara langsung," katanya lalu tiba-tiba bangkit berdiri. "Aku akan memesan tiket penerbangan malam ini."
"Kau pergi sendiri?"
"Ya. Aku akan pergi. Setelah ini, kau tidak usah ikut campur lagi masalahku, Rey!"
"Aku akan ikut denganmu," pungkasku akhirnya.
__ADS_1