
Sheryl Pov
Apa maksud perkataan Papa? Apa mereka semua berkumpul di sini untuk menginterogasiku?
Kedua tanganku mengepal kuat. Perkataan Papa benar-benar di luar perkiraan. Dia menuduh tanpa tahu kebenarannya.
Aku menatap mereka bergantian. Semua yang ada di ruangan terdiam menunggu tanggapan dariku.
"Rey bukan pria lain, Pa. Dan kalian semua tahu akan hal itu."
"Sekarang kau membelanya, huh?"
"Aku tidak membela. Aku mengatakan yang sebenarnya. Saat ini, dia adalah pria yang mengerti diriku, bukan Mas Bar," jawabku.
Ayah menyeringai miring. "Kau berani membandingkan dia dengan Baruna, sementara suamimu itu sedang dinas di luar?!" Papa makin menyudutkanku. Ia begitu marah kepadaku.
"Bukan begitu, Pa! A-aku ...." Pandanganku sontak menoleh kepada kedua mertuaku yang sejak tadi membisu.
Mengapa kalian hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun? Baruna yang salah, bukan aku!
"Papa melihatmu pergi dengan Reynand saat jam pulang kantor," ucap Papa kemudian terdiam sesaat, "jadi itu alasanmu tidak ingin ditemani ke rumah sakit? Kamu memilih pergi dengan Rey-"
"Cukup, Pa!" sergahku dengan nada suara meninggi. Ya. Aku membentak papaku sendiri.
Mungkin saja sebentar lagi aku akan menjadi anak durhaka sepenuhnya. Papa langsung mengatupkan bibirnya. Dadanya tampak kembang kempis berusaha mengatur napas yang menjadi kian tak beraturan akibat emosi. Aku balas menatap Papa dengan pandangan gemetar. Rasanya tak tahan lagi menumpahkan semua yang sebentar lagi meledak dalam dada.
"Mengapa kalian semua selalu ikut campur dan menuduh tanpa bukti yang jelas. Ayah dan Bunda juga ... apa kalian hanya bisa menutup mulut tanpa menjelaskan semua yang telah terjadi?" Pandanganku mengarah pada kedua mertuaku. Dan lagi-lagi tak ada kata-kata yang meluncur dari mulut mereka, padahal Bunda pernah mengatakan akan menjelaskan kondisi Baruna dan anak itu pada Papa dan Mamaku.
"Maksudmu apa, Sheryl?" tanya Mama yang langsung mengerutkan keningnya.
Aku tidak boleh emosi. Dengan segera menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya. Bukan hanya helaan napas yang keluar dari hidungku, air mataku pun ikut menggelinang.
"Mas Baruna akan berada dalam waktu yang lama di Tokyo. Bukan untuk perusahaan, melainkan untuk menemani anak kandungnya yang sedang sakit dan dalam masa pengobatan."
Aku mengatakan semuanya di depan mereka. Tak peduli lagi bagaimana Ayah dan Bunda memandang. Bukankah mereka memang berjanji untuk menyampaikannya sendiri?
"A-anak kandung?"
Bukan hanya Papa, Mama ikut terkejut. Keduanya sontak mengarahkan pandangan kepada kedua besannya.
"Benarkah itu, Anton?"
__ADS_1
Seperti kedua orang bisu, keduanya sama-sama terdiam. Aku sungguh tidak tahan berada di tempat itu.
"Aku sangat lelah! Biarkan aku istirahat," kataku yang langsung membalik badan pergi meninggalkan dua pasang orang tua yang sangat kekanakan itu.
***
Baruna Pov
Tokyo, pukul 23.00.
Aku menghela napas panjang. Ayah baru saja menelepon. Mengabariku kalau kedua orang tua Sheryl sudah tahu. Papa juga menyuruhku untuk segera pulang ke Indonesia. Bagaimana tidak?Papanya sangat marah dan ingin memaki, tapi ayah berhasil menahannya dan beralasan kalau aku akan segera pulang.
Pintu kamar terdengar diketuk. Aku membalik badan beringsut membukanya.
"Ada apa, Bar?" tanya Felicia dengan wajah penasaran.
"Aku harus pulang," kataku.
Felicia mengernyit bingung. "Hei, kau sudah berjanji untuk menemani Rafael di sini hingga pengobatannya selesai, bukan?"
"Ya, memang. Tapi aku harus segera pulang," sahutku kemudian berjalan menerobos wanita yang masih berdiri di ambang pintu itu.
"Kau tidak boleh pergi!" Felicia meninggikan suaranya.
Aku menarik kursi dan duduk di depannya. Bocah polos yang masih terlihat pucat itu langsung mendongak balas menatap.
"Apa pastanya enak?" tanyaku seraya menyunggingkan senyum manis.
"Enak, Ayah." Rafael mengangguk balas tersenyum.
Felicia yang mengikuti langkahku lalu ikut duduk di samping Rafael. "Ayah Bar akan pulang ke Jakarta, Rafa," ujar Felicia.
Rafael sontak menoleh ibu kandungnya. "Jadi kita akan ikut pulang juga?"
"Coba tanya Ayah Bar? Boleh tidak?" Felicia memutar bola matanya ke arahku.
Rafael ikut mengalihkan pandangannya. "Boleh tidak, Yah?"
"Pengobatanmu belum selesai, Rafael." Aku menjawab pertanyaan bocah itu seraya mengusap kepalanya yang masih jarang ditumbuhi rambut.
"Huft! Padahal aku kangen Papa." Rafael menundukkan kepalanya. Bocah itu terlihat kecewa.
__ADS_1
David memang lebih dulu pulang ke Jakarta dengan alasan memberiku kesempatan agar bisa lebih mendekatkan diri kepada Rafael. Aku sangat menghargai hal itu.
Waktuku selama di sini disibukkan oleh Rafael. Dan benar saja, perlahan kami mulai dekat. Aku sangat senang dengan Rafael yang menggemaskan, pintar, dan selalu memberikan kejutan-kejutan manis kepadaku yang baru merasakan bagaimana menjadi seorang ayah.
Tidak hanya Rafael, hubunganku dan Felicia membaik. Dia cukup bertanggungjawab merawatku dan anaknya setelah tindakan di rumah sakit. Walau terkesan masih mengejar, aku menganggapnya biasa saja. Sama sekali tak memberikan celah untuknya. Bagaimanapun, Sheryl menungguku di rumah.
"Rafa mau ikut?" Aku akhirnya menyerah karena tak tahan melihatnya bersedih.
"Iya, Yah."
Aku mengembuskan napas berat, lalu menoleh. Felicia hanya mengangkat bahunya seakan memberiku kebebasan untuk mengambil keputusan.
"Aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Rafael anakmu juga, Fely," kataku kepadanya.
"Ehm, bagaimana kalau kita kontrol dulu ke dokter dan menjelaskan situasinya. Mungkin dokter bisa memberikan solusi."
"Baiklah. Besok kita kontrol dulu baru memutuskan akan bagaimana." Aku mengangguk mengiyakan ucapan Felicia.
***
Reynand Pov
Keesokan harinya ....
Tak dapat dipungkiri, mood-ku pagi ini sangat baik. Sheryl tak lagi marah. Ia mulai terbuka kepadaku, mengatakan semua yang dipikirkannya. Ketakutan dan perasaannya dalam menghadapi masalah rumah tangganya membuatku makin yakin ingin melindunginya.
Aku tidak ingin menyesal lagi. Bagaimana hasil akhirnya, aku menyerahkan semua keputusan pada Sheryl. Tidak seperti Baruna, setidaknya aku bisa menjamin akan selalu berada di dekatnya saat ia membutuhkan seseorang yang dapat diajak bertukar pikiran.
Tiba-tiba aku mendengar suara bel pintu apartemen. Aku mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. Pukul tujuh. Ini masih sangat pagi.
Siapa yang bertamu pagi-pagi sekali? batinku bergegaslah keluar kamar.
Alangkah terkejutnya saat aku melihat siapa yang datang. Sheryl berdiri di depan pintu sambil menundukkan kepalanya.
"Sheryl, kenapa kau ada di sini?" tanyaku.
Tak ada jawaban dari mulut Sheryl. Perlahan, dia mengangkat kepalanya. Bukan wajah ceria yang terlihat. Sheryl malah memperlihatkan air matanya lagi di depanku. Air mukanya terlihat sangat sedih.
Hatiku selalu bergetar saat melihat ekspresinya yang seperti ini.
Ada apa lagi ini? Semalam dia sudah terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
Aku tak sanggup berkata-kata. Hanya sebuah pelukan yang dapat kulakukan. Kutarik tubuhnya mendekat, membiarkan dia menangis begitu bebas.