Marriage Order

Marriage Order
S2 Aku Tidak Peduli


__ADS_3

Reynand PoV


Pukul 20.30


Aku mendesak tubuh Sheryl hingga menempel pada tembok. Dia meminta maaf padaku atas apa yang barusan ia lakukan pada Mama.


Tubuh itu bergeming dengan mata terpejam. Aku meraih tangan kirinya. Mencoba melepaskan sebuah cincin yang masih melingkar di jari manisnya. Cincin pertunangan wanitaku dengan Baruna. Dia belum melepaskannya sama sekali.


Matanya sontak terbuka dengan bola matanya yang melebar. Dia segera menarik tangannya. Namun, cincin itu sudah berhasil kulepaskan.


"Kembalikan!" teriaknya.


Aku terdiam, lalu mengangkat tanganku ke atas. Dia mencoba meraihnya. Namun, usahanya sia-sia. Cincin itu masih aman di dalam genggamanku.


"Kembalikan cincinku," pintanya, kemudian terisak.


"Aku akan menggantinya nanti. Aku akan menghapus jejak Baruna dari jari manismu," kataku sambil tersenyum.


"Jahat kamu, Rey ...." Sheryl menangis.


"Sheryl, aku membantumu melupakan Baruna. Bagaimana kamu bisa melupakannya jika cincin ini masih menempel di jarimu?" bisikku pelan.


"Kembalikan cincinku, Rey. Kenapa kamu begitu jahat? Aku sudah bersamamu beberapa hari dan mungkin akan bersamamu selamanya. Tapi jangan ambil cincin itu. Aku tidak rela." Dia terduduk lemas, menelungkupkan wajahnya di atas lutut. Masih dengan isak tangisnya.


Aku melipat kakiku duduk memandangnya. "Aku akan menyimpannya. Cuci mukamu! Kamu harus meminta maaf pada Mamaku. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang."


Dia mendongakkan wajahnya. Mulutnya mengerucut kesal. Namun, tetap melangkah ke arah wastafel di kamar mandiku. Tidak lama kemudian kembali dengan wajah yang terlihat lebih segar.


Aku meraih tangannya, berjalan menuju kamar Mama. Wanita itu hanya diam tidak berbicara satu patah kata pun.


"Jangan diam saja, Sher," kataku.


Dia menoleh ke arahku kemudian melengos tidak peduli. Membuatku makin kesal kepadanya.


Aku menekan handel pintu kamar Mama. Mendapatinya yang sedang merebahkan diri. Dia menoleh menatap kami kemudian duduk di tepi ranjang.


Mama mengangkat sebelah alisnya melihat Sheryl yang masuk bersamaku. Wajahnya kembali menunjukkan keangkuhan.


"Ma, Sheryl ingin meminta maaf. Dia menyesal mengatakan hal seperti tadi padamu," kataku membuka pembicaraan, lalu berbisik padanya, "bicaralah!"


"Tante, aku minta maaf atas perkataanku tadi. Aku sungguh menyesal mengatakannya. A-aku akan mengabdi pada Reynand sebagai suamiku selamanya. Sesuai dengan harapan Tante," ucap Sheryl pada Mama.


"Benarkah? Kamu yakin?"

__ADS_1


Sheryl mengangguk. Mama mengayunkan tangan memanggilnya untuk mendekat. Sheryl melangkah pelan menghampiri Mama. Mama langsung memeluknya, lalu mencium kedua belah pipi wanitaku itu.


"Jangan pernah mengecewakannya," pesan Mama padanya yang juga terdengar olehku.


Aku melihatnya kembali mengangguk, tapi sebuah anggukan terpaksa. Yah, setidaknya dia sudah mendapatkan pencerahan seperti yang kumaksud.


"Ma, aku antar dia pulang dulu. Sudah malam. Tidak enak mengantarnya pulang terlalu larut." Aku menyela pembicaraan mereka.


Mama menoleh ke arahku, dia berkata, "Iya, cepat antarkan Sheryl pulang sebelum kamu dituduh menculiknya."


"Iya, Ma."


Aku menghampiri Mama. Kami pun pamit dan bergegas pergi meninggalkan dia di kamarnya. Sheryl hanya diam menunduk. Tangannya terus kugenggam sampai dengan masuk ke dalam mobil.


Tidak lama kemudian kami sudah berada di dalam mobil menyusuri jalan raya ibu kota. Sesekali aku meliriknya. Dia diam memandang lurus ke depan. Aku pun lelah tidak ingin berdebat lagi dengan wanitaku.


Setengah jam kemudian, kami sampai di kediaman Kusuma. Dia bergegas membuka pintu mobil, tapi aku mencegahnya. Menarik handel pintu itu kembali hingga menutup sempurna.


"Jangan halangi aku!"


Aku tersenyum. Mengambil sesuatu dari dalam tasku. Meraih telapak tangan kanan wanita itu agar terbuka ke atas, lalu mengembalikan cincin pertunangannya. Dia segera mengepalkan tangannya dengan erat.


"Terima kasih, Rey," katanya. Matanya kembali berkaca-kaca hendak menangis.


"Iya, Rey," sahut Sheryl sambil menyeka air matanya yang mulai berlinangan.


Aku memutar tubuhku mengecup keningnya sejenak, lalu berkata, "Aku mencintaimu."


Sheryl tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil dan pergi meninggalkanku. Buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan aku segera memutar setir mobil dan pergi begitu saja.


****


Sheryl PoV


Aku berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Tangisku pecah. Sedih, setiap hari merasa sedih berhadapan dengan pria itu. Berharap Kak Baruna menyelamatkanku darinya.


Aku membuka laci meja hiasku. Mengambil sebuah kotak perhiasan dan membuka isinya. Anting-anting berlian dan cincin pertama yang dia berikan saat dia mengajakku menikah pertama kali. Kini satu cincin lagi akan aku masukkan ke dalamnya. Cincin pertunangan kami.


Hilang sudah semua angan-anganku. Biarkan perhiasan itu mengendap dalam kotak yang entah kapan bisa aku pakai kembali. Reynand mengancamku akan membuang cincin itu bila aku masih mengenakannya.


Segera kututup kotak itu. Memasukkannya kembali ke dalam laci. Aku mengambil ponselku. Melihat nomor Kak Baruna yang sudah diblokir olehnya. Dia benar-benar menutup aksesku untuk berhubungan dengan mantan tunanganku.


Pria itu kenapa jadi jahat sekali. Selalu membuatku marah dan sedih bersamaan.

__ADS_1


Aku mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin dengan mandi segala rasa lelah, marah, dan sedih akan sedikit menghilang.


Setengah jam kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Sudah mengenakan piyama berwarna coklat. Segera membanting tubuhku di atas kasur.


Aku menghela napas panjang. Akhirnya hari ini aku terbebas dari pria itu. Satu-satunya waktu yang berharga meski hanya beberapa jam saja di malam hari.


Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku meraih ponselku. Nama Reynand tertera di layar.


Hah, dia lagi .... Kapan aku bisa bebas?


Aku menjawab panggilannya. Suara beratnya mulai terdengar.


"Sheryl."


"Apa lagi?" tanyaku.


"Besok lusa kita ke butik perhiasan. Aku akan mengganti cincinmu dengan cincin pemberianku."


"Nanti saja. Cincin pernikahan juga sama saja, 'kan?"


"Tidak. Aku akan membelikanmu dua. Satu untuk kamu pakai sekarang. Satu lagi untuk pernikahan kita."


"Terserah kau!"


"Tidak bisakah kamu lebih lembut padaku, Sher?"


"Mau selembut apa? Kamu lebih suka aku mengangguk-anggukkan kepalaku saja seperti boneka dashboard mobil?"


"Ha-ha-ha. Kamu bisa melucu juga ya, Sher. Tidak, jangan jadi boneka seperti itu. Jadi dirimu sendiri saja sudah membuatku berbunga-bunga. Walau kamu belum juga jinak seratus persen. Paling tidak, tadi kamu sudah mendapatkan pencerahan dari Mama."


"Aku hanya menghormati orang yang lebih tua dan aku mengakui kalau aku sudah salah padanya. Bagaimanapun, dia nanti jadi ibu mertuaku."


"Bagus jika kamu sadar. Rencana pernikahan akan terus berjalan tanpa ada hambatan kalau begitu."


"Terserah kau saja. Aku sangat lelah hari ini. Kamu selalu menguras energiku setiap hari."


"Kalau kamu selalu menurut padaku, aku rasa energimu tidak akan habis." Reynand terkekeh.


"Aku mau tidur, Rey. Terserah kamu saja."


"Ya, sudah. Selamat istirahat, Sher."


Reynand mengakhiri panggilannya. Aku menaruh ponselku di atas nakas dan segera memejamkan mata tertidur.

__ADS_1


__ADS_2