
Reynand PoV
Pukul 17.00
Sore ini, mobilku baru saja memasuki halaman parkir Kusuma Corporation. Membuka dasi dan jas yang menyesakkan tubuh. Aku menggulung kemeja abu-abu yang kupakai sampai tujuh per delapan lengan. Berjalan keluar dari mobil dan bersiap melangkah masuk ke lobi gedung.
Aku melihat masih ada beberapa orang wartawan di menunggu di sana. Sepertinya para pemburu berita itu tidak ada puasnya. Menunggu di luar gedung tanpa rasa lelah.
Dengan rasa percaya diri berjalan melangkah ke dalam lobi dengan mengangkat wajah menatap lurus ke depan. Sama sekali tidak menghiraukan para wartawan itu.
"Pak Reynand!" Tiba-tiba salah seorang wartawan memanggilku.
Aku tetap melangkah maju tidak menghiraukannya. Seorang security menghentikan salah seorang wartawan yang nekat itu dan membiarkanku terus berjalan ke dalam lift hingga tiba di depan ruang kerja Sheryl.
Aku berdiri di depan pintu ruangan Sheryl cukup lama. Hendak mengetuk pintu, tapi hatiku terasa penuh keraguan. Di sana hanya ada sekretaris Sheryl yang sedang berdiri membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang.
"Ketuk saja, Pak!" katanya.
Aku menoleh, melihat ke arahnya. Wanita berambut sebahu itu menyunggingkan senyumnya. Seulas senyum kubalas untuknya. Tiba-tiba saja dia terlihat salah tingkah antara ingin duduk di kursi dan segera melangkah pulang.
"Kamu tidak jadi pulang?" tanyaku.
"Eh .... Ah .... Apa, Pak?" Dia balik bertanya.
"Kamu tidak jadi pulang?" tanyaku mengulang pertanyaan yang sama.
"Ti-ja-jadi kok, Pak." Wanita itu bangkit berdiri, lalu melangkah keluar.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah sekretaris Sheryl tersebut. Tidak menyadari kalau Sheryl ternyata sudah berdiri di hadapanku, dan aku menghalangi jalannya.
"Maaf, aku tidak sadar kamu sudah keluar dari ruangan," ujarku sambil menatap matanya.
"Ya, tidak apa," jawabnya singkat.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit." ajakku seraya meraih tangannya dan mengeratkan genggamanku.
Sheryl hanya mengangguk pasrah. Aku menghela napas panjang menghadapi wanita yang sedang putus cinta itu. Kami berjalan beriringan menuju lobi yang masih ramai oleh para wartawan.
Wajahnya terus menunduk menghadapi para wartawan itu. Kami bagai selebritis yang masih hangat dalam pemberitaan. Kamera itu terus membidik kami tanpa lelah. Aku mengangkat wajah menghadapi mereka.
Haish .... Sudah kukatakan jangan menunduk!
Seperti yang kukatakan tadi pagi. Aku menariknya hingga kami saling berhadapan. Mengangkat dagu Sheryl dan segera mencium bibir pucat itu dengan singkat hadapan mereka. Entah mengapa, ingin sekali membuktikan pada dunia bahwa hubungan kami benar-benar sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Dia terkesiap menatap wajahku. Matanya membelalak terkejut dengan mulut yang menganga. Sesaat aku melihat kegeraman dalam air mukanya. Wanitaku itu menarik dan membuang napasnya tidak beraturan menahan kesal.
Aku buru-buru menarik tangannya dan pergi seraya melambaikan tangan tersenyum pada para wartawan yang kurang kerjaan itu. Segera kubuka pintu mobil dan mempersilakan dia masuk dengan mulut yang masih mengerucut kesal.
__ADS_1
"Aku senang akhirnya kamu ada ekspresi. Meskipun itu adalah ekspresimu yang marah padaku. Itu lebih baik daripada kamu terus mengabaikanku dengan wajah sendumu itu," ucapku.
"Apa aku juga tidak berhak menangis dan bersedih karena putus cinta?"
"Menangislah sepuasmu. Tapi jangan mengabaikanku seperti hari ini. Kamu tahu, aku sudah berencana menikahimu dalam waktu dua minggu."
"Terserah! Aku pun tidak ada semangat untuk masa depanku sendiri."
"Nanti lambat laun pun kamu akan melupakannya. Berbahagialah denganku," jawabku sambil menginjak gas mobil dan meninggalkan halaman parkir Kusuma Corporation.
Sepanjang jalan dia hanya diam. Aku terus fokus pada jalan di depanku. Membiarkan dia tetap seperti itu sampai tiba di area parkir rumah sakit.
Tidak lama kemudian kami sudah duduk menunggu di depan pintu poliklinik dokter kandungan. Dia terus diam tidak berbicara. Seperti patung yang kubawa seharian.
"Nona Sheryl!" panggil seorang perawat.
Kami bangkit berdiri melangkah masuk ke dalam ruang konsultasi.
"Selamat sore, Mas, Mbak!" Dokter wanita spesialis kandungan itu berdiri dan mengajak kami berdua bersalaman.
"Wah, ada keluhan apa lagi, Mbak Sheryl? Belum menstruasi juga?" tanya dokter itu.
Aku melirik ke arah Sheryl yang masih diam tidak menjawab pertanyaan. Dengan segera, aku yang menanggapi perkataan dokter itu.
"Dok, apa benar dia tidak hamil?" tanyaku.
"Kamu pacar, Mbak Sheryl?"
"Saya calon suaminya," jawabku.
"Hari ini menstruasi hari pertamaku, Dok." Tiba-tiba saja Sheryl buka suara. Membuatku kaget mendengar pengakuannya. Kalau tahu dari tadi, aku tidak perlu mengajaknya ke dokter kandungan.
"Wah bagus dong. Hmm ... artinya sudah tidak ada keluhan, 'kan?" tanya dokter itu meyakinkan.
"Iya."
"Mas, jika belum mau mempunyai keturunan, sebaiknya memakai pengaman saat ingin berhubungan," kata dokter itu lagi.
Ish .... Dokter ini sungguh tidak sopan. Semua orang juga tahu harus memakai pengaman kalau tidak mau memiliki keturunan.
"Baik, Dok. Kami permisi. Terima kasih atas waktunya." Aku berdiri mengulurkan tanganku. Diikuti Sheryl yang juga ikut berdiri.
Dokter itu menyambut salam kami bergantian. Kami segera meninggalkan ruang konsultasi itu. Aku menoleh ke arah Sheryl, menatapnya tajam.
"Kamu kenapa tidak bilang kalau kamu sudah dapat mens hari ini?"
__ADS_1
"Baru jam empat tadi sore. Kamu pun tidak bertanya padaku. Aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku tidak hamil, tapi kamu tidak percaya!"
"Tentu saja tidak percaya jika tanpa bukti. Kamu saja tidak bilang periodemu padaku."
"Untuk apa?"
"Ya, agar aku tahu kapan kamu mens dan tidak. Sebentar lagi kamu jadi istriku."
"Tidak hari ini."
"Tapi kamu sudah jadi milikku. Ingat itu!" seruku sedikit ketus. Segera menarik tangannya dan masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan rumah sakit.
Wajahnya memerah menahan amarah. Dia sontak memalingkan wajahnya. Bahunya naik turun menarik dan membuang napas berkali-kali. Wanitaku juga menyilangkan kedua tangannya di dada.
Mobilku memasuki halaman rumah Sheryl. Wanita itu segera membuka pintu mobil dan berlari pergi masuk ke dalam rumahnya. Aku memukul setir, kesal.
Segera turun dari mobil dan melangkah masuk teras. Baru saja akan menekan bel, Tante Rini sudah membukakan pintunya untukku.
"Rey, kok di luar? Masuklah." Tante Rini tersenyum.
Aku masuk ke dalam ruang tamu. Mendudukkan diriku di atas sofa berhadapan dengan Tante Rini. Aku melihat kanan dan kiri, ingin memastikan Om Agung dan Reza sudah pulang ke rumah.
"Ada apa? Kamu cari siapa?" tanya Tante Rini.
"Om Agung dan Reza di mana ya, Tante?"
"Sedang mandi. Reza di kamar. Mereka belum lama pulang. Ada apa?"
"Aku ingin berbicara sesuatu. Mengenai pernikahanku dan Sheryl. Aku ingin menikahinya dua minggu lagi, tapi acaranya di sini saja. Cukup menggelar pesta kebun kecil-kecilan. Khusus mengundang keluarga dan teman. Bagaimana, Tante?"
"Kalau Tante dan Om sih terserah kamu dan Sheryl saja maunya bagaimana. Apalagi setelah pemberitaan itu, lebih baik jangan terlalu mengekspos pernikahan kalian."
"Iya, Tante."
Tidak lama Om Agung datang dan ikut bergabung. Tante Rini menceritakan rencanaku. Om Agung terlihat menganggukkan kepalanya.
"Rey, Om setuju saja. Yang paling penting kalian segera menikah," ujar Om Agung.
"Iya, Om," sahutku.
Kami bertiga lalu mengobrol banyak hal hingga waktu tidak terasa berlalu begitu cepat. Arlojiku menunjukkan pukul setengah delapan malam saat tiba-tiba saja Tante Rini mengajakku ikut makan malam bersama keluarga mereka.
"Ayo makan malam dulu, Rey," ajaknya.
Aku mengangguk dan bangkit berdiri masuk ke dalam ruang makan bersama mereka. Sheryl dan Reza sudah duduk di sana menunggu kami.
__ADS_1
Suasana hangat dari keluarga Sheryl sangat terasa, kecuali Reza yang menatap penuh rasa tidak suka padaku. Tentu saja, dia akan selalu berada di pihak Baruna, sahabatnya. Sheryl .... Wajahnya masih sama, sendu tidak bergairah. Membuatku sedikit frustasi menghadapinya sampai dengan malam ini.