Marriage Order

Marriage Order
S3 Lagi-Lagi Reynand


__ADS_3

Sheryl Pov


Apa yang sedang kulakukan? Duduk menunggu jam keberangkatan pesawat di bandara bersama Reynand.


Aku melirik sebentar Reynand yang sedang berdiri menelepon Tante Aina. Entah apa yang mereka bicarakan. Reynand hanya bilang ingin menelepon ibunya.


Entah harus senang atau merasa tidak enak. Reynand benar-benar masih sangat peduli kepadaku. Terngiang ucapannya yang tidak ingin aku dipermainkan oleh Baruna.


Ini urusan rumah tanggaku. Mana boleh seperti ini?


Reynand tiba-tiba berbalik, lalu duduk di sampingku. "Haus tidak?"


"Sedikit," jawabku.


"Tunggu sebentar!" katanya tiba-tiba bangkit dan pergi begitu saja.


Tidak lama, ia pun datang kembali membawa sekantung plastik berisi dua botol air mineral. Aku mengambil salah satunya dan langsung meminumnya, tapi Reynand tidak langsung mengambil botol miliknya.


Aku melirik dan dia malah menatapku dari samping sambil tersenyum kecil. Segera kututup botol mineralku dan menaruhnya kembali.


"Kau bilang apa ke ibumu?" tanyaku.


"Aku bilang tak usah pergi, karena aku yang akan pergi."


"Kau bilang kalau pergi denganku?"


"Tidak." Reynand menggeleng. "Bisa-bisa aku dipancung karena mempunyai dua niat. Ingin melihat kondisi Ayah dan mengantar istri orang lain pergi." Pria itu kemudian terkekeh. Hanya sebentar lalu berucap lagi, "Kau sendiri? Baruna tahu kau akan datang?"


Gantian, aku yang menggeleng. "Apa kau pikir dia akan mengizinkanku? Apalagi aku pergi denganmu," sahutku sembari menatap ponsel yang beberapa saat lalu diantar Viona hingga ke bandara.


"Maaf ya, Sher." Tiba-tiba pria itu berkata dengan pandangan serius.


"Untuk?"


"Membuatmu gusar seperti ini. Apalagi kau sedang mengandung."


"Tidak, ini bukan salahmu. Terlepas dari perkataanmu, sejak kemarin aku memang ingin bertemu dengan Baruna, tapi dia tidak mengizinkanku naik pesawat."


"Seharusnya memang seperti itu, 'kan?"


"Kandunganku sudah masuk trimester ke dua dan sejak awal hamil tidak memiliki keluhan. Kehamilanku sehat," sahutku balas menatapnya.


"Iya. Dia harus sehat hingga nanti lahir ke dunia," kata Reynand masih menantapku.


Tanpa sadar, aku sempat melihat sorot mata sedih padanya, meski hanya sebentar. "Ya, dan aku harus lebih kuat darinya."


Tak ada kata lagi yang terucap dari bibir Reynand. Dia hanya tersenyum lalu tiba-tiba mengacak-acak puncak kepalaku dan membuatku tak berkutik karenanya

__ADS_1


"Sudah, yuk! Sudah dipanggil tuh," ujar Reynand lalu berdiri.


"Iya," jawabku singkat.


Hari masih sangat pagi saat kami tiba di sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari rumah sakit tempat ayah mertuaku dirawat. Kami diantar seorang seorang bellboy menuju kamar. Jangan salah paham! Kamar kami tentu saja terpisah.


Bellboy itu pun pergi setelah kami mengucapkan terima kasih. Rasanya sangat lelah sekali. Perjalanan udara yang panjang membuat perutku sedikit keram. Mungkin anakku memberikan tanda kalau ia juga ingin cepat beristirahat.


Sambil mengusap perut, aku berbalik hendak masuk ke dalam kamar, tapi Reynand tiba-tiba memanggil dan membuatku menghentikan langkah. Aku berbalik kembali, memandangnya bingung.


"Sher, apa kau tidak apa-apa?" Air muka itu mencerminkan rasa cemasnya.


"Tidak apa-apa," jawabku masih dengan tangan yang memegangi perut. Berharap tak akan masalah dalam kandunganku.


"Kau pucat," jawabnya lalu menggaruk kepalanya asal, "seharusnya aku tidak membiarkan kau pergi."


"Aku hanya butuh tidur sebentar."


"Ya, sudah. Istirahatlah dulu. Nanti kita pergi bersama ke rumah sakit."


Aku hanya mengangguk lalu beranjak ke dalam kamar. Duduk di tepi tempat tidur yang berhadapan langsung dengan meja rias. Sesuai dengan yang dikatakan Reynand, wajahku pucat. Lebih pucat dari biasanya. Banyak pertanyaan tiba-tiba merasuk ke dalam kepalaku.


Apa benar Baruna mengkhianatiku? Reynand begitu yakin dengan ucapannya. Aku dan Baruna memang saling mengenal sejak kecil, tapi aku tidak tahu bagaimana ia menjadi dewasa. Selepas lulus strata satu, dia pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Aku yakin saat itu ia dan Felicia bertemu dan berteman. Tapi pertemanan seperti apa yang mereka jalani? Semua orang juga tahu bagaimana pergaulan di luar negeri. Dulu aku tidak peduli dan tidak pernah bertanya karena tidak tertarik padanya. Berbeda dengan sekarang, aku ingin tahu. Ya! Aku ingin tahu.


Aku mengambil ponselku dan menelepon Felicia untuk memastikan sesuatu yang membuatku gelisah. Felicia akhirnya mengangkat teleponnya setelah nada sambung itu berbunyi tiga kali.


"Halo, Fel. Ehm, bagaimana kabarmu?" tanyaku berbasa-basi. Kami memang berteman, tapi sudah sekitar satu minggu kami tak berkabar sejak pertemuan terakhir kami di rumah sakit.


"Baik. Kau sendiri?"


"Ya. Sama sepertimu. Rafa bagaimana, Fel?"


"Setelah berkonsultasi, aku memutuskan untuk membawanya berobat ke luar negeri."


"Oh, ya? Ke mana?"


"Jepang," jawabnya singkat.


Deg!


Perasaanku mulai tidak enak. Mengapa kebetulan sekali? Baruna juga sedang berada di Jepang.


"Kapan kau pergi ke sana?"


"Aku sudah berada di Jepang sejak kemarin. Ada apa Sher? Mengapa menanyakan hal ini tiba-tiba?"


Aku menghela napas panjang lalu membuangnya cepat. "Tidak. Aku tiba-tiba kepikiran. Kita sudah lama tidak berkumpul, 'kan? Nay juga sepertinya sedang sibuk. Entah apa yang dilakukannya. Aku rindu untuk berkumpul bersama."

__ADS_1


Suara dengkusan Felicia terdengar. Ia lalu terkekeh sebentar. "Nay punya pacar sekarang, Sher. Makanya dia sibuk."


"Oh, ya?" Bola mataku melebar mendengarnya.


"Ya. Aku tahu karena dia pacaran dengan adiknya David. Ah, aku juga merindukanmu. Tapi aku maklum jika Baruna tidak mengizinkanmu sering-sering keluar rumah. Bagaimana kondisi kehamilanmu?"


"Sehat dan aku tak merasakan apa-apa. Hanya kadang-kadang saja dia memberi sinyal agar aku tidak terlalu stres karena memikirkan sesuatu yang berat."


"Loh, memang kau memikirkan hal berat apa?"


"Ah, tidak. Biasalah masalah sehari-hari." Aku menyanggah, lalu terdiam sebentar sebelum akhirnya melanjutkan perkataanku, "sepertinya dia ingin bertemu dengan Papanya."


"Memangnya Baruna ke mana?"


"Dia ke Jepang, sama sepertimu."


"Oh, ya? Aku tidak tahu. Aku baru tiba di rumah sakit dan memeriksakan kondisi Rafa."


"Oh ... semoga Rafa cepat sehat, ya."


"Ya. Terima kasih, Sher."


Tidak lama setelah mengatakan hal itu, aku pun mengakhiri panggilanku. Tidak ada yang aneh dari Felicia. Dia masih baik dan perhatian. Apa benar dia adalah tipe wanita yang suka merebut suami orang lain?


Aku kembali mengarahkan pandangan pada ponsel. Ingin rasanya menelepon Baruna dan bertanya bagaimana keadaan Ayah. Tapi tidak tahu mengapa, aku enggan memulainya dan malah meletakkan ponselku di atas tempat tidur begitu saja.


Kling!


Bunyi pesan chat masuk. Aku meraih ponselku dan membaca chat itu.


[Selamat pagi, Sayang. Sudah bangun, belum?]


Aku hanya membaca, tanpa membukanya. Rasa kantuk mengalahkan kesadaranku. Aku pun merebahkan diri di atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata. Namun calon anakku terus bergejolak di dalam sana hingga membuatku tak dapat tertidur.


Aku mengembuskan napas kasar. Segera membuka mata dan menegakkan tubuh, duduk bersandar pada dipan tempat tidur. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Reynand menelepon.


"Ya, Rey?"


"Kau lapar, tidak?"


Aku mengusap perutku. Lagi-lagi dia bergejolak. Mungkin lapar, pikirku.


"Iya. Sedikit lapar."


"Makan, yuk!"


Ajakan Reynand tidak kusia-siakan. Aku langsung mengiyakannya. Untung saja ada dia di sini. Aku tidak bisa membayangkan jika aku datang sendirian saja. Pasti sangat kesepian.

__ADS_1


__ADS_2