
Baruna Pov
Rafael menatapku dan Ayah takut-takut, tapi David terus mendorong langkahnya mendekat ke arah kami. Bocah itu mengulurkan tangannya. Telepak kecilnya membuatku terperangah. Sesaat kemudian menyambutnya dan ia dengan sopannya mencium punggung tangan orang tua di depannya.
"Om ...." Bocah itu menoleh ke belakang menatap Papanya. David langsung berkata lirih, menyuruh Rafael memanggilku dengan sebutan Ayah. Rafael mengalihkan pandangannya kembali. "Ayah," katanya.
Aku menelan ludah mendengar suara bocah itu. Tangan kecilnya terulur pada kami. Setelah bersalaman dengan kami, ia yang malu-malu langsung berlari menuju papanya lagi.
"Anak pintar!" David mengacungkan jempolnya untuk Rafael.
Aku melihat Rafael menatap sang Papa dengan air muka datar. Sepertinya ada yang ia pikirkan. "Aku mengerti Papa menyuruhku memanggil pria itu dengan sebutan kakek karena dia memiliki banyak rambut putih di kepalanya, tapi mengapa aku harus memanggilnya dengan sebutan Ayah untuk pria satunya? Papaku hanya satu. Papa David."
Terlihat sekali bila bocah kecil itu tidak suka memanggilku dengan sebutan ayah. Aku tidak menyangka kalau ia bisa protes kepada David. David lalu menatapku sesaat. Walau sangat gugup, aku tidak membuka mulutku. Jantungku berdetak kencang dan aku membiarkan degupnya mendentum dan menggangguku. Sesaat kemudian, menatap David kembali. Memperhatikan ia yang akan menjelaskan alasannya pada Rafael.
"Karena Baruna adalah teman Papa, jadi Rafa harus memanggilnya dengan sebutan Ayah. Tidak apa-apa, 'kan?"
"He-em. Baiklah, tidak masalah." Dengan cueknya Rafael mengangguk setuju lalu kembali sibuk dengan mainannya.
Cukup lama aku memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Mungkin nanti aku juga akan sepertinya. Namun jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku tidak ingin berinteraksi dengan Rafael. Aku ingin menjadi dekat dengan anakku bersanmna Sheryl.
Termangu cukup lama membuat pikiranku melayang. Teringat kembali saat David muncul di depan kamar hotel dan mengajakku berbicara. Kami datang ke sebuah bar dan bericara dari hati ke hati.
David menghela napasnya cukup panjang. Namun tak ada kelegaan hati dalam raut wajahnya. Aku rasa, ia pun berusaha mengaturnya sedemikian rupa. Siapa yang tak gugup bertemu dengan ayah kandung anaknya sendiri.
__ADS_1
"Dua tahun setelah Rafael lahir, Felicia akhirnya mengandung. Aku sangat bahagia karena sangat menantikannya. Namun karena sesuatu hal, ia tiba-tiba keguguran. Kesedihanku saat itu sangat berlarut-larut. Tidak hanya sedih, aku juga menyalahkan Tuhan. Rafael yang tidak tahu apa-apa lalu menjadi sasaran kemarahan dan kesedihanku. Tak jarang, aku memukulnya. Melampiaskan segala perasaanku kepada anak itu. Rafael menangis. Felicia juga tak kalah sedih. Ia ikut menangis. Fely memeluk Rafael begitu erat. Aku melihat sosok ibu yang sangat melindungi anaknya."
"Hah? Mengapa kau setega itu kepada Rafa?" Aku sangat terkejut dengan cerita yang ia lontarkan kepadaku.
David menyeringai sedikit, lalu mengangkat gelas wiskinya, mengajakku bersulang. Aku melakukannya dan meminumnya sedikit.
David berbicara kembali, "Aku juga tidak mengerti mengapa setega itu kepada Rafael. Tapi ia bukanlah anak yang cengeng. Rafael hanya menangis sebentar, lalu kembali ceria dan bermain seperti biasanya. Lama-kelamaan, melihat wajah polosnya membuatku tersadar. Ia tidak salah apa-apa. Untuk apa aku memarahinya dan terus memukuli anak itu hanya karena Felicia yang keguguran? Namun sekarang aku mengerti. Mungkin saat itu, jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku sudah menyadari kalau anak itu bukanlah anakku. Dan pada akhirnya kau pun sudah tahu akhir cerita ini. Aku mengetahui kebenarannya di saat rasa sayangku kepada Rafael melebihi apapun di dunia ini. Dan itu sangat sakit, Bar."
Aku hanya diam dan tidak bisa berkomentar. Menjadi David pasti sangat sakit dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Aku mengangkat gelasku lagi dan meminumnya.
"Aku tahu dari Felicia kalau kau ingin membantu secara finansial. Namun bukan itu yang kuinginkan, Bar. Uang bukanlah masalah bagiku," ucap David lagi. Tiba-tiba menatap mataku dengan tatapan matanya yang begitu serius.
"Lalu?"
"Adikku yang seorang dokter mengatakan kalau Rafael bisa saja sembuh jika ada seorang pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuknya. Aku dan Felicia sudah memeriksakan kondisi kami, tapi kami berdua tidak cocok. Satu-satunya harapan adalah dirimu. Apa kau bisa membantu kami?"
"Iya. Di dalam darahnya pasti mengalir darahmu. Kemungkinan besar kau bisa melakukannya."
"Aku tidak mau!" sergahku langsung turun dari kursi bar.
Aku menyoroti David dengan tatapan tajam. Sungguh! Aku sangat keberatan jika melakukannya. Aku tahu resikonya. Jika aku menjadi donor Rafael, bukan tidak mungkin hubunganku dan Felicia akan semakin dekat. Dia yang Licik bisa saja melakukan sesuatu yang dapat menghancurkan keluarga kecilku. Apalagi, aku mendengar dari mulut Felicia sendiri kalau David akan menceraikannya. Tidak! Aku tidak mau.
Mendengar penolakanku, David tidak berkata apa-apa. Ia hanya membalas dengan sorot kekecewaan. Beberapa saat ia terdiam, lalu akhirnya membuka mulut.
__ADS_1
"Baiklah. Aku mengerti jika kau menolaknya. Namun jika kau berubah pikiran, lekas hubungi aku. Aku akan menunggu dengan sabar."
Aku tidak menyahut perkataannya dan malah berbalik pergi meninggalkan pria itu di sana.
Beberapa hari pun berlalu hingga tiba hari ini, kami akhirnya bertemu kembali. David datang bersama Rafael ke kantor cabang Asyraf di Tokyo. Ia dan Rafael menemui kami dan saat ini sedang duduk di hadapanku dan Ayah. Setelah waktu berlalu, aku berubah pikiran. Aku akan menolong Rafael dengan mendonorkan sumsum tulang belakangku untuknya.
Setelah ini, kami akan pergi ke rumah sakit bersama. Bukan sekadar menemani Rafael untuk kontrol kesehatannya. Aku bersama ayah akan ikut memeriksakan diri kami. Ya. Ayah ternyata ingin memeriksakan dirinya juga. Meski sudah tua, ia terketuk hatinya untuk menolong Rafael.
.
.
.
Empat jam telah berlalu setelah pemeriksaan kesehatan kami. Saat ini kami semua memang sedang berada di rumah sakit. Aku, Ayah, dan David menunggu dengan harap-harap cemas di sebuah kafe. Seharusnya kami pulang saja dan melihat hasilnya besok, tapi David memaksa untuk tetap tinggal. Dia beralasan kalau Felicia sedang berada di jalan menuju rumah sakit ingin menemuiku.
Kami sedang berada di sebuah kafe di lobi rumah sakit. Aku menyeruput americano dingin di hadapanku sambil terus memandangi Rafael yang berbicara dengan Papanya.
"Papa, kapan Mama sampai?" tanyaya menatap polos wajah ayahnya.
David mengangkat lengannya, melirik arloji yang melingkar. "Sekitar lima menit lagi," katanya.
"Asik!" Rafael tersenyum senang mendengar jawaban sang ayah.
__ADS_1
"Rafa, Ayah Baruna dan Kakek Anton diajak ngomong, dong! Kau harus baik kepadanya karena ia mau menolongmu untuk sembuh." David mengalihkan pandangannya ke arah kami yang duduk di hadapannya. Rafael mengikuti gerakan bola mata sang ayah. Ia ikut menatap kami berdua, lalu mengangguk-angguk seolah mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk mengajak berbicara.
"Ayah Baruna punya anak tidak?" tanyanya begitu polos.