Marriage Order

Marriage Order
S3 Yang Ditunggu


__ADS_3

Sheryl POV


Nayara menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah restoran sushi "Ai Sushi Yu". Ia menarik perseneling dan meletakkannya pada posisi netral. Aku sontak menoleh kepadanya dengan kening mengernyit bingung.


"Restoran sushi? Yang benar saja, Nay. Aku tidak akan memakan makanan mentah selama kehamilanku," ujarku kepadanya.


Nayara terlihat menghela napasnya. Ia balas melihatku. "Haish! Aku baru ingat kalau kau sedang hamil. Ehm, kita lihat apa ada sushi matang untukmu di sini," sahut wanita itu.


Bukannya mencari restoran lain, wanita itu malah tetap mengajak masuk ke dalam restoran. Seketika aku jadi curiga kepadanya.


"Jangan bilang kau ada janji dengan Rey?" Aku jadi curiga dan mencecarnya. Siapa lagi yang bisa mengajak Nayara untuk menemui pria itu di sini, sedangkan ia juga tidak terlalu menyukai makanan yang berasal dari Jepang itu.


Pertanyaanku hanya dijawab dengan sebuah cengiran dan anggukan pelan. Aku menghela napas panjang, buru-buru membuka pintu mobil sahabatku ini.


"Hei, mau ke mana?!" teriakan Nayara terdengar saat aku berhasil keluar dari mobilnya.


Aku tidak menjawab dan hanya mengukir muka masam di wajah. Nayara menarik tanganku dari belakang hingga aku terpaksa menghentikan langkah di depannya. Wajah Nayara terlihat cemas.


"Sher, kau harus menemaniku. Haish! Aku sebenarnya malas bertemu dengannya di sini," ucap wanita itu tiba-tiba.


Mendengar pengakuan dokter muda itu, aku memutar badan menghadapinya di bawah sinar matahari yang benar-benar terik. Bola mataku menyipit berusaha menatapnya.


"Malas? Maksudmu?"


"Iya. Tadi pagi ia menghubungiku dan mengeluh kalau ia merasakan sesak dan sering terbatuk setiap malam. Aku sudah memberi tahu obat yang harus dia konsumsi, tapi dia sekitar jam dua belas tiba-tiba menelepon lagi dan memaksa untuk berkonsultasi di sini." Nayara menyengih aneh memperlihatkan giginya.


"Apa dia bodoh? Ini restoran, bukan ruang praktikmu. Kau bisa menolaknya, 'kan? Pasti saat ini ada banyak pasien yang juga menunggumu di rumah sakit," sahutku tidak suka. Reynand memang suka seenaknya menyuruh.


"Tidak bisa. Dia bilang kalau dia sangat sibuk hingga tidak bisa datang ke rumah sakit. Namun aku tidak enak menemuinya sendirian saja di luar, jadi aku mengajakmu agar situasinya jadi tidak kaku."


Aku menelan ludah mendengar penjelasan Nayara. Namun anehnya, aku luluh dengan penjelasan seperti itu. Nayara pun menerbitkan senyumannya dan langsung menarikku masuk ke dalam restoran itu.


Langkah kami terhenti saat melihat Kayla tampak memeluk Reynand dan mencium pipi kanan dan kirinya tidak jauh dari tempat kami berdiri. Reynand langsung menarik tubuhnya menjauh dari aktris cantik itu. Dia terlihat canggung melihat kedatanganku dan Nayara. Seketika, Kayla yang berdiri memunggungi kami pun menoleh menatap datar.


Reynand berjalan menghampiri kami, menyunggingkan senyumnya yang manis. Kayla mengekor langkah pria itu dari belakang.

__ADS_1


"Hai, Nay!" sapa seraya menyalami dokter wanita itu.


"Hai, Rey. Maaf, aku sedikit telat. Tadi aku dan Sheryl sempat mampir ke rumah teman kami," katanya menyambut salam pria itu.


Reynand mengerling ke arahku tanpa melepaskan senyumnya yang mungkin akan membuat wanita manapun menempel kepadanya. Tapi, aku sudah bersumpah bukan aku.


Telapak tangannya terulur di hadapanku. Dia bertanya, "Bagaimana kabarmu, Sher?"


Aku menyambut tangannya. "Baik, Rey."


Kami saling berpandangan sejenak. Namun aku masih bisa menangkap sedikit kecemburuan dari air muka Kayla.


"Rey!" panggil Kayla tiba-tiba.


"I-iya, Kay." Reynand menoleh ke arahnya.


"Aku tidak tahu kau ada janji temu dengan dokter Nayara dan Sheryl—"


"Ehm, sebenarnya Rey hanya memiliki janji denganku. Sheryl hanya menemaniku." Nayara memotong perkataan Kayla.


"Tidak apa. Aku dan Sheryl bisa makan tanpa Reynand. Pacarmu ini hanya ingin sedikit berkonsultasi denganku." Nayara membalas dengan senyum yang sana.


Aku dan Reynand hanya bisa memperhatikan pembicaraan kedua wanita di depan kami ini. Mereka seperti sedang saling beradu mulut. Nayara sepertinya tahu kalau Kayla menatap kami dengan pancaran kecemburuannya.


"Kau sakit, Rey?" tanya Kayla sontak menatap pria di sampingnya.


"Tidak. Hanya ingin sharing mengenai kesehatan," jawab Reynand datar. Kedua alisnya tampak terangkat menatap Kayla.


"Oh. Ya sudah, aku pamit, ya. Hari ini masih ada jadwal sampai jam delapan. Nanti kuhubungi kalau sudah di rumah." Kayla melirik arlojinya.


"Ya-ya. Pergilah! Jangan kecewakan orang-orang yang memercayaimu," sahut pria itu.


Sebelum membuka pintu restoran, Kayla menoleh lagi ke belakang, menoleh ke arahku dan Nayara. Sepertinya ia mengkhawatirkan sesuatu. Setelah beberapa saat wanita itu pergi, kami bertiga pun duduk di salah satu meja.


"Nay, sampai kapan kau mau menyebut Kayla sebagai pacarku? Dia hanya teman." Tiba-tiba Reynand mengonfirmasi hubungannya dengan Kayla.

__ADS_1


"Teman tapi selalu bersama. Salahkah kalau aku menganggap hubungan kalian seperti itu?" Nayara mengerutkan keningnya.


"Salah. Aku tidak punya pacar," sahut Reynand lugas. Suaranya terdengar hampir berteriak.


Haruskah ia menyanggahnya sampai seperti itu?


"Oke! Terserah kau saja. Aku tidak peduli." Nayara mengalah. Ia tidak ingin ambil pusing. "Sesi konsulmu setelah kami selesai makan," lanjut Nayara.


Reynand terlihat mengembuskan napas berat. Dia menatapku dan Nayara bergantian, lalu berkata, "Iya, Nay. Maaf, karena aku sudah terlanjur makan lebih dulu, aku hanya akan menemani kalian makan saja. Kalian ingin makan apa?"


"Walau aku tidak terlalu suka, tapi aku ingin mencoba sushi terenak di sini."


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan pesankan sushi untukmu," katanya sembari mengangkat tangannya ke atas. Bersiap memanggil salah seorang pelayan restoran.


Aneh. Kenapa dia tidak bertanya apa yang ingin kumakan? Aku 'kan juga lapar.


"Kau tidak bertanya kepada Sheryl? Dia juga sedang kelaparan," celetuk Nayara.


Reynand melirik ke arahku. Menyunggingkan senyumnya lalu berkata, "Spesial untuknya dan calon keponakanku, aku tidak akan memberikan makanan mentah untuknya."


"Cie! Perhatian sekali kau, Paman," goda Nayara menepuk-nepuk bahu tegap Reynand.


Perkataan Reynand membuat pipiku terasa panas. Aku menarik dagu lalu memalingkan wajah dari pria itu. Tidak ingin membuatnya menyadari kalau aku tersipu.


"Aih, kau lihat, Nay! Sepertinya ia cukup terharu dengan perhatianku." Pria itu terkekeh. Nayara sontak menoleh ke arahku.


"Sher, sepertinya bukan aku yang membuat suasananya jadi kaku. Aku rasa, kau yang membuatnya begitu." Nayara kembali menyeletuk ikut terkekeh.


Aku menghela napas panjang. Seketika mencubit pipinya yang sedikit tembam itu. "Haish! Kau sangat menyebalkan, Nay!"


"Ampun! Lepas, Sher." Nayara meminta ampun. Aku pun melepas jemariku dari pipinya. Sementara, Reynand hanya terkekeh melihat tingkah kami.


Nayara menarik dan mengembuskan napasnya tidak teratur. Dadanya terlihat naik turun. "Aku ke toilet dulu," katanya yang langsung pergi dari meja kami.


Kini hanya kami berdua di meja itu dan seperti yang kalian pikirkan, selalu tercipta suasana canggung di antara kami. Di saat seperti ini, aku selalu ingin menghubungi suamiku.

__ADS_1


__ADS_2