
"Sayang maafkan aku, ya? ya? ya?" Kak Baruna memohon padaku, menatap mataku memelas.
Kami berdua sedang berada di ruang tengah rumahku. Sejak kejadian menceburkan diriku ke kolam renang, aku kesal padanya. Dia membuatku mandi pagi-pagi sekali di hari sabtu ini. Hari berharga liburku yang seharusnya aku lewati dengan bermalas-malasan di atas tempat tidur.
Aku melipat kedua lenganku, menatap matanya, iris mata yang berwarna coklat itu terlihat begitu menggemaskan membuat rasa kesalku menguap begitu saja. Kak Baruna menolehku yang tiba-tiba memalingkan wajah memandang lurus ke depan.
"Ah sudahlah lupakan saja," kataku sambil sedikit tertawa tapi masih mengerucutkan bibir pura-pura kesal.
"Wah kode nih."
"Kode apa?"
"Lihat bibirmu itu kenapa manyun? Kamu minta dicium?"
"Astaga .... Kenapa pikiranmu jadi mengarah ke situ sih?"
"Wajarlah aku ini seorang pria dan kamu adalah wanitaku."
"Wanitamu, huh?" Aku pura-pura kecewa.
"Iya calon istriku," sahut Kak Baruna sambil terkekeh.
"Lalu apa yang kamu inginkan dari calon istrimu ini sekarang?"
"Merengkuhmu dalam pelukanku di atas tempat tidur, menciumimu, dan ...." Aku cepat-cepat menutup mulutnya dengan telapak tanganku. Pikirannya sudah mengarah ke arah pembicaraan yang kata orang-orang tabu untuk dibahas.
"Jangan dilanjutkan. Kita sarapan dulu, yuk." Aku mengalihkan pembicaraan sambil beranjak berjalan menuju ruang makan.
"Wah kamu curang, ya. Kabur saat aku sedang serius." Kak Baruna berdiri dan menyusulku.
Seluruh keluargaku sudah berkumpul di meja makan. Bi Ati sudah menyiapkan makanan yang begitu spesial di pagi hari ini. Tidak seperti biasanya. Pasti Mama yang meminta. Apa karena ada Kak Baruna? Calon menantu memang selalu spesial.
"Mantap banget makan paginya nih," seru Kak Reza sambil menyendok makanan ke dalam piring.
"Wah terima kasih makanannya, Bi," ucap Papa.
"Tuan jangan berlebihan. Saya hanya mengikuti perintah Nyonya. Kan ada Den Baruna, jadi Nyonya minta dibuatkan makanan spesial," sahut Bi ati tersenyum.
__ADS_1
"Wah, Mama bisa saja membuat tamu kita betah lama-lama. Nanti kalau dia lupa pulang ke rumah bagaimana, Ma? Bisa-bisa aku dituntut ayahnya," celoteh Papa. Mama hanya tertawa mendengar kata-kata Papa yang biasanya tidak pernah bercanda itu.
"Gampang sih, Pa. Nikahin saja sama Sheryl biar gak pulang-pulang lagi," sahut Mama.
Aku dan Kak Baruna yang mendengar celotehan kedua orang tua itu langsung merasa canggung dengan wajah merona merah malu.
"Papa, Mama, tolong berhenti bercanda di depanku. Itu sangat memalukan," sela Kak Reza.
Kami semua lalu diam dan melanjutkan sarapan. Kak Reza terlihat tersenyum puas memandang kami semua. Mungkin dia iri karena pasangannya tidak berada di sini. Jadi dia tidak mau ikut terbawa perasaan.
Suasana makan pagi jadi hening seketika. Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku tanyakan dan mengganjal di pikiranku. Aku ingin bertanya tentang perusahaan Papa yang kudengar tidak begitu baik kondisinya. Tapi lidahku begitu kaku ketika ingin mengatakannya.
"Om, aku dengar dari Kakek perusahaan Om sedang tidak baik kondisinya?" Tiba-tiba Kak Baruna menyeletuk spontan. Dia mengernyitkan dahinya heran.
"Duh Kak Baruna ini, harus ya ngomongin perusahaan Papa di meja makan? Weekend pula? Aku saja yang ingin bertanya malah ragu-ragu," batinku.
Papa dan Kak Reza yang mendengar kata-kata Kak Baruna tercengang tidak menyangka hal yang mereka sembunyikan itu akan bocor bahkan sampai ke telinga Kakek Awan.
"Iya. Hampir lima puluh persen saham kepemilikan akan dimiliki oleh perusahaan milik Mahardika Corporation yang sudah sepuluh tahun ini berkecimpung di bisnis yang sama," jawab Papa.
"Jadi benar apa yang dibicarakan Satya kemarin? Dia sudah menguasai hampir lima puluh persen saham?" batinku semakin memberontak.
"Tidak perlu. Pertolongan ayah dan kakekmu dulu sudah lebih dari cukup. Om tidak ingin menyusahkan keluarga kalian lagi."
"Kita akan menjadi keluarga bukan?" tambah Kak Baruna.
"Iya tapi biarkan Om dan Reza yang kali ini berjuang. Lagipula perkembangan dan pertumbuhan perusahaan Pradipta Corp. sudah membuat kalian cukup pusing bukan?" sahut Papa.
"Ya sih. Orang itu benar-benar tidak ada ampun. Segala cara dia lakukan pada keluarga kami Om. Kami cukup kewalahan dengan sepak terjangnya di dunia bisnis."
"Kalau Om bisa kasih saran, sebaiknya Kakekmu tidak terlalu keras terhadap cucunya yang satu lagi itu. Dia harus membagi hartanya dengan adil. Walaupun nantinya kamu yang jadi penerus."
"Pantas saja Reynand itu marah banget sama Baruna. Statusnya kan cucu kandung juga." sela Kak Reza.
"Iya cucu kandung yang dilupakan."
"Kok bisa dilupakan? Om Anton enggak pernah ketemu si Reynand anak kandungnya itu?" tambah Kak Reza.
__ADS_1
"Bukannya enggak Za. Tapi situasi waktu itu sangat rumit. Perjodohan yang berakhir perselingkuhan dan perpisahan membuat kedua keluarga saling membenci. Dia pun tidak diperbolehkan bertemu dengan anak kandungnya sendiri. Menutup semua akses yang mungkin bisa terjadi agar mereka benar-benar tidak saling mengenal. Tapi yang namanya bangkai, akan tercium juga walaupun sudah ditutup rapat."
Kak Baruna hanya diam mendengar obrolan Papa dan Kak Reza. Entah apa yang ada di pikirannya. Terlihat sedikit ketegangan di matanya yang berwarna coklat itu.
"Sheryl sayang, apa kamu begitu terkejut sehingga tidak mengatakan sepatah kata pun setelah mendengar semua ini?" tanya Papa.
"Sedikit Pa. Aku sudah mendengar cerita itu sebagian dari Kak Baruna. Kali ini aku mendengar semuanya dari mulut Papa."
"Bisakah kita tidak membicarakan semua ini?" Kak Baruna tiba-tiba menggebrak meja makan.
Kami semua terdiam mendengar kata-kata Kak Baruna. Dia sepertinya tidak nyaman kami membicarakan keluarganya. Papa yang melihat reaksi Kak Baruna sangat terkejut, marah, dan meninggalkan kami di ruang makan itu. Mama melihat ke arah kami dengan raut wajah sedikit cemas menyusul Papa yang sudah angkat kaki.
Aku melirik Kak Baruna tajam. Dia seharusnya tidak melakukan hal yang tidak sopan seperti ini. Papa dan Mama pasti kecewa sekali dengan Kak Baruna yang seperti itu.
"Apa-apaan Kak Baruna ini? Papaku kan hanya menjelaskan, kenapa dia jadi sangat marah? Baru kali ini aku lihat dia marah seperti itu," batinku.
"Sayang kami seharusnya tidak seperti itu kepada Papa."
"Maaf sayang. Aku tidak bisa mengontrol emosiku."
"Bar, lo harus minta maaf sama bokap gue. Gila lo gebrak meja di depan orang tua," seru Kak Reza.
"Maaf Za, gue lagi kalut. Nanti gue pasti minta maaf ke Om."
"Iya Bar, jangan lo ulangi tindakan yang seperti ini dan maaf kita di sini gak bermaksud bikin lo gak nyaman," seru Kak Reza.
"Iya Za gue tahu. Tapi gue harus pulang sekarang. Nyokap gue udah nungguin," ucap Kak Baruna lalu menoleh kepadaku sambil menarik lenganku, "Kita pergi sekarang saja,"
Aku terpaksa ikut Kak Baruna yang berjalan cepat menggandengku keluar menuju mobilnya. Air mukanya berubah sedikit marah.
"Kamu membuatku terkejut. Itu sisi lain dari dirimu. Ada apa sayang?"
"Maafkan aku. Pikiranku jadi kalut akibat mendengar cerita itu. Aku hanya tidak suka kalian membicarakan masalah ini di depanku. Entah kenapa, aku juga tidak ingin terlibat. Kalau perlu, aku tidak mengambil harta itu sepeser pun. Biarkan semuanya untuk Reynand yang memang tidak merasakan kasih sayang ayah kandungnya selama ini."
"Hei Reynand itu sudah dewasa seharusnya dia yang mengerti kondisinya dulu itu bagaimana."
"Walaupun dia tahu, dia akan melakukan hal yang sama sayang. Kamu tidak tahu sosok dia yang begitu ambisius saat melawan siapa pun yang menentangnya. Aku hanya tidak ingin melibatkan siapapun yang aku sayang."
__ADS_1
Kak Baruna menghidupkan mesin mobilnya dan memutar arah keluar menuju jalan raya membawaku pergi ke rumahnya.