Marriage Order

Marriage Order
S3 Mencari Sheryl


__ADS_3

Reynand Pov


Aku tidak menyahut ucapan Kayla dan membiarkan ia tenggelam dalam perasaannya. Kalimat yang terucap dari bibirnya yang tipis menguap begitu saja tanpa jawaban. Kayla tidak melanjutkan lagi perkataannya hingga membuatku fokus menyetir dan tiba di rumah ayah dengan cepat.


Setibanya di sana, tak dapat kupungkiri kalau aku hanya ingin bertemu dengan Sheryl. Tak peduli ada Baruna atau tidak. Kalau perlu, kubongkar semuanya di depan dia. Kutunjukkan bagaimana Baruna sangat pintar menyembunyikan skandalnya dengan wanita bernama Felicia Andita Putri.


Pintu utama kediaman keluarga ayahku terbuka setelah aku menekan bel dua kali. Bukan Bik Rindang yang membukanya, melainkan Tante Meri. Wanita seumuran ibuku itu tersenyum menyambut kedatangan kami.


"Loh, Rey ... tumben pagi-pagi ke sini?" tanyanya, "ayo masuk!"


Aku dan Kayla membalas senyuman itu dengan cara yang sama. Seketika jantungku yang tadinya berdetak begitu menggebu, berangsur melemah. Tante Meri begitu tulus dan hangat, tapi aku dengan keberanian besar mencoba menghancurkan rumah tangga putranya.


Ah, aku hanya ingin menyampaikan sebuah kebenaran. Begitu ucapku dalam hati.


Kami pun melangkah ke dalam. Dengan cepat mengikuti perkataannya dan duduk di atas sebuah sofa mahal ruangan itu. Secepat itu pula pikiranku beralih mencari cara agar Tante Meri tidak berpikir macam-macam jika aku bertanya mengenai keberadaan Sheryl. Aku memulainya dengan bertanya di mana suami wanita yang kucintai itu.


"Baruna ada, Tante?"


"Baruna pergi dengan ayahmu. Apa dia tidak memberitahumu? Mereka pergi ke Jepang selama dua minggu," jawab Tante Meri.


"Oh. Aku tidak tahu. Baruna dan Ayah tidak memberitahuku sama sekali. Kalau Sheryl? Apa dia di rumah?" Aku melongok ke dalam, tidak patah arang, dan kembali bertanya kepadanya.


"Sheryl sedang menginap di rumah orang tuanya karena hari ini ada acara lamaran kakaknya."


"Reza?"


"Iya. Hari ini dia melamar kekasihnya."


"Oh." Aku mengangguk-angguk.


Tante Meri mengerling kepada Kayla. "Ehm, ada apa ya, Rey? Mengapa kalian berdua mencari mereka pagi hari ini?"


Aku menoleh ke samping. Kayla balas menoleh dengan bahasa tubuh yang rikuh. Otakku kembali berputar mencari alasan mengapa datang mencari pasangan suami istri itu pagi hari ini. Hingga akhirnya Kayla tiba-tiba menyahutnya dengan alasan yang masuk akal.


"Jalan-jalan, Tante. Cuaca sangat cerah. Kami sudah berjanji untuk dobel date bersama," katanya yang langsung membuatku menoleh lagi ke arahnya secepat kilat.


"Oohh …." Tante Meri mengangguk-angguk lalu tersenyum tipis, dia lalu berkata, "Tante tidak tahu, Rey. Keduanya juga tidak mengatakan apa-apa saat mereka pergi."


"Mungkin mereka lupa." Aku menjawab asal.

__ADS_1


Tante Meri tampak mendesah pelan. Dia menggulirkan senyum dan mengalihkan pembicaraan. "Kalian sudah makan?"


Aku melirik Kayla, memintanya menjawab pertanyaan yang sangat mudah itu. Bagiku sudah sangat jelas. Aku tidak bisa mengatakan tentang Felicia dan Baruna hari ini kepada Sheryl.


"Sudah, Tante." Kayla mengangguk dengan senyum ramahnya.


"Ah, sayang sekali. Padahal Bik Rindang memasak makanan enak."


Aku hanya menyengih saja dan keheningan pun terjadi. Aku menoleh pada Kayla. Sialnya Kayla menoleh dalam waktu yang bersamaan. Kami saling pandang untuk waktu yang cukup singkat, seolah ada ide yang sama terbesit di dalam benak kami.


"Kalau begitu kami pamit, Tante!" Aku dan Kayla berkata bersamaan. Sekali lagi, kami saling menatap.


Tante Meri mengekeh melihat kami. Dia lalu bangkit berdiri. "Tunggu sebentar!" ucapnya lalu berbalik dan pergi.


Tidak lama, Tante Meri datang membawa sebuah bungkusan dalam genggamannya. Dia memberikannya kepadaku.


"Bawa dan makanlah saat kalian lapar."


"Terima kasih, Tante." Aku tidak bisa menolaknya. Sejurus kemudian kami pun berbalik meninggalkan kediaman Asyraf.


Dalam perjalanan yang aku sendiri tidak tahu akan pergi ke mana, Kayla tiba-tiba saja berkata dengan air muka heran, "Aku tidak tahu alasan kau datang, Rey. Tingkahmu sangat mencurigakan. Untuk apa kau mencari Sheryl?"


"Jika kau tidak memiliki niat macam-macam, aku tidak perlu berakting dan membohongi Tante Meri dengan alasan seperti itu."


"Baruna berselingkuh." Aku berucap lirih, tapi tidak menoleh sedikitpun kepada Kayla. Pandanganku masih terus fokus pada jalan raya di depanku.


"Berselingkuh? Bagaimana mungkin? Dia sangat mencintai istrinya, Rey."


"Aku tidak tahu. Yang pasti aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengatakannya kepada Sheryl agar matanya terbuka," sahutku begitu mantap. Bagiku,


"Rey, kau tidak bermaksud memanfaatkan situasi ini, 'kan?"


Pertanyaan Kayla membuat situasi hening. Aku hanya diam dan tidak menjawab. Hanya ocehan dalam hati yang menanggapinya.


Entahlah! Aku juga tidak tahu.


***


Sheryl Pov

__ADS_1


Suasana bahagia sedang menyelimuti keluargaku. Lamaran Kak Reza diterima. Kami bersuka cita menyambut calon anggota keluarga Kusuma. Keduanya tampak bahagia memamerkan cincin pada jari manis mereka.


Aku menghampiri keduanya. Meledeknya dengan segala lelucon yang kupunya. "Semoga Kak Dita tidak sadar selamanya. Amiin," ucapku seperti orang yang berdoa kepada Sang Pencipta.


Kening Kak Reza sontak mengerut kebingungan. "Maksudmu apa, Sheryl?"


"Aku takut dia menyesal memilihmu jadi pendamping." Aku mengekeh seraya menutup mulutku dengan telapak tangan.


"Huuu! Dasar!"


Aku langsung menunduk, melindungi kepalaku dengan kedua tangan saat kepalan tangan Kak Reza sontak terulur hendak memukul pelan kepalaku. Tak bisa memukul, dia beralih mencubit kedua pipiku yang berubah tembam karena ***** makan yang akhir-akhir ini meningkat. Ya! Bayi ini lebih rakus dari yang kukira. Aku harus makan tiga kali lebih banyak dari yang kuperkirakan.


"Aww!" pekikku kesakitan.


Kak Reza mengekeh setelah berhasil mencubit kedua belah pipiku. Sementara, Kak Dita yang berada di sampingnya sontak tergelak melihat tingkah kami berdua. Beberapa saat kemudian, Kak Reza melipat kedua tangannya di dada. Mulutnya merengut, menunjukkannya kepadaku.


"Kau tahu, Sher? Aku sangat marah kepada Baruna. Di saat-saat seperti ini, mengapa ia tidak bisa datang dan malah memilih pekerjaannya?"


"Ah, sudahlah, Kak! Tidak usah dibahas. Jangankan Kakak, aku saja masih sebal. Chatnya pun tidak kubalas sejak pagi." Aku menyambut panas keluhan itu. Memang benar. Aku hanya membaca pesan itu dan tidak berniat membalasnya. Dia tidak mungkin menelepon karena sedang berada di pesawat.


"Bumil ternyata bisa marah juga. Kukira kau cinta mati kepadanya hingga tak bisa marah kepada suamimu sendiri," sahut Kakakku itu begitu meledek.


Aku tersenyum masam saja mendengarnya, lalu menyahut dengan nada sewot, "Aku juga manusia, Kak!"


Ucapan itu membuat pasangan tunangan itu tergelak menanggapinya. Aku menghembuskan napas berat.


Benar-benar tidak bersimpati, batinku, lalu menoleh ke arah Papa dan Mama yang tampak sedang mengobrol dengan kedua orang tua Kak Dita.


Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku meraihnya dan mendapati nama Reynand di sana. Teringat bagaimana ia memelukku di kantor saat itu. Saat itu, aku ingin sekali memukul kepalanya. Aku ingin ia sadar kalau ia tidak bisa mengharapkanku lagi.


"Kau ada di mana, Sher?" Pertanyaan pertama Reynand terdengar saat aku menjawab panggilannya.


"Apa lagi, Rey?"


"Aku ingin bertemu denganmu. Ini tentang berita itu. Tentang kita," jawabnya.


-------------------


Hai! Hai! Bosen gak sama cerita ini? Sama aku gmn? Maaf baru update. Lagi galau masalah nulis. Penyakit diri sendiri, sih. Lagi butuh support aja. Hihihi.

__ADS_1


Kalian kalau baca cerita lebih suka sudut pandang seperti ini atau sudut pandang orang ke 3?


__ADS_2