
Dua hari kemudian ....
Pukul 17.00
Aku berjalan keluar menuju halaman parkir. Reynand sudah menunggu di dalam mobilnya. Sepertinya dia tidak akan menyerah begitu saja. Sore ini, bahkan dia mengajakku ke sebuah butik untuk memilih gaun pengantin.
Aku membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Memasang sabuk pengaman dan duduk bersandar. Pria itu menoleh menatapku sambil tersenyum. Aku hanya diam lalu melengos ke arah kiri jendela.
Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan terlihat kemacetan di mana-mana. Begitu padat merayap.
"Sher, bicaralah. Jangan diam saja," katanya.
"Bicara apa? Aku sudah banyak bicara semalam dan kamu tidak mendengarkan permintaanku," jawabku.
"Apapun permintaanmu bisa kuturuti, tapi jangan yang itu. Aku tidak akan melepasmu."
Aku menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan. Sia-sia sudah energiku untuk terus memohon kepadanya. Dia masih tetap keras kepala.
"Terserah."
"Memangnya apa rencanamu jika aku melepaskanmu? Kamu akan kembali pada Baruna?" tanya Reynand.
"Rasanya ingin mati saja," jawabku.
"Kamu masih muda. Jalan hidupmu masih panjang. Kita bisa membangun rumah tangga yang bahagia bersama. Aku akan me–." Kata-kata itu terhenti. Aku memotong perkataan Reynand dengan cepat.
"Kamu tidak akan mengerti," jawabku.
Reynand tidak bertanya lagi. Dia terus diam dan fokus menyetir. Aku juga hanya menatap lurus ke depan. Tidak lama kemudian kami tiba di Far & Nay's Boutique.
Butik itu terlihat luas dengan beberapa patung manekin bergaun pengantin andalan yang menghiasinya. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Butik ini mirip dengan tempatku dan Kak Baruna memilih gaun pengantin dulu, tapi kondisinya sekarang berbeda. Lelaki lain yang datang bersamaku.
Seorang laki-laki menghampiri kami. Dia menyapa, "Rey, apa kabar?"
"Gue baik. Wah Far, makin subur aja, lo."
"Ha-ha-ha. Lo apa kabar?"
"Baik dong. Siapa nih, Rey?" Pria yang dipanggil "Far" itu melirik ke arahku.
"Oh iya, gue belum kenalin, ya. Dia Sheryl. Calon istri gue. Nah Sher, dia Farhan. Perancang busana dan gaun di butik ini. Salah satu temanku di sekolah dulu." Reynand memperkenalkan Farhan padaku.
"Sheryl," ucapku memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Farhan," sahutnya. Dia kemudian melirik Reynand dan berbisik dengan suara yang masih terdengar olehku, "Lo ketemu sama dia di mana? Cakep gitu."
"Ish, kepo," sahutnya. Reynand kemudian menoleh ke arahku sambil berkata, "Kamu boleh lihat-lihat. Kalau ada yang cocok, pilih saja."
"Rey, lo ngapain suruh calon bini lo milih. Sini gue kasih rancangan gratis buat kalian." Farhan mengajak kami duduk di mejanya.
"Gue juga maunya yang bagus, tapi kami akan menikah kurang dari dua minggu lagi. Mana keburu?"
"Kurang dari dua minggu lagi? Kok cepet banget, Rey?" tanya Farhan terkejut. Tidak lama kemudian memicingkan matanya menatap kami dengan wajah curiga, "Lo udah nabung duluan, ya?"
Aku menarik napas lagi. Memejamkan mata gemas. Rasanya ingin cepat pergi dari tempat ini. Rencana pernikahan kami memang terasa sangat terburu-buru.
"Enggak, Far. Gue emang pengen cepet nikah aja. Takut dia keburu sadar," selorohnya tertawa.
"Oh .... Gue bisa aja sih buatin gaun dan busana buat kalian berdua dalam seminggu, tapi beda ya harganya. Desain gak masalah deh. Anggap aja hadiah buat kalian."
"Beneran bisa?"
"Bisa dong. Farhan, gitu."
Pria itu mulai mencorat-coret desain gaun di atas kertasnya. Aku dan Reynand melihat tangannya begitu lihai merancang. Sesekali bertanya pada kami, apa yang kami inginkan dan aku hanya menjawab terserah padanya. Membuat kening Farhan sedikit berkerut. Dia kemudian bangkit berdiri.
"Berdiri! Gue mau ukur body kalian," katanya.
Kami berdua pun berdiri sesuai perintahnya. Kemudian dia mulai mengukur dan mencatat di ukuran tubuh kami di bukunya.
"Di luar kota. Besok juga udah pulang. Kenapa? Kangen?"
"Enggaklah. Udah lama gak lihat."
"Gimana mau lihat? Lo aja gak pernah ke sini. Adik gue juga 'kan sibuk," jawab Farhan sambil terus mengukur tubuh kami berdua.
"Iya, sih."
"Nanti gue kirim kontaknya, deh. Lo mau konsul, ya?"
"Ha-ha-ha. Siapa tahu butuh," sahut Reynand.
Sepuluh menit kemudian, Farhan selesai mengukur tubuh kami. Kami pun pamit pulang. Dia menggandengku masuk ke dalam mobil.
"Diam saja dari tadi. Tidak enak dengan temanku, Sher," protesnya.
Aku menghela napas tidak peduli. Dia mulai memacu mobilnya dengan kencang. Sepertinya dia marah. Sekali lagi, aku tidak peduli.
__ADS_1
"Manusia atau patung ya, yang kubawa sejak tadi?" sindirnya dengan suara lantang.
Aku tidak menjawab. Kemudian sengaja memalingkan wajah. Tidak ingin melihatnya. Reynand menepikan kendaraannya di jalan yang sepi.
Dia memutar tubuhnya dan menatapku. Wajahnya terlihat gemas. Kemudian tersenyum menyeringai.
"Bagus, pintar sekali kamu, Sheryl. Kamu sudah membuatku hampir gila." Tangannya terulur menyentuh kedua bahuku dan menariknya hingga wajah kami bertemu begitu dekat.
"Apa?" tanyaku tidak peduli.
"Bagaimana kalau aku menciummu?"
"Lakukan saja! Kamu sudah membeliku dengan cara yang licik, bukan?"
"Astaga! Begitukah pemikiranmu terhadapku?!" serunya hampir berteriak. Dia memukul setirnya kesal.
Aku tidak dapat menahan lagi. Emosiku ikut meluap. Bukannya sebuah kemarahan, melainkan isak tangis yang keluar.
Aku tidak tahan lagi. Ini baru tiga hari dan aku tidak sanggup.
"Menangislah! Baruna pun sudah tidak peduli padamu. Mana, ada tidak dia menghubungimu?"
Aku menggeleng. Merasakan kesedihan kembali dengan linangan air mata yang terus keluar dengan derasnya.
Pria itu melengos. Melihat keluar jendela. Pemandangan malam yang gelap dan hanya diterangi oleh lampu-lampu jalanan. Aku menyeka air mataku. Masih menangis sesegukan.
Reynand menginjak gasnya kembali. Memacu kendaraan itu dengan kecepatan sedang. Aku terus-menerus terisak di sampingnya. Dia tidak menoleh ke arahku sama sekali.
Dua puluh menit kemudian, mobilnya tiba di halaman rumahku. Aku membuka pintu mobil tanpa berkata apa-apa padanya dan berlalu meninggalkan pria itu.
Langkahku terhenti, Reynand memelukku dari belakang. Menopang dagunya di bahuku.
Apalagi yang dia inginkan?
Pria itu berbisik, "Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang. Maaf membuatmu menangis."
Aku tidak menjawab. Membiarkan keheningan menghiasi tindakannya. Terserah inginnya seperti apa. Dia memutar tubuhku, membuat wajahku terlihat jelas di bawah penerangan yang cukup.
"Aku mencintaimu, Sher. Berikan aku kesempatan untuk mencurahkan rasa cintaku padamu."
"Tidak," jawabku.
Wajahnya menegang, terlihat marah. Dia mulai melangkah maju memaksaku melangkah mundur hingga batas dinding teras. Pria itu memandang dan mengunciku dalam kuasanya. Wajahnya mulai mendekat, kemudian mendaratkan bibirnya di bibirku dengan paksa, begitu kasar. Meraup udara di sekitar hingga mendorong mulutku, ingin menjelajah masuk ke dalam.
__ADS_1
Aku kembali menangis. Tidak ingin. Tidak rela. Tidak segalanya. Dia sangat menyebalkan. Tahu ditolak, dia menghentikan aksinya. Kemudian menciumi keningku berkali-kali.
"Maaf. Aku sangat marah dan tidak sadar malah menyakitimu," ucapnya dengan air muka menyesal.