
Reynand PoV
Pagi hari pukul 08.00 ....
Hari ini adalah hari Minggu. Aku membuka pintu kamar menuju balkon, berdiri sambil berjemur dan termenung melihat pemandangan kota pagi hari.
Matahari bersinar hangat, terlihat tampak menyilaukan dari kejauhan. Pemandangan jalan raya yang ramai dipenuhi oleh penduduk ber-car free day hari libur membuatku tersenyum semangat memulai hari, walaupun aku baru saja menelepon Sheryl dan selalu mendapatkan penolakan darinya.
Entah apa yang membuatnya gusar setiap aku meneleponnya? Aku tahu kalau kami mempunyai perasaan yang sama. Kami adalah dua insan yang saling mencintai. Seharusnya kami bisa bersatu dan dia tidak perlu memaksakan diri terus bersama dengan Baruna. Apa dia sedang merasa kasihan pada saudaraku itu, karena sudah tiga hari ini belum bangun dari komanya?
Seharusnya hari ini mereka menikah, tapi Tuhan berkehendak lain. Apa itu artinya aku yang ditakdirkan bersama Sheryl?
Aku terus tersenyum seperti orang tidak waras__terlalu bahagia mencintainya. Apalagi kalau tiba-tiba dia hamil anakku. Dengan senang hati, aku akan cepat-cepat menikahinya.
Aku akan mengeluarkan seluruh hartaku untuk meminangnya, bahkan bila perlu meminjam harta Mama untuk membayarkan hutang keluarganya pada Asyraf Corporation. Aku yakin kalau dia mengandung anakku, Mama tidak akan tega menolak Sheryl menjadi seorang menantu keluarga Pradipta.
Drrt-drrt-drrt!
Ponsel dalam genggamanku bergetar. Sebuah panggilan telepon dari Mama. Aku segera mengangkatnya.
"Rey, kamu tidak mau ke rumah menengok Mama?"
"Ada apa, Ma?"
"Masih marah karena Mama tidak mendukung hubunganmu dengan Sheryl?"
"Menurut Mama?"
"Rey, sampai kapan kamu seperti ini?"
"Sampai Mama mau mendukungku."
"Lalu kamu akan mengambil kesempatan saat saudara tirimu sedang koma?"
"Aku tidak tahu."
"Rey, sadar!"
"Aku dan dia saling mencintai ...." ucapku pelan.
"Astaga!"
Tiba-tiba panggilan Mama berakhir. Dia mematikan teleponnya. Pasti ibuku itu sangat terkejut. Harusnya aku tidak memberitahukan perihal kami yang saling mencintai lewat telepon. Aku kembali meneleponnya, tapi dia tidak juga mengangkat.
Aku membalikkan badanku melangkah masuk ke dalam kamar. Menaruh kembali ponsel yang sedari tadi ada dalam genggaman di atas nakas. Kemudian bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mama.
Sejurus kemudian, aku sudah siap mengenakan kaus oblong putih dipadukan dengan jaket denim berwarna hitam sebagai luaran dan celana hitam chinos sebagai bawahannya, juga sepatu kets putih yang membalut kakiku. Segera, mengambil kunci mobil di atas meja dan pergi keluar unit apartemen.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah Mama memakan waktu dua puluh menit. Hari yang masih pagi belum membuat jalanan ibu kota macet seperti biasanya.
Indira membukakan pintu depan. Dia terperangah melihatku berdiri di hadapannya. Aku memasang senyum kecil pada adik tiriku itu.
"Apa kabar, ibu hamil?" sapaku.
"Kak Rey .... Tumben ke rumah."
"Aku ingin bertemu Mama."
"Mama sedang bercocok tanam di kebun belakang bersama Daniel," jawab Indira balas tersenyum.
"Baiklah, aku akan ke sana."
Aku bergegas berjalan menuju kebun belakang dan mendapati pasangan mertua dan menantu itu sedang berjongkok, bekerja sama menanam beberapa pohon hias dan pohon buah-buahan. Mereka terlihat sibuk dan tidak menyadari kedatanganku.
"Ma, butuh bantuan?"
Mama dan Daniel sontak menoleh ke arahku. Mama bangkit berdiri, segera mencuci tangan di bawah keran air yang mengalir. Wanita yang paling kuhormati itu telah menghentikan aktivitasnya dan melangkah menghampiri. Wajahnya yang angkuh membuatku menaikkan sebelah alis sambil tersenyum.
"Anak nakal ini, sudah pulang rupanya," ujarnya kesal. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi berbahan bambu.
"Halo, Mama. Aku hanya singgah sebentar dan belum berminat untuk kembali tinggal di sini," sahutku, ikut duduk di sampingnya.
Aku menoleh ke arah wajahnya. Mata Mama menatap lurus ke dapan. Entah apa yang dia pikirkan. Kemudian dia menoleh ke arahku.
"Sebaiknya kamu segera bertunangan dengan Kayla. Baru saja Mamanya menghubungi Mama dan bersikeras ingin melanjutkan rencana pertunangan kalian."
"Masa, sih? Kamu jangan membual. Buktinya, orang tuanya masih ingin berbesan dengan Mama."
Aku menghela napas mendengar penjelasan Mama. Aku benar-benar tidak berminat dengan Kayla.
"Ma, apa Sheryl tidak cukup baik untuk dijadikan menantu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Mendengar perkataanku, Mama sontak menoleh masih dengan raut wajah angkuhnya.
"Astaga!" katanya menjerit.
"Andaikan dia memang jodoh yang ditakdirkan untukku, bagaimana?" tanyaku serius.
"Rey, jodoh adalah pilihan. Jangan pernah berharap sesuatu yang bukan milikmu. Jodohmu itu Kayla. Titik!" tegas Mana kesal.
"Tapi dia kasihan, Ma. Bagaimana jika Baruna meninggalkan dia selamanya?"
"Kamu berharap saudara tirimu itu meninggal? Jahat sekali kamu, Rey!"
"Aku hanya ragu. Kecelakaan itu sangat parah. Sampai sekarang dia masih koma di ruang ICU. Aku sangat kasihan melihat Sheryl terus menangis."
__ADS_1
Mama terdiam kemudian menggelengkan kepalanya, berkata, "Besok lebih baik kita bertemu dengan dokter spesialis kejiwaan. Mama tidak sanggup melihatmu yang semakin lama semakin parah berhalusinasi hal negatif."
Aku tertawa, menganggap perkataan Mama secara tidak serius. Mentalku seratus persen sehat. Aku hanya dimabuk kepayang atas asmara yang kurasakan. Entah mengapa tiba-tiba saja hati ini dipenuhi harapan akan Sheryl yang akan memilihku?
"Rey, apakah itu hal yang sangat lucu untukmu?" tanyanya yang melihatku tiba-tiba serius.
"Mama mengira kalau aku sudah gila. Tentu saja itu hal yang lucu," sahutku tersenyum simpul.
"Jangan membuat Mama takut. Kamu sudah memperlihatkan kegilaan, Rey. Paling tidak kamu harus menikah dulu dan memberikan Mamamu ini cucu. Setelah itu, terserah kamu mau bagaimana. Mama lelah melihat tingkahmu yang seperti ini. Sangat menyesal pula sudah menyuruhmu kembali ke negara ini. Tidak ada gunanya sama sekali."
"Ish .... Mama kenapa jahat sekali terhadapku. Ma, aku ingin menikah, tapi dengan orang yang kucintai. Aku tidak ingin memiliki nasib pernikahan yang sama seperti yang Mama dan Ayah Anton rasakan. Cukup kalian menjadi contoh untukku agar tidak berbuat hal yang sama di masa depan."
Mama terdiam mendengar penjelasanku. Raut wajahnya menjadi sedih seketika. Dia lalu bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkanku.
Indira yang baru saja datang membawa minuman dan camilan sontak menoleh bingung ke arah Mama yang berjalan pergi menjauh dari kami.
"Mama kenapa, Kak?" tanyanya.
"Dir, Reynand membuat Mama marah dan sedih dalam waktu yang bersamaan," sela Daniel yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami.
"Kakak, jangan membuat Mama banyak pikiran. Akhir-akhir ini asmanya sering kambuh dan tekanan darahnya selalu tinggi karena memikirkan masa depanmu," tambah Indira.
Aku tidak menanggapi perkataan Indira. Dengan langkah cepat, segera berjalan menyusul Mama yang sudah masuk ke dalam kamar, menyendiri.
Aku melihatnya duduk bersandar pada bantal yang menyandar dipan tempat tidur. Mulutnya mengerucut, tanda merajuk.
"Ma ...," panggilku.
Sosok ibuku itu memalingkan wajahnya. Dia melihat ke arah lain. Tidak ingin melihat wajahku.
Aku yang tidak enak hati lalu berkata, "Mama jangan marah! Aku ingin mendapat dukunganmu. Sebagai anak, aku hanya ingin meminta restu."
"Terserah kamu saja!" dengkus Mama kesal.
"Ma, aku dan Sheryl sudah tidur bersama," ucapku pelan.
Mendengar perkataanku, Mama sontak melihatku. Matanya terbelalak menatap tidak percaya dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulutku. Dia lalu tertawa.
"Rey, kamu tidak perlu berbohong untuk mendapatkan restu dari Mama."
"Aku serius. Aku telah merenggut kehormatannya."
Mama lalu terdiam sejenak. Dadanya terlihat naik turun memperlihatkan tarikan dan embusan napas yang tidak teratur dan berbunyi. Dia lalu memegang dada sebelah kirinya. Meringis dan tampak kesakitan.
"Ma! Mama! Mama kenapa?!" tanyaku panik.
Mama tidak menjawab. Dia masih memegang dada sambil menunjuk ke laci nakas di sebelahnya.
__ADS_1
Aku membuka laci itu dan mencari inhaler Mama. Segera, aku memberikan alat itu. Dia mulai menghirupnya melalui mulut.
Tidak lama, napas Mama mulai teratur. Dia memejamkan mata. Terlihat air mata mengalir dari kedua sudut matanya yang menua. Melihat hal itu, aku merasa sedikit bersalah. Karena perkataan jujurku, asmanya tiba-tiba saja kambuh.