Marriage Order

Marriage Order
S3 Tanpa Dia


__ADS_3

Sheryl POV


"Sayang, jadi kamu tidak bisa ikut kami ke acara lamaran Kak Dita?" Aku begitu terkejut saat Baruna bilang ia tidak dapat ikut dan datang ke acara lamaran sahabatnya sendiri.


Dia tidak menjawab. Terlihat sibuk mempersiapkan kepergiannya yang berbarengan dengan tanggal lamaran Kak Reza. Dan aku diminta menginap saja di rumah kedua orang tuaku sehari sebelum mereka berangkat.


Pasti rasanya aneh jika ikut ke acara itu tanpa suami sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Baruna tidak bisa memundurkan keberangkatannya karena sudah terlanjur berjanji temu dengan kliennya di Jepang. Bukan hanya dia, ayah mertuaku juga ikut dengannya.


Aku melihatnya mendesah pelan seperti ada hal penting yang ia pikirkan. Walau aku tahu dia sangat ulet dengan pekerjaannya, tapi rasanya sungguh tidak rela jika ia memilih pekerjaan dibanding kepentingan keluarga.


Suamiku itu membalik badannya, menatapku dengan pandangan teduh. "Sabar ya, Sayang. Kami mungkin sekitar dua minggu berada di sana," jawabnya.


"Hah? Dua minggu itu lama, Sayang." Aku merengut tidak sependapat dengannya yang mengatakan akan pergi selama dua minggu.


"Maaf, ya? Mau bagaimana lagi. Kamu juga tahu kalau Ayah ikut, bukan? Kami akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat," jawabnya begitu meyakinkanku.


Aku mengembuskan napas berat, memalingkan wajahku darinya. Rasanya ini sangat menyebalkan.


"Oh, ayolah! Kamu jangan merajuk seperti ini, Sher. Aku tidak selamanya pergi darimu. Ini 'kan kepentingan perusahaan."


Aku melirik. Baruna mencondongkan wajahnya kepadaku. Sedetik kemudian ia menyunggingkan senyumnya yang sangat manis itu. Tak tahan. Aku pun membalas dengan cara yang sama.


"Janji?" kataku mengulurkan jari kelingkingku padanya, lalu dengan cepat ia menautkan kelingkingnya yang berukuran satu setengah lebih besar dariku.


"Janji," sahutnya dengan anggukan.


Baruna kemudian mencium dengan hangat dan memperdalamnya hingga memaksaku berbaring di tempat tidur. Di antara banyaknya pakaian yang hendak ia bawa, Baruna menelusuri sentuhan bibirnya lalu berhenti tepat di perutku.


"Papa hanya sebentar saja meninggalkan kalian. Tolong jaga Mama di sini, ya!" katanya pada perutku yang sedikit membuncit seakan berbicara pada anaknya yang bahkan belum ketahuan jenis kelaminnya apa.

__ADS_1


Aku terkekeh mendengar ia berbicara sendiri seperti orang gila. Namun aku pun ikut gila membalasnya dengan suara kecil dibuat-buat, "Iya, Papa. Tenang saja! Aku akan menjaga Mama dari apapun bahaya yang menghadang."


"Oke, Junior! Kalau begitu Papa akan mengandalkanmu." Baruna mengulurkan jempolnya dan menempelkannya tepat pada perutku.


Di saat-saat seperti ini rasanya aku ingin waktu berhenti membiarkan kami selalu berada dalam suasana yang romantis. Namun sepertinya tidak akan semudah itu. Selalu saja ada masalah di antara aku, Baruna, dan Reynand akhir-akhir ini.


***


Waktu berjalan dengan sangat cepat. Aku terbangun dari tidurku. Bukan di rumah kediaman keluarga Asyraf, tapi rumahku. Ya! Hari ini adalah hari H-nya. Hari lamaran Kak Reza dan Kak Dita. Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Sedikit malas, aku segera beranjak dari tempat tidur. Mama sudah berdiri di depanku dengan pakaian dan riasan yang sudah sangat rapi. Kedua bola matanya membulat terkejut saat melihatku.


"Astaga! Sheryl! Kamu baru bangun?!" katanya seraya melirik arloji berlapis emas yang dikenakannya.


Aku mendesah pelan. "Ya, Ma," jawabku seadanya.


"Sudah siang begini .... Cepat siap-siap!" sahutnya dengan kedua tangannya yang terulur membalik tubuhku dan aku hanya bisa mengangguk tak bersemangat.


Kedua tangan Mama terus mendorong hingga depan pintu kamar mandi. "Jangan lama-lama atau kita akan terlambat! Kamu tidak ingin mengecewakan Kakakmu, 'kan?!"


Aku berbalik, mengangkat sedikit kedua sudut bibirku di hadapannya. Ibu kandungku ini terdengar lebih cerewet dari biasanya. Bagaimana tidak? Satu lagi anaknya akan menjadi milik orang lain. Pasti rasanya nano-nano menjalani proses lamaran Kak Reza. Sedetik kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


"Gugup ya, Ma?" tanyaku berbisik di telinganya.


Anggukan kecil terasa pada bahuku. Pelukan itu pun terurai. Menatap kembali wajah wanita yang terlihat sedikit menua pada manik mataku.


"Masih ada aku," kataku menghibur lalu mengusap perutku, "dan dia."


Mama terlihat mendesah pelan, lalu dengan senyumnya membalas, "Kamu milik suamimu sekarang. Mama dan Papa sudah melepas anak kami. Begitupun anak kalian nantinya. Setelah lahir, dia adalah milik kalian, bukan Mama atau Papa."

__ADS_1


"Tapi dia calon cucu Mama dan Papa," timpalku masih berusaha menghiburnya.


Kedua kelopak mata itu mengedip membenarkan. Dia mengusap puncak kepalaku sembari tersenyum. "Jaga calon cucu Mama dan Papa baik-baik. Ibu hamil tidak boleh banyak merengut hanya karena suaminya tidak bisa ikut hari ini."


Aku hanya diam mendengarnya. Mama memang yang paling peka bagaimana perasaanku pagi ini. Tidak semangat sama sekali.


"Ya-ya-ya!" Anggukku beberapa kali lalu menarik setengah senyum dan masuk ke dalam kamar mandi.


***


Baruna Pov


Aku duduk memandang langit yang terlihat sangat cerah pagi ini. Bersama Ayah, kami akan pergi ke Tokyo selama dua minggu. Cukup lama, bukan? Tidak! Sebenarnya tidak dua minggu pas. Aku berbohong. Ya! Aku menjadi seorang pembohong handal gara-gara Felicia!


Ayah dan Bunda sudah tahu semuanya dan mereka sangat kecewa sekaligus merasa kasihan kepada Rafael. Namun, aku tidak membiarkan kedua orang tuaku mengatakannya pada Sheryl. Maka dari itu, aku berbohong. Urusan kami di Tokyo hanya satu minggu. Selebihnya, aku menemani Felicia dan Rafael berobat di negeri sakura itu.


Ayah .... Untungnya kondisi Ayah sangat stabil saat mendengar pengakuanku. Dia memang kecewa, tapi dia bilang dia akan bertambah kecewa jika aku tidak memiliki keberanian untuk menolong anak itu.


Kebetulan, Felicia memilih Jepang untuk mengobati penyakit Rafael. Jadi, aku memilih tanggalnya sesuai dengan selesainya urusan dinas kami.


Aku melirik pada Ayah. Kedua tangannya tampak mengepal erat. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Aku hanya diam tak berani bertanya. Namun, tiba-tiba ia balas menoleh dan berkata dengan nada suaranya yang tenang.


"Ayah harap, kamu benar-benar serius membantunya, Bar. Bukan hanya masalah materi. Ayah ingin kamu membantunya dengan hal lain."


Setelah mengatakan hal itu, napasku tertahan. Aku sama sekali tidak mengerti. Walau suaranya terdengar tenang, tapi kedua tangannya masih terlihat mengepal dengan kuat. Hal itu membuatku mengernyit.


"Maksud Ayah?"


"Kau bilang dia akan bercerai, 'kan?" Ekor mata Ayah tampak makin tajam menatap Seakan-akan ingin menusukku hidup-hidup.

__ADS_1


Perasaanku makin tidak enak. Aku hanya bisa menelan ludah setelahnya. Membiarkan tenggorokanku basah dengan saliva yang tak kunjung habisnya.


Apa maksud Ayah kali ini?


__ADS_2