
Pagi yang tenang di penghujung minggu. Hari sabtu yang ditunggu. Tubuhku kubiarkan menggeliat manja di atas tempat tidur. Berguling tidak tentu arah dengan malas.
Aku melirik jam dinding di kamarku. Waktu sudah menunjukkan pukul enam. Aku memejamkan mata sebentar mengingat-ingat ada acara apa hari ini. Tidak ada rencana yang penting hari ini. Terdengar suara dua orang lelaki yang sangat bersemangat di halaman belakang rumahku.
Aku beranjak dari tempat tidurku menuju balkon kamarku. Melakukan sedikit senam kecil, menoleh ke bawah kolam renang yang berada tepat di halaman belakang itu. Tampak jelas dari lantai dua Kak Reza sedang melakukan olahraga renang berdua dengan temannya. Postur tubuhnya sangat kukenal baik bahkan jika dilihat dari sedotan minuman dingin. Hahaha .... Iya aku sedang melucu sekarang. Kak Baruna sudah terlihat di kolam renang rumahku pagi-pagi sekali.
Tampaknya Kak Baruna sadar aku memperhatikannya dari atas balkon kamar. Dia melambaikan tangannya. Aku yang sedang bersandar di pagar balkon tersenyum balas melambaikan tangan.
Udara dingin membuatku malas bergabung dengan mereka tapi Kak Reza mengayunkan tangannya mengajakku ikut bergabung. Aku keluar dari kamarku masih dengan piyama yang kukenakan menyusul mereka ke area kolam renang.
"Selamat pagi sayang," sapa Kak Baruna seraya mencium pipiku spontan. Mataku membulat kaget dengan tindakan spontanitasnya itu.
Di berjalan ke sebuah kursi panjang mengambil handuk kecilnya.
"Pagi-pagi bikin baper aja. Sayang banget Dita gak bisa ke sini," cibir Kak Reza yang melihat kedekatan hubungan kami.
Kami hanya tertawa mendengar kata-kata Kak Reza. Kak Reza lalu melanjutkan kegiatan renangnya lagi di dalam kolam. Kak Baruna menatap wajahku. Senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Tumben pagi-pagi sudah di sini," ucapku heran.
"Aku menginap. Kamu pasti gak tahu. Kamu kan sudah tidur saat aku sampai sini." Kak Baruna menyeka butiran air di wajahnya dengan handuk kecil yang sedari tadi dia pegang.
"Iya aku tidur lebih awal. Kamu bilang tidak usah menunggu kan?"
"Iya sayang. Kemarin kamu kenapa? Kelihatan kaget dan takut sekali setelah berbicara dengan lelaki itu? Padahal kamu bilang dia adalah teman sekolahmu dulu."
"Lelaki itu sudah berkata kurang ajar padaku. Aku sedikit ngeri berhadapan dengannya. Aku jadi kepikiran terus sayang."
"Kenapa?" tanyanya.
"Kamu jangan marah kalau mendengar ini. Janji?" kataku.
"Iya kalau bisa aku akan menepatinya," jawab Kak Baruna.
"Janji pokoknya." Aku memaksa dengan suara manja.
"Iya sayangku."
"Dia itu cowok yang suka padaku sejak aku duduk di bangku kelas satu sampai dengan kelas tiga. Tapi aku tidak suka padanya. Mungkin aku terlalu berlebihan tapi wajahnya itu enggak banget. Belum lagi badannya yang gendut. Hal itu jadi alasan aku dan teman-temanku suka mengintimidasinya."
"Lalu?"
"Semakin hari kami senang mengerjainya dan mengancamnya sampai kami lulus. Aku tidak tahu sama sekali kalau dia selalu ingat dengan perlakuanku dulu hingga merasa dendam sampai sekarang dan melakukan teror itu."
__ADS_1
"Sudah minta maaf kemarin?"
"Sudah tapi dia tidak menerima permintaan maafku sayang."
"Ya sudah biarkan saja. Itu urusannya dengan Tuhan jika tidak memaafkanmu sayang." Kak Baruna membelai rambutku.
"Dia akan memaafkanku jika aku menemaninya tidur," ucapku lirih nyaris tidak terdengar.
Sontak Kak Baruna menoleh ke arahku terkejut. Matanya membulat kaget dan mengekpresikan kemarahan. Dia menarik lenganku kencang. Tanpa basa-basi lagi dia berkata, "Sekarang kita temui dia dan aku akan menghajarnya habis-habisan. Enak saja berkata kurang ajar seperti itu padamu."
Aku menarik kembali lenganku. Aku menatap wajah Kak Baruna dengan air muka yang tenang.
"Kamu janji tidak akan marah bukan?"
"I-Iya sih tapi sudah keterlaluan."
"Sudahlah mungkin itu hukuman atas kelakuanku dulu. Aku tidak akan menganggapnya serius."
"Tapi kamu syok seperti itu apa tidak apa-apa?"
"Aku sudah lebih baik sekarang sayang. Oh iya besok ada acara reuni sekolahku di hotel Y," ujarku.
"Reuni?"
"Iya maaf aku lupa mengatakannya sayang. Kamu bisa menemaniku?"
"Hari ini kita mau ke mana?" Kak Baruna mendongak ke arah langit yang cerah pagi itu.
"Cuacanya cerah," komentarku.
"Kita ke pantai?"
"Tidak mau."
Tiba-tiba ponsel Kak Baruna berbunyi. Kak Baruna meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Aku melihat layar ponselnya, Tante Meri yang meneleponnya. Aku terdiam menunggu Kak Baruna yang sedang berbicara di telepon itu.
Aku memperhatikan wajahnya dari samping. Wajahnya tampan dengan garis wajah yang sempurna. Rambutnya yang basah. Tubuhnya yang atletis. Serta senyum yang selalu tersungging di bibirnya yang berwarna sedikit merah muda itu masih membuatku jantungku berdetak menggebu-gebu. Hatiku pun akhir-akhir ini bergetar semakin hebat saat berada di sampingnya. Getarannya itu membuatku segera sangat ingin memilikinya.
Kak Baruna menoleh ke arahku meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
"Kamu sedang memperhatikan apa?"
"Ah tidak ada." Aku mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Air mukamu tidak bisa berbohong. Kamu menginginkanku saat ini." Kak Baruna menatapku dalam.
"Hentikan tatapan itu. Kamu membuatku semakin ingin."
"Ingin apa?"
Aku lalu mencium pipinya seketika. Secepat kilat menyambar. Tidak mengulangi untuk kedua kali.
"Hanya itu?" Kak Baruna mulai menggoda.
"Jangan memancingku sayang. Kalau aku sudah masuk ke dalam kailmu, aku tidak akan segan-segan melahapmu dari ujung kaki sampai kepala," selorohku.
"Wow .... Tidak kusangka kamu mempunyai sisi seperti itu," sahut Kak Baruna tercengang.
"Apa? Hei aku hanya bercanda."
"Bercanda kamu kali ini aku anggap serius karena aku juga menantikannya. Aku akan menunggu saat itu dengan senang hati sayang," sahut Kak Baruna berbisik.
Wajahku merona, aku menundukkan kepala malu. Kak Baruna mengangkat daguku lalu menempelkan bibirnya dengan bibirku hanya dalam waktu sekejap.
"Itu ciuman sayang pagi ini untukmu Sherylku," ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu selalu bisa membuatku malu. Seakan-akan aku yang sangat menginginkanmu," protesku.
"Tidak penting siapa yang menginginkan siapa sayang, yang kutahu aku dan kamu saling mencintai," jawabnya santai sambil menyentuh lembut pipiku dengan telapak tangannya.
"Aku semakin ingin memilikimu sayang." Aku balas menatapnya penuh cinta.
"Sama. Kita harus bersabar sampai waktu itu tiba. By the way, Ibuku menanyakan kabarmu sayang. Dia menyuruh kita untuk ke rumahku. Membicarakan acara pertunangan kita yang akan terlaksana minggu depan."
"Baik. Jam berapa kita pergi?"
"Jam sepuluh saja. Aku masih ingin berenang. Kamu ikut dong."
"Aku tidak jago sayang. Aku malu."
"Bagaimana kalau begini?" Kak Baruna tiba-tiba mengangkat tubuhku. Dia menggendong bahuku dari depan layaknya pengantin baru.
"Hei turunkan aku!" Aku meronta sekuat tenagaku.
"Tidak bisa. Kamu harus olahraga agar badanmu sehat. Badanmu ini kurang gerak," celotehnya sambil tertawa.
Dia berjalan menuju kolam lalu dengan sengaja menceburkan tubuhku ke dalamnya.
__ADS_1
Byurr!
Piyamaku basah. Aku berteriak kesal. Udara dingin membuatku menggigil. Kak Reza yang melihatku tertawa terbahak-bahak. Aku berenang sampai dengan anak tangga kolam. Keluar dari kolam dengan wajah masam. Mereka berdua cocok. Sama-sama menjengkelkan pagi ini.