
Baruna POV
Aku masih duduk di sebuah kursi bersama Reza, tidak jauh dari posisi meja Reynand dan Ayah. Kami mengobrol cukup lama, menghilangkan rasa rindu sebagai seorang sahabat, atau mungkin malah lebih tepat jika disebut bersama seorang kakak ipar? Ya, Reza adalah sahabat sekaligus kakak iparku.
Sesekali aku melemparkan pandangan ke arah kakak dan ayah. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang begitu serius.
"Bar, bagaimana bulan madu kalian?" tanya Reza yang langsung memecah perhatianku hingga beralih dari Ayah dan Reynand.
Bagai tersengat binatang liar, dengan cepat mengalihkan perhatianku kepada Reza. "Apa?"
"Bulan madu lo, Bar. Bagaimana?" Air muka Reza begitu penasaran menatapku.
Aku terkekeh mendengarnya. Mendelikkan mataku begitu serius, padahal berniat menggoda. "Lo mau tahu bulan madu gue atau belajar membuat adik bayi?"
Mendengar jawabanku, Reza seketika melongo, lalu menepuk dahinya. "Oh, astaga! Membuat adik bayi? Yang benar saja? Setiap orang memiliki kemampuan seperti itu. Lo gak perlu menceritakan hal yang membuat gue muak!"
Aku tergelak mendengar tanggapan sahabatku itu. Sementara, Reza memajukan sepasang bibirnya tanda merajuk. Wajahnya pun seketika memerah.
"Bulan madu gue simpel, Za. Gue bahagia asalkan bersama Sheryl di mana pun itu."
"Cie! Lo kok jadi so sweet gitu, sih, Bar? Adik gue yang ajarin, ya?" Reza menggodaku. Dengan sekejap menghilangkan raut muka merajuknya.
"Dari dulu gue begini, Za. Masa lo gak tahu? Lo sendiri, kapan nikah? Kasian Dita digantung gitu."
"Nantilah kalau udah waktunya," sahut sahabatku itu.
Aku manggut-manggut mengerti. Mengedarkan pandangan ke sekitar taman. Tiba-tiba terhenti pada satu titik yang membuatku sontak tertegun melihat Reynand yang sedang berjalan, tanpa sengaja menabrak Sheryl.
Seketika aku bangkit berdiri. Entah apa yang dipikirkannya. Mengapa ia sangat bodoh hingga menabrak istriku saat sedang berjalan? Ke arah mana matanya melihat?
"Gue ke sana sebentar!" kataku kepada Reza.
"Jangan bertengkar!" Reza memperingatiku seakan tahu yang akan terjadi beberapa menit lagi.
"Enggak, Za!" Aku segera berjalan ke arah mereka.
Haish! Aku benar-benar takut kejadian dulu terulang lagi. Walau aku bilang semuanya sudah berubah, tapi tetap saja hatiku terasa was-was. Bagaimanapun, kedua orang itu sudah pernah dekat.
Kau adalah pemenangnya, Bar. Tenang saja! Tidak perlu khawatir. Sheryl hanya mencintaimu.
Kalimat itu yang selalu menjadi penghibur kala aku meragukan ketulusan cinta istriku sendiri. Kami selalu bahagia dan berharap selamanya akan bahagia hingga maut memisahkan.
__ADS_1
Saat Reynand melepaskan tangannya dari punggung istriku, tidak banyak percakapan yang mereka lakukan. Dia buru-buru masuk ke dalam rumah. Aku langsung mempercepat langkah menghampiri Sheryl.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanyaku begitu cemas.
"Tidak apa." Sheryl menggelengkan kepalanya, terlihat sedikit salah tingkah karena tatapan mataku yang terlihat sangat cemas. "Aku tidak melakukan apapun seperti yang kamu khawatirkan," tambahnya.
"Maksudmu?"
"Maaf. Aku benar-benar takut kamu berpikiran macam-macam hanya karena kami bertabrakan," jawabnya.
"Tidak. Mengapa kamu sangat takut aku berpikiran aneh-aneh kepadamu dan Rey?"
"Ya, tentu saja aku takut. Walau kamu sudah meyakinkanku berkali-kali mengenai dirinya yang sudah berubah, tapi aku tetap mencemaskan hatimu. Tolong jangan salah paham," timpalnya dengan tatapan yang begitu khawatir.
Aku langsung merengkuhnya masuk ke dalam pelukan. Mencium puncak kepalanya berulang kali. "Tidak, Sayang. Kamu hanya milikku," kataku menghibur. Mengenyahkan segala pikiran buruk yang kadang menghantui. Aku benar-benar tidak ingin pernikahan ini hancur karena kecemburuan semata.
Tidak lama mengurai pelukan dari tubuh Sheryl, aku menatap matanya yang indah. Segera menanyakan ke mana Rey pergi.
"Aku tidak tahu. Tapi kalau dilihat dari gelagatnya, dia sepertinya pergi ke toilet, Sayang."
"Baiklah, akan kususul dia ke dalam. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Kami seperti saudara yang sedang bermain kucing-kucingan." Aku mengulum senyum manis, sedangkan Sheryl langsung mempersilakan aku pergi dari hadapannya.
Aku menunggu cukup lama di depan pintu toilet. Pria penggoda itu tidak juga keluar dari dalam. Entah apa yang dilakukannya. Apa dia sedang bersolek di dalam?
Aku lantas terkekeh. Merasakan memiliki kakak tiri yang sebenar-benarnya saat sudah dewasa seperti ini memang sangat aneh. Sebenarnya aku merasa canggung berhadapan dengannya. Namun dengan cepat berusaha untuk menghilangkan perasaan seperti itu.
Pintu itu terbuka. Reynand terlihat di sana. Menatapku dengan heran.
"Loh, Bar? Ada apa?"
Aku menoleh menatapnya seraya menyunggingkan sebuah senyuman hangat. "Haish! Kenapa lo jadi sombong banget, sih?" Tanpa ragu, aku mendekat lalu memeluknya dengan erat.
"Ba-Bar ...," katanya tergagap. Ia amat rikuh mendapat pelukan dariku. Tapi sungguh ... aku sangat tulus.
Aku segera mengurai pelukan. Seketika menatap hangat kepadanya. "Tadi gue panggil dan lo cuek banget. Malah pergi begitu aja sama Ayah. Kalian ngomongin apa sebenarnya? Serius banget. Jangan-jangan ngomongin calon buat lo ya, Rey?" godaku kepadanya karena benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan.
"Calon?" Reynand mengernyit.
"Hu-um. Pasti ngomongin calon istri untuk lo, 'kan? Ngaku, deh!"
Aku menyengih di depannya. Menggodanya dengan rasa bahagia. Jika memang tebakanku benar, semoga saja calonnya benar-benar sesuai dengan Reynand.
__ADS_1
"Enggak ada. Ayah hanya bercerita tentang Berlin Corporation yang ingin membeli saham Asyraf," jawabnya serius.
"Oh," sahutku sedikit kecewa. Padahal sangat berharap ia segera menikah dan menghilangkan segala keresahan hati ini.
"Ya, Bar. Lagipula, gue belum niat menikah," jawabnya singkat.
"Kayla .... Lo gak ajak ke sini?" tanyaku langsung mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa jadi bahas dia?" Pria itu terlihat tidak suka aku membicarakannya.
"Biasanya kalian bareng terus."
"Dia syuting di luar kota," jawab Reynand singkat. Pria itu kemudian terdiam sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. "Kami berdua tidak pernah ada hubungan seperti itu, Bar. Tolong berhenti mengaitkan kebersamaan gue dan Kayla dengan hubungan yang memiliki komitmen antara cowok dan cewek."
"Aneh sekali. Lo gak ada hubungan, tapi lo tahu selalu tahu di mana dia saat ini," tanggapku tidak mau kalah. Memang rasanya aneh melihat mereka. Selalu bersama tapi tidak memiliki komitmen.
"Kayla selalu laporan ke gue mengenai sedang apa dan di mana dia berada. Sudah, ya!" jawab Reynand, kemudian buru-buru pergi dari hadapanku.
Aku hanya menyengih seraya menggelengkan kepala mendengar jawaban Reynand. Tubuhku mematung sementara hingga tiba-tiba saja terdengar suara Bunda yang memanggil. Aku sontak menoleh ke belakang.
"Baruna!"
"Ya, Bun. Ada apa?" tanyaku segera membalik badan.
"Pestanya akan dimulai. Mengapa kamu masih di sini? Cepat ke tempat acara!" perintahnya.
Aku mengangguk tersenyum, segera menggandeng lengan Bunda, mengajaknya pergi bersama. Kepalaku lantas bersandar di bahunya. Bunda yang menghadapai tindakanku sontak terkejut, kemudian ikut tersenyum.
"Walau sudah menikah, kamu tidak juga berubah. Tetap anakku yang manja," katanya.
"Tentu saja," jawabku singkat.
"Malu dengan istrimu!" Bunda menepuk punggungku.
Aku tergelak, lalu menegakkan kepala. Menatapnya dengan air muka hangat. "Bunda tetap cinta pertamaku."
.
.
.
__ADS_1
Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih