
Tidak terasa waktu menuju hari pernikahan sudah semakin dekat. Hari ini saja aku sudah bertemu dengan hari Minggu lagi. Waktu yang akan berjalan dua minggu berikutnya membuat debaran jantungku semakin cepat.
Aku sedang bercermin di depan meja rias. Memandang pantulan bayanganku yang semakin jelas terlihat. Beberapa titik jerawat kecil bermunculan karena stres, jelek sekali.
Tante Meri tadi menghubungiku. Dia mengundangku datang ke rumahnya untuk makan siang.
Mataku mengerling ke atas meja, aku tergoda oleh dua buah perhiasan yang menunggu dikenakan saat ini, sebuah gelang mutiara dan sepasang anting-anting berlian hadiah dari dua orang laki-laki yang masih memiliki ikatan darah.
Bisa-bisanya Pak Reynand menyukaiku sampai nekat seperti ini. Tapi Sheryl ... Kak Baruna juga memberikan anting-anting itu dengan penuh rasa cinta. Sekarang kamu pasti sedang tidak waras. Ini masih pagi dan kamu malah membandingkan pemberian tunanganmu dengan lelaki lain.
Segera, pilihanku jatuh memakai sepasang anting yang diberikan Kak Baruna kemarin. Gelang mutiara itu segera kumasukkan lagi ke dalam kotak. Aku tidak mau melihatnya.
Drrt-drrt-drrt!
Ponselku berbunyi, Kak Baruna meneleponku.
"Aku sudah sampai. Cepatlah turun, sayang."
"Oke, sayang," jawabku bergegas keluar kamar.
Aku berdiri di ruang tamu, berhadapan dengannya. Kak Baruna bangkit dari tempat duduk menatapku dengan senyum hangat. Dia memelukku dan kami berciuman mesra.
"Kamu cantik sekali hari ini, sayang," pujinya.
"Tetap cantik walau sedang berjerawat seperti ini?" tanyaku dengan raut wajah masam.
"Tentu saja. Jerawat muncul hanya sebuah pertanda jika di dalam tubuhmu ada sesuatu yang tidak seimbang. Entah pikiranmu atau mungkin hormonmu."
"Gaya bicaramu seperti seorang tenaga kesehatan saja, sayang."
Kak Baruna hanya tertawa kecil mendengar perkataanku.
Aku ikut tertawa lalu ikut memuji, "Kamu juga selalu tampan bagiku."
Setelahnya, kening kami saling beradu menatap dalam dan menyunggingkan sebuah senyum kecil. Tiba-tiba Mama dan Papa datang menghampiri kami. Kami pun saling menarik tubuh kami bersamaan.
"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Papa.
"Iya, Om."
"Bar, hati-hati di jalan. Salam kepada kedua orang tuamu ya. Mungkin nanti sore kami akan datang menjenguk Kakekmu," ucap Tante Rini.
"Iya, Tante. Kami berangkat sekarang," pamit Kak Baruna lagi. Aku dan Kak Baruna lalu bersalaman kepada orang tuaku.
Kami pun berjalan keluar menuju mobil Kak Baruna yang terparkir di halaman rumah. Tidak lama kemudian mobil berjalan perlahan meninggalkan kediamanku.
"Kamu cocok sekali memakai anting-anting dariku," katanya membuka pembicaraan.
"Tentu saja pilihanmu tidak pernah salah. Aku suka anting ini," jawabku. "By the way, kakek bagaimana? sudah siuman?"
__ADS_1
"Belum. Tadi pagi kutinggal dan belum ada perkembangan berarti. Ayah yang sekarang menungguinya."
"Aku turut sedih, sayang."
"Sudahlah, mungkin memang sudah jalannya."
Aku mengangguk. Kak Baruna masih fokus pada pemandangan jalan di depannya. Aku mulai memainkan ponsel untuk menghilangkan rasa bosan.
Setengah jam kemudian, kami tiba di halaman rumah Kak Baruna. Aku melihat sebuah mobil yang kukenal sudah terparkir di sana. Mobil milik Pak Reynand. Aku menghela napas, dua hari liburku pun harus bertemu dengannya.
Tante Meri menyambut kami berdua seperti biasa dengan senyum dan pelukan hangatnya.
"Akhirnya sampai juga. Ayo bantu Tante di dapur." Dia menarik tanganku.
Deg!
Yang benar saja Tante, aku tidak bisa memasak! Apa Tante Meri sedang mengujiku sebelum aku sah mengurusi kebutuhan anaknya?
Aku menengok ke belakang, wajahku pucat pasi. Kak Baruna tertawa renyah melihat raut wajahku.
Huh ... kenapa Kak Baruna hanya diam saja? Baru kali ini aku melihatnya tidak berguna sama sekali. Aku sangat malu jika aku ketahuan tidak bisa apa-apa.
Aku melewati ruang tengah di mana mataku menangkap sosok Pak Reynand sedang memainkan ponselnya. Kak Baruna yang berjalan di belakangku berbelok arah menghampiri lelaki itu. Kini hanya tinggal aku dan Tante Meri yang berjalan menuju dapur.
Tuhan tolong aku!
****
Aku menghampiri Reynand yang sedang duduk di atas sofa ruang tengah. Perhatiannya fokus pada layar smartphone dalam genggaman tangan. Dia tidak sadar aku telah duduk di dekatnya, melihatnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Apa yang membawanya datang ke rumahku pagi hari ini?
"Udah lama, Rey?" tanyaku.
Dia tersentak kaget melihat ke arahku. Pandangannya yang dingin seperti biasa membuatku tidak pernah menyangka lelaki ini bisa juga jatuh cinta.
"Iya, lumayan."
"Tumben ke rumah. Tante Aina tahu lo ke sini?" tanyaku.
"Enggak!" jawabnya lalu kembali menatap ponselnya.
Astaga dia hampir membuatku naik darah. Pertanyaan yang panjangnya sepanjang kereta api, hanya dijawab dengan satu kata.
"Oke gue tinggal dulu," sahutku seraya bangkit dari sofa, melangkah keluar ruangan.
Belum sempat aku melangkah keluar ruangan, dia memanggilku, "Bar!"
Aku menoleh, mengernyitkan dahiku heran. Pandangan matanya berubah serius.
"Gue akan bersaing secara sehat," ucapnya.
__ADS_1
"Belum menyerah juga?" tanyaku dengan nada suara sedikit meremehkan.
"Kita lihat saja nanti," sahutnya santai.
Aku mengedikkan bahuku lalu berjalan meninggalkannya. Reynand hanya tersenyum kecut menatap reaksiku yang terlihat meremehkannya.
Aku masuk ke dalam dapur. Melihat tiga orang wanita sedang sibuk bahu membahu membuat beberapa menu masakan. Mereka adalah Bunda, Bi Rindang, dan Sheryl. Bundaku itu ada-ada saja membuat acara makan siang seperti ini. Koki dan lainnya 'kan ada. Kenapa harus berjibaku sendiri di dapur?
Pandanganku lalu teralihkan pada Sheryl yang sedang menggoreng ikan sambil memegang sebuah tutup panci besar sebagai tameng agar tidak terciprat minyak panas yang meletup-letup di hadapannya. Sesekali ia berteriak ketakutan. Aku tertawa melihat tingkahnya.
Kamu membuatku semakin mencintaimu. Bagaimana pun dirimu sekarang. Bisa memasak atau pun tidak. Bagiku tidaklah penting. Kamu tetaplah kamu. Kamu yang kucintai, Sheryl.
****
Reynand PoV
Pukul dua belas siang ....
Mataku mulai lelah melihat layar smartphone di hadapanku. Smartphone itu segera kumasukkan ke dalam tas kecil. Cukup lama berada di ruang tengah menunggu. Aku pun melangkah keluar ruangan.
Belum sempat aku melangkah keluar, Tante Meri menghampiriku. Dia mengajakku ke ruang makan menikmati makan siang. Kebetulan, aku memang khusus diundang olehnya untuk acara makan siang bersama. Anehnya, aku tidak menolak undangan itu.
"Rey, ayo makan. Masakannya sudah matang," katanya ramah.
"Iya, Tante," jawabku.
Aku mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruang makan, aku terkesiap melihat sepasang kekasih itu sudah duduk menunggu. Seharusnya aku tahu, Tante Meri tidak mungkin hanya mengundangku seorang. Ya, Sheryl .... Kami jadi selalu bertemu.
Aku melangkah canggung menuju salah satu kursi ruang makan. Enam pasang mata itu mengikuti langkahku yang segera mendudukkan tubuh. Wajah dingin kutampakkan. Suasana menjadi hening.
"Kita hanya berempat?" tanyaku seraya menoleh ke arah Tante Meri.
"Iya, ayahmu masih menunggu kakekmu di rumah sakit."
"Oh ...."
"Nanti temani Tante ke rumah sakit, ya. Tante mau membawakan makanan untuknya."
Aku mebelalakkan mataku menoleh ke arahnya. Tante Meri terdengar sangat lembut dan ramah padaku. Dia tidak sungkan meminta tolong padaku, anak rivalnya.
"Mengapa melihat Tante seperti itu?" tanya Tante Meri bingung.
"Bun, Reynand baru tahu kalau bunda bisa seperti itu di hadapannya," celetuk Baruna yang sontak membuat wajahku merona malu.
"Kamu tidak perlu sungkan karena kita adalah satu keluarga besar," tambahnya kemudian, seraya tersenyum hangat melelehkan hatiku yang beku.
"Ehm ... maksudku ya, aku baru tahu keluarga ini begitu hangat," sahutku tersenyum canggung.
Mereka semua saling berpandangan lalu tertawa mendengar kata-kataku yang lagi-lagi aneh di hadapan mereka. Aku melirik Sheryl yang ikut tertawa. Dia manis sekali.
__ADS_1