Marriage Order

Marriage Order
Pertemuan Selanjutnya


__ADS_3

Aku duduk di sebuah sofa di ruang lobi kantor, di mana suasananya sudah terlihat sepi. Para karyawan sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Seorang pria masuk ke dalam lobi memandangku tersenyum semringah. Dia Fandy.


"Maaf aku lama ya?" tanya Fandy menghampiriku.


"Lumayan sih."


Mata Fandy lalu tertuju pada buket bunga mawar yang ada di tanganku. Dia menatap bingung mengapa aku membawa sebuket bunga pulang kantor.


"Bunga mawar dari mana?"


"Loh bukannya ini dari kamu?"


"Tidak. Aku tidak memberikanmu apa-apa."


Kemudian aku menunjukkan sebuah kartu ucapan yang berasal dari bunga itu. Fandy pun membacanya.


"Jadi dari siapa ini? Tidak ada namanya." Wajah Fandy berubah masam.


"Mana aku tahu. Aku pikir kamu yang romantis mengirimkanku bunga," kilahku.


"Kamu tidak selingkuh, kan?"


Aku menepuk keningku. Kepalaku rasanya berputar mendengar pertanyaan Fandy. Masa dia mencurigaiku selingkuh?


"Ya sudah kalau tidak percaya, lebih baik kita putus saja!" dengkusku kesal.


"Jangan gitu dong. Aku kan cuma kesal. Sini bunganya, aku buang saja!"


Fandy merebut bunga yang indah itu dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Aku cuma bisa menatapnya dengan penuh tanda tanya. Lalu siapa yang sudah dua kali mengirimi aku barang-barang itu?


"Kamu lapar tidak?" tanya Fandy saat mobil baru berjalan.


"Sedikit."


"Kita makan dulu yuk. Aku juga lapar. Kamu mau makan apa?"


"Apa saja deh," jawabku singkat sambil memandang keluar jalan.


Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalan. Tidak lama hujan deras pun turun. Fandy memarkirkan mobilnya di sebuah restoran seafood pinggir jalan.


"Sher, kamu malu tidak kalau aku ajak makan di sini?"


"Kamu seperti baru kenal aku saja. Tidak ingat kah waktu kita kuliah makannya juga di warung pinggir jalan? Hahahaha." Aku tertawa.


"Iya sih tapi kan dulu aku gak tahu kalau kamu anak orang kaya ...." Fandy tidak meneruskan kata-katanya.

__ADS_1


"Ssttt .... Sudah jangan bahas kata-kata anak "orang kaya". Ribet, banyak aturan yang aneh," sahutku memotong pembicaraan Fandy.


"Iya, Sher."


Kami pun tidak banyak berbicara. Menikmati makanan pesanan kami. Sampai akhirnya Kak Reza meneleponku.


"Kamu di mana? Kami semua menunggumu di sini."


"Iya Kak, sekarang aku sedang makan dengan Fandy. Tenang saja, sebentar lagi kami tiba."


"Ya sudah. Jangan lama-lama makannya," Kak Reza menutup teleponnya.


Pukul tujuh malam aku dan Fandy baru tiba di rumah sakit. Aku diberi tahu Kak Baruna kalau Om Anton dirawat di lantai enam ruang VVIP. Fandy menggandengku menuju lift.


"Aku tunggu di kafe sini aja ya. Aku tidak enak ikut kamu. Aku kan tidak kenal mereka." Fandy menolak untuk ikut masuk.


"Ya sudah."


Aku masuk ke dalam lift. Sepintas aku menangkap sosok Pak Reynand yang baru saja keluar lift sebelah kanan. Kami hampir berpapasan tapi aku ragu orang itu adalah dia.


"Mirip Pak Reynand," gumamku.


Ting!


Lift terbuka di lantai enam. Aku berjalan masuk ruang perawatan mencari kamar Om Anton.


"Selamat malam kakak-kakak. Maaf aku baru sampai," ucapku memecah keheningan.


Kak Baruna mengangkat kepalanya. Menatapku dalam. Raut wajahnya terlihat sangat sedih. Mungkin dia memikirkan keadaan ayahnya. Kak Reza menatapku. Senyum kecil tersungging di bibirnya.


Tidak lama kemudian Tante Meri muncul membawa sekantung penuh makanan. Beliau memakai blus selutut berwarna hijau tua dengan rambut yang diikat kebelakang. Dia melihat ke arahku dengan senyumnya yang khas.


"Aduh calon menantu Tante sudah datang." Tante Meri memelukku dan mencium kedua belah pipiku.


Sambutan Tante Meri sangat hangat kurasakan. Aku membalas pelukannya. Tante Meri kemudian menaruh bawaannya di atas nakas.


"Bagaimana hubungan kalian? Sudah ada kemajuan?" Tante Meri bertanya sambil duduk di samping Kak Baruna.


"Apaan sih Bun?! Kenapa tanya hal seperti itu? Ayah kan sedang sakit. Ini bukan waktunya bertanya masalah itu." Kak Baruna protes.


"Eits .... Bunda kan udah lama tidak bertemu calon menantu Bunda. Lagi pula Sheryl juga tidak protes kok sama pertanyaan Bunda. Iya kan, Nak?" Tante Meri mengedipkan matanya memandangku.


"Iya Tante. Tidak apa-apa kok. Hubungan kami baik-baik aja. Tidak marahan kok, Tante." sahutku tersenyum.


"Maksud Tante bukan itu, Nak. Sudah ada cinta belum di antara kalian?"

__ADS_1


"Sudah-sudah .... Jangan tanya Sheryl lagi dengan pertanyaan seperti itu Bun, nanti dia malu. Biar itu jadi rahasia kami. Bunda tenang saja," sela Kak Baruna.


"Ya sudah, Bunda ingatkan lagi acara kalian ini adalah acara yang paling penting di tahun ini. Menurut kamu gimana, Za? Kamu setuju kan sama perjodohan itu?" Tante Meri menoleh ke arah Kak Reza.


"Iya Tante, pastinya," jawab Kak Reza tersenyum.


"Nanti kalau Om sudah sembuh, Nak Sheryl ikut tante ya ke butik langganan tante. Kita pesan dan fitting baju buat acara pertunangan kalian. Kamu juga harus ikut Bar," jelas Tante Meri riang.


Aku mengangguk terpaksa. Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk menyanggah semua kata-kata Tante Meri.


"Baju kamu basah loh sayang. Tadi kehujanan ya? Sini pakai baju tante saja. Nanti kamu masuk angin." Tante Meri lalu membuka tas pakaiannya mencari pakaian yang cocok untukku pakai.


"Ini pakai yang ini saja. Ukuran tubuh kita juga tidak jauh beda, kan?"


"Sudah Bunda tidak usah repot-repot. Pakai jaketku saja," Kak Baruna memakaikan jaketnya ke tubuhku dari belakang.


"Aduh sweet banget ya Barunanya Bunda. Sini makan dulu sama Tante, Sher. Sudah makan belum?"


"Sudah Tante," jawabku.


"Kita ke bawah yuk, Sher. Aku mau bicara," Kak Baruna mengajakku keluar dari kamar perawatan.


Aku mengangguk. Kami pun keluar kamar meninggalkan Kak Reza dan Tante Meri. Baru kali ini aku melihat wajah Kak Baruna yang terlihat begitu kusut. Raut wajah yang biasanya ceria menghilang begitu saja.


Kami berjalan beriringan. Kak Baruna masih memakai kemeja kerjanya. Bebannya sebagai anak tunggal pasti sangat berat. Walaupun masih ada Kakeknya yang mengurus semuanya.


"Kakak sabar ya, sebentar lagi Om Anton pasti sembuh." Aku menghiburnya.


"Iya terima kasih banyak atas perhatiannya. Ngomong-ngomong kamu yakin menerima acara pertunangan kita?" tanyanya saat kami sampai di sebuah restoran kecil dekat lobi Rumah sakit. "Padahal aku tahu kamu yang paling keras menolaknya," tambah Kak Baruna.


Aku menggelengkan kepalaku, berkata, "Aku kembali dengan pacarku," ujarku pelan.


Kak Baruna menatapku tidak percaya. Lalu dia tersenyum menyeringai.


"Sudah kuduga .... Hubungan kalian yang sudah selama itu akan sulit dipisahkan. Jadi dia akan melamarmu?" Kak Baruna mengusap wajahnya menutupi kegelisahan hatinya.


"Rencananya sih kak. Mudah-mudahan saja."


Kak Baruna terdiam membeku mendengar jawabanku. Kemudian dia menghela nafas panjang, berusaha untuk tenang.


Tidak lama kemudian Fandy datang menghampiri kami.


Sher, aku mencarimu kemana-mana, tapi kamu malah ada di sini. Handphone kamu mati ya?"


Aku dan Kak Baruna menoleh bersamaan. Kami berdua sontak terkejut melihat Fandy. Fandy yang melihat Kak Baruna juga tidak kalah terkejut.

__ADS_1


"Pak direktur," gumam Fandy. Matanya menatap Kak Baruna tidak percaya.


"Iya kita memang belum berkenalan secara resmi. Aku Baruna calon tunangan Sheryl." Kak Baruna mengulurkan tangannya. Wajahnya begitu percaya diri berhadapan dengan Fandy.


__ADS_2