
Sheryl Pov
Dua minggu kemudian ....
Baruna belum juga pulang, sedangkan kedua orang tuanya sudah berada di rumah sejak kemarin lusa. Walau dia menyuruhku untuk pulang ke kediaman keluarga Asyraf, aku memutuskan untuk tetap berada di rumah bersama keluargaku sendiri.
Aku tahu kalau seluruh keluargaku pasti memiliki tanda tanya besar dalam benak mereka. Bagaimana tidak? Setiap mereka membicarakan sesuatu tentangku dan Baruna, aku tidak terlalu tertarik untuk membicarakannya. Namun reaksiku akan berbeda jika membicarakan calon anakku. Sangat antusias dan tak ingin melewatkan sedikit pun perkembangannya. Seperti pagi ini di meja makan. Papa menanyakan menantunya.
"Papa dengar Anton dan Meri sudah pulang ke Jakarta, tapi anehnya Baruna tidak ikut pulang bersama mereka. Apa kau tahu mengapa ia tidak ikut pulang?" Papa tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepadaku.
Aku menghentikan kunyahan dan langsung menjawabnya, "Ada pekerjaan lain sepertinya."
"Oh .... Iya juga, ya. Anton 'kan sedang sakit, jadi semua pekerjaan di sana, ia semua yang harus mengerjakannya."
Aku tak menanggapi dan malah terdiam sambil menggerutu dalam hati.
Tidak, Pa. Bukan Ayah Anton yang sakit saat ini. Bocah kecil dan wanita itu yang membuatnya harus tetap berada di sana.
Entah salah siapa. Sejak kejadian itu, hubungan kami menjadi dingin. Jarang bertukar kabar dan lebih sering bertengkar. Terlebih lagi, dia tidak bisa memilihku dan meninggalkan anaknya yang sedang menjalani pengobatan di sana. Dan parahnya aku sama sekali tidak bisa memaksa.
Mama dan Kak Reza tampak saling melirik. Aku yakin mereka mencium sesuatu yang tidak beres, tapi keduanya lebih memilih diam. Tidak seperti Kak Reza yang biasanya selalu ingin tahu keadaan hubungan kami, Kak Reza kali ini tampak cuek karena sibuk mempersiapkan acara pernikahannya yang akan digelar sebentar lagi.
"Hari ini jadwal kontrolmu, 'kan?" ujar Mama tiba-tiba.
"Iya, Ma," jawabku seraya menunduk lalu meraih sendok dan hendak meneruskan sarapan.
"Mama yang akan temani kamu kontrol, ya," tambahnya.
Masih dalam posisi yang sama, aku tak tahan. Bulir air mata sepertinya hendak meluncur begitu mendengar perkataan Mama. Bukan Baruna yang ada di sampingku saat kontrol nanti, malah Mama yang menawarkan diri.
Dengan cepat aku menyekanya, lalu menggelengkan pelan. "Tidak usah, Ma. Nanti sepulang kerja aku akan pergi sendiri."
"Kakak temani, ya," ucap Kak Reza tiba-tiba.
"Tidak usah. Hari ini bukannya Kakak punya janji pergi dengan Kak Dita?" Aku menolak.
__ADS_1
"Ya, sih." Kak Reza menarik garis bibirnya sedikit.
"Papa saja yang temani.'" Papa ikut-ikutan menawarkan dirinya.
"Tidak, Pa. Aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil Papa yang ke mana-mana harus ditemani, 'kan?" Aku mengangkat kedua sudut bibirku di depan cinta pertamaku itu. Papa.
"Ya, baiklah. Papa percaya. Sabar ya, Nak. Walau Baruna sibuk, ia pasti tidak akan mengabaikanmu."
Mendengarnya, aku hanya mengangguk mengiyakan. Berusaha tersenyum dalam kegetiran hati yang tak juga reda. Siapa yang akan tenang-tenang saja sementara suaminya jauh dari mereka karena masalah sepertiku?
.
.
.
Aku membereskan meja kerjaku, lalu beranjak keluar ruangan. Tampak Viona yang masih sibuk di depan laptopnya.
"Vi, saya duluan, ya. Dokternya sebentar lagi datang," ucapku kepadanya sambil melirik jam tangan yang menunjukkan pukul setengah lima sore.
Aku balas mengangguk, lalu berjalan meninggalkan sekretarisku itu. Sekitar tiga menit kemudian, aku pun tiba di lobi. Berjalan dengan sedikit terburu-buru, menunduk sambil terus melihat jam tangan. Benar-benar telat, padahal dokter itu selalu datang tepat waktu.
"Sheryl."
Suara yang tak asing terdengar di telinga. Langkahku pun terhenti. Aku sontak mendongak dan melihat sosok pria yang kuhindari sudah berdiri tepat di depanku. Reynand.
"Reynand. Sedang apa kau di sini?"
Reynand mendengus, lalu menyeringai. "Kau pikir rasanya enak diabaikan, huh?"
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," jawabku berpura-pura tidak mengerti perkataannya.
Reynand tahu masalahku dan Baruna karena menguping pembicaraanku dan Bunda. Sejak saat itu, dia tak henti-hentinya menghubungiku. Bahkan mengancam akan pergi ke Tokyo memberi Baruna pelajaran. Namun aku tidak setuju dengan ide gilanya itu. Aku tidak mengizinkannya dan malah memarahinya karena ia mencampuri urusan kami.
"Jangan berpura-pura!" katanya.
__ADS_1
"Whatever!"
Aku tidak peduli. Segera meneruskan langkah hendak meninggalkan lobi. Baru beberapa langkah, Reynand menghentikan langkahku. Tangannya berhasil meraih genggam pergelangan tanganku dari belakang. Tanpa berkata-kata dia malah menariknya hingga aku terpaksa mengikuti langkah ia dari belakang.
"Rey! Lepaskan aku!" ucapku hampir berteriak. Tapi ia tidak peduli. Terus berjalan dan memaksa masuk ke dalam mobilnya.
"Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja!" ucapnya sambil memakaikanku sabuk pengaman. Kemudian tanpa berbasa-basi lagi, ia memutar setirnya meninggalkan pelataran parkir.
"Dasar pemaksa!" makiku.
"Kau yang memaksaku." Reynand menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depannya.
"Apa? Aku tidak menyuruhmu ikut campur. Apa sikapku tidak cukup jelas, hah?!"
"Sangat jelas dan aku tidak menyukainya."
"Mengapa kau tidak juga mengerti sih, Rey? Keadaan kita sudah berubah. Begitu sulitkah kau merelakanku?"
Reynand tidak menjawab. Air mukanya tampak kesal. Dadanya pun terlihat mengembang dan mengempis. Dia tampak menahan emosi. Kemudian, tanpa aba-aba yang jelas, dia membanting setirnya ke tepi jalan. Mobil sedan putihnya mendadak berhenti begitu saja. Dengan cepat, Reynand membuka sabuk pengamannya. Tubuhnya memutar, menghadap sampingku. Kedua matanya yang membulat menatapku dengan penuh rasa emosi.
"Kau benar-benar tidak mengerti, ya? Aku tidak habis pikir denganmu. Ayah dan Tante Meri saja sudah pulang dan kau malah tenang-tenang saja menunggunya selesai mengurusi anak itu dan ibunya, hah?!"
Suaranya begitu nyaring terdengar di telingaku. Aku langsung menjawabnya dengan perasaan yang sama. Emosi yang tak bisa terbendung.
"Lalu aku harus apa, Rey? Mengizinkanmu pergi memberikan suamiku pelajaran? Aku tidak bisa .... Dia ayahnya." Aku menunduk seraya mengelus perutku yang membuncit.
"Haish!" Reynand memukul setirnya kesal.
Perlahan air mata yang sudah susah payah kutahan sejak pagi akhirnya menggelinang begitu saja. Reynand yang melihatku sontak panik.
"Sher! Sheryl, maafkan aku. Aku ... aku hanya ...." katanya yang tidak bisa meneruskan kalimatnya.
Aku menggeleng. Dengan cepat menyeka air mataku. Dadaku yang sedikit sesak karena mengikuti emosinya berakhir dengan tarikan dan embusan napas panjang berkali-kali. Sementara Reynand hanya memperhatikanku, menungguku untuk tenang sebelum akhirnya ia meneruskan kemudinya.
Aku kembali melirik jam tanganku. Pukul lima kurang sepuluh menit. Aku menoleh ke arahnya, berkata, "Hari ini jadwal kontrol bulananku. Bisakah kau mengantarku ke rumah sakit?"
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya, Reynand mengangguk mengiyakan. Sedetik kemudian, ia pun mempercepat laju mobilnya.