
Aku dan Reynand baru saja selesai membeli cincin untuk pernikahan kami. Kami segera meninggalkan butik perhiasan Tante Meri. Perasaanku jelas kacau kembali melihat Kak Baruna begitu akrab dengan Nayara. Mereka bergandengan tangan di hadapanku. Tidak lama kemudian, pergi entah ke mana.
Reynand seperti biasa ingin mencari perhatian. Memanas-manasi saudara tirinya sampai seperti itu. Dia membelikanku dua cincin yang sangat indah dan langsung meyematkannya di jari manisku.
"Indah sekali bukan cincin pilihanku, Sher?"
"Semua perhiasan di sana sangat indah. Bahkan pemiliknya yang lelaki. Barunaku tersayang. Pahatan Tuhan yang terindah."
Reynand terlihat menghela napasnya. Dia menatap kesal ke arahku yang sedang memancing amarah.
"Aku sedang malas berdebat, tapi kamu selalu memancing kemarahanku, Sheryl," sahutnya.
"Kamu memancingku lebih dulu dengan sengaja membeli cincin di butik itu," timpalku.
"Sheryl, aku sungguh tidak tahu tempat itu. Hanya suatu kebetulan bertemu dengan mereka berada di sana."
"Omong kosong. Aku tidak percaya."
"Terserah padamu, Sheryl!" tegasnya.
Aku tidak menanggapi perkataannya. Lelah rasanya mendebat pria itu. Mengakali hubungan ini agar tidak sampai pada hari H pernikahan. Dia benar-benar tidak melepasku.
Apa aku harus menyerah? Tidak adakah tempatku untuk bersembunyi? Atau bahu yang lebar untuk sekedar bersandar dengan damai. Aku sangat merindukannya. Kak Baruna, apa kamu sudah mulai berpaling dari perasaanmu padaku?
"Aku lapar. Kita makan dulu," kata Reynand sambil mempercepat langkahnya. Cengkeraman lengannya yang kekar memaksaku ikut berjalan cepat mengikuti langkahnya.
"Rey, kita pulang saja," ucapku pelan.
Langkah Reynand terhenti. Dia membalik tubuhnya melihatku bingung.
"Kamu belum makan dari pagi, Sher. Lihat tubuhmu makin mengurus. Matamu pun makin terlihat cekung. Nanti orang-orang akan mengira aku terus-terusan menganiaya kamu."
"Memang benar."
"Astaga!" Reynand menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah, kita pulang saja."
Aku dan Reynand berbalik arah menuju area parkir. Wajahnya terlihat kesal. Aku sama sekali tidak peduli padanya. Membiarkannya terus makan hati karena rasa kesal.
Hari ini hari Sabtu. Suasana jalan raya terlihat sedikit lengang. Reynand mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia mengemudi sambil terus diam sepanjang jalan.
Hei, harusnya aku yang mendiamkannya. Kenapa jadi dia yang mendiamkanku?
Kami hampir sampai ke rumahku, tapi tiba-tiba saja dia membelokkan mobilnya ke arah lain. Membuatku sangat kaget akan tingkahnya.
"Kita mau ke mana, Rey?" tanyaku.
"Apartemenku."
__ADS_1
"Mau apa?" Aku mulai ketakutan.
"Apa saja bisa. Sayang sekali jika melewatkan hari libur hanya untuk bermalas-malasan," katanya sambil tersenyum.
Aku menelan ludah mendengar jawabannya. Gantian aku yang terdiam tidak menjawab. Kelakuannya membuatku bertanya-tanya. Dia sangat menyebalkan. Semoga saja dia tidak melakukan apa-apa padaku.
Dua puluh menit kemudian kami sampai di bangunan setinggi lima belas lantai. Reynand memasuki area parkir dan memarkirkannya. Kami pun keluar dari mobil.
Reynand menggenggam tanganku berjalan menuju lift dan menekan tombol lantai delapan. Tidak lama, pintu lift terbuka. Kami keluar dan berjalan menuju unit apartemennya.
Tampak seorang wanita yang kami kenal sedang berdiri di depan pintu. Sosok Kayla seperti ingin bertamu, tapi terlihat ragu-ragu. Wanita itu menolehkan pandangannya ke arah kami.
"Rey!" panggilnya.
"Kayla?" Reynand mengangkat sebelah alisnya. Kami terus melangkahkan kaki mendekat ke arah Kayla.
"Iya. Hai, apa kabar Sheryl?" Kayla mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
Apa kabar? Gila .... Wanita ini menanyakan kabarku setelah apa yang dia lakukan. Salah satu orang yang membuat hubunganku dan Kak Baruna hancur.
Aku melengos tidak menjawabnya. Tangan itu pun tidak kusambut sama sekali. Dia segera menurunkan tangan. Raut wajahnya sedikit kecewa. Tidak lama, wajahnya mendongak, menatap Reynand dengan senyuman.
"Aku sebenarnya ingin bertemu denganmu, Rey," ucap Kayla.
Reynand tidak segera menjawab perkataan Kayla. Dia segera membuka kunci apartemennya.
Kayla mengangguk. Kami pun masuk ke dalam apartemen Reynand. Aku dan Kayla menduduki sofa panjang miliknya.
Reynand meninggalkan kami berdua. Dia beranjak ke ruangan lain. Aku yang merasa sangat tidak nyaman berada di dekat wanita itu segera menyusulnya.
"Rey, sebaiknya kamu menemani Kayla. Aku tidak nyaman berada di dekatnya. Lagi pula dia ingin bertemu denganmu, bukan denganku," pintaku.
"Baiklah." Reynand mengecup keningku dan pergi menuju ruang tamunya.
Haish .... Selalu mengecup seenaknya. Arrrggghhh!
Kini aku sendiri di dalam dapur apartemennya. Tiba-tiba sebuah ide gila mampir di benakku. Aku membuat dua cangkir kopi hitam dengan sejumput garam untuk kedua orang menyebalkan itu.
"Rasakan pembalasanku! Kalian pasangan yang sangat cocok. Cukup cocok untuk merasakan kopi asin buatanku ini!" geramku.
****
Reynand PoV
Aku menghampiri Kayla di ruang tamu. Wanita itu duduk bersandar di sofa sambil memainkan ponselnya. Mengangkat sebelah alis melihatnya.
Mau apa dia ke sini?
__ADS_1
Segera mendudukkan diri berhadapan dengannya. Kayla mengangkat wajahnya melihatku. Dia menyunggingkan sebuah seringai senyuman.
"Ada apa?" tanyaku dingin.
"Hanya penasaran dengan kabarmu dan Sheryl. Ternyata kalian benar-benar tidak tahu malu," dengkusnya.
"Jika kamu hanya ingin mengatakan hal yang tidak penting, tidak usah datang ke sini. Aku muak melihatmu."
"Hei, kita bisa menjalin pertemanan kembali, Rey. Apalagi aku baru saja mendapatkan undangan pernikahanmu dari Tante Aina," sahut Kayla.
Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Melihat dirinya dengan tatapan mata yang sinis.
Mengapa Mama mengundang dia ke acara pernikahanku?
"Aku tidak berminat menjadi siapa-siapamu sekarang!" ketusku.
"Tante Aina saja tidak dendam padaku. Mengapa anaknya begitu pendendam?" Kayla membalas sinis.
Aku tidak menimpali perkataannya. Segera memalingkan wajahku. Tiba-tiba Sheryl datang membawa sebuah nampan di tangannya. Dia menaruh dua cangkir kopi di hadapan kami, lalu hendak kembali ke dalam.
"Sheryl," panggilku.
Dia menoleh ke arahku sambil mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?"
Aku meraih tangannya, menyuruh duduk bergabung bersama kami. Namun, dia menolak, "Aku ingin ke minimarket sebentar di bawah. Kamu tidak mempunyai cemilan sama sekali di dapur."
"Cemilan?"
"Iya. Di dapurmu hanya ada kopi. Tidak ada makanan sebagai cemilan," sahutnya.
Aku belum menjawab, tapi Sheryl sudah bangkit berdiri membalikkan tubuhnya meninggalkan kami keluar dari apartemen.
Haish .... Dia memang suka seenaknya padaku!
Aku menoleh ke arah Kayla yang mematung dengan air muka datar. Dia tidak berkata apa-apa lagi.
"Apakah masih ada sesuatu yang ingin kamu katakan, Kay?" tanyaku.
"Tidak. Semoga pernikahan kalian lancar. Aku pasti akan datang." katanya sambil mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan. Tiba-tiba bola matanya melebar dan memuntahkan kopinya kembali ke piring alas cangkir sambil membuka lebar mulutnya, lidah wanita itu sedikit menjulur. "Gila .... Sheryl memang sangat membenciku. Kopiku asin, Rey!"
Aku mengernyitkan kening. Mencoba meminum kopiku. Rasanya sama seperti yang Kayla katakan. Asin!
Sial! Dia sedang memancing emosiku sekarang!
Lima menit kemudian sebuah notifikasi pesan masuk di ponselku. Pesan dari Sheryl.
Maaf Rey, aku pulang lebih dulu. Sepertinya aku tidak enak badan setelah setengah hari ini terus bersamamu. Maafkan aku, tapi kopi asin itu memang cocok untuk kalian berdua. Sama-sama berengsek!
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepala melihat pesan itu. Dia benar-benar membuatku geram hari ini.