
Baruna PoV
Aku mengangkat tubuh polosnya keluar dari bathtub. Sheryl pingsan. Tubuhnya dingin tapi dahinya terasa panas. Reza segera menutupi tubuhnya dengan handuk kimono yang tergantung di sampingnya. Aku segera membopongnya keluar kamar mandi.
"Dia masih bernapas. Za, kita harus bawa dia ke rumah sakit!" tegasku sambil membaringkan tubuh Sheryl di atas ranjang.
"Iya, Bar. Gue panggil nyokap dan bokap gue dulu." Reza segera keluar kamar memanggil kedua orang tuanya.
Sejurus kemudian mereka datang. Tante Rini membulatkan matanya terkejut. Mulutnya menganga melihat putrinya lemah tidak berdaya. Om Agung juga terlihat sedih melihat anaknya itu.
"Kalian semua keluar dulu. Aku akan memakaikan pakaian padanya sebentar." Tante Rini mengusir kami semua keluar kamar.
"Za, Sheryl ... dia gak apa-apa, 'kan?" tanyaku sambil berjalan mondar-mandir di depannya.
Reza hanya diam. Dia tidak berkomentar.
"Om, Sheryl tidak apa-apa, 'kan?" Aku menatap wajah Om Agung.
"Nak, sabar ya. Semoga tidak ada yang serius padanya." Om Agung menepuk bahuku menenangkan.
Aku mengangguk. Tidak lama, Tante Rini keluar. Dia sudah memakaikan pakaian hangat untuk putri satu-satunya itu. Aku segera membopongnya keluar kamar. Kami pun pergi ke rumah sakit saat itu juga.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam saat kami tiba di IGD rumah sakit. Mengamati betapa ramainya pengunjung di hampir waktu penghujung malam.
Aku terus berada di sampingnya. Menatap wajahnya yang tertidur dengan hidung yang terpasang selang oksigen. Sesekali aku menyeka air mata yang jatuh karena begitu sedih melihat keadaan tunanganku. Tante Rini yang melihat keadaanku mengusap punggungku lembut begitu menenangkan.
Dokter jaga IGD yang baru saja memeriksa Sheryl segera duduk di balik mejanya. Menatap wajah kami bergantian.
"Siapa di antara kalian keluarganya?"
"Saya Papanya, Dok." Om Agung duduk di hadapan dokter itu.
"Pak, anak Bapak untung saja segera dibawa ke sini. Penyakit radang lambungnya sudah sangat parah. Asam lambungnya naik menjalar sampai ke dada. Menjadikan ia sesak dan pingsan saat itu juga. Dari hasil lab, saya juga menemukan ada infeksi bakteri Salmonella di tubuhnya. Dia sangat lemas, sebaiknya Nona Sheryl harus segera dirawat."
"Lakukan yang terbaik, Dok."
"Baik, saya akan memberikan surat pengantar rawat inap. Bapak bisa segera mengurus administrasinya di ruang pendaftaran rawat inap," sahut dokter jaga itu yang segera disambut baik pengantar rawatnya oleh Om Agung. Dia bangkit dari duduknya pergi mengurus administrasi.
Setengah jam kemudian kami sudah berada di ruang VVIP rumah sakit. Melihat Sheryl yang tiba-tiba membuka matanya lemah.
"Aku ada di mana?" tanyanya.
"Di rumah sakit, Dek," sahut Reza.
Dia menghela napasnya pelan, mengerlingkan matanya ke semua arah, dan tiba-tiba berhenti tepat di depan wajahku. Melihatku sejenak dengan begitu ragu, kemudian memalingkan wajahnya.
Ada apa denganmu, Sayang? Tidak rindukah kamu padaku?
__ADS_1
"Sheryl ...." panggilku pelan.
"Izinkan aku beristirahat sejenak. Aku tidak ingin melihat wajahmu saat ini," ucapnya sambil menarik selimutnya yang kini menutupi semua bagian wajahnya yang pucat.
"Ada apa dengannya, Bar? Apa kalian bertengkar?" tanya Tante Rini.
"Tidak Tante. Hanya sedikit salah paham," jawabku sambil tersenyum.
"Tante minta kamu sabar, ya. Nanti juga dia akan mencarimu. Hari ini biar Tante yang menungguinya. Kamu kembali saja besok lagi." Tante Rini menepuk pundakku.
Aku mengangkat kedua sudut bibirku tipis. Membalik badan dengan langkah sedikit ragu keluar dari ruangan. Hatiku berkecamuk antara kecewa, sedih, dan marah menjadi satu.
Sheryl kita tidak perlu seperti ini. Aku ingin segera berbaikan denganmu.
"Bar, gue anter lo ke depan." Reza menghampiriku.
Aku mengangguk. Dia merangkul bahuku dan menghibur dengan wajahnya yang ceria.
"Bar, gak usah terlalu dipikirin. Nanti Sheryl baik sendiri."
"Iya, Za. Gue sedih dia menolak keberadaan gue. Harusnya kan gue yang marah. Kenapa jadi dia yang marah?"
"Rumusnya cuma satu Bar ... wanita selalu benar." Reza tertawa menghiburku yang tidak bisa ikut tertawa. Hanya senyum seringai yang bisa kutunjukkan. "By the way, kenapa sih dia bisa mutusin lo dengan gampang begitu?"
"Karena gue terlalu cemburu sama Reynand," sahutku.
"Dia lagi? Nekat banget sih. Padahal udah gue peringatkan. Tapi kayaknya enggak ada pengaruh sama dia."
"Ehm ... hari minggu kemarin. Dia datang ke rumah menemui Sheryl. Mereka berbicara hanya berdua."
"Kok lo baru cerita, Za?" Aku melihat wajah Reza dengan kesal.
"Sorry. Intinya gue udah bilang jangan dekati Sheryl lagi ...."
"Iya dan itu enggak berguna." Aku memotong pembicaraan Reza.
Tidak lama kemudian, kami tiba di area halaman parkir. Aku melangkah gontai menuju mobilku.
"Sampai sini aja. Makasih udah antar," kataku.
Reza mengangguk dan memelukku. Entah pelukan apa? Karena pemikiranku dan dirinya kini tidak sejalan. Aku pun pulang ke rumah dengan hati yang campur aduk.
****
Reynand PoV
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat aku baru saja selesai makan dan mandi. Sebenarnya tidak enak juga meninggalkan Mama seperti tadi, tapi dia keterlaluan. Masih menginginkanku melawan keluarga itu yang jelas-jelas sudah mempunyai keputusan hitam di atas putih.
__ADS_1
Aku meraih ponsel di dekatku. Mengetik nama pujaan hatiku, mencoba menghubunginya. Namun, hanya voice mail yang kudapat. Ponselnya tidak aktif.
Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi sebenarnya? Tapi jika memang mereka bertengkar, bukankan sebuah keuntungan untukku? Aku memang menginginkan hubungan mereka rusak, bukan?
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di dalam benakku. Seharusnya aku bisa mengambil kesempatan di saat hubungan mereka goyah. Dengan sendirinya mereka juga akan segera berpisah. Tanpa sadar aku tersenyum lebar mengingat nasib mereka yang mungkin akan segera berpisah.
Aku memandang map yang berada di hadapanku. Salinan Marriage Order Agreement yang sudah kuperbanyak. Rasanya aku tidak perlu mengeluarkan surat itu sebagai senjata untuk menghancurkan hubungan mereka. Namun, satu hal yang menggangguku adalah masalah hutang keluarga Kusuma terhadap keluarga Asyraf.
Sebenarnya berapa banyak hutang mereka?
Aku mengambil ponselku kembali. Menghubungi adikku yang biasanya selalu tahu mengenai keadaan yang terjadi dengan Sheryl. Nada sambung terdengar lama sampai dia mengangkatnya.
"Ada apa, Kak Rey?"
"Kamu tahu apa yang terjadi dengan Sheryl?"
"Memangnya kenapa, Kak?"
"Hari ini aku melihatnya menangis. Tadi aku meneleponnya, tapi ponselnya tidak aktif."
"Aku tidak tahu Kak. Sudah lama kami tidak saling bertukar kabar. Bagaimana jika Kakak langsung menghubungi Baruna?"
"Kamu mau cari mati?"
"Loh, Kakak sudah terlanjur basah. Mengapa tidak langsung masuk ke dalam kolamnya?" sindirnya.
"Baiklah. Percuma bertanya padamu."
"Jangan ganggu tidurku lagi. Aku sudah terbuai dalam mimpi dan Kakak mengganguku."
"Iya, maaf."
Aku menutup teleponku. Bangkit dari tepi ranjang. Berjalan mondar-mandir tidak karuan. Aku segera memberanikan diri membuat panggilan untuk Baruna.
Nada sambung begitu lama terdengar. Dia tidak segera mengangkat panggilanku. Hanya jawaban voice mail yang terdengar.
Aku menghela napas kesal tidak mendapat jawaban apa-apa. Rasa penasaran yang terlalu dalam membuatku tidak bisa memejamkan mata, bahkan untuk satu menit saja. Aku pun mencoba menyibukkan diri melihat kesimpulan hasil meeting-ku dengan Dita tadi siang.
Untuk laporan keuangannya sebenarnya tidak ada masalah. Aku hanya merasa keluarga mereka sedikit boros. Perjalanan ke luar negeri dalam waktu yang lama juga biaya pertunangan dan pernikahan yang besar sekali menjadikannya sebuah acara yang mewah. Ya sebenarnya wajar saja, dia anak tunggal.
Apa aku sedang cemburu sehingga mencari-cari kesalahan keluarga mereka?
Aku mengernyitkan keningku, menarik dan mengeluarkan napas yang tidak beraturan.
Sepertinya aku memang mulai sedikit gila.
Perhatianku teralihkan pada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselku. Sebuah pesan dari Daniel. Aku segera membacanya.
__ADS_1
"Rey, Sheryl dirawat di rumah sakit Harapan Sehat. Ruang VVIP 610. Gue baru dapat informasi dari Baruna. Kalau lo mau menjenguknya, tolong jangan membuat keributan di sana."
Sheryl sakit? Sakit apa dia?