Marriage Order

Marriage Order
Kejutan yang Mendebarkan


__ADS_3

Suasana hiruk pikuk di ruang IGD rumah sakit malam itu tidak membuat kami ikut terpengaruh dalam kericuhannya. Kami hanya terdiam terpaku memandang Pak Reynand yang muncul secara tiba-tiba itu. Apakah dia memang sosok kakak yang dibicarakan Kak Daniel?


Lelaki itu berdiri tegap di hadapan kami. Dia sedikit terkejut melihat kami berempat yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu IGD. Sorot matanya yang tajam serta pembawaannya yang dingin membuat kami terdiam. Dia menatap Kak Baruna tersenyum.


"Apa kabar Bar? Ups .... salah, apa kabar adek gue yang satu ini?" sindir Pak Reynand mengulurkan tangannya mengajak Kak Baruna bersalaman.


"Kabar baik. Lama enggak ketemu. Gue hampir gak kenal wajah lo lagi." Kak Baruna balas menyindir.


"Lo terlalu berlebihan. Beberapa waktu yang lalu kita udah ketemu. Bahkan mungkin lo udah banyak ngomongin gue. Ya kan Sher?" Pak Reynand menoleh ke arahku. Sorot matanya menakutkan.


Aku terdiam menunduk. Tanganku mengepal. Kak Dita yang ikut dalam suasana itu menarik lengan Kak Reza. Kepalanya dibiarkan terbenam di bahu belakang Kakakku itu. Dia ketakutan akan muncul sebuah pertengkaran.


"Suasana apa ini? Mengapa raut wajahnya begitu berbeda saat bertemu muka dengan Kak Baruna? Dia seperti seseorang yang sedang memburu musuhnya," batinku.


Kak Reza yang berada di samping Kak Baruna berbisik, "Bar sebaiknya lo dan Reynand ngobrol di lain tempat. Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berselisih paham."


"Saat ini gue enggak ada urusan sama lo semua. Gue cuma mau ketemu adek gue yang satu lagi," ujar Pak Reynand seakan-akan mengetahui bisikan Kak Reza.


Pak Reynand melangkah meninggalkan kami, masuk ke dalam ruangan IGD dengan cara berjalan yang begitu angkuh.


"Sayang, jangan-jangan dia kakaknya Indira?" ucap Kak Dita kepada kakakku.


"Aku juga berpikiran seperti itu," jawab Kak Reza lalu menoleh ke arah Kak Baruna sambil menepuk bahu sahabatnya itu, "Bar, apa lo udah tahu sebelumnya?"


Kak Baruna menggelengkan kepalanya. Dia menunduk, bertopang dagu. Aku menyentuh kepalanya dan mengacak-acak rambutnya. Kak Baruna menoleh menatapku.


"Kamu tidak perlu berpikiran macam-macam," ucapnya pelan.


"Tidak. Aku hanya ingin menenangkanmu sayang. Apapun yang kamu pikirkan, aku bisa jadi pendengarmu yang setia." Aku tersenyum.


Kak Baruna mengangguk lalu membelai lembut pipiku.


"Terima kasih," ucapnya


Tidak lama kemudian Kak Daniel datang. Dia keluar dari ruang IGD. Wajahnya terlihat sangat senang sekaligus ada rasa khawatir.


"Indira hamil," katanya setengah berteriak kegirangan.


"Wah selamat ya Kak," ucapku.


"Congratulation Bro. You'll be a father soon." Kakakku memeluk sahabatnya itu.


"Selamat ya kawan," ucap Kak Baruna.


"Selamat Niel," tambah Kak Dita.

__ADS_1


"Terima kasih semuanya. Gue sayang kalian semua," ucap Kak Daniel meneteskan air matanya.


"Lalu Indira bisa pulang malam ini?" tanya Kak Reza.


"Sayangnya harus rawat inap. Dia lemas sekali."


"Tapi sudah siuman kan Niel?" tanya Kak Dita.


"Iya. Dia lagi ngobrol sama kakaknya yang tadi gue omongin. Dia ...."


"Maksud lo Reynand, Niel?" Kak Baruna memotong kata-kata Kak Daniel.


"Iya. Kok lo tahu sih? Kan gue belom bilang namanya siapa." Kak Daniel terkejut sekaligus heran.


"Ah ceritanya panjang. Nantilah gue ceritain. Gue mau jenguk Dira dulu."


"Ya udah ayo."


Kami bergegas melangkah menuju ruang rawat inap tempat Dira sementara dirawat. Tampak Dira sedang berbicara serius dengan Pak Reynand. Dira yang menyadari kehadiran kami menyapa kami dengan senyumnya.


"Aduh maaf ya merepotkan kalian semua. Sini dong. Masa jenguk yang sakit jauh-jauhan."


Kami pun mendekat. Pak Reynand berdiri beranjak dari kursinya tiba-tiba. Dia menatap Indira dengan tatapan matanya yang sama sekali berbeda ketika bertemu Kak Baruna. Terlihat begitu teduh.


"Aku pulang dulu Dir. Istirahat yang cukup. Jaga kandunganmu. Dia harus selalu sehat," pesannya.


"Aku melakukannya demi adikku," sahutnya seraya berlalu angkuh meninggalkan ruang perawatan.


"Aku tinggal dulu ya." Kak Baruna tiba-tiba pergi meninggalkan kami. Dia menyusul langkah Pak Reynand yang sudah berlalu terlebih dahulu.


"Kak Baruna mau pergi ke mana? Apa dia menemui Pak Reynand?" batinku bertanya-tanya.


Aku memandang punggungnya sampai hilang di balik pintu. Inginku pergi mengikutinya tapi Kak Dita menarik tanganku. Dia menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar membiarkan mereka berdua berbicara.


"Dir selamat ya. Akhirnya hamil." Kak Reza memberi selamat.


"Terima kasih Za."


"Selamat ya Dir," ucap Kak Dita.


"Terima kasih Dit."


"Selamat Dira. Aku sampai khawatir kamu pingsan."


"Terima kasih Sher. Maafkan aku. Aku juga tidak sadar kalau ternyata aku mengandung."

__ADS_1


"Iya enggak apa-apa Dir. Aku maklum dengan kejadian tadi. Untungnya aku menyusulmu ke toilet."


"Kamu terlalu cuek Dir. Jangan terlalu lelah dan makanlah yang bergizi," kata Kak Dita.


Indira mengangguk tersenyum sambil mengusap perutnya lembut, "Maafkan Mama ya Nak."


Aku terus memikirkan Kak Baruna yang menyusul Pak Reynand di luar. Perasaanku tidak enak. Aku harap tidak ada pertengkaran di antar mereka.


Setengah jam kemudian Kak Baruna masuk ke dalam ruangan Indira. Dia merangkul bahuku. Wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada raut wajah yang aneh sekembalinya dia.


"Niel, Dir gue sama Sheryl pulang duluan ya. Sudah kemalaman," kata Kak Baruna tiba-tiba.


"Iya terima kasih sudah mengantar dan menjenguk," kata Kak Daniel.


Indira tersenyum, "Sekali lagu terima kasih banyak semua."


"Sama-sama Dir, Niel," jawabku.


"Gue sama Dita ikut bareng ya. Gue gak bawa mobil," kata Kak Reza.


"Ayo Bro santai saja," sahut Kak Baruna.


Kami semua pun berlalu meninggalkan ruangan perawatan meninggalkan sepasang suami istri itu.


"Sini kuncinya. Gue aja yang setir Bar," ujar Kak Reza saat kami berada di parkiran.


Kak Baruna melempar kunci mobilnya dan langsung tepat ditangkap oleh Kak Reza. Dia duduk di kursi kemudi dengan kekasihnya yang berada di sampingnya. Kak Reza lalu menginjak gas mobilnya dan mobil pun berjalan.


Kami mengantar Kak Dita terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Jarak antara rumah sakit dengan kediaman Kak Dita tidak terlalu jauh. Untungnya jalanan malam yang lengang membuat waktu perjalanan tidak terasa.


"Terima kasih sudah mengantar. Kalian hati-hati di jalan. Jangan mengebut ya sayang," pesan Kak Dita sambil melambaikan tangannya berpamitan disambut anggukan Kak Reza.


"Iya terima kasih Kak."


Kami pun melanjutkan perjalanan. Kak Baruna dan Kak Reza tidak banyak berbicara. Mungkin karena mereka sudah merasa sangat kelelahan.


Selang beberapa lama kemudian kami pun akhirnya tiba. Kak Reza mematikan mesin mobilnya dan berpamitan lebih dulu. Dia membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Hanya kami yang masih tertinggal di dalam mobil


"Sayang, terima kasih untuk malam ini. Aku sangat bahagia," ujarku tersenyum sambil menatap Kak Baruna.


"Iya. Terima kasih sudah menerimaku yang seperti ini. Aku sangat menyayangimu," sahutnya lalu dia terdiam sebentar dan berkata, "Bisakah kamu berhenti bekerja dari tempat itu? Aku tidak ingin melihatmu dekat dengannya."


"Kita sudah pernah membicarakan hal ini, bukan? Hubungan kami adalah hubungan profesional dan aku masih menikmati pekerjaanku."


"Entahlah mungkin ini hanya bentuk keegoisanku saja. Tadi aku sedikit berbicara dengannya. Aku hanya tidak ingin melihatmu terlibat dengan urusan kami."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku. Sudah larut malam. Kamu sebaiknya pulang sayang." Aku membelai rambutnya perlahan.


Kak Baruna menatapku dalam, dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku lembut. Ciuman pertama kami yang begitu membuatku berdebar di malam itu.


__ADS_2