
Aku berada di sebuah ruangan kosong, gelap, dan sepi. Suasananya begitu hening membuat bulu kudukku berdiri. Tidak ada orang lain di sana. Bahkan sekencang apa pun aku berteriak, tidak ada yang menanggapi. Apa yang sedang terjadi?
Ruangan itu tidak berdinding dan sangat luas sejauh mata memandang. Aku berlari ke sana ke mari mencari pertolongan, namun semuanya terasa hampa tidak berarti. Tiba-tiba kegelapan pada ruangan itu berganti menjadi terang benderang seketika.
Butuh adaptasi untuk melihat sekeliling ruangan yang tiba-tiba menjadi terang itu. Aku berusaha mengamati ada apa saja di ruangan itu. Tapi hanya kekosongan yang terpampang nyata di sana.
Tidak lama setelahnya, berdiri sosok Kak Baruna di hadapanku. Dia tersenyum manis memandang wajahku yang sedang panik mencari pertolongan.
"Sayang!" teriakku lalu berlari memeluk tubuhnya.
Kak Baruna membalas pelukanku. Dia bertanya dengan raut wajahnya yang teduh, "Sayang, andaikan perjodohan kita hanya sampai di sini, apakah kamu menyesal pernah mengenalku?"
"Sayang, kamu sedang mabuk? Pertanyaanmu aneh sekali."
Kak Baruna hanya tertawa lalu membalas, "Aku tidak mabuk. Aku hanya ingin menanyakan hal itu padamu."
"Aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu dan tidak mau berpisah denganmu. Sungguh, hanya kamu yang kucintai, sayang." Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Membenamkan wajahku ke dalam rengkuhan dadanya yang bidang.
"Benarkah? Apakah perkataanmu itu berasal dari hatimu yang paling dalam?"
"Tentu saja! Mengapa kamu meragukanku?"
"Syukurlah jika memang seperti itu. Aku bisa berbahagia sekarang. Kamu hanya milikku seorang."
Drrt-drrt-drrt!
Getaran sekaligus alunan musik dari ponsel membangunkanku dari mimpi yang terasa begitu nyata. Sebuah panggilan telepon masuk dari Kak Baruna.
Mengapa mata dan pipiku basah? Masa sih aku menangis di dalam mimpi?
Lama aku terdiam sampai aku sadar ada telepon masuk yang menunggu untuk dijawab. Segera, aku menggeser layar ponselku dan menjawabnya.
"Sayang, kamu sedang apa?"
"Aku baru bangun tidur." Aku melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Aku di rumah sakit. Kakek tiba-tiba pingsan di tengah pertemuan tadi."
"Rumah sakit mana, sayang?"
"Rumah Sakit SA. Kamu mau ke sini?"
"Tentu saja. Aku akan ke sana. Nanti aku ajak Kak Reza."
"Baiklah, aku tunggu."
Kak Baruna mematikan teleponnya. Aku melirik pergelangan tanganku. Benda indah itu masih melingkar di sana. Segera, aku mencopot dan menaruhnya di atas meja rias.
__ADS_1
Mimpi burukku ... pasti akibat gelang ini. Aku terlalu terbawa suasana.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Segera beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Satu jam kemudian, aku dan Kak Reza sudah tiba di rumah sakit. Kami berjalan menuju ruang ICU tempat kakek dirawat.
"Sayang!" Aku berjalan cepat menghampiri Kak Baruna yang sedang menunggu cemas di ruang tunggu ICU.
Kak Baruna bangkit dari tempat duduknya. Dia memelukku erat. Tampak kedua orang tuanya, Pak Reynand, dan Kak Daniel yang ikut duduk menunggu.
Aku tidak tahan menahan tangis. Selanjutnya, tangisku pun mulai pecah di pelukannya. Bukan hanya karena Kakek Awan yang masuk ICU, tapi juga karena mimpiku barusan.
"Hei ... hei ... kamu kenapa menangis? Kakek pasti akan baik-baik saja. Untungnya kami segera membawanya. Kalau tidak, aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi," jelasnya seraya membelai rambutku dan membuatku tenang.
"Aku tadi mimpi buruk. Hal itu juga yang membuatku sedih," ucapku pelan.
"Sudah tidak apa-apa. Mimpi hanyalah bunga tidur. Kamu tidak perlu mengingatnya. Ada aku di sini sekarang," Kak Baruna membelai punggung dan mengecup keningku.
Tidak lama setelahnya dia melepas pelukannya. Aku menyeka air mataku dengan sapu tangan yang kubawa. Tante Meri ikut memeluk tubuhku.
"Tante, yang sabar ya. Kakek pasti cepat sehat," ujarku menghibur.
"Iya Sher. Tante yakin dia kuat." Tante Meri mengangguk.
Aku mengerlingkan mataku melihat Om Anton yang tertunduk lesu di bangku, Tante Meri menggelengkan kepalanya. Aku tidak diperbolehkan mendekatinya. Mungkin Om Anton sangat terpukul atas kejadian yang menimpa ayahnya.
"Kak Daniel, bagaimana kabarnya? Sudah lama kita tidak bertemu," sapaku di hadapannya.
"Baik Sher. Maaf aku tidak bisa datang ke acara pertunanganmu tempo hari."
"Iya Kak, tidak apa-apa. Aku tahu Indira sedang tidak enak badan. Salam untuknya ya, Kak."
"Tentu saja."
Pandanganku beralih pada sosok pria terakhir yang duduk di sampingnya. Pak Reynand, kanebo lembab yang tiba-tiba berubah jadi kering lagi saat ini. Aku menghampirinya, mengulurkan tanganku, lalu dia menyambut salamku.
"Apa tidak ada pelukan untuk saya juga?" tanyanya pelan seraya tersenyum canggung.
Aku sontak menarik diri. Kak Daniel menoleh membelalakkan mata tidak percaya kalau kakak iparnya bisa mengatakan hal seperti itu padaku. Kak Baruna yang mengamati kami pun langsung berdiri meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia menatap dingin Pak Reynand.
"Rey, di saat seperti ini pun ternyata lo masih cari kesempatan," dengkusnya menahan kesal.
Pak Reynand hanya menunjukkan seringainya tidak peduli dengan kata-kata Kak Baruna. Kak Reza yang sedari tadi ikut mengamati, bangkit dari tempat duduknya dan ikut mendukung Kak Baruna.
"Rey, lo bener-bener enggak waras."
Om Anton tiba-tiba ikut masuk ke dalam perselisihan anak-anaknya. Dia bangkit berdiri menunjukkan amarah.
__ADS_1
"Jika kalian masih ingin bertengkar, keluar dari sini. Ini rumah sakit. Bukan ring tinju!" tegurnya.
Semua terdiam mendengar perkataannya. Om Anton tampak gusar. Pak Reynand hanya tersenyum santai menanggapi. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang marah terhadapnya.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar. Baruna, ajak Sheryl keluar," perintah Tante Meri.
Kak Baruna mengangguk mengiyakan. Dia menoleh ke arahku dan berkata, "Ayo sayang, kita keluar saja! Aku jadi tidak mood berada di sini," ajaknya masih melirik tajam saudara tirinya.
Dia lalu menarik tanganku dan mengajakku keluar dari ruangan itu. Aku terpaksa mengikutinya. Kami pun turun ke lobi.
"Kita mau ke mana?"
"Entahlah, aku hanya ingin keluar dari ruangan itu. Reynand benar-benar membuatku kesal tadi."
Aku terdiam, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Kak Baruna tahu apa yang sudah terjadi di antara kami di belakangnya. Tentunya dia benar-benar akan marah besar padaku.
Mengapa aku begitu takut? Aku tidak selingkuh, 'kan? Aku tidak melibatkan perasaan terhadapnya.
Kata hatiku terus membela diri. Hingga aku tidak sadar, tiba-tiba sebuah kecupan singkat mendarat di pipiku. Aku sontak menoleh ke arahnya.
"Hei, ini lobi rumah sakit. Kamu tidak malu?" Aku membulatkan mataku memandangnya terkejut.
"Tiba-tiba kamu terdiam dan membuatku takut. Kecupan itu benar-benar menyadarkanmu sekarang." Kak Baruna terkekeh.
Aku menghela napas lalu kembali bertanya, "Jadi, kita mau ke mana?"
"Aku sudah lama tidak mengajakmu jalan-jalan."
"Jalan-jalan? Kakek sedang sakit, sayang. Masa sih kita mau jalan-jalan," tolakku.
"Sebentar saja. Di dekat sini ada sebuah mall yang belum pernah kukunjungi."
"Baiklah, tapi janji jangan lama-lama." Aku memperingatinya.
"Tentu saja, my lovely queen," ujarnya tersenyum.
___________________
Mohon dukungan cinta readers untuk author.
Like, komen, love, dan rate bintang 5.
Thanks All
With Love
Viviani
__ADS_1