Marriage Order

Marriage Order
S3 Sekretaris Ibu Aina


__ADS_3

Sheryl Pov


Waktu menunjukkan pukul dua siang saat Reynand datang. Aku tak banyak berbicara saat ia menggandengku masuk ke dalam mobilnya. Reynand menghidupkan mesin mobilnya, lalu terdiam sejenak melemparkan pandangan mata ke arah restoran Daniel sebelum akhirnya ia tiba-tiba menoleh padaku.


"Maaf, aku yang tak bisa datang tepat waktu."


Aku sontak menoleh. "Kau tahu yang Mamamu katakan?"


Reynand mengangguk. "Dira menceritakannya. Aku tahu perkataan Mama begitu menyakitkan, tapi aku harap kau bisa memaafkannya."


Aku menghela napas panjang. "Baruna membelaku di depan ibumu. Apa Dira juga menceritakannya?"


Reynand mengangguk. "Untungnya dia ada di sana. Aku harus segera berterima kasih kepada Baruna. Sayang sekali dia sudah pergi saat aku datang."


"Aku takut ibumu berpikiran macam-macam karena Baruna membelaku."


"Kau tidak usah merisaukan hal itu. Aku percaya kalian tidak melakukan sesuatu yang buruk di belakangku."


"Itu kau, bukan ibumu. Ibumu akan makin merendahkanku dan tak menyetujui hubungan kita, Ma ...." Seketika napasku seolah tersangkut ketika hendak memanggil Reynand dengan sebutan "Mas".


Reynand tiba-tiba mengekeh. Mataku mendelik menatapnya. "Mengapa kau tertawa?"


Reynand menggeleng pelan. "Tak usah dipaksa."


"Hah?"


"Panggilan itu .... Setelah kupikir-pikir tak cocok sama sekali."


"Kau aneh sekali." Keningku mengernyit.


"Entahlah. Aku sepertinya tak ingin kau memanggilku dengan cara yang sama seperti kau memanggil Baruna."


"Jadi?"


"Ya-ya ... biar seperti ini saja," jawabnya dengan wajahnya yang mendadak merona.


Aku balas mengekeh. Reynand menyunggingkan senyumnya. "Tertawalah sepuasmu, Sayang. Itu akan membuatmu sedikit lega setelah apa yang terjadi hari ini."


Perlahan tawaku mereda. Menatap wajah Reynand yang mendekat. "Terima kasih atas semua dukunganmu."


"Terima kasih sudah menerimaku," timpal Reynand lalu memberikan satu kecupan hangat di bibir. Merasakannya membuatku terpaku sesaat sebelum akhirnya membalas kecupan itu menjadi ciuman yang hangat.


.

__ADS_1


.


.


Mobil Reynand mengantarku hingga tiba di halaman rumah. Aku segera membuka sabuk pengaman. "Kau mau mampir dulu tidak?"


Belum sempat menjawab, ponsel Reynand tiba-tiba berbunyi. Dia meraih ponselnya, menjawab panggilan masuk. Bukan hanya satu panggilan yang ia jawab, ada panggilan lain setelah itu yang menunggunya. Reynand tampak sangat sibuk. Ia menoleh kepadaku.


"Maaf, aku harus menjawabnya dulu," katanya.


Aku mengangguk dan hanya bisa memperhatikan ia yang berbicara entah dengan siapa melalui panggilan seluler. Sejurus kemudian, pria itu memasukkan ponselnya kembali ke balik jas.


"Sampai mana tadi?" tanya Reynand yang kali ini memfokuskan pandangannya ke arahku.


Aku menarik segaris senyuman samar, lalu menggeleng. "Sepertinya kau sangat sibuk hari ini. Maaf mengganggu pekerjaanmu, Rey."


"Tak apa, Sher. Aku yang semestinya minta maaf. Karena sekretaris Mama tak ada jadi ada beberapa tugas yang harus kukerjakan untuk menggantikannya."


"Memangnya ke mana sekretaris ibumu?"


"Dia mengundurkan diri sejak tiga hari yang lalu."


Bola mataku melebar. "Kau sendiri sudah cukup sibuk, bukan? Memangnya tak ada orang lain yang bisa menggantikannya?"


Pengganti?


Aku bertanya dalam hati. Satu kata yang membuatku terhenyak beberapa saat. Sebuah ide mendadak melintas di kepalaku.


"Rey, aku bisa 'kan menjadi sekretarisnya?"


Reynand sontak membeliak. Dengan herannya bertanya, "Kau serius?"


Aku mengangguk. "Siapa tahu dengan cara ini aku bisa dekat dengan ibumu. Jadi, bukan tidak mungkin dia akan merestui hubungan kita."


"Tidak! Tidak!" Reynand langsung menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan mengizinkan kau untuk melakukannya. Mama akan makin mudah melontarkan kalimat pedasnya untukmu. Dia akan menyakitimu."


"Kita tidak akan pernah tahu, Rey. Aku rasa, ia akan menjadi profesional jika menyangkut pekerjaan," kataku.


"Aku tak bisa menjaminnya. Hari ini saja kau menangis karena kata-kata Mama." Reynand menyanggah kalimatku.


"Ya, itu benar, sih... tapi bukankah aku harus tetap berusaha mengambil hatinya?"


Reynand tercenung beberapa saat. Tak lama, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah. Sepertinya aku tak akan bisa menghalanginya. Kau memiliki strategi sendiri untuk menjadi lebih kuat setelah dimarahi Mama."

__ADS_1


Aku tidak tahu keputusan yang kuambil benar atau salah. Namun, saat mendengar ucapan Reynand senyumku sontak mengembang.


"Terima kasih, Rey. Aku akan berusaha lebih baik!" Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, pertanda jika tekadku kali ini sangat bulat. Reynand hanya memperlihatkan senyuman samar.


"Aku senang jika kau semangat memperjuangkan hubungan kita. Namun sebelumnya, kau harus berjanji satu hal kepadaku," katanya.


"Janji apa, Rey?" Keningku mengerut.


"Kau harus berhenti jika sekali saja aku melihat Mama menyakitimu."


"Hah?! Yang benar saja?" Mataku membelalak.


"Terima atau tidak, huh?!" Reynand bertanya dengan nada sedikit menantang.


"Ya-ya! Aku akan berhenti saat itu juga jika ibumu seperti itu lagi."


"Sungguh! Aku tak mau kau bersedih lagi karena Mama. Sepertinya aku memiliki rencana lain jika orang tua kita tak juga merestui hubungan ini."


"Maksudmu?" Aku seketika terkejut mendengar kata "rencana lain". Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Sayangnya, Reynand tak langsung menjawab. Ia hanya menyunggingkan seringai penuh arti, "kau jangan berpikiran aneh-aneh, ya! Berpura-pura hamil saja sudah jadi rencana yang sangat buruk!"


"Kawin lari? Bagaimana menurutmu?" Reynand menyengih.


"Itu ide paling buruk! Mendapat restu atau tak ada pernikahan sama sekali!" Aku menyahut tegas.


Reynand mengekeh, lalu mengusap bahuku. "Aku hanya bergurau, Sayang. Aku juga tak mungkin melakukan hal itu. Resikonya terlalu besar."


"Lalu apa maksud perkataanmu itu?"


"Aku hanya sedang berpikir. Jika kau begitu bertekad mendekatkan dirimu kepada Mama, mengapa aku tak bisa melakukan hal yang sama," sahutnya lalu terdiam beberapa saat, "Papamu ... apa hobinya?"


***


Dua hari kemudian....


Hari ini adalah hari pertama aku menjejakkan kakiku kembali di Pradipta Corp setelah sekian lama tak berada di perusahaan ini. Tak banyak yang berubah jika menyangkut interior ruangan pada gedung ini. Lain hal dengan penghuninya. Terlihat banyak wajah baru yang tak kukenal berlalu lalang di lobi saat jam makan siang.


Reynand menyuruhku datang di siang hari. Bertemu dengannya sekaligus Pak Burhan—kepala bagian HRD sejak dulu aku masih bekerja di sini. Mungkin ia akan sangat terkejut jika aku datang lagi ke sini. Mantan sekretaris Reynand kini datang secara khusus atas permintaan mantan atasannya, hendak bekerja menjadi sekretaris ibunya. Semoga tak gagal fokus dengan kalimatku.


Secara khusus, aku meminta Reynand untuk merahasiakan hubungan kami di perusahaan. Bagaimanapun, aku tak ingin orang-orang tahu hubungan spesial kami. Walau Reynand keberatan, ia akhirnya setuju.


Pak Burhan tampak terkejut melihatku. Entah apa yang ia pikirkan, tatapan matanya begitu heran menelusur dari atas sampai bawah hingga membuatku sedikit tak nyaman.


Apa-apaan dia, huh?

__ADS_1


"Anda tak salah lihat, Pak Burhan. Dia adalah Sheryl. Sheryl yang akan menjadi sekretaris Mama saya mulai sekarang. Tolong urus berkas kepegawaian dia secepatnya!" perintah Reynand yang langsung membuat Pak Burhan mengiyakan dengan cepat.


__ADS_2