Marriage Order

Marriage Order
S3 Bertemu Lagi


__ADS_3

Pagi hari, keesokan harinya....


Pandanganku pada pagi hari ini sangat fokus pada kedua tangan yang terangkat begitu sibuk menyimpulkan dasi berwarna biru pada kerah kemeja Baruna. Ia akan kembali pergi bekerja hari ini setelah masa cutinya yang sangat panjang. Begitu lama aku berusaha menyimpul dasinya, tapi belum juga dapat tersimpul dengan sempurna.


Bola mata suamiku memandang ke bawah, melihatku memakaikannya dasi dengan susah payah. Priaku itu seketika mengangkat lengan, melihat waktu yang terukir pada arlojinya.


"Sayang, aku sudah telat. Biar aku yang memakainya sendiri," ujarnya menghentikan pergerakan jari jemariku.


Aku menghela napas kecewa. Menurunkan tanganku dengan mulut yang terhias mengerucut. "Biarkan aku mencobanya lagi," tolakku yang tidak terima dihentikan olehnya, tapi Baruna mencegahnya dengan sebuah ciuman dadakan.


Meleleh. Aku selalu merasakan hangatnya sentuhan pria yang sangat kucintai ini pada sepasang bibir yang belum siap menerimanya. Namun, dengan cepat mengimbangi permainan lidahnya dengan menaut bibirku lebih dalam.


Saat sedang terbuai dengan manisnya tautan bibirnya, dia tiba-tiba melepasnya. Menatapku dengan cengiran seakan meledek. "Nanti akan kusambung setelah pulang kantor. Aku benar-benar sudah telat, Sayang," katanya segera meraih jasnya dari atas tempat tidur. Dengan cepat mengecup dahiku dan berlalu keluar kamar.


"Sayang, kamu tidak sarapan dulu?" Aku mengiringinya berjalan.


"Bekal saja, deh! Hari ini perwakilan Berlin berencana datang pagi-pagi sekali ke kantor. Aku melupakannya dan malah bangun kesiangan."


"Ya-ya-ya. Baiklah. Aku akan mengambilkannya untukmu."


Baruna mengangguk. Bunda Meri yang melihatku dan Baruna baru datang ke ruang makan hanya menggelengkan kepalanya.


"Kesiangan, Bar?" tanyanya.


"Ya, Bun." Priaku itu hanya terkekeh pelan.


Bunda Meri menoleh ke arahku. "Bunda sudah menduga kalau kalian bangun kesiangan. Makanya Bunda juga sudah mempersiapkan bekal untuk Baruna."


"Oh ...." Entah mengapa aku tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan untuk sekadar berterima kasih. Segera meraih kotak makan yang sudah dipersiapkan di atas meja beserta dengan satu buah termos kecil berisi susu hangat untuk anak semata wayang ibu mertuaku itu.


"Terima kasih, Bun," ucap suamiku itu kepada ibu kandungnya.


"Iya, Sayang. Seperti dengan siapa saja." Bunda Meri tersenyum kecil.


Sementara, Ayah Anton yang sedang duduk di meja makan hanya diam tidak berkomentar. Aku sempat melihat matanya yang menari memperhatikan kami bergantian. Tidak lama, ia pun bangkit menghampiri istrinya.


"Aku berangkat dulu, Mer," ucap Ayah Anton mengecup dahi istrinya. Bunda Meri pun membalasnya dengan cara yang sama.


"Ya, Sayang. Kalian berdua hati-hati di jalan," katanya lalu berjalan menghampiri Baruna dan mengecup dahinya. Baruna seketika merona tampak salah tingkah.


"Bun, aku sudah punya istri, loh!" katanya mengingatkan.

__ADS_1


Bunda Meri hanya terkekeh. Merapikan jas Baruna yang menurutnya sedikit berantakan. "Maaf! Sepertinya Bunda harus membiasakan diri ada Sheryl di rumah kita."


Aku yang berada di dekat suamiku pun ikut berkomentar sambil tersenyum-senyum, "Iya, Sayang. Kita semua memang butuh beradaptasi. Aku tidak keberatan kalau Bunda mengecup dahimu tiap pagi."


"Hei! Aku yang keberatan, Sayang. Sudah hampir kepala tiga dan masih diperlakukan seperti anak kecil," protesnya.


Aku dan ibu mertuaku tergelak. Sedangkan Ayah hanya menyunggingkan senyumnya. Sejurus kemudian, kami pun berjalan menuju halaman rumah. Pak Amri—supir kami sudah berdiri di samping pintu belakang mobil yang terbuka, menunggu kedua pria Asyraf berangkat ke kantor.


"Hati-hati di jalan, Sayang. Semoga semua urusanmu hari ini lancar," ujarku, segera mengecup dahi Baruna, lalu memberikan bekal untuknya.


"Amiin. Terima kasih, ya." Baruna meraih bekalnya. "Hari ini apa rencanamu?"


Aku mendelikkan mata ke atas sambil menempelkan telunjuk ke bibir, berpura-pura berpikir. Baruna melihatku dengan tidak sabar.


"Haish! Aku pergi saja. Nanti kabari ke manapun kamu pergi, ya!"


Baruna bergegas masuk ke dalam mobil, menyusul Ayah Anton yang sudah lebih dulu masuk ke dalamnya. Aku hanya mengikik melihat reaksi Baruna yang terlihat sangat terburu-buru itu.


Sheryl, iseng sekali kau ini!


Siang ini, aku berada di butik dokter Nayara. Duduk di sofa ruang tunggu pelanggan butiknya. Sengaja membuat janji temu dengannya untuk membuat sebuah gaun pesta karena satu bulan lagi Asyraf Corp akan berulang tahun. Kali ini, Bunda Meri tidak ikut. Dia lebih memilih membuat gaun di butik langganannya.


Seharusnya aku cukup bertemu dengan Farhan—kakak dari Nayara saja, tapi rasanya tidak terlalu nyaman jika berbincang dengannya. Mengingat pria itu adalah teman Reynand dan pernah membuat setelan pernikahan untuk kami.


Haish! Belum apa-apa, kau sudah lupa mengabari suamimu sendiri!


Jemariku pun dengan lincah mengetikkan pesan untuknya.


[Sayang, maafkan aku baru mengabarimu. Aku sedang berada di butik Nayara.]


Terkirim!


"Sheryl!" Suara wanita terdengar keras sontak mengagetkanku.


Aku terperanjat membelalakkan mata. Melihat dua orang wanita cantik berdiri di depanku dan seorang anak kecil di samping mereka. Dokter Nayara dan seorang wanita dan anak kecil yang tidak asing dalam pandangan mata. Felicia.


"Nay, kok kamu bisa bersama dia?" Aku melirikkan mata.


"Oh, maaf. Aku lupa mengabarimu. Beliau adalah salah satu teman dan juga pelangganku," jelasnya kemudian mengarahkan pasangan ibu dan anak itu untuk duduk di sofa. "Sheryl, perkenalkan, wanita ini adalah Felicia dan anaknya, Rafael," ujarnya lalu mengarahkan pandangannya kepada Felicia. "Fel, dia adalah Sheryl. Pelangganku juga."


Kami sama-sama menyunggingkan senyum kecil. Felicia mengulurkan tangannya. "Kita bertemu lagi, ya," katanya kepadaku.

__ADS_1


Aku mengangguk, lalu menyambut salamnya. "Ya. Dunia sangat sempit."


Nayara sontak menatapku dan Felicia bergantian. Ia terlihat bingung mengapa kami bisa saling kenal.


"Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya.


"Ya, Nay. Aku tidak sengaja bertemu dengannya saat berbulan madu di Maldives beberapa hari yang lalu," jawabku menarik segaris senyuman. Felicia hanya mengangkat sebelah alisnya menatapku.


"Oh, kebetulan sekali, ya." Nayara balas tersenyum.


"Halo, Tante Sheryl!" Tiba-tiba Rafael menyapaku. Lidah anak laki-laki berumur empat tahun itu sudah pandai mengucap huruf R hingga namaku dengan mudah diucapkannya. Kedua netranya terlihat sangat teduh menyejukkan, mengingatkanku dengan mata suamiku.


"Hai, Rafael!" Aku melambaikan tangan kepadanya.


"Tante, panggil aku Rafa saja," sahutnya protes.


"Ah, baik. Rafa. Senang bertemu denganmu," sahutku.


Kling!


Ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi pesan chat masuk dari suamiku. Aku segera membukanya.


[Maafkan aku tidak bisa sering-sering menghubungimu. Hari ini aku sangat sibuk. Nikmati waktumu, Sayang. Jangan lupa makan siang.]


Aku segera membalas pesannya.


[Ya, kamu juga, Sayang. Walaupun sibuk, makanlah tepat waktu. Aku merindukanmu.]


Terkirim!


"Sher?" Nayara memanggilku.


"I-iya, Nay. Sampai mana tadi? Maaf mengabaikan kalian. Aku sibuk membalas chat Baruna," kataku dengan mata berkelebat menatap semua orang yang berada di sana.


"Baruna?" Tiba-tiba saja, Felicia mengernyit bingung mendengar nama Baruna.


.


.


.

__ADS_1


Tinggalkan like, komen, dan vote kalian sebagai tanda cinta untuk author. Terima kasih.


Oh iya, CEO yang terlupakan sudah update lagi. Jangan lupa ramaikan. Kalau gak ramai kugantung tengah jalan.


__ADS_2