
Sheryl Pov
Aku bergegas masuk ke dalam kamar. Membuka lemari dan mengambil sebuah koper. Tanpa membuang-buang waktu lagi membereskan barang-barangku. Ya! Aku akan segera pergi dari sini.
"Sheryl, kau mau ke mana?" Tiba-tiba aku mendengar suara bunda. Ibu kandung Baruna itu lalu memasuki kamarku, "Maaf, Bunda masuk karena melihat pintu kamarmu yang tak tertutup rapat. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membereskan barang-barangmu?" tanya Bunda lagi dengan tatapan heran.
Wajah yang terlihat tanpa dosa Bunda membuatku menghela napas panjang. Teringat bagaimana mereka semua begitu tega menyembunyikan kebenaran itu dariku hingga aku bertanya-tanya tentang posisiku di rumah ini.
"Aku ingin pulang ke rumah kedua orang tuaku, Bun!" jawabku dengan wajah menekuk kesal. Sungguh tak peduli dengan tanggapannya lagi. Kondisi dalam keluarga ini benar-benar sakit dan itu membuatku bertambah marah.
Aku melihat kening Bunda yang mengernyit. "Pulang? Rumahmu di sini, Nak. Apa kalian bertengkar?"
Aku tak menjawab dan terus menyibukkan diri dengan memasukkan banyak pakaian ke dalam koper.
"Sheryl?" Bunda memanggilku lagi.
"Aku memang akan pulang. Baruna pun pasti sudah mengetahuinya tanpa kukatakan." Aku menjawab dengan ketus demi menahan air mata yang hendak jatuh dari pelupuknya.
"Ya, tapi kenapa? Masalah kalian 'kan sudah selesai. Rey sudah pergi dari sini. Bertengkar sedikit wajar bagi pasangan suami istri."
"Seharusnya Bunda merasa lega. Bunda tidak perlu lelah berpura-pura baik kepadaku sekarang, karena seluruh memoriku sudah kembali. Bahkan tentang Rafael dan Felicia, kalian semua ternyata membohongiku habis-habisan. Hari ini dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Mas Baruna dan Felicia berselingkuh."
"Berselingkuh?" Bunda terdiam lalu mengerutkan keningnya, "jangan memutar balik fakta, Sheryl. Jelas-jelas kau yang berselingkuh di belakang suamimu."
Bunda kembali menuduhku. Dia tak juga berubah. Rasanya perkataannya sungguh menohok. Tidak anaknya, tidak ibu kandungnya, benar-benar membuatku tak habis pikir. Selalu aku yang disalahkan.
Seketika aku menyeringai, lalu tanpa banyak berpikir segera menarik koperku. "Terima kasih atas semuanya, Bun. Aku memang berselingkuh dan aku sungguh meminta maaf," jawabku sarkas. Aku tak peduli lagi dengan keluarga ini.
"Kau akan menyesal meninggalkan Baruna. Dia tak pernah menduakanmu seperti kau menduakannya!" teriak Bunda.
Aku tak peduli. Segera menyeret koper hitam milikku keluar kamar. Di depan pintu, Rafael tampak berdiri. Matanya yang begitu mirip dengan Baruna membuat langkahku terhenti.
"Tante Sheryl mau ke mana?" tanyanya begitu polos.
__ADS_1
Aku mendengus dengan senyum yang ditarik setengah. "Selamat! Kau telah mendapatkan ayah baru!"
Rafael menunjukkan mimik wajah yang terlihat bingung. Meski tahu dia hanyalah seorang anak kecil, melihat tatapannya membuatku tambah meradang. Tanpa mengucap kata apa-apa lagi, aku segera pergi dari kediaman keluarga Asyraf.
Selang beberapa saat berlalu, aku menghentikan mobil di halaman rumah. Menangkupkan wajah di atas setir. Saat itu juga aku menangis kuat-kuat diiringi oleh musik yang mengalun dengan nada tinggi. Aku tak ingin ada orang lain yang tahu bagaimana keadaanku saat ini.
Walau telah tiba di rumah kedua orang tua sendiri, rasanya belum siap bertemu dengan mereka, khususnya Mama. Wanita yang selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanku.
Ponselku sempat berbunyi beberapa kali, tapi aku memilih untuk mengabaikannya saja. Rasanya saat ini hanya ingin sendirian, tak ingin diganggu oleh siapapun.
Tuk-tuk-tuk!
Suara ketukan dari sisi luar kananku terdengar sayup. Aku segera menyeka air mata dan menegakkan badan. Saat menoleh, wajah Mama tampak menatapku dengan raut tanda tanya besar yang terbaca.
Aku mematikan audio musik dan langsung membuka pintu mobil. Tak sanggup menatap ibu kandungku sendiri. Dengan kepala menunduk, berdiri di hadapan Mama.
"Kau sudah sampai tapi tak juga keluar dari mobilmu. Ada apa, Nak?" tanya Mama.
Aku menggelengkan kepala, lalu memutuskan untuk menatapnya. "Mama, kok tahu aku akan datang?" tanyaku karena tak memberi tahu siapapun mengenai kedatanganku.
Aku membuang napas berat. Menyahut dalam hati tindakan Bunda yang tak kumengerti. Dia membela anaknya, tapi juga mengkhawatirkanku yang pergi dengan emosi.
"Aku mungkin akan tinggal di sini lagi," ucapku tiba-tiba. Tangisku pecah, tak dapat terbendung lagi. Aku sungguh merasa sedih, kecewa, dan begitu marah, tapi tak tahu bagaimana cara meluapkannya.
Melihatku, Mama sontak memeluk begitu erat. "Ya, Mama mengerti. Mendengar Baruna yang memiliki anak dari wanita lain saja rasanya Mama akan mudah mengerti kau bisa mengambil keputusan ini."
Aku terdiam. Bukan! Bukan hanya itu, Ma. Aku berkata dalam hati.
"Maafkan aku, Ma. Aku sungguh tak becus menjadi seorang istri. Aku... aku...." Aku terisak, tak sanggup meneruskan perkataanku. Rasanya begitu sesak hingga tak bisa bernapas.
"Sheryl, tenanglah! Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Ayo kita masuk. Berada di dalam mobil dengan musik menghentak tak akan ada gunanya. Kau bisa menceritakan apapun kepada Mama." Mama mengusap punggungku begitu lembut. Aku mengangguk. Kami pun beringsut ke dalam rumah.
***
__ADS_1
Baruna Pov
Malam harinya, keputusanku untuk berpisah dengan Sheryl benar-benar membuat ayah marah. Ayah menampar dan memukulku habis-habisan di depan Bunda dan Felicia. Kedua wanita itu hanya bisa menangis melihatnya. Sementara Rafael entah ke mana. Bik Rindang membawanya pergi agar tak melihat pemandangan seperti ini.
"Kau benar-benar membuat Ayah malu, Baruna!" Ayah mulai dengan pidatonya yang menyebalkan.
Walau dengan sebelah sudut bibir membiru, aku langsung menarik setengah senyum. "Apa Ayah lebih suka Sheryl menginjak-injak harga diriku?"
"Bukan begitu!" Ayah menyentak.
"Lalu apa? Aku sudah cukup lama bersabar untuknya!" Aku balas menyentaknya. Sungguh! Perlakuannya membuat hatiku benar-benar terluka.
"Setidaknya kau jangan mencoreng nama keluarga Asyraf lebih jauh! Apa kau tidak malu kedapatan melakukan hubungan intim dengan wanita lain di depan istrimu, huh?!" Ayah makin memojokkanku.
Aku mengerlingkan pandangan kepada Bunda, lalu menelan saliva dengan cepat. "Bukankah itu yang Ayah lakukan dulu? Aku hanya mengikuti jejak Ayah."
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Ayah susah payah memperingati Rey untuk tidak membongkar rahasiamu di depan Sheryl yang amnesia, tapi kau malah...." Ayah bersiap memukulku. Tangannya terangkat bebas di udara.
"Jangan, Mas! Jangan pukul lagi!" Suara teriakan Bunda terdengar kembali, memohon kepada suaminya yang arogan itu. Sementara Felicia tak mampu berkata-kata. Dia hanya memandang dengan tatapan sedih.
Aku memasang seringai miring. "Sayangnya, dia sudah mengingatnya. Aku menyesal telah berbohong mengikuti kalian."
Ayah seketika bergeming. Kelihatannya ia kehabisan kata-kata karena baru tahu Sheryl yang pulih dari amnesia. Ayah melangkah mundur lalu terduduk lemas di atas sofa. Bunda pun ikut duduk di sampingnya menenangkan Ayah.
"Kau tidak mengerti apa akibat dari ini semua, Bar. Ayah Sheryl memutuskan hubungan pertemanannya dengan Ayah. Dia juga menarik investasinya dari proyek yang kau kembangkan," ucap Ayah tiba-tiba.
"Aku akan bertanggung jawab atas proyek itu. Masih banyak perusahaan lain yang tertarik menginvestasikan modalnya."
"Lalu pertemanan kami... apa kau bisa mengembalikan hubungan baik pertemanan yang telah terjalin lama, huh?! Tidak bisa, Bar. Dia terlanjur membenci keluarga kita." Ayah menjelaskan dengan pandangan memelas.
"Biar waktu yang memulihkannya, Yah. Maaf, telah membuat Ayah kecewa. Namun inilah pilihanku dan kalian harus menghormatinya," pungkasku menutup pembicaraan kami.
__ADS_1
Gaes, sebenarnya aku masih mau nulis karena masih ada alur cerita berputar di kepala tapi karena waktunya belum ada, mohon bersabar, ya. Semoga hari ini up lagi.