Marriage Order

Marriage Order
S3 Kebahagiaan Sesaat


__ADS_3

Sheryl Pov


Aku dan Reynand masih berdiri memandang langit malam berbintang di depan pintu gerbang. Sejenak, aku menoleh kepadanya. Reynand masih melekatkan tangannya di pundakku seolah tak ingin melepaskannya lagi.


Aku melirik arlojiku. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Rasa kantuk menyerang dengan sangat. Beberapa kali aku menguap menahan rasa kantuk.


"Sepertinya kau sudah sangat mengantuk," kata Reynand tiba-tiba. Pandangan matanya mengarah kepadaku.


"Ya, lumayan. Kau lihat! Ini sudah lewat tengah malam," kataku menunjukkan arloji yang melingkar di tangan.


Reynand tak menyahut. Dia hanya mengangkat kedua sudut bibirnya, lalu mengekeh seolah melihatku adalah pemandangan yang menyenangkan.


"Haish! Malah tertawa!" protesku.


"Masuklah!" sahutnya sontak memutar tubuhku menghadap pintu gerbang. Namun karena ragu, aku tak ingin bergerak satu langkah pun menjauh darinya. Reynand tiba-tiba berbisik, "atau kau ingin kita tidur bersama di apartemenku saja?"


Mataku membulat mendengarnya. Gemuruh rasa malu seketika merambat hingga ke puncak kepala. Aku memutar tubuhku berhadapan lagi dengannya.


"Jangan bercanda, Rey!" kataku lalu memukul pelan lengannya. Namun dia terus tergelak meledek. Terlihat sangat senang saat ini hingga membuat hatiku makin merasa bersalah.


"Maaf, Sher. Ayo kuantar masuk."


Aku mengangguk pelan. Kami berjalan beriringan hingga depan teras rumah. Reynand meraih kedua tanganku. Menatap dalam dengan sudut matanya yang menajam.


"Besok kita kencan, ya!" katanya.


Aku memasang senyum tipis. "Besok? Maksudmu mungkin hari ini."


"Ah, ya. Itu maksudku." Reynand mengangguk lalu melihat arlojinya. Mulutnya komat-kamit menghitung sesuatu. "Masih ada waktu sekitar delapan jam untuk kita bertemu lagi."


"Ah, padahal aku ingin bermalas-malasan saja." Aku menyahut spontan.


"Kau tidak ingin berkencan denganku, huh?" Bibir Reynand mengerucut. Sisi lainnya yang tak kuketahui kini terlihat sangat imut.

__ADS_1


"Kau istirahat saja di rumah, temani ibumu. Aku tak ingin beliau menganggapku merebutmu darinya. Bayangkan saja bagaimana perasaannya jika ia tahu kau tidak langsung pulang sesampainya di Jakarta dan malah menemuiku."


Reynand terlihat mengembuskan napas panjangnya. "Baiklah. Kau juga sebaiknya istirahat karena aku tahu bukan hanya ragamu yang lelah, hatimu juga demikian."


"Sudahlah! Tak usah dibahas, Rey. Hari ini aku sedang berbahagia melepas kakakku satu-satunya menikah, dan kau yang pulang, tentu saja."


Reynand menyunggingkan senyumnya lagi. Entah berapa kali ia tersenyum malam ini. Aku hampir tak bisa menghitungnya. Yang pasti aku tahu bagaimana dirinya terlihat sangat bahagia.


Tiba-tiba Reynand mendaratkan satu kecupan singkat di pipiku. "Selamat malam dan selamat istirahat, Sheryl-ku," ucap Reynand dengan wajah bersemu merah.


Shery-ku? Apa-apaan dia? Benar-benar imut sekali.


Aku mengekeh geli dan malah makin membuat ia salah tingkah. Ia membuang wajahnya menatap ke arah lain. Tak lama, tawaku mereda. Menarik dagunya hingga wajah tampan itu mengarah kepadaku.


"Aku masuk dulu," kataku seraya menunjuk ke arah pintu.


"Ya, masuklah."


"Mama, Papa, mengapa belum tidur?" tanyaku bingung.


Papa melipat kedua lengannya di dada. "Lama sekali. Apa kau sudah menolaknya, Sheryl?"


"Ya, Sheryl. Jangan bilang kau malah memberikannya harapan." Mama menambahi.


Deg!


Perkataan Mama dan Papa membuatku tercenung sesaat, lalu mengubah air mukaku menjadi serius. "Rey tak memberikan kesempatan kepadaku saat aku ingin menolaknya, Ma, Pa."


"Tapi kau tetap pada prinsipmu, 'kan? Kau harus menepati janjimu kepada Mamanya!" Papa menegaskan kembali.


"Ya, aku tahu." Aku mengangguk.


"Bagus. Kau harus sadar, kau belum lama bercerai. Kalaupun kau ingin menjalin hubungan yang baru, Papa harap tak ada kaitannya dengan Anton dan keluarga Asyraf." Papa menambahkan kalimatnya lagi. Terlihat sekali bagaimana ia masih merasa kecewa terhadap temannya.

__ADS_1


Jantungku sontak berdenyut tak karuan. Sungguh kembali sesak dan tak nyaman. Tak menanggapi lagi perkataan keduanya, aku segera beringsut menuju kamar. Hanya di ruangan itu, aku bisa meluapkan semua kegelisahan di hati.


Tiba-tiba teringat saat Tante Aina datang ke kantor khusus untuk bertemu denganku. Air mukanya menekuk serius menatapku yang duduk di hadapannya.


"Sepertinya, saya tak perlu berbasa-basi lagi. Saya tahu bagaimana situasinya. Kau telah berpisah dengan Baruna. Lalu bagaimana Reynand yang masih menyimpan harapan kepadamu. Sungguh! Saya sangat berterima kasih karena kau dengan berani memutus komunikasi dari Rey. Namun saya tidak bisa menjaminnya dalam dua minggu ke depan. Kemungkinan Rey akan pulang ke Indonesia. Dia pasti akan mencarimu lebih dulu daripada ibunya."


"Maksud Tante?" Aku mengernyit bingung tak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.


"Pergilah menjauh darinya. Jangan pernah muncul di hadapannya. Bila perlu, kau hancurkan lagi hati Rey agar ia tak lagi memiliki harapan."


"Mengapa Tante menyuruh saya melukai hati Rey lagi? Dia akan sangat menderita jika saya berbuat demikian."


"Waktu yang akan menyembuhkannya. Rey akan melupakanmu seiring berjalannya waktu. Dan di saat itu, Tante akan memperkenalkan ia dengan wanita lain yang pantas untuknya. Bukan denganmu! Janda yang masih ingin memiliki kakak tiri dari mantan suami sendiri."


Perkataan Tante Aina sungguh menohok. Mendengarnya saja cukup membuat hatiku geram. Bagaimanapun, tak ada yang dengan sengaja meminta perasaan cinta timbul dari arah mana. Perasaanku kepada Reynand pun muncul tanpa kusadari sama sekali.


"Saya tak pernah meminta ia mencintai hingga sedalam itu, Tante."


"Kau yang terus menggoda sekaligus mempermainkan Rey. Bahkan membuat ia mengabaikan wanita baik-baik seperti Kayla. Setelah kau yakin Rey telah jatuh hati kepadamu, kau tinggalkan dia. Kau meninggalkan ia sesaat sebelum menikah, kau juga mengecewakan dirinya karena ingin berdamai dengan suamimu saat itu. Lalu kini apa lagi rencanamu, Sheryl? Berapa kali lagi kau akan mengecewakan hatinya? Ibu mana yang tega melihat anaknya dipermainkan, huh?!" Tante Aina menatap dengan pandangan gemetar. Ia hendak menangis begitu membahas rasa sakit yang dirasakan putranya. Melihatnya membuatku menjadi iba.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan jika ia datang menemui saya?"


"Tolak dirinya dan bersikaplah seperti yang sudah-sudah, karena Tante tak pernah yakin kau benar-benar memiliki perasaan yang sama dengan yang Rey rasakan kepadamu!"


Tante Aina hampir berteriak kepadaku. Setelahnya, ia tiba-tiba menunduk dan terisak. Melihat reaksi itu, hatiku mencelos. Aku membuang napas pelan, berusaha menanggapi perkataannya dengan embusan napas yang terasa tak nyaman.


"Baiklah. Saya mengerti, Tante. Saya akan melakukan apa yang Tante inginkan. Sungguh, maafkan sikap saya yang sudah menyakiti hati Tante dan Rey," sahutku menyerah.


"Tante harap kau menepatinya, Sheryl!"


Mengingat memori itu kembali, membuatku merasa bodoh dan tak berguna. Untuk apa aku mengiyakan permintaan Tante Aina, tapi tidak dengan sikapku malam ini kepada Rey? Sungguh bertolak belakang. Bukannya menolak dia, aku malah berani membalas ciumannya. Di satu sisi, membuat Reynand kembali berharap akan cintanya kepadaku. Dan di sisi lain malah membuatku makin merasa bersalah sekaligus merasakan kesedihan.


Sheryl, mestinya tadi kau menahan dirimu. Kau tak pantas bahagia saat ini!

__ADS_1


__ADS_2