
Aku masih terduduk lemas di lantai meratapi nasibku yang seperti ini. Dari kejauhan, aku melihat sosok Bi Rindang berjalan mendekat. Dia membantuku berdiri, walau kakiku masih terasa lemas seperti tidak ada tenaga.
"Mbak Sheryl, ayo Bibi bantu jalan," katanya.
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Kami berjalan hingga di depan ruang kerja Om Anton.
"Sudah ya, Bibi tinggal dulu. Tadi Bibi sedang membuatkan kopi," pamitnya.
Aku mengangguk pelan. Bi Rindang bergegas meninggalkanku. Aku menekan handel pintu ragu, tapi segera memberanikan diri untuk masuk.
Suasana panas terjadi. Aku melihat Om Anton menarik kerah kemeja Pak Reynand. Dia bersiap memukul mantan bosku itu. Padahal di ruangan itu masih ada istrinya, kedua orang tuaku, dan Tante Aina. Hanya sosok Pak Irfan yang sudah tidak berada di sana. Mungkin dia sudah pergi meninggalkan rumah. Semua yang berada di ruangan itu bergeming. Tidak ada yang berani melerai dan menghentikan kemarahan Om Anton. Mereka hanya bisa menonton.
Aku yang melihat pemandangan itu segera berteriak, "Berhenti!"
Om Anton menoleh ke arahku. Dia melemaskan cengkeraman kerahnya. Wajahnya memerah. Garis rahangnya menegas menunjukkan kegeraman.
"Om, jika ingin memukul, jangan hanya memukul Pak Reynand. Pukul aku juga. Kami berdua bersalah. Beri kami pelajaran dengan pukulan sampai Om puas," ucapku seraya menatap matanya tanpa ragu. Saat ini kekerasan bukanlah sebuah solusi atas pelampiasan kemarahan.
Om Anton tidak menjawab. Namun, dia buru-buru melepas cengkeraman kerah itu.
"Kenapa dilepas? Beri kami pukulan! Bukankah Om memang lebih suka berbicara dengan kekerasan selama ini?!" tanyaku dengan nada tinggi.
"Sheryl, jangan ikut campur. Saya harus memberikan anak ini pelajaran!" seru Om Anton.
Aku melangkah mendekat. Berdiri di tengah-tengah mereka. Melindungi Pak Reynand dari amukan ayahnya sendiri.
"Jika memang seperti itu, pukul kami bersamaan. Bahkan jika perlu sampai mengembuskan napas terakhir! Agar kalian semua tahu, betapa menyesalnya kami dengan kejadian ini!"
"Sheryl!" Mama berteriak. Dia bangkit berdiri. Menarik tanganku dan memaksaku duduk di sofa.
Aku bersungut-sungut mengikuti perintahnya. Om Anton bergegas keluar ruangan itu. Pintu ruang kerja dibantingnya keras. Tante Meri bangkit berdiri menyusul suaminya berjalan keluar.
Pak Reynand terlihat tampak menghela napasnya berkali-kali. Mencoba menenangkan diri. Tante Aina ikut bangkit berdiri. Dia keluar ruangan meninggalkan anaknya. Seperti biasa dengan langkah pongah.
Pak Reynand menoleh ke arahku. Wajahnya tampak kacau. Segera menyusul sang Mama keluar. Aku terdiam mematung.
Menatap lurus ke depan dengan napas memburu menahan amarah.
Ayah seperti apa dia? Seenaknya ingin memukuli anaknya sendiri!
__ADS_1
"Sheryl, seharusnya kamu tidak perlu ikut campur urusan Om Anton. Bagaimanapun Reynand memang harus diberikan pelajaran."
Aku sontak menoleh ke arah Papa. Menatap dalam matanya, "Begitukah sikap Papa terhadap orang yang sudah membayarkan hutang Papa? Kekerasan bukan sebuah solusi. Hal itu malah memperparah suatu masalah."
"Sheryl, berpikirlah objektif. Mereka ayah dan anak."
"Aku sudah terlalu objektif hingga mengikuti semua keinginan Papa! Aku benci Papa!" Aku bangkit berdiri, lalu berlari meninggalkan mereka.
Kembali lagi .... Hidupku kembali lagi ke awal. Di mana aku harus mengikuti semua aturan yang mereka buat. Perasaanku, tidak ada yang memahaminya. Ataukah aku yang terlalu serakah? Tuhan, andai jalan hidupku harus seperti ini, berikanlah aku kedamaian hati yang tak terhingga. Menyingkap tiap mimpi dan harapan kembali kepada dirinya. Sang pemilik hati ini.
Aku terus berlari hingga keluar dari kediaman Asyraf. Tidak peduli seberapa jauh kaki ini melangkah. Terus berlari! Hanya itu yang aku inginkan saat ini.
Menemukan tempat yang bagus untuk mengakhiri hidup di sebuah jembatan dengan sungai yang mengalir deras di bawahnya. Aku mulai menaiki sisi pembatas jembatan. Melihat ke bawah aliran sungai yang deras. Menelan ludah sedikit ragu, tapi segera memejamkan mata dan bersiap menjatuhkan diriku.
Anehnya aku tidak merasakan dinginnya air dan basahnya pakaian. Semua masih kering diterpa angin malam yang dingin. Pinggangku terangkat dengan rasa pelukan yang hangat dari belakang.
"Hei! Jangan gila, Sheryl! Kamu bisa mati kalau jatuh ke sana!" Terdengar suara lantang seorang lelaki. Suaranya terdengar tidak asing di telinga.
Aku membuka mataku, menyadari siapa pemilik suara itu. Suara Pak Reynand. Tubuhku meronta-ronta meminta dilepaskan. Namun, dia bergeming memelukku erat.
"Lepaskan! Lepaskan saya, Pak Rey!"
Dia kemudian melepaskan tubuhku. Menurunkannya hingga berdiri di pinggir jembatan. Melihatku menunduk terisak kembali. Kedua tangannya kemudian terulur memelukku. Aku menangis di dalam pelukannya. Meraung-raung dalam keheningan malam.
Mataku terbuka, menyadari Tante Aina berdiri di depanku. Aku sontak menarik tubuh melepas diri dari pelukan anaknya. Wanita tua nan anggun itu melihatku dengan tatapan angkuh.
"Ayo kita pergi, Rey!" perintahnya.
Pak Reynand menatap dalam. Tanpa banyak bertanya, ia menarik tanganku untuk ikut berjalan masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan saya!"
"Kamu mau di sini dengan siapa? Di sini sepi! Nanti ada orang jahat yang bisa mengerjaimu!" serunya.
Dia mengeratkan genggaman tangannya. Membuka pintu depan mobil dan menyuruhku masuk ke dalam. Aku menurut dan tidak berani menatap kedua orang itu.
Pak Reynand menginjak pedal gasnya. Memacu mobil dengan kecepatan sedang. Tidak ada kata terlontar sepanjang perjalanan dari anak dan ibunya. Kami semua terdiam.
Drrt-drrt-drrt!
__ADS_1
Ponselku bergetar. Terdengar suara panggilan masuk. Kak Reza menelepon. Aku mengambil ponsel dari balik saku dan menjawab teleponnya.
"Halo, Kak."
"Kamu di mana?"
"Dalam perjalanan pulang."
"Dengan siapa?"
Aku belum sempat menjawab, ketika tiba-tiba Pak Reynand merebut ponselku dan berbicara dengan Kak Reza.
"Sheryl sama gue. Nanti gue antar sampai rumah dengan selamat."
Setelah itu, dia mengembalikan ponselku kembali. Aku kembali berbicara dengan Kak Reza, "Sebentar lagi aku pulang."
"Hati-hati, Dek."
Kak Reza mematikan teleponnya. Pak Reynand menoleh ke arahku sejenak kemudian kembali fokus menyetir. Dua puluh menit kemudian, mobil itu masuk ke halaman rumahku.
"Terima kasih sudah mengantar," ucapku sambil membuka pintu mobil.
"Demi calon istriku." Dia menjawab dengan sebuah senyuman.
Aku tidak menjawab. Kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan tatapan mata yang kosong. Tidak mempunyai gairah hidup.
"Sheryl!" Suara Pak Reynand terdengar memanggil.
Langkahku terhenti. Memejamkan mata sejenak dengan kegeraman hati.
Pria itu selalu menyebalkan.
Aku memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya. Dia sontak mencium keningku.
"Selamat malam. Selamat istirahat. Besok aku jemput pergi ke kantor," ujarnya.
Aku tidak menjawab. Segera berbalik arah melangkahkan kaki masuk ke depan teras. Pria itu melingkarkan tangannya di bahuku secara tiba-tiba. Aku terperanjat, mataku terbelalak, dan hanya bisa diam, pasrah. Dia bisa memiliki tubuhku. Namun, perasaanku tetaplah miliknya.
"Saya berjanji akan membahagiakanmu dengan segenap jiwa saya selamanya, Sheryl," bisiknya.
__ADS_1
Bisikan suaranya membuat bulu kudukku berdiri. Tindakannya selalu membuatku terkejut.
Aku tidak ingin menikah dengan Pak Reynand!