
Malam itu aku dan Kak Baruna sudah berada di acara reuni sekolahku. Aku menggandeng lengan Kak Baruna masuk ke dalam ballroom hotel Y. Suasana sudah ramai. Acara reuni seangkatan itu sukses mendatangkan semua alumni SMA swasta Berlian.
"Sheryl!" Terdengar suara seorang wanita memanggilku dari belakang.
Aku menoleh melihat wajah dan tubuhnya yang sudah banyak berubah. Tubuh wanita itu gemuk dengan pipi yang chubby. Dia berjalan cepat menghampiriku diikuti seorang pria yang menggendong bayi di belakangnya. Aku terdiam melihatnya bingung dan berpikir siapa wanita itu?
"Jangan kaget gitu dong. Begitu amat tatapan mata lo. Gue Tika, Sheryl." Untungnya wanita itu mengenalkan dirinya sendiri padaku.
"E-Eh maaf Tika, gue bener-bener lupa. Wajah lo dan body lo itu." Tidak sengaja aku menunjuk ke arahnya.
"Huuh kesel deh gue. Wajarlah body gue begini. Gue belom lama lahiran. Emangnya lo yang masih sama kayak gitar spanyol dari dulu," protesnya.
"Iya maaf ya Tik," ucapku.
"Iya enggak apa-apa. Itu yang di samping lo cowok lo yang baru itu?" tanya Tika melirikku tapi juga sambil tersenyum ke arah Kak Baruna.
"Oh iya kenalin dia Baruna calon suami gue, Tik." Kak Baruna mengulurkan tangannya dan berjabatan tangan dengan Tika.
"Tika." Tika memperkenalkan diri, "Dia Mario dan Cindy baby gue," tambah Tika memperkenalkan keluarga kecilnya.
"Sheryl."
"Baruna."
"Mario."
Kami saling berkenalan lalu masuk ke dalam ballroom itu berjalan beriringan. Tampak sebuah panggung megah yang berdiri di tengah. Seorang pria berkacamata membuka acara. Iya orang itu lagi, Satya. Hari ini di mana-mana ada dia. Aku menggelengkan kepalaku.
"Selamat malam semua. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir di acara reuni angkatan 2013. Perkenalkan nama saya Satya Julian Mahardika. Saya yang menggagaskan acara pertemuan malam ini dan kebetulan saya sendiri yang mensponsorinya." Satya membuka acara panjang lebar.
__ADS_1
"Tuh kan benar ada orang itu lagi," ujar Kak Baruna kepadaku.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan. Dia juga sedang sibuk sendiri," sahutku.
"Sher orang yang di panggung itu bukannya si gendut itu ya? Satya kan? Kok beda banget sama yang dulu? jadi cakep Sher." Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Tika seraya menepuk-nepuk bahuku terkejut.
"Iya, udah kagetnya biasa aja sih," sahutku malas.
"Gila ternyata dia yang sponsorin acara reuni ini," tambah Tika terkejut.
Aku dan Kak Baruna duduk memperhatikan Satya yang sedang berpidato dari depan panggung, mendengarkan dengan serius setiap kata-katanya. Punya rencana apa lagi dia dengan acara reuni ini?
Aku melihat sekeliling, terkesiap menangkap sosok sepasang manusia yang sudah sangat kukenal, Wildan dan Fandy. Mereka datang berdua duduk tidak jauh dari tempat dudukku.
"Kok bisa mereka berdua hadir di sini? Cocok sekali, yang satu berbisa dan yang satu beracun. Eh bisa sama racun kan sama ya? Ah maksudku mereka berdua sudah masuk dalam list daftar orang-orang yang tidak ingin kutemui."
Aku menutup sisi kiri wajahku dengan tas pouch kecilku berharap mereka tidak menoleh ke arah kanan mereka dan menyadari keberadaanku. Kak Baruna melihat gerak-gerikku heran.
"Eh .... Kamu serius?" Aku membelalakkan mataku menatap Kak Baruna.
"Ups .... Aku keceplosan, lupakan ya."
"Hei bagaimana bisa? Kamu sudah mengatakannya barusan. Mana bisa kulupakan begitu saja. Jadi kamu itu bener kerja atau tukang gosip sih?" tanyaku gemas mencubit pipinya.
"Yah berita seperti itu sih sebenarnya baru dua minggu yang lalu kudengar. Ada saja yang menyampaikan. Bahkan tembok di kantor pun bisa berbicara. Kamu masih cemburu?"
"Ya tidaklah. Tapi aku kesal saja selama ini mereka berbohong dan ada main di belakangku." Aku melipat tanganku di atas dada kesal.
"Sudah ikhlaskan saja. Namanya juga perjalanan hidup, ada pahit dan manis." Kak Baruna menasihati.
__ADS_1
"Tidak bisa! Aku harus menghampiri mereka meminta penjelasan." Aku bangkit berdiri bersiap melangkah tapi Kak Baruna menarik tanganku.
"Astaga Sheryl! Duduk! Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri," marahnya.
Aku terdiam menelan liurku sendiri lalu melipat tanganku lagi. Bibirku kumanyunkan tanda kesal sekali. Kemudian kami kembali mendengarkan kata-kata orang gila itu.
"Sebenarnya acara ini saya buat khusus untuk cinta pertama saya. Perempuan yang saya sukai dulu, bahkan bisa dibilang saya masih menyukainya sampai sekarang. Dia alumni SMA Berlian juga tapi sayangnya, dulu saya ditolak mentah-mentah karena tampang saya yang jelek. Percaya tidak percaya kalau kalian kenal saya pasti tahu siapa saya. Gendut, jerawatan di mana-mana, cupu, pendek, dan pakai kacamata tebal pula. Saya juga bukan anak orang yang kaya raya sekali. Siapa sih yang mau jadi kekasih saya? Yang ada dia memanfaatkan saya. Saya dikerjai, dihina, bahkan kadang permainan fisik saya rasakan. Dia melakukannya bersama dengan teman-temannya." Satya mencurahkan isi hatinya.
Suasana acara itu mulai gempar. Mereka saling bertanya-tanya siapa gerangan wanita itu. Tika menoleh ke arahku. Memberi isyarat telunjuknya di arahkan ke lehernya sendiri pertanda situasi kami tidak baik.
"Tapi kalau sekarang bagaimana? Penampilan memang modal utama setelah uang. Beberapa hari yang lalu saya menemuinya. Saya bisa membelinya berapa pun harga yang harus saya keluarkan. Toh saya sudah sukses. Banyak wanita mendekati saya. Saya pikir dia hanya malu-malu mengakui ingin bersama dengan saya. Dia juga pasti akan mencintai saya bukan?"
"Astaga! Sher, kita pulang saja. Orang itu sudah gila mengatakan hal-hal yang tidak penting. Itu kan sudah lama sekali. Gue kira dia jadi cakep sekalian tambah cakep hatinya tahunya kurang ajar." Tika mulai berdiri bersiap ingin pergi. Suaminya ikut berdiri dengan raut wajah kesal.
Aku menoleh ke arah Kak Baruna yang juga menampakkan air muka yang marah. Telapak tangannya dikepalnya geram. Dia lalu bangkit dan melangkah berjalan menuju panggung. Entah apa yang akan dia lakukan.
Kak Baruna melangkah naik ke atas panggung, tiba-tiba mendaratkan tinjunya tepat di pipi Satya. Mikrofon yang dipegang Satya terjatuh begitu pun dengan dirinya. Dia membelalakkan matanya terkejut melihat Kak Baruna berdiri di hadapannya dengan amarah yang amat sangat.
Kemarahan tidak dapat dibendung, terjadilah perkelahian di antara mereka. Suasana mulai rusuh. Ada saja orang yang memanfaatkan keadaan ini. Mereka malah merekamnya dengan ponsel pintarnya. Aku berlari menyusul ke atas panggung berusaha melerai keduanya. Aku memeluk Kak Baruna.
"Sudah sayang kita pergi saja!" seruku.
Kak Baruna tidak menghiraukan kata-kataku. Dia makin menantang Satya.
"Sini lo kalau masih berani! Segitu doang kekuatan lo?!"
Satya terkapar tidak berdaya di atas panggung. Dia terbatuk-batuk dan memegangi perutnya yang sakit. Darah keluar dari sudut bibirnya. Dia menatap kami kesal.
"Lihat pembalasan gue nanti," katanya lirih.
__ADS_1
"Gue gak takut!" sahut Kak Baruna dengan raut wajah yang masih menegang marah.
Satya kemudian dibantu berdiri oleh salah satu panitia yang memapahnya turun dari panggung meninggalkan kami berdua.