
Reynand POV
Aku ingin sekali mengutuk Baruna saat melihatnya masuk ke dalam kamar rawat dan duduk di atas sofa. Aku yang tidak ingin berada dekat dengan Baruna, menjatuhkan bokong di tepi tempat tidur. Menatap tajam wajah sok sucinya itu.
Geram. Benar-benar geram mengingat ia yang hanya diam saat wanita lain memeluk dari belakang. Ia pikir dirinya masih lajang hingga dengan bebas membiarkan hal itu? Dan aku rasa Sheryl tidak tahu sama sekali. Tidak ada yang mengabarkan kepadaku kalau pasutri ini bertengkar. Ataukah, aku yang tidak tahu sama sekali?
Tidak sabar, aku pun bertanya kepadanya, "Bar, siapa wanita yang berada di taman tempo hari?"
Aku memperhatikannya dengan seksama. Netranya tampak membulat terkejut. Namun, ia buru-buru menyembunyikan keterkejutannya.
"Lo lihat semua?" Baruna balik bertanya.
"Ya. Gue lihat wanita itu meluk lo dari belakang," jawabku to the point. Aku tidak ingin berbasa-basi lagi. "Siapa dia?" Aku kembali bertanya.
"Felicia." Jawaban singkat terlontar dari mulutnya.
"Felicia yang sama dengan teman sheryl?"
"Cukup. Lo gak perlu mengorek-ngorek lebih lanjut. Ini urusan gue," jawabnya yang mendadak memperlihatkan air muka serius.
"Enggak bisa gitu, dong. Lo punya istri. Istri lo Sher–"
"Iya, istri gue Sheryl. Kalau Sheryl kenapa?! Lo jadi punya hak buat jadi pahlawannya?!" Baruna memotong perkataanku. Dia menjadi emosi dan menantang saat aku mengungkit nama Sheryl.
"Iya. Karena Sheryl, gue jadi berhak tahu semuanya, Bar!" Napasku memburu membalas ucapannya. "Inget, ya! Gue lepasin semuanya untuk kebahagiaan dia. Dan lo malah kayak gini. Sheryl harus tahu bagaimana suaminya."
"Gue mohon jangan ikut campur masalah ini. Gue bakal beresin secepatnya dan dia gak perlu tahu karena ini gak seperti yang ada dalam otak lo. Pikiran negatif lo yang nyatanya iri sama kebahagiaan gue!"
"Ck! Pikiran lo bener-bener picik ya, Bar! Bener ... gue bener-bener nyesel kalau pada akhirnya keputusan yang gue ambil itu salah. Seharusnya dia sama gue!" Aku makin merasa kesal. Baruna pintar sekali memancing kemarahan.
"Nyatanya, dia gak cinta sama lo. Dan lo harus terima hal itu."
Sesak. Bukan sesak yang sama dengan penyakitku. Namun sesak ini akibat ucapan Baruna yang mengatakan kebenaran yang sejujurnya tidak ingin kudengar. Tanpa ia mengatakannya pun, Sheryl sudah berkali-kali menolakku.
Aku terdiam tidak membalas perkataannya. Dalam hati bersumpah demi apapun akan kurebut lagi Sheryl darinya. Sungguh adik tiri menyebalkan!
__ADS_1
Kami jadi sama-sama membisu. Baruna tidak mengakui apa-apa. Bahkan ia tidak memberikan alasan yang jelas.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu beberapa kali dari luar. Aku mendiamkannya saja sampai akhirnya pintu terbuka dan Sheryl muncul di ambang pintu, lalu melangkah masuk dengan air muka sedihnya. Tanpa memedulikan kehadiranku yang masih duduk di tepi tempat tidur, dia mengempaskan dirinya duduk di samping Baruna.
Sebenarnya dia datang untuk menjengukku atau anak temannya, sih?
Aku menggerutu kesal dalam hati. Mendongakkan kepala memandang langit-langit kamar. Berpura-pura tidak terjadi sesuatu di antara aku dan suaminya.
"Ada apa, Sayang?" Suara Baruna yang menyapa Sheryl membuatku penasaran dan melirik ke arah mereka.
"Aku sedih melihat Rafa seperti itu. Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu untuknya, Sayang?" tanya Sheryl memandang Baruna. Pandangan mata yang aku yakin pasti penuh dengan cintanya hingga membuatku iri sampai ubun-ubun.
"Entahlah. Kalau bantuan uang bisa saja. Selain itu, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk anak itu," jawab Baruna.
"Yah ...." Sheryl tampak begitu kecewa.
Aku yang masih tidak dianggap oleh pasangan itu kemudian menyindir halus, "Apa kamu tidak sedih melihatku?"
Sheryl sontak bangkit dari duduknya. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri. Ia tampak rikuh mendengar ucapanku.
Aku sangat terkejut, hampir menarik wajah menjauh. Namun dia keburu mendaratkan telapak tangannya, tidak canggung sama sekali bahkan di depan Baruna.
"Sudah tidak demam," katanya seraya menurunkan tangannya, lalu mendekatkan telinganya pada wajahku, "napasmu juga sudah tidak terengah-engah."
"Siapa bilang aku demam dan masih sesak?" Aku mencibir.
"Kamu sudah sehat, Rey. Menurutku, kamu sudah boleh pulang," jawabnya dengan sebelah alis terangkat dan bibir yang sedikit memanyun.
"Memang. Aku sedang menunggu infus habis saja. Nanti sore juga Mama akan menjemputku."
"Syukurlah. Ini berita bagus. Ya 'kan, Sayang?" tanya Sheryl mengarahkan pandangannya kepada Baruna.
Baruna mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya. Senyum ala malaikat yang membuatku muak seketika.
"Kalau begitu, ayo kita kembali ke kantor. Jam makan siang sudah habis," kata Baruna sambil melirik arlojinya.
__ADS_1
"He-em." Sheryl mengangguk lalu menoleh kembali ke arahku dan berkata, "Kami pulang ya, Rey. Jangan banyak pikiran dan kurangi kebiasaan merokokmu. Itu tidak sehat!"
"Gayamu sudah seperti Nay saja!" gerutuku.
Sheryl terkekeh. "Itu karena aku peduli kepadamu, Rey. Kamu harus sehat dan bahagia."
"Terima kasih." Aku mengangguk.
***
Baruna POV
"Sayang, terima kasih sudah mengantarku sampai ruangan."
Aku memandang ia yang menorehkan senyuman manis pada wajahnya. Tidak tahan melihatnya, kedua lenganku tanpa sadar terulur menarik pinggangnya dari belakang. Kini kami sangat dekat. Namun saat aku hendak menciumnya, ia menarik wajahnya menjauh.
"Sayang, nanti di rumah saja, ya. Ini kantor. Aku tidak ingin viona melihatku tidak profesional," katanya menolak sembari melirik ke luar jendela ruangan yang memiliki kaca buram itu.
Aku ikut menoleh keluar. Sekretarisnya memang terlihat duduk di sana. Namun menatap serius laptop di hadapannya.
"Dia sedang sibuk sendiri. Biarkan saja, sih. Lagipula, kita suami istri," sahutku lalu mengangkat tubuh Sheryl dan mendudukkannya di atas meja kerja.
Kami pun berciuman. Kegelisahanku seketika menghilang dan hanya Sheryl yang ada dalam pikiran. Ya, Felicia tidak boleh memanfaatkan keadaan ini. Rumah tanggaku tidak boleh berantakan dengan hadirnya dia dan Rafa.
Cukup lama kami berciuman saat tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku dan Sheryl segera menghentikan aktivitas kami. Dia segera turun dari meja dan aku menoleh ke belakang.
Reza berdiri di dekat pintu. Memandang kami dengan tatapan canggung. "Sepertinya, aku salah momen," katanya, kemudian membalik badannya hendak pergi, tapi aku buru-buru mencegahnya.
"Za! Jangan pergi!"
Reza menghentikan langkahnya. Dia memutar badannya menatapku. "Hai, Bar. Lama enggak ketemu," sapanya dengan cengiran aneh.
Kami memang sudah lama tidak bertemu. Sejak Sheryl mengandung, ia cepat merasa lelah. Waktu liburnya dipakai untuk beristirahat. Begitupun aku yang jarang bertemu kedua mertuaku. Pekerjaan benar-benar menyita waktu. Apalagi saat datang ke rumah Sheryl, Reza selalu tidak ada di rumah. Lajang yang satu ini terlihat sok sibuk.
Aku berjalan menghampirinya. Tanpa ragu memeluk ia dengan erat. "Lo tahu, gue kangen banget sama lo!"
__ADS_1