
Reynand PoV
Aku mendengarnya berteriak mengusir kami berdua keluar dari kamar itu. Aku dan Baruna saling menatap satu sama lain. Begitu hening tidak berkata-kata lagi. Melihat Sheryl yang terlihat gusar melihat kami berdua, membuatku merasa sedikit bersalah. Dia sedang sakit, seharusnya dia banyak beristirahat agar cepat pulih. Aku pun mengalah kali ini.
"Saya pamit dulu, Sher. Banyak-banyaklah beristirahat. Jangan memikirkan hal macam-macam yang tidak penting. Jangan lupa memakan buah-buahan yang saya bawa," pesanku pada wanita itu.
Wanita itu hanya mengangguk pelan. Aku membalik badanku keluar dari kamar rawat. Melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi, meninggalkan sepasang kekasih yang mungkin akan segera berbaikan.
Apa aku harus menyerah? Mereka sudah sangat dekat. Aku tidak mungkin lagi berada di antara mereka.
Ponselku berbunyi, sebuah panggilan dari Kayla. Aku segera mengangkatnya.
"Rey, nanti makan siang bareng ya."
"Aku sibuk, Kay."
"Ayolah temani aku. Hari ini pemotretan lebih cepat selesai. Sambil menunggu jadwal lainnya, tolong temani aku."
"Hmmph ... nanti akan kukabari lagi. Aku masih di rumah sakit sekarang."
"Siapa yang sakit?" tanya Kayla terkejut.
"Sheryl."
"Mengapa tidak bilang padaku? Aku 'kan bisa ikut menjenguk dia bersamamu."
"Aku yang tidak ingin pergi bersamamu, Kay."
Terdengar suara helaan napas panjang dari sambungan telepon. "Sampai kapan kita akan jadi seperti ini? Apa kamu tidak lelah?"
"Aku sudah berkali-kali menjelaskannya padamu. Menyerahlah jika kamu tidak kuat menghadapiku."
"Aku tidak akan menyerah. Sebuah proses tidak akan mengkhianati hasil."
"Sudah ya, aku sudah di parkiran."
"Iya. Hati-hati Reynandku."
Aku diam tidak menanggapi perhatiannya. Kayla lalu menutup teleponnya seperti biasa, kecewa. Aku bergegas melajukan mobilku kembali ke kantor. Menekan pedal gas dengan tidak sabar karena ingin segera tiba di kantor. Bertemu dengan Ayah Anton untuk menanyakan sesuatu.
Setengah jam kemudian aku sudah tiba berada di depan ruang kerjanya. Namun, segera teringat kalau dia dan Baruna masih cuti berduka. Aku menarik napas panjang. Ingin segera mengakhiri drama ini. Berbalik arah melangkahkan kaki ke ruang kerjaku yang seperti biasa menjalankan sebuah rutinitas kantor yang sibuk setiap harinya.
****
Baruna PoV
Aku memandang wajahnya yang masih tetap cantik walau sedang sakit. Wajahnya yang polos tanpa make up membuatku semakin menyukainya. Dia yang menyadari pandangan mataku langsung menunduk, tidak ingin menatap wajahku.
Apa dia masih marah padaku?
"Aku tidak ingin bertengkar seperti semalam. Kamu jangan pernah mengucap kata perpisahan lagi padaku, Sayang. Aku percaya, kamu bisa menjaga hatimu. Ini hanyalah masalah waktu. Seperti yang pernah kukatakan, pernikahan bukan hanya untuk satu atau dua hari. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang kucintai dalam susah maupun senang. Berjuang bersama dan saling mendukung satu sama lain. Begitu sulitkah itu bagimu sekarang?"
Sheryl masih menunduk terdiam. Aku meraih dagunya yang lancip. Mengarahkannya lurus sejajar dengan wajahku. Aku memandangnya sambil tersenyum penuh cinta. Pandangannya menukik ke bawah tempat tidur.
__ADS_1
"Lihat diriku yang begitu menyedihkan tanpamu," ucapku pelan.
"Aku tidak sanggup. Aku telah mengecewakanmu."
"Cintaku tiada batas padamu. Bertahun-tahun aku mencintaimu dan berkali-kali aku jatuh karenamu. Tidakkah kamu merasakan itu?" tanyaku.
"Aku tahu." Air matanya mulai tergenang dan jatuh menuruni pipinya.
"Mari kita mulai lagi. Jangan ada rasa curiga di antara kita."
"Aku minta maaf. Aku sangat takut mengecewakanmu lagi."
Aku tidak membalas kata-katanya. Hanya sebuah kecupan lembut sesaat yang mendarat di bibirnya. "Aku mencintaimu tanpa syarat."
Dia lalu mengangkat matanya memandang wajahku sambil tersenyum. Membelai wajahku yang menatap indah pada wajahnya dan balas menciumku. Ciuman pertama yang ia lakukan dengan kehendaknya sendiri. Begitu dalam membuatku ikut terhanyut dalam buaian rasa. Aku pun membalasnya dengan cara yang sama. Kami saling terbuai rindu akan rasa lalu yang mungkin telah menguap oleh rasa saling curiga satu sama lain. Dia menghentikan ciumannya dan memelukku.
"Aku juga tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya. Rasa itu terlalu sakit. Aku tidak ingin merasakan hal itu lagi. Bolehkah waktu berhenti seperti ini saja? Tanpa ada gangguan yang datang. Aku sungguh tidak sanggup jika kamu tidak berada di dekatku. Maafkan aku yang jadi bermain hati di belakangmu. Aku ...."
"Ssttt ... jangan kamu teruskan. Aku tidak suka membahas itu." Aku mengarahkan telunjukku pada bibirnya yang mungil dan tipis.
Dia terdiam tidak meneruskan perkataannya. Pandangan matanya menatap dalam wajahku. Aku pun sontak memeluknya dan membelai lembut rambutnya yang panjang.
"Jangan berpikiran macam-macam. Aku percaya semua butuh proses untuk mencapai tujuan itu," kataku lagi.
Sheryl mengangguk pelan. Tiba-tiba pintu terbuka, Tante Rini masuk dan begitu terkejut mendapatiku sudah berada duduk di dekat Sheryl.
"Bar, sudah lama?" tanyanya.
"Iya, Tante."
"Dia sudah pulang, Ma." Sheryl angkat berbicara.
"Oh .... Sudah makan, Bar?" tanya Tante Rini.
"Sudah, Tante."
"Syukurlah. Tante senang kalau akhirnya kalian berbaikan. Jangan bertengkar lagi ya. Semua bisa dibicarakan."
"Iya, terima kasih Tante atas perhatiannya."
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu?"
"Baik," jawabku singkat.
"Syukurlah. Oh iya Bar, Tante bisa minta tolong?"
"Apa Tan?"
"Sheryl tidak mau makan tuh. Bisa bujuk dia untuk makan?"
Aku melihat ke arahnya yang hanya tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalaku. Kelakuannya seperti anak kecil yang sedang ingin dimanja.
"Makan ya, Sayang?"
__ADS_1
"Iya. Suapi ya," jawabnya seraya tersenyum.
"Iya." Aku pun mulai menyuapinya dengan bubur di hadapanku. Melihatnya begitu manja padaku membuatku begitu bahagia.
Aku suka dirinya yang seperti ini.
****
Kayla PoV
Pukul setengah satu siang ....
Aku dan Reynand sedang duduk makan siang berdua di sebuah restoran. Dia duduk dengan gagah di hadapanku. Setelan kemeja dan jasnya selalu memesona siapa pun yang melihat. Aku suka memandangnya yang terlihat kaku tapi sungguh tampan menawan hatiku.
"Kenapa melihatku terus? Habiskan makananmu, Kay," protesnya.
"Aku suka melihatmu. Kamu selalu tampan memikat hatiku," ucapku dengan mata berbinar.
"Bukankah di dunia entertainment banyak orang tampan?" Reynand melihatku sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, tapi aku menganggap mereka biasa saja. Maksudku, kamu lebih menarik," sahutku.
"Jangan suka melihat seseorang dari fisiknya, Kay. Ketampanan bisa luntur dimakan usia," ujar Reynand yang sedang mengunyah daging steak di hadapannya.
"Iya sih, tapi kamu tidak tuh. Aku pernah melihat album fotomu di rumah, tidak ada yang berubah dari wajahmu. Kamu semakin tampan dari hari ke hari," jawabku tersenyum.
"Pasti Mama yang memberikanmu albumku," tukasnya.
"Tentu saja. Aku calon menantu satu-satunya bagi beliau."
"Yakin? Aku sudah sering dikenalkan wanita lain selain kamu." Dia tersenyum menyeringai.
"Tidak masalah. Buktinya saat ini kamu yang ada bersamaku," sahutku.
"Sudahlah, hentikan saja permainan ini. Kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, Kay." Reynand menatapku tajam.
"Aku tidak mau, Rey. Aku hanya menginginkanmu seperti kamu yang hanya menginginkan Sheryl," tegasku seraya balas menatap ke arahnya.
Reynand terdiam tidak membalas perkataanku. Wajah semangatnya yang tadi terpancar tiba-tiba hilang menjadi dingin. Dia menghabiskan makanannya dan bangkit berdiri.
"Aku sudah selesai. Aku duluan ya. Habis ini ada pertemuan yang penting," pamitnya sambil melangkah berjalan keluar restoran meninggalkanku yang hanya bisa memandangnya dari jauh.
"Rey!" panggilku namun dia tidak menoleh sedikit pun.
Apa aku salah berbicara? Kenapa jadi seperti orang yang marah?
___________________
Berikan dukungan cinta untuk author untuk terus berkarya.
Berikan like, komentar, love, dan vote sebagai dukungan kalian semua.
Terima kasih
__ADS_1
Viviani