
Dua hari kemudian, pukul dua belas siang ....
Aku baru saja selesai membereskan pekerjaan yang tertunda kemarin, saat tiba-tiba saja seorang wanita cantik dengan potongan rambut shaggy bob hampir sebahu menerobos masuk ruanganku begitu saja. Aku terperanjat kaget melihatnya karena wanita itu adalah Kayla. Dia memandang wajahku dengan senyum manis yang terpancar dari wajahnya.
"Maaf, Mbak Sheryl. Wanita Ini memaksa masuk. Saya tidak bisa menahannya." Viona sekretarisku membungkukkan badannya meminta maaf.
Aku mengangguk mengerti, lalu berkata, "Kamu bisa tinggalkan kami berdua, Vi."
Viona bergegas keluar ruangan. Aku menatap wajah cantik Kayla yang masih berdiri sambil menyunggingkan senyumnya penuh semangat.
Wanita ini, tumben mendatangi kantorku. Apa yang dia inginkan?
"Silakan duduk, Kay."
Kayla pun melangkah duduk di kursi yang berhadapan denganku.
"Ada angin apa membawamu jauh-jauh datang ke sini? Padahal kesibukan sebagai model saja sudah cukup banyak menyita waktumu."
"Aku ingin berdamai denganmu. Mari kita berteman." Kayla mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman.
Dia sedang salah minum obat sepertinya.
"Kamu serius?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah seserius ini."
Aku menaikkan sebelah alisku tidak percaya, sedikit ragu menyambut uluran tangannya. Namun, aku tetap bersalaman dengannya sambil menatap dengan penuh tanda tanya.
Kayla menarik tubuhku, dia memelukku. Aku tersentak kaget dengan sikapnya yang tiba-tiba. Tidak lama kemudian menarik tubuhnya kembali.
"Kamu ada waktu?" tanyanya.
"Untuk?" Aku balik bertanya.
"Ayo kita makan siang." Kayla menarik tanganku dengan paksa. Aku pun terpaksa mengikutinya berjalan keluar ruangan.
Kami berjalan keluar lobi kantor menuju lahan parkir mobil. Kayla masuk ke dalam mobilnya. Memegang kemudi sendiri tanpa seorang supir. Mobil lalu melaju keluar halaman kantor.
Setengah jam kemudian, kami tiba di sebuah restoran makanan Jepang di dalam mall.
"Kita makan di sini?" tanyaku ragu.
"Iya. Restoran ini tempat favoritku dan Rey kalau ingin makan sushi dan makanan Jepang lainnya, jawab Kayla.
"Oh ...." Aku hanya membulatkan bibirku tanpa ekspresi lain kemudian terdiam setelahnya.
"Kenapa jadi diam, Sher?"
"Ah, aku tidak apa-apa."
Seorang pelayan restoran menghampiri kami dan menanyakan pesanan yang kami inginkan. Kayla membuka-buka buku menu makanan, kemudian segera memesankannya untuk kami.
Lima menit kemudian terdengar suara telepon masuk dari ponselku. Nama Kak Baruna tertera di layar. Aku segera mengangkatnya.
"Apa kamu sudah makan siang, sayang?"
__ADS_1
"Sebentar lagi. Aku sedang berada di restoran Jepang bersama Kayla."
"Kayla pacar Reynand?" Suara Kak Baruna terdengar sedikit terkejut.
"Iya, sayang."
"Sejak kapan kamu dan dia jadi akrab?"
"Baru saja. Dia tadi datang ke kantorku mengajak berdamai."
"Oh ... baguslah. Aku harap dia benar-benar tulus ingin menjadi akrab."
"Mudah-mudahan, sayang."
"Aku makan siang dulu, ya."
"Iya, sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, sayang."
Kak Baruna mematikan teleponnya. Aku menatap wajah Kayla yang sedari tadi memperhatikan diriku yang sedang menelepon. Dia tersenyum lebar.
"Aku iri padamu," dengkusnya dengan penuh kekecewaan.
"Iri kenapa?"
"Hubunganku dan Reynand tidak berjalan baik seperti hubunganmu dengan Baruna," sahutnya.
"Kalian 'kan memang sudah putus," tukasku tiba-tiba.
Deg!
Sheryl, mulutmu sangat kacau. Kamu akan membuka kartumu sendiri di hadapan mantan pacarnya.
"Ah, maaf aku tidak sengaja mendengarnya sendiri dari mulut Pak Reynand kemarin saat dia datang atas undangan makan siang dari Tante Meri." Aku berbohong.
Sheryl, kamu sudah pintar berbohong pada semua orang rupanya.
"Ternyata dia masih membicarakanku ... artinya dia masih peduli padaku, Sher." Kayla menggenggam kedua tanganku erat di atas meja. Matanya terlihat berbinar-binar bahagia.
"He-eh ... mungkin saja," balasku dengan senyum terpaksa.
Lima belas menit kemudian salah satu pelayan restoran membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan kami. Kami pun segera menyantap menu makan siang itu.
"Hei ... bagaimana kalau kita berfoto sebagai perayaan hari pertemanan kita!" ajak Kayla tiba-tiba. Dia meraih smartphone di hadapannya dan mengarahkannya ke wajah kami.
"Oke, ayo chers!" jawabku bersemangat.
Cekrek!
Sebuah foto berhasil diambil. Bukan hanya satu tapi beberapa. Kami tidak pernah puas sampai mendapatkan hasil yang sempurna. Ya, namanya juga wanita. Sisi narsistiknya menjadi sebuah junjungan dalam hidup.
****
Baruna PoV
__ADS_1
Pukul 12.30
Aku baru saja selesai menelepon Sheryl dan sedikit terkejut mendengar perkataannya yang tiba-tiba berteman dengan Kayla. Padahal dia pernah bercerita padaku bagaimana perlakuan wanita itu padanya. Mudah-mudahan saja dia memang benar tulus ingin berteman.
Sejenak, aku memandang sebuah map dokumen berwarna hijau di atas meja kerjaku. Pak Wicak baru saja memberikan hasil copy print out Marriage Order Agreement di hadapanku.
Tentang ini, tidak mungkin hanya aku saja yang tahu, 'kan? Keluarga Sheryl juga pasti ikut menyembunyikannya .... Reza, dia pasti mengetahuinya.
Aku buru-buru meraih telepon dan menanyakan di mana dirinya.
"Za, di mana?"
"Masih di kantor. Di ruang kerja gue. Kenapa?"
"Oke, gue ke sana."
"Iya, gue tunggu."
Aku mematikan telepon. Meraih map itu beserta kunci mobil di hadapanku lalu turun menuju lobi.
Segera, aku mengemudikan mobil dengan rasa tidak sabar. Lima belas menit waktu yang kutempuh hingga tiba di Kusuma Corp.
Aku melangkahkan kakiku dengan tergesa-gesa. Akhirnya tiba di hadapannya. Reza membulatkan kedua matanya terkejut dengan sikapku yang tidak seperti biasa.
"Lo kenapa, Bar? Kayak habis dikejar setan, buru-buru banget," tanyanya seraya mengernyitkan kening bingung.
Aku hanya diam dan melihatnya dengan sorot mata yang dingin. Kemudian membanting map yang kubawa. Reza terperanjat kaget melihat tindakanku itu.
"Apa ini, Bar?" tanyanya lagi.
"Buka aja, Za!" perintahku lalu mendudukkan tubuhku di atas kursi tanpa disuruh olehnya.
Reza membuka map tersebut. Sejenak, terlihat dirinya yang tampak terkejut. Dia mendongak ke arahku terdiam.
"Lo gak usah cari alasan untuk berkelit, Za. Gue tahu kalau sebenarnya lo lebih tahu masalah perjanjian itu."
Reza masih diam seribu bahasa tidak menanggapi perkataanku. Dia hanya menatap dalam. Kemudian menarik napasnya yang tidak teratur.
"Jawab, Za! Mau sampai kapan lo menyembunyikan masalah ini dari gue? Kalau gue gak cari tahu sendiri, gue pasti akan menjadi satu-satunya lelaki yang paling bodoh di kehidupan ini."
"Bar, gue bisa jelasin. Gue enggak ada niat sembunyiin semuanya dari lo. Keluarga gue dan keluarga lo memang sepakat untuk diam. Menjadikan semuanya seolah-olah kejadian yang alami. Gue juga tahu perasaan lo dari dulu ke adik gue gimana, makanya gue sih setuju aja. Masalah Sheryl ... apa lo takut dia kecewa? Cewek tuh gampang, Bar. Gampang baper .... Lo lihat sekarang, dia beneran cinta 'kan sama lo?" jelasnya berapi-api, penuh semangat.
Penjelasan Reza yang terdengar tanpa jeda membuatku terperangah. Aku mengulum seringai senyum di hadapannya. Benar-benar tidak suka dengan apa yang telah dikatakannya.
"Ish ... berengsek juga ya, lo! Jadi kakak gak bener. Jual adik lo sendiri." Aku memaki sahabatku sendiri.
"Dia gak akan marah dan kecewa. Lo harus percaya gue. Dia udah cinta mati sama lo, Bar. Kalian udh jadi sejoli yang enggak akan terpisahkan," tambah Reza lagi.
Kini aku yang terdiam mendengar perkataannya. Reza ada benarnya walaupun itu hanya sebuah hipotesis.
"Kok diem? Maaf ya Bar, sekali lagi mungkin lo gak suka tapi perjanjian itu juga solusi bagi permasalahan perusahaan keluarga kami."
"Baru kali ini lo gak membantu gue sebagai teman, Za," sahutku dengan nada kecewa.
Reza tersenyum kecut mendengar jawabanku. Hatinya mungkin sudah sama-sama dibutakan oleh harta seperti kedua orang tuanya.
__ADS_1