Marriage Order

Marriage Order
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Baruna PoV


Pukul delapan pagi, dua hari kemudian ....


Hari ini adalah hari Minggu. Penghujung hari yang membuat hati makin bahagia untuk ke sekian kalinya. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar rawat inap Sheryl. Melihatnya masih tertidur pulas dengan Tante Rini yang juga tertidur pulas di sampingnya.


Aku meletakkan barang-barang yang kubawa lalu menghampiri Sheryl, dan mencium keningnya. Dia membuka matanya pelan. Melihatku yang berdiri di hadapannya dan sontak menarik tanganku.


"Kenapa baru datang?" tanyanya lirih.


"Maaf ya, Sayang. Tadi aku begitu asik mengobrol dengan Ayah di rumah dan melupakanmu," jawabku tersenyum.


Sheryl tersenyum. Menarik tubuhnya hingga menyandar pada ujung ranjang. Tante Rini tiba-tiba terbangun mendengar sedikit percakapan di antara kami.


"Loh Baruna, sejak kapan datang?"


"Baru saja, Tante."


Tante Rini mengerjapkan matanya dan menguap. Dia lalu bangkit berdiri. "Tante pulang dulu ya. Nanti siang kembali lagi ke sini. Kamu jaga Sheryl." Tante Rini menolak.


"Perlu diantar, Tante?"


"Tidak perlu. Tante sudah dijemput sama Pak Erwin. Semalam sudah minta tolong padanya untuk datang jam tujuh. Pasti dia sudah menunggu." Tante Rini segera bersiap-siap membereskan barang-barangnya.


"Makannya dihabiskan. Obatnya juga diminum. Jangan capek-capek. Jangan stres. Jangan ...."


Tante Rini tidak meneruskan kalimatnya karena Sheryl keburu memotong perkataan Mamanya, "Iya Mama sayang. Hati-hati di jalan."


Tante Rini tersenyum kemudian mencium kening putri Satu-satunya itu. Selanjutnya, dia bergegas keluar kamar meninggalkanku berdua dengan Sheryl. Suasana menjadi hening sejenak.


Krucuk!


Terdengar suara perut yang berbunyi meminta sang empu untuk memberinya makan. Sheryl tersenyum melihatku sambil memegang perutnya yang berbunyi keroncongan.


"Maaf, aku lapar sekali." Dia menyunggingkan sebuah senyum kecil di wajahnya.


Senyumnya yang memesona itu selalu berhasil membuatku terhipnotis. Sepertinya aku kembali jatuh cinta pada wanita ini. Jatuh cinta untuk kesekian kalinya.


"Ayo makan dulu." kataku seraya melirik nampan berisi makanan di atas nakas.


Sheryl mengangguk, "Aku butuh obat mualnya, Sayang?"


Segera kuambil tablet penghilang mual yang diletakkan di dekat nampan.


"Sebenarnya minum ini tidak terlalu berpengaruh bagiku. Tapi untuk berjaga-jaga saja," katanya lagi.

__ADS_1


Aku tersenyum seraya membelai pipinya, "Kali ini makan yang banyak. Kamu harus cepat sembuh. Aku tidak mau kamu nanti sakit saat acara pernikahan kita."


"Iya," jawabnya pelan.


Aku menyuapinya dengan makanan yang sudah disediakan rumah sakit. Sheryl mengunyahnya perlahan, sesekali terlihat mual, dan ingin muntah. Aku dengan sigap mengambil wadah untuknya, berjaga-jaga kalau ia tiba-tiba mengeluarkan isi perutnya.


"Aku tidak apa-apa," katanya.


"Iya, jangan dipaksakan."


Setengah jam kemudian dia sudah menghabiskan makanan dan obatnya. Aku tersenyum tipis menatap wajahnya dan mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.


"Sayang, jangan acak-acak rambutku. Aku sudah jelek begini tambah jelek lagi di hadapanmu. Aku malu," ucapnya.


"Kenapa malu? Aku sudah melihat semuanya," jawabku sambil tertawa.


Mendadak wajahnya merona merah menyadari kalau aku sudah melihat semuanya saat menolongnya keluar dari bathtub saat itu. Aku sontak menertawainya yang sedang tertunduk malu.


"Jangan dibahas! Kamu membuatku malu dua kali lipat."


"Bagaimana pun rupamu dulu dan sekarang, aku tetap mencintaimu, Sayang."


"Aku juga mencintaimu."


"Sekarang kamu istirahat saja. Aku akan duduk di sofa memperhatikanmu dari sana."


Aku beranjak dari tempat dudukku pindah ke atas sofa. Mengambil ponsel dan sebuah laptop dari dalam tas yang kubawa. Ada sebuah pesan dari Bunda.


"Baruna, nanti jam satu Pak Irfan datang untuk membuka surat wasiat dari Kakek. Bunda juga sudah mengabarkan kepada Reynand dan Ibunya."


Bukankah Reynand bilang tidak akan datang?


Setelah membaca pesan itu, aku sontak mencari kontak Bunda dan meneleponnya.


"Bun, apa Reynand dan Mamanya bilang akan datang?"


"Sebenarnya tadi dia sudah menolak, tapi tiba-tiba saja mengubah pikirannya dan akan datang ke rumah. Kamu jangan sampai telat. Di sana ada Tante Rini yang menjaga Sheryl, 'kan?"


"Tante Rini pulang, tapi dia bilang akan segera datang siang nanti."


"Baguslah. Katakan pada Sheryl kalau Bunda belum sempat datang. Mungkin nanti malam baru bisa menjenguknya. Kamu jaga diri, banyak godaan kalau berduaan."


"Hahaha .... tenang saja, Bun. Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak benar."


"Ya sudah, salam buat Sheryl dari Bunda."

__ADS_1


"Iya. Dia sedang tidur sekarang."


"Apalagi sedang tidur. Jangan mencari kesempatan kamu!"


"Iya, Bundaku." Aku tertawa renyah.


Aku mematikan panggilan telepon.


Ada-ada saja Bunda. Mengapa tiba-tiba berbicara seperti itu? Aku pasti akan menjaga Sheryl sepenuh hatiku.


Aku menengadahkan kepalaku sambil bersandar. Pikiranku melayang pada hal-hal yang sudah dan akan kulalui nantinya.


Betapa Tuhan sudah menganugerahkan banyak sekali nikmat yang kurasakan tahun ini sampai dengan penghujung tahun nanti. Aku sangat bersyukur, akhirnya aku bisa memiliki wanita yang kucintai dan keluarga yang juga begitu mencintaiku.


Ingin rasanya aku berterus terang pada Sheryl dengan adanya surat perjanjian seperti itu walaupun terbesit sedikit keraguan, tapi aku percaya dia pasti akan menerimanya. Hanya saja, memang saat ini bukanlah saat yang tepat. Tiba-tiba dia sakit seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya berpikiran macam-macam. Reynand, bagaimana dengannya? Mudah-mudahan dia tidak nekat memberitahukan tentang isi surat itu dan berlapang dada jika isi surat wasiat Kakek tidak sesuai dengan yang ia dan Mamanya inginkan.


Aku membuka laptopku, sedikit mengurus pekerjaan yang kemarin tertunda. Lama melihat layar laptop membuat mataku sedikit mengantuk. Akhirnya aku pun terlelap.


Aku membuka pelan mataku saat Tante Rini datang mengagetkanku yang tertidur pulas. Aku pun bangun dan mendudukkan tubuhku di atas sofa sambil mengucek mata yang masih terasa mengantuk.


"Tante, sudah datang?"


"Baruna, maaf Tante membangunkanmu. Tidurlah lagi," ucapnya sambil menaruh tas di atas meja.


"Tidak Tante, aku memang harus pergi sekarang," sahutku sambil melihat waktu di pergelangan tanganku.


"Oh ... ya sudah pergi saja. Jangan khawatirkan Sheryl."


"Iya. Bunda juga bilang akan ke sini nanti malam."


"Baiklah, Tante akan menunggu dengan senang hati."


Aku beranjak dari tempat dudukku, melangkah menghampiri Sheryl yang masih tertidur.


"Aku pulang ya, Sayang," bisikku di telinganya, kemudian berbalik arah meninggalkan kamar.


Satu jam kemudian, aku dan keluargaku sudah duduk di ruang kerja Ayah bersama dengan Reynand dan Tante Aina. Siang ini, Pak Irfan notaris keluargaku datang berkunjung untuk membuka surat wasiat yang ditinggalkan Kakek.


"Selamat siang keluarga Asyraf. Saya datang ke sini karena telah diberikan kepercayaan oleh mendiang Bapak Awan untuk membuka surat wasiat yang ditinggalkannya." Bapak Irfan melihat ke arah Tante Aina dan Reynand lalu bertanya, "Maaf, boleh saya bertanya siapa ibu dan pria ini?"


"Dia mantan istriku dan anak kandungku, Pak Irfan," jawab Ayah.


Pak Irfan menganggukkan kepalanya. Dia pun membuka sebuah map tebal yang sudah dipersiapkannya. Dia mulai membacakan isi surat itu.


"Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Awan Surya Asyraf dengan sadar membuat surat wasiat ini. Surat ini akan menjadi sah apabila saya telah tiada, khususnya bila hal itu terjadi sebelum saya menyaksikan pernikahan cucu saya, Baruna. Mengenai harta waris, saya sudah memikirkannya dengan sebaik-baiknya. Anak saya, Anton Wirawan Asyraf akan menguasai sepenuhnya harta warisan yang saya tinggalkan baik itu aset berjalan maupun aset tetap yang saya tinggalkan, hingga merujuk pada sebuah perjanjian tertulis yang pernah dibuat sebelumnya yaitu Marriage Order Agreement, bahwa Baruna Adrian Asyraf akan menjadi pewaris perusahaan setelah ia resmi menikah dengan Sheryl Novia Cantika Kusuma. Untuk cucu saya yang lain yaitu anak hasil dari pernikahan pertama anak saya, saya akan menyerahkan semua kebijakan pada kedua orang yang telah saya percayakan sebelumnya untuk memberikan keputusan yang seadil-adilnya. Sekian. Dengan hormat, Awan Surya Asyraf." Bapak Irfan menyelesaikan pembacaan suratnya.

__ADS_1


"Yang benar saja?! Kenapa dia menulis seperti itu? Ini benar-benar tidak adil untuk anakku." protes Tante Aina bangkit dari duduknya.


Semua yang berada di ruangan, sontak menoleh ke arah Tante Aina termasuk diriku. Dia terlihat sangat kecewa.


__ADS_2