Marriage Order

Marriage Order
Perasaan Terpendam?


__ADS_3

Aku melirik jam dinding di ruang tamu yang menunjukkan pukul setengah dua belas. Aku mengerlingkan pandanganku ke arah Pak Reynand yang masih duduk di sofa ruang tamu. Pandangan matanya masih fokus pada layar laptop di depannya. Aku baru saja selesai makan dan meminum obat setelah sebelumnya perut ini meronta-ronta minta diisi. Akhirnya terjadilah makan pagi yang kesiangan.


Pak Reynand mendongakkan kepalanya menatapku dingin. Kemudian melanjutkan pandangan lagi ke depan laptopnya.


"Kenapa masih berdiri di situ? Pekerjaanmu belum selesai."


Aku beranjak duduk di samping Pak Reynand. Mata kami bersama menatap ke arah laptop. Dia menoleh ke arahku sejenak lalu menggeser duduknya menjauh dariku.


"Ada apa? Saya tidak akan menulari Bapak penyakit."


"Ah tidak apa-apa. Kamu bisa meneruskan file itu secepatnya. Jam dua saya ada meeting lagi dengan kepala bagian produksi," kata Pak Reynand sambil melirik arlojinya.


Aku hanya terdiam sambil menarik napas dalam-dalam mendengar kata-katanya. Jari jemariku mulai lincah menari di atas laptop. Sesekali aku meliriknya yang sedang memainkan smartphone teranyar yang dimilikinya. Kadang dia serius dan tertawa sendiri menatap benda kecil itu. Tidak sadar mata kami tiba-tiba bertemu saling menatap. Aku bergegas memalingkan wajahku.


"Ada yang aneh pada wajah saya?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku tersenyum menyeringai lalu kembali sibuk dengan layar laptop.


Beberapa lama kemudian, dia menyesap kopi di hadapannya perlahan sambil melirik tajam ke arahku.


"Apa rencanamu setelah tidak bekerja di perusahaan saya?"


Pak Reynand menanyakan hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku saja belum kepikiran untuk melakukan apa. Intinya aku hanya ingin berhenti.


Aku menoleh ke arahnya lalu berkata, "Saya belum ada rencana."


"Sayang sekali jika memiliki kemampuan tapi tidak bisa dimanfaatkan," sahutnya.


"Nantilah saya pikirkan. Setelah bertunangan mungkin saya akan fokus pada pernikahan. Yah walaupun sebenarnya persiapannya sudah selesai dan tinggal menunggu harinya."


"Saya dengar kalian dijodohkan?"


"Bapak tahu dari mana?"


"Tentu saja media. Akhir-akhir ini kalian kan artisnya. Apa itu benar?" tanyanya lagi.


"Iya Pak."


"Kamu tahu, ibu saya juga dijodohkan dan itu tidak berhasil."

__ADS_1


"Iya saya sudah dengar dari Baruna."


"Apa kamu tidak takut hal itu terjadi?"


"Kami saling mencintai. Tentu saja pernikahan kami akan berhasil. Bapak kok aneh, tiba-tiba membicarakan masalah pribadi?" tanyaku heran.


"Tidak apa-apa. Hanya saja saya tidak tertarik dengan sistem perjodohan. Kita seharusnya bisa memilih seseorang yang benar-benar klik untuk menjadi pasangan kita sampai tua nanti. Hal itu tidak bisa main-main loh Sher."


Aku terdiam tidak menanggapi kata-katanya.


"Hei maaf kalau kamu jadi kepikiran. Saya tidak bermaksud membuatmu ragu."


"By the way Bapak sendiri kenapa belum menikah? Bapak kan sudah punya pacar. Tidak baik menggantung nasib seorang perempuan."


Aku menanyakan hal yang menohok langsung di hadapannya yang membuat dia diam mematung lalu tersenyum menyeringai.


"Kamu peduli kapan saya menikah?"


"Ti - tidak. Sebagai sesama perempuan saya hanya kasihan sama Mbak Kayla yang digantungkan hubungannya sama Bapak."


Pak Reynand memicingkan matanya, mendekatkan wajahnya sehingga begitu dekat dengan wajahku.


Aku menarik tubuhku menjauh dari wajahnya. Aku takut kejadian seminggu yang lalu terjadi kembali.


"Maaf Pak, sepertinya proposalnya sudah selesai. Silakan Bapak cek," ujarku mengalihkan pembicaraan sambil menyodorkan laptop ke pangkuannya.


Pak Reynand menatap langsung ke arah laptop memeriksa hasil kerjaku. Matanya begitu fokus memeriksa kata demi kata yang tertera di dalam file.


"Oke karena ini sudah selesai, saya pamit pulang Sher." Pak Reynand mematikan laptopnya memasukkannya ke dalam tas.


Dia berdiri dengan tas gendong belakang dan menggantungkan jas di lengannya yang kekar. Aku pun mengantarnya sampai teras rumah. Mama yang tidak sengaja melihat kami keluar datang menghampiri kami.


"Sheryl, bos kamu tidak diajak makan siang dulu. Sudah waktunya makan siang loh," ucap Mama seraya tersenyum.


Aku menoleh ke arah Pak Reynand, "Gimana Pak?"


Dia yang sudah bersiap-siap untuk pulang terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya setuju, "Boleh."


"Hei, tadi bukannya bilang mau meeting ya? Tapi diajak makan siang oleh Mama dia menurut."

__ADS_1


Aku dan Pak Reynand melangkah menuju ruang makan mengikuti Mama yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Pak Reynand duduk di kursi dekat dengan Mama yang juga baru akan makan siang. Aku hanya mengamati mereka sambil memainkan ponsel dalam genggamanku.


"Oh iya namamu siapa?" tanya Mama sambil menyiapkan piring untuk Pak Reynand.


"Reynand, Tante."


"Oh Reynand yang disebut-sebut anak pertama dari Anton ya?"


"Mama ...," kataku pelan, mataku membulat dan kutempelkan jari telunjukku menempel di bibir.


Mama melirik ke arahku, menutup mulutnya dengan telapak tangannya menyadari kalau dia salah bicara. Dia lalu meletakkan piring yang berisi nasi beserta lauk pauk itu di hadapan Pak Reynand.


"Tidak apa Tante. Apa yang Tante bicarakan itu memang benar." Pak Reynand mulai memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya.


"Maaf kalau Tante lancang. Silakan dinikmati makanannya," ujar Mama seraya tersenyum simpul kemudian menyiapkan makanannya untuk diri sendiri.


Pak Reynand hanya menganggukkan kepalanya sambil menikmati makanan di hadapannya. Aku memandangnya sejenak dengan sedikit kekaguman akan ketenangannya menghadapi kata-kata Mama yang mungkin akan menyinggungnya tadi.


Belum sempat aku mengalihkan pandanganku, tiba-tiba dia menatapku. Mata kami saling bertemu, aku menunduk dan kembali menatap ponsel di genggaman.


"Mengapa dia berbeda sekali hari ini? Kemana urat-urat kekesalan yang biasa ditunjukkannya kepadaku?"


Waktu menunjukkan pukul setengah dua. Pak Reynand beranjak dari tempat duduknya menggendong tasnya kembali serta memakai jasnya dengan begitu gagah. Aku dan Mama mengantarnya sampai ke teras depan. Dia pamit pulang kepada kami. Tangan kanannya mencium punggung tangan Mama tanda menghormati yang lebih tua.


"Sher saya meminta maaf atas kesalahan-kesalahan saya selama ini yang banyak membuatmu kesal dan kecewa kepada saya. Saya harap di pertemuan selanjutnya kita bisa menjalin hubungan yang lebih baik. Kamu tidak perlu memanggil saya dengan sebutan bapak lagi." Pak Reynand mengulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan.


"Iya Pak. Semoga semua permasalahan yang terjadi antara bapak dan keluarga Baruna bisa cepat selesai. Kalian tidak perlu berselisih lagi dan semua bisa dibicarakan dengan baik-baik," sahutku.


Pak Reynand hanya terdiam tidak membalas kata-kataku. Aku menyambut tangan kekar itu, bersalaman. Dia menatapku dengan senyuman kecil yang tersungging di bibirnya, begitu manis membuatku sedikit terharu sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dan melesat kembali ke kantor.


Mama yang melihat kami berdua berbicara hanya tersenyum menatap. Dia menganggukkan kepalanya mengisyaratkan jika yang aku katakan tadi kepada pria itu sudah benar. Aku melangkah menghampiri Mama.


"Ma, aku lelah. Aku mau istirahat lagi," kataku.


Mama merangkulku dan berkata, "Mama bangga padamu yang sudah semakin dewasa menyikapi sesuatu. Tapi sepertinya dia mempunyai perasaan terhadapmu Nak."


Aku tersentak kaget mendengar kata-kata Mama, menoleh ke arahnya, "Benarkah?"

__ADS_1


"Seorang ibu tidak akan pernah salah menilai Nak," sahutnya.


__ADS_2