
Reynand POV
Aku memandang sekeliling taman yang dipenuhi dengan berbagai macam tanaman hias dan bunga. Suatu kebetulan bunga-bunga itu sedang bermekaran. Sama dengan hatiku yang ditemani olehnya saat ini.
Meski sudah tidak merasakan sesak, tubuhku masih merasa lemas. Sheryl mendorong kursi rodaku hingga berada di tengah-tengah taman yang luas
Tindakan Sheryl yang berani mengajakku keluar membuat Mama menatap kami dengan sinis. Namun, Tante Meri dan Ayah Anton tampaknya bisa menenangkannya. Mereka tahu kalau aku dan dia tidak mungkin ada harapan lagi. Bahkan aku tahu, Sheryl tidak memiliki maksud apa-apa selain membantu menghindar dari pembicaraan para orang tua mengenai calon istri untukku.
"Segar sekali!" seruku seraya merentangkan kedua tangan dan menggerakkannya untuk sekadar melakukan senam kecil. Tidak lupa, aku menarik dan mengembuskan napas lebih leluasa di sini tanpa para orang tua yang tidak mengerti perasaanku.
"Benar, 'kan? Udara pagi memang terbaik," sahutnya mengulas senyuman tipis.
Aku menoleh kepadanya. Membalas senyuman itu dengan cara yang sama. "Terima kasih ya, Sher."
"Terima kasih terus, sih!" timpalnya dengan bibir mengerucut.
"Menurutmu apa lagi ucapan yang bisa kukatakan kepadamu selain itu? Kamu bahkan sudah menyelamatkan nyawaku."
"Tetap jadi dirimu saja. Aku sangat lega karena hubungan di antara kita adalah hubungan pertemanan. Rasanya tidak perlu ada rasa canggung lagi," ujarnya kemudian duduk di sebuah bangku panjang. "Duduk sini, Rey!" katanya menepuk alas bangku kayu di sampingnya.
Aku menggeleng pelan, menolak permintaannya. Segera beranjak dari kursi roda berjalan menuju ke sebuah tanaman bunga sepatu berwarna merah dan memetiknya.
"Rey, kamu sedang apa? Jangan memetik sembarangan!" seru Sheryl melarangku.
Aku tidak peduli lalu membalik badan beringsut menghampirinya. Masih berdiri memberikan bunga itu kepadanya. Sheryl sontak bangkit berdiri menatap bingung.
"Untukmu."
"Hei! Kamu tidak sedang menggoda, 'kan?" tanyanya tersenyum meledek.
Aku menggeleng pelan. "Untuk teman baruku," jawabku.
Sheryl hanya tersenyum dan meraih bunga itu dari tanganku. "Oke teman baru. Terima kasih hadiahnya. Kapan-kapan aku akan membalasnya," sahutnya kemudian menunduk memperhatikan bunga sepatu di tangannya.
Aku mengangguk. Dari kejauhan tanpa sengaja melihat sosok Baruna yang dipeluk dari belakang oleh seorang wanita. Seketika, mataku membelalak terkejut.
"Ada apa?" tanya Sheryl yang berdiri di depanku. Sepertinya ia memperhatikan air mukaku.
__ADS_1
Aku segera menggelengkan kepala. "Ti-tidak apa-apa," jawabku.
"Kau terlihat kaget. Apa yang kau lihat?"
Sheryl menoleh ke belakang, mencari suatu pemandangan yang membuatku terkejut. Dengan cepat, aku menyentuh pipinya dengan telapak tangan. Memaksa ia untuk tidak melihat pemandangan yang akan menyakitinya. Wajah wanita itu sontak kembali menghadapku.
"Rey, aku tidak suka kau menyentuhku secara tiba-tiba!" protes Sheryl dengan mulut yang kembali mengerucut.
Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi protesnya. Tidak mendapat sahutan, wanita itu membuang bunga sepatunya, kemudian bergegas pergi dari taman.
"Sher! Sheryl!" panggilku dengan langkah cepat berusaha mengekornya, sembari memegangi bantal cairan infus di tangan, tapi ia tetap berjalan cepat dan tidak peduli.
Aku terus memaksa diriku mengimbangi langkah cepatnya. Namun, tiba-tiba dadaku terasa sesak dan pandangan menjadi gelap seketika.
***
Sheryl POv
Aku berjalan meninggalkan Reynand dengan perasaan kesal. Ia terus saja bersikap seenaknya. Baru saja menyentuh pipiku dan tidak meminta maaf. Padahal hubungan pertemanan kami baru saja dimulai.
Sial!
"Sher! Sheryl!" Suara Reynand terdengar memanggil, tapi tidak lantas membuatku berhenti melangkah.
Bruk!
Kedua netraku sontak membelalak, kemudian melirik kanan dan kiri. Orang-orang yang berada di sekitar membulatkan pandangan mereka. Seketika, aku memutar badan. Rey tergeletak di lantai lorong rumah sakit.
"Astaga! Reynand!" jeritku segera menghampirinya.
Aku menepuk bahunya, tapi tak ada respon. Napasnya masih terasa hangat. "Rey!" panggilku sekali lagi.
Beberapa tenaga kesehatan yang kebetulan melihat kami segera menghentikan langkah mereka menolong kami.
"Tolong! Tolong dia!" seruku histeris. Bagaimana tidak? Aku merasa sangat bersalah tidak menghiraukan panggilannya dan malah memaksa ia mengikuti langkahku dengan cepat. Tanpa sadar air mataku tumpah.
Reynand diangkat dan dibaringkan di atas brankar. Perawat yang bersamanya cepat-cepat membawa tubuh tegapnya pergi. Kakiku seketika lemas dan tak mampu menyusul mereka. Hanya bisa menangis seperti anak kecil.
__ADS_1
"Sayang, apa yang terjadi?"
Terdengar suara Baruna di telingaku. Dengan cepat menoleh, mencarinya. Baruna tampak berdiri di belakangku. Tanpa berkata-kata lagi dia memelukku
"Reynand ... dia tiba-tiba pingsan, Sayang. Aku membiarkan dia mengejarku padahal ... padahal dia belum pulih. Untungnya sudah dibawa oleh para perawat yang ada di sekitarku tadi," kataku seraya terisak.
Pelukan Baruna makin erat. Dia mengusap punggungku lembut. "Sudah ... sudah ... tidak apa-apa," ucapnya menenangkan. "Sekarang pasti dia sudah ada di kamarnya."
"Aku takut ...," kataku lagi.
"Tidak apa-apa. Dia pasti sudah sadar," sahut Baruna mencoba menenangkanku lagi.
Aku mengangguk, mengurai pelukannya. Baruna menggenggam erat tanganku. Kami pun berjalan bersama menuju kamar rawat Reynand.
Beberapa saat kemudian, aku dan Baruna masuk ke dalam kamar rawat Reynand. Di sana seorang dokter dan seorang perawat terlihat sedang memeriksa kondisinya.
Tampak Tante Aina yang terus menangisinya walau seorang perawat mencoba menenangkan. Sementara ayah dan bunda terlihat cemas melihat kondisi Reynand.
Kelihatannya kondisi Reynand belum sepenuhnya stabil. Pria itu kembali memakai selang oksigen dalam kondisi belum sadar.
Aku melangkah ragu tatkala tiba-tiba saja ibu kandung Reynand menoleh ke arahku. Segera, ia berjalan menghampiri seraya menunjukku dengan air muka kemarahannya.
"Sheryl! Apa yang terjadi? Mengapa anakku jadi tidak sadar lagi?!"
Teriakan ibu kandung Reynand membuat jantungku bergemuruh. Aku memandangnya dengan tatapan bergetar ketakutan. Baru kali ini dia menunjukkan air muka paling menakutkannya untukku.
"Tante tidak boleh menunjuk-nunjuk istriku seperti itu! Sheryl tidak melakukan apa-apa kepadanya." Baruna membelaku walau ia tahu apa yang terjadi. Air mukanya menjadi dingin menatap Tante Aina.
"Bar, kau masih saja membela istrimu padahal ia terus menggoda Reynand selama ini. Buka matamu!" sahutnya dengan nada tinggi padahal masih ada dokter dan dua orang perawat di sana.
Ayah dan Bunda segera menghampiri dan menengahi kami. "Sudah, Aina! Jangan membuat keributan di sini. Reynand masih belum sadar." Bunda Meri memegangi kedua bahu Tante Aina dari belakang, mencoba menenangkannya.
Air mataku luruh kembali. Aku tidak bisa menganggap pandangan matanya biasa saja seperti sebelumnya. Barunya makin erat melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Bar, bawa istrimu pergi dari sini!" perintah Ayah Anton tiba-tiba.
"Iya, Yah," sahut Baruna kemudian berkata lirih kepadaku, "ayo pergi dari sini, Sayang. Kondisinya sedang tidak baik untukmu dan kandunganmu."
__ADS_1