Marriage Order

Marriage Order
S3 Kami Kembali


__ADS_3

Hai-hai! Ada yang merindukanku? Oh, astaga! Sudah lama sekali kisah ini kutamatkan. Tiba-tiba ingin kuteruskan lagi dengan jalan cerita yang berbeda dari kisah Reynand di CEO yang terlupakan.


Untuk para reader yang menikmati kisah mereka, tinggalkanlah komen dan like sebagai apresiasi karya remahan ini. Kali ini, aku akan berusaha membuat sesuatu yang baru. Asal kalian sabar, ya!


 


"Kejar aku, Sayang!" teriakku.


Aku berlari-lari kecil di tepi pantai yang luas. Hamparan pasir putih pagi itu begitu menggoda. Baruna berlari mengejarku sambil terkekeh.


"Aku tidak akan mengurangi kekuatan untuk mengejarmu, Sayang!"


"Coba saja!" Aku balas terkekeh berlari menuju pantai lepas.


Ombak yang menggulung tenang membuat keceriaan kami bertambah. Aku berlari masuk ke dalam air laut dangkal. Tingginya hanya selututku yang bertubuh tidak terlalu tinggi ini.


Aku menoleh ke belakang. Baruna berlari dengan keceriaan yang sama. Tiba-tiba merengkuhku masuk ke dalam pelukannya dari belakang.


"Hei, kamu curang!" kataku seraya tergelak memegangi lengannya yang kekar.


"Curang apanya? Aku sudah bilang tidak akan mengurangi kelincahanku berlari." Baruna menyanggah perkataanku. Dia ikut tergelak.


Aku sangat bahagia. Ini saat yang sangat kunantikan bersamanya. Berbulan madu di negara lain, bermain di tepi pantai bersamanya. Cukup sederhana, bukan?


Aku dan Baruna baru empat hari menjadi pasangan suami istri. Sempat menginap dua malam di hotel milik keluarga Asyraf selama dua hari sebelum akhirnya kami pergi ke bandara untuk berbulan madu di Maldives.


Seperti hari ini, kami bermain di tepi pantai dengan air muka sangat bahagia. Baruna memelukku sangat erat dari belakang. Aku menurunkan tangannya dari pinggang kemudian memutar tubuh menghadap dirinya.


"Sayang, apa kamu bahagia?" tanya Baruna kepadaku.


"Mengapa selalu pertanyaan itu yang keluar dari mulutmu?" Aku mencebik berpura-pura tidak suka. Pria di depanku ini sungguh tidak kreatif. Pria lurus yang tidak punya celah.


"Ehm, lalu apa yang semestinya kutanyakan?" tanyanya seraya mengelus dagunya yang mulus. Suamiku ini tidak suka memelihara jenggot di dagunya.


"Entahlah. Apa saja boleh selain itu, karena kalau kamu menanyakan hal yang sama, aku akan menjawabnya dengan jawaban yang sama pula. Aku sangat bahagia bisa menjadi istrimu, Sayang," sahutku kepadanya.


Kesayanganku itu hanya menyengir seraya mengangkat tangannya. Seperti biasa, telapak tangannya menyentuh puncak kepalaku dan mengacak-acaknya.

__ADS_1


Rambutku yang tadinya rapi menjadi awut-awutan akibat tindakannya. Kali ini aku benar-benar mencebikkan mulutku.


"Kamu jelek kalau seperti itu!" katanya dengan bibir yang sengaja dimajukan. Priaku itu sangat menggemaskan.


"Jelek pun kamu mencintaiku." Aku tidak mau kalah membalasnya.


Jika sudah seperti itu, Baruna hanya terkekeh di hadapanku. Mengulurkan tangannya dan seketika menggenggam pergelangan tanganku. Kami saling melempar pandangan begitu mesra.


"Aku tidak pernah bisa membalasmu. Kamu kesayanganku, Sher," katanya sembari mengedipkan matanya.


"Kamu sedang menggombal atau bagaimana, sih?" Aku kembali tergelak. Tidak ingin menyambut lengannya yang kekar itu. Namun dengan sigap Baruna malah merangkulku hingga tubuh kami saling menempel.


"Aku lapar, Sher," katanya tiba-tiba seraya mengusap perutnya dan memandangku dengan pandangan memelas.


Aku melirik jam tanganku. Pukul tujuh pagi. Ehm, sejak pagi-pagi sekali kami memang berjalan-jalan di sepanjang pesisir pantai. Menghabiskan waktu berduaan seakan dunia memang hanya milik kami berdua saja.


"Ayo kita kembali ke hotel. Aku tahu bagaimana cacing di perutmu tidak bisa bernapas jika tidak diberi asupan." Aku mengatakannya dengan setengah senyuman.


"Ya, apapun itu. Kamu sangat mengenalku."


Begitulah suasana pagi ini. Kami kembali ke hotel bintang lima yang kami sewa. Ups, mengapa aku harus menyebut bintang limanya? Ehm, maaf sekali …. Aku terlalu senang. Liburan mewah ala pengantin baru di sini, tempat impian kami.


Baruna melihatku dengan pandangan mengernyit. Udang krispi yang baru saja ia masukkan ke dalam mulut, tiba-tiba saja berubah arah. Suapannya mengarah ke mulutku.


Hap!


Jika kalian bertanya bagaimana rasanya, udang itu hanya udang biasa yang terasa renyah saat digigit. That's it!


Aku mengunyahnya dengan perlahan, sementara Baruna hanya bertopang dagu terus menatap wajahku. Entah mengapa, sepertinya aku merasa ada yang salah pada wajahku saat ini. Sekarang, giliran wajahku yang mengernyit di depannya.


"Ada apa, Sayang?" tanyaku penuh tanda tanya.


"Kamu cantik," katanya seraya tersenyum manis.


"Dari lahir," sahutku singkat sembari balas tersenyum kepadanya.


"Ya, aku mengakuinya. Jika tidak, Kakek Awan tidak akan pernah memaksa menjodohkan kita, walaupun dengan trik murahan seperti itu," sahut Baruna. Ia kembali menyuapi udang renyah itu ke dalam mulutku.

__ADS_1


"Murahan, ya?" Aku mendesah pelan. Priaku itu sontak membelalak, merasa tidak enak.


"Ma-maaf, Sayang. Bukan maksudku …." Baruna menahan perkataannya.


"Tidak apa. Tapi cukup membuat keluargaku sedikit kesulitan bertahun-tahun." Aku mengangkat sebelah alisku.


Baruna hanya terkekeh. "Tapi kenyataannya kita benar-benar menikah. Kamu hanya milikku seorang. Bahkan Rey sendiri tidak bisa merebutmu dariku, Sayang. Hatimu sudah terpaut dengan hatiku."


Gantian, aku mengambil udang itu, seketika menyuapinya dengan sedikit gemas. "Mengapa di saat seperti ini kamu masih membawa-bawa nama kakak tirimu itu. Kamu sedang menyindirku, huh?"


Reynand. Ah, dia lagi …. Mengapa dia harus menjadi kakak iparku? Sangat aneh rasanya, meskipun akhir-akhir ini sikapnya sudah lebih baik dan tidak macam-macam. Hei, mana berani pula ia merebut istri orang? Dulu mungkin aku sempat terjerat pesonanya. Tapi itu dulu …. Aku sadar kalau saat ini hanya suamiku yang terbaik.


"Jangan salah paham, Sayang. Aku tidak menyindir. Sumpah!" Baruna membentuk jari tangannya membentuk huruf V.


"Lalu apa?" Aku mengangkat kedua alisku.


"Tidak apa. Hanya kasihan saja kepadanya." Baruna menghela napas panjang.


"Doakan saja dia mendapatkan yang terbaik. Entah wanita itu adalah Kayla atau siapapun juga. Aku tidak mau ambil pusing. Jasanya memang besar karena sudah mengalah dan melepaskan egonya, tapi memang seharusnya begitu, 'kan?" Aku menekankan bagian diri Reynand yang seorang pengalah. Aku benar-benar menghormatinya sekarang.


"Dia tidak akan melakukannya jika kamu tidak menangis terus karena kehilanganku." Baruna tergelak kembali.


"Oh, ayolah …. Stop membicarakan dia. Jika tidak, aku akan pergi dari sini," ancamku sontak bangkit berdiri. Aku merasa sangat malu jika mengingat momen itu.


Baruna sontak ikut berdiri. Memandangku dengan pandangan membulat. Tangannya terulur mengusap pundakku, mencoba menenangkan.


"Duduklah kembali. Aku janji tidak akan mengungkitmu dengannya lagi," kata Baruna mengalah.


"Janji?" kataku dengan mulut mengerucut.


"Yes, Honey."


Baruna mengajukan jari kelingkingnya di depanku. Aku pun menyambut jarinya dengan sukacita. Tersenyum-senyum karena ia begitu memanjakanku dan berhasil menekan egonya yang terkadang meledak-ledak.


Setelah tautan jari kelingking kami terlepas, Baruna kembali duduk. Sementara aku masih berdiri menatapnya sejenak. Menahan rasa gatal yang tiba-tiba menyerang. Astaga! Mungkinkah alergiku kambuh?


"Aku ke toilet dulu," ucapku meminta izin. Aku tidak ingin terlihat menggaruk-garuk di depan Baruna, karena tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa sangat gatal tidak tertahan.

__ADS_1


"Ya, jangan lama-lama, Sayang. Makanan kita belum habis," sahut Baruna yang memperbolehkanku pergi dari hadapannya.


__ADS_2