
Keesokan harinya ....
Tok tok tok.
Terdengar pintu kamarku diketuk. Aku yang sedang berdandan di depan cermin sontak menoleh ke arah pintu. Hari ini aku berencana kontrol ke dokter Mario. Kakiku masih terasa nyeri, aku harus memeriksakannya lebih lanjut.
Tok tok tok.
Bunyi ketukan pintu berulang meminta sang empu secepatnya membukakan pintu. Dengan langkah malas aku beranjak dari kursiku meraih handel, segera memutarnya.
Di hadapanku berdiri Mama dan seorang gadis remaja cantik di sampingnya, Khanza adik sepupuku.
"Mau sampai kapan di kamar? Khanza sepupumu datang," ujarnya.
"Hai Khanza, apa kabar?" Aku tersenyum hangat.
"Halo Kak Sher." Khanza memelukku seketika dan aku pun menyambut pelukan hangatnya.
Adik sepupuku ini adalah salah satu sepupu terdekatku selain Nesya. Wajahnya yang kebarat-baratan membuatnya terlihat sangat cantik menggemaskan.
"Kak Sher, boleh aku main?"
"Tentu saja, tapi hari ini aku ada janji dengan dokter Mario untuk kontrol," sahutku.
"Aku boleh ikut?" tanya gadis berusia lima belas tahun itu.
"Apa kamu sudah izin orang tuamu?" Aku menatap mata Khanza.
"Iya tentu saja aku sudah izin, Kakak."
"Baiklah, kamu temani aku kontrol ya. kebetulan hari ini tidak ada yang menemaniku pergi."
"Siap Kakak cantik," jawab Khanza tersenyum.
Mama memandang wajahku. Raut wajahnya menjadi serius lalu dia bertanya, "Kamu bertengkar dengan Baruna?"
"Tidak Ma."
"Jangan bohong. Semalam terlihat jelas kalian saling tidak acuh."
" ...." Aku terdiam.
"Jangan rusak rencana perjodohan yang sudah kami susun selama ini." Mama memperingati.
"Ma, ada Khanza di sini. Haruskah membahasnya sekarang?"
Mama terdiam memandang gadis di sampingku. "Baiklah, kamu jaga Khanza. Hati-hati di jalan."
Aku mengangguk, Mama segera meninggalkan kami berdua. Aku menutup pintu kamarku, menatap gadis itu kemudian kami saling tertawa.
Mama, siapa pula yang mau menghancurkan rencana perjodohan ini? Aku juga tidak ingin hubungan kami hancur.
"Khanza, bagaimana hubunganmu dengan Arif di sekolah?" tanyaku, karena terakhir kali Khanza menceritakan tentang teman lelakinya yaitu Arif.
"Aku dan dia? Entahlah Kak, aku ragu sebenarnya aku mencintainya atau hanya sekedar mengaguminya."
"Tanyakanlah pada hatimu yang paling dalam. Hati tidak akan pernah berbohong," sahutku. "Tapi kamu kan masih pelajar ya. Hmm .... Mungkin kata mengagumimu lebih cocok untuk Arif. Kamu harus fokus belajar."
__ADS_1
Khanza menoleh ke arahku, "Benarkah itu Kak Sher?" tanyanya. "Belajar adalah hobiku. Aku tidak akan meninggalkannya," tambah Khanza.
"We'll never know," jawabku sambil memandangi layar smartphone di tanganku. Sepi, tidak ada notifikasi atau telepon yang masuk.
Pikiranku melayang memikirkan Kak Baruna. Sejak semalam mengantar ke rumah, dia tidak mengacuhkanku. Dia benar-benar marah karena hadiah kecil itu. Aku jadi merasa bersalah menerima hadiah dari Pak Reynand.
Aku sudah meminta maaf dan mencoba merayunya, namun dia tidak mau mendengarkan. Ke mana kelembutannya itu pergi? Dia seperti sedang menyimpan banyak beban. Hari ini pun ia berangkat ke Jepang tanpa mengabariku. Membuatku galau saja.
"Kak Sher sedang memikirkan apa?" tanya Khanza membuyarkan lamunanku.
"Ah maafkan aku. Aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Ayo kita pergi."
Aku meraih tangan Khanza dan menggandengnya. Khanza yang memakai pakaian kasual begitu cantik menggemaskan.
Aku dan Khanza masuk ke dalam mobil. Kami duduk di jok belakang sedangkan Pak Erwin supir pribadiku, sibuk menyetir mengantarkan kami ke rumah sakit.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore, saat akhirnya Kak Baruna meneleponku. Aku buru-buru mengangkat telepon itu.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Kak Baruna.
"Aku dalam perjalanan ke rumah sakit bertemu dengan dokter Mario. Kakiku masih nyeri sayang."
"Pergi dengan Reynand?" tanya Kak Baruna menyindirku.
"Hei jangan mulai lagi. Kamu membuatku sedih. Apa artinya pertunangan jika tidak saling percaya. Sungguh, hanya kamu yang kucintai."
"Tapi Reynand sudah susah-susah loh memilihkan jepitan rambut itu untukmu," tambah Kak Baruna.
"Aku tidak memintanya. Aku rasa kamu pun marah bukan hanya akibat jepitan rambut. Katakan ada apa sebenarnya? Jika kamu keberatan aku menerimanya, sekarang juga aku bisa mengembalikan jepitan itu untukmu."
"Aku juga mencintai ...." Aku tidak meneruskan kata-kataku lalu melirik Khanza. Gadis itu menatapku sambil tersenyum menggoda.
"Kenapa kamu tidak meneruskan kata selanjutnya? Ada siapa di sana?"
"Ada Khanza sepupuku."
"Benarkah?" Kak Baruna lalu mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video. Dia tidak percaya denganku.
"Lihat ada Khanza di sampingku," kataku mengarahkan kamera smartphone ke arah Khanza.
"Hai Kak Baruna. Maaf kemarin aku tidak datang ke acara pertunangan Kakak. Aku pergi dengan teman-temanku," sapa Khanza tersenyum.
"Tidak masalah. Kakak titip Kak Sheryl, jangan sampai dia digoda lelaki lain. Kakak percaya padamu, Khanza."
Aku menarik ponselku dari hadapan Khanza. Dengan wajah serius aku berkata, "Kamu berlebihan sayang. Aku bisa menjaga diriku.
"Iya baiklah aku percaya."
"Kamu ada di mana sekarang?"
"Aku sudah akan pulang. Di sini sudah pukul lima sore. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Iya sayang. Hati-hati di jalan."
"Siap sayangku."
Kak Baruna mematikan teleponnya. Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam tas.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselku berbunyi kembali. Kali ini telepon dari Abi, salah seorang sahabatku semasa kuliah yang menikah dengan sepupuku Bima. Aku pun mengangkatnya.
"Sher, kamu berada di mana?" Nada suara Abi terdengar sangat sedih.
"Aku sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit dekat rumahku. Aku mau kontrol kakiku yang sakit."
"Sher ...."
"Ada apa Abi? Suaramu terdengar begitu sedih."
"Bima kecelakaan. Aku berada di rumah sakit dekat dengan rumahmu."
"Apa?! Bagaimana keadaannya? Sudah masuk ruang perawatan?"
"Iya. VVIP 602 lantai enam."
"Tunggu aku di sana."
Abi mematikan teleponnya. Selang beberapa waktu kemudian kami tiba di rumah sakit. Aku dan Khanza buru-buru naik lift ke lantai enam.
Aku membuka handel pintu ruang VVIP 602. Tampak banyak orang yang berkumpul di ruangan tersebut.
Aku yang baru saja masuk ke dalam merasakan suasana hening seketika. Kain putih itu terlihat sudah menutupi jasad Bima yang kaku.
Abi meracau, dia berkata hal-hal yang tidak masuk akal. Dia sangat syok menghadapi kematian suaminya.
Abi, sungguh tidak kusangka kamu akan kehilangan suamimu secepat ini.
Tidak terasa aku dan Khanza meneteskan air mata. Bulir-bulir air mata itu jatuh begitu saja. Tiba-tiba Abi mengalihkan pandangannya ke arahku dan Khanza lalu mendekat.
"Khanza sayang .... Bisakah kamu bangunkan Kakakmu itu untukku? Dia tidak mau mendengarkanku. Padahal ia selalu mendengarkanmu bercerita tentang Arif temanmu."
"Kak Bima telah pergi," lirih Khanza. "Kak Abi, kita hanya bisa ...."
"Sheryl ...." Abi menyela ucapan Khanza. "Maafkan aku dan Bima yang tidak bisa menghadiri pesta pertunanganmu dengan Baruna. Tapi Bukankah Bima sudah berjanji akan menemanimu mengurus pernikahan dengan weeding organizer yang bagus? Ayo kamu boleh membangunkannya, tagih janjinya padamu. Jika ia tidur seperti itu bagaimana ia bisa menemanimu?" Abi meracau menatap mataku.
"Abi ...." Aku menarik Abi ke dalam pelukanku, menangis. "Sayang, Bima sudah pergi. Biarkan ia tenang. Aku mohon kamu bisa mengikhlaskannya." Aku merasakan tubuh Abi yang bergetar menangis dalam pelukanku, lalu dia menarik dirinya lepas dari pelukanku.
Abi aku ikut berduka cita. Aku sungguh tidak sanggup berada di sini.
Aku berbalik arah keluar dari ruang perawatan. Air mataku tidak berhenti mengalir. Perasaan sedih itu terasa menyeruak masuk ke dalam hatiku. Mengisi setiap lubang kesedihan yang menganga.
"Sheryl." Terdengar suara seorang pria memanggilku.
Aku mendongakkan kepala, melihat Pak Reynand berdiri di hadapanku. Mata kami kemudian saling menatap terkejut.
_____________________
Siapa yang taruh bawang bombay di sini?
Hatiku pilu mendengar Abi menangis sedih ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Ikuti dan dukung novel Mine dan Mengagumimu ya kawan
Salam Manis
Viviani
__ADS_1